
Itu adalah foto hitam putih menguning yang bergambar seorang pria paruh baya dalam balutan pakaian putih khas pasien. Background fotonya seperti kamar rumah sakit. Dia sedang mengobrol dengan pria lain bermantel hitam. Namun sayangnya pria itu membelakangi pemotret.
"Pasien RSJ di kamar itu? Wajahnya masih cerah." heran Jesica.
Dia menjadi kaget saat melirik tulisan tahun di sudut bawah kanan foto.
"1887!"
"lya, hmm 117 tahun.. Maksudku.."
Jesica meralatnya, "132 tahun yang lalu."
"lya, itu maksudku. Nah, kamu jelas merasa aneh kan?"
"Dia terlihat masih setengah baya, Yugo. Memangnya dia masih hidup. Jangan-jangan.. Dia hantu? Dia.. Dia apa?"
Yugo hanya diam sejenak, kemudian menjelaskan, "Fokuslah pada pria yang di ajak bicara,"
Kemudian dia menuding pria bermantel hitam.
"Mirip pria sialan itu kan?"
"Benar, darimana kamu dapatkan foto ini?"
"Aku tidak sengaja menemukannya di sela-sela rak buku di perpustakaan lantai tiga. Sebenarnya aku hampir berhasil mengambil satu album foto, tapi saat itu aku terlambat karena orang gilanya sudah keluar kamar, lalu kejar-kejaran deh."
"Tapi, tidak mungkin orang hidup selama itu dan masih terlihat muda! Kecuali.. Kecuali dia hantu!"
"Pria sialan itu manusia, hanya saja kita tidak tahu manusia apa yang kebal begitu. Mistis ya."
Jesica membisu ngeri.
"Jadi pertama kita tahu kalau ada kemungkinan pria mulut itu sudah berusia ratusan tahun." lanjut Yugo tenang.
"Ya normalnya itu tidak bisa disebut manusia, tapi aku yakin.. Dia mungkin punya rahasia."
"Tunggu, terus mengenai pasien RSJ itu?"
"Aku tidak tahu hubungan mereka. Aku hanya agak kenal pasien itu. Itu saja."
"Kenal?"
"Ya, dia tidak akan menggaggu orang yang bagaimana ya."
"Apa sih?"
Yugo tersenyum melihat keheranan luar biasa di wajah Jesica.
Dia pun menggelengkan kepala, "Tidak perlu dipikirkan. Dia hanya pasien RSJ asli yang dipindah kemari. Dia sudah ada jauh sebelum penculikan remaja terjadi, katanya si gadis piyama biru."
"Oh iya?"
"Dan nama gadis itu sebenarnya Annemie, panggilannya Anna. Dia tuh blasteran."
"Oh, pantas seperti orang luar."
"Ya, umurnya dulu seingatku.." Yugo terhenti karena mengingat-ingat.
"16 belas tahunan mungkin."
"Sama denganku."
"Ya.. Seharusnya sama denganku juga."
"Kau juga?"
Yugo malah menjawab, "Aku kelas 2 SMA."
"Sama denganku, dimana sekolahmu?"
"Apa kita akan membahasku ketimbang isi kardus ini?" tanya Yugo tersenyum padanya sembari menunjukkan isi kardus yang terdapat buku, pisau karatan berdarah, potongan koran lama, dan beberapa foto menguning yang rusak.
Karena Jesica diam, Yugo menjawabnya, "SMA 10 November Surabaya."
"Itu, Itukan SMA-nya Riki dan semuanya!"
"Oh, kebetulan ya. Si orang gila itu tidak pandang bulu. Dari sekolah mana saja yang dia inginkan."
"Biasanya yang menolak lamarannya itu langsung diculik dan dibunuh. Kudengar dari Anna, dia sakit hati karena wanita bernama Grishilde. Jangan tanya wanita itu siapa, aku tidak tahu."
Jesica bergidik hebat mendengarkan perkataan tersebut, "Yugo.. Jangan membuatku semakin takut."
"Kau siswi kedua yang menolaknya."
"Jadi ada yang sebelum aku?"
"lya, satu kelompok denganku dulu. Dia sendiri, berkumpul dengan empat dari kami."
"Aku, aku sendirian bersama empat orang asing."
"Ya, aku jadi nostalgia."
"Lalu dimana dia? Jangan bilang sudah mati?"
"Kalau kau ingin bertemu dengannya, dia ada di lantai satu. Dia mengasingkan diri dan hanya menangis sepanjang waktu semenjak kematian teman-temanku. Ya, kami dulu berjuang bersama."
Jesica menunduk sedih, "Yugo. Maafkan aku terus mengingatkanmu."
"Tidak apa-apa, itu sudah lama."
"Kau selalu bilang sudah lama, sebernarnya kapan kalian diculik? Apa mungkin sudah setahun? Kau pasti menghitung sejak kau ada disini bukan? Ingatlah, sekarang tahun 2019."
Yugo mengeluarkan sebuah pisau karatan dari dalam kardus. Sebuah pisau dapur rusak parah dengan gagang plastik warna hitam. Ada bekas darah yang sudah kering namun anehnya masih tercium amis.
"Menurutmu ini berapa tahun?" tanya Yugo tersenyum pada Jesica.
Tapi kemudian tertawa lirih sambil mejelaskan, "Ini salah satu pisau yang dia gunakan untuk membunuh. Saat itu aku berhasil merebutnya, niatnya ingin kuserang balik tapi gagal."
"Tapi kenapa kau membawanya?"
"Aku berpikir saat itu, dia kan tidak mati saat kami tusuk dengan pisau buatan kami. Jadi mungkin dengan menggunakan pisau miliknya sendiri, aku bisa membunuhnya."
"Kita."
Yugo tersenyum, "lya. Kita harus bisa membunuhnya."
Dia memberikan buku tua bersampul biru tua kepada Jesica, "Coba bacalah ini, ini catatan seseorang tentang rumah ini."
"Koran lama apa itu?"
"Kamu boleh baca buku itu saja dulu."
"Aneh," pikir Jesica masih mencuri pandang ke koran lama.
Tapi karena ditimbun oleh foto-foto rusak, akhinya dia mulai fokus lagi ke buku tua. la membukanya, kertasnya sudah menguning.
Pada halaman pertama terdapat sebuah inisial berbunyi: "R.A.M"
"Bukunya siapa ini?" tanya Jesica membalikkan lembar berikutnya.
Ada sedikit catatan yang diketik rapi yang dimulai dari tanggal.
______________________________
09 Desember 1949
Hari ini aku akan mulai menulis cerita tentang perasaanku di rumah ini. Aku berada di dalam sebuah ruangan sendirian. Berdiam diri setengah hari tanpa tahu kapan bisa menghentikan putaran waktu ini.
______________________________
Jesica kembali bertanya, "Ini milik siapa? Aku sedikit kesulitan membacanya."
Yugo menaikkan pundaknya sesaat, "Mungkin penghuni dulu-dulu sebelum mati. Temanku mengambilnya karena ingin tahu cerita lainnya. Tapi kebanyakan isinya tentang cara yang bertahan hidup yang dulu kami tiru."
"Ini lama sekali! Lantas sejak kapan pembantaian ini terjadi?" tidak ada balasan dari Yugo.
•
•
•
Haii, izah kambek!! 😆 Kok jadi bingung sendiri yaa?? 🤔 Aku juga seneng loh ngeliat ke uwwu an Jesica dan Yugo 🤣🤣 Adakah yang sama?? Jangan lupa Like Comment and Vote yaw!! Luv!! 💖💖💖