JESICA

JESICA
Part 1



Menikahlah denganku, Jesica!" pinta seorang pria tiga puluh tahunan yang tengah berlutut di depan gadis yang masih berseragam SMA.


Penampilannya sangat aneh, tertutup serba hitam, bahkan kaca matanya juga.


Gadis itu mengamati sekitar gerbang sekolahnya yang cukup sepi. Dia menghela napas lega dengan situasi ini. Teman temannya akan mengejek habis-habisan jika melihat seorang pria asing mendadak melamarnya begini.


"Eh, maaf, Pak, saya pulang dulu." katanya sopan sambil meninggalkan pria itu sendirian.


"Sayang sekali." gumam pria itu berdiri dan tersenyum puas menatap punggung gadis itu.


 



 







"Teman\-teman! Ada orang lain disini"



"Tapi siapa dia ini?"



"Pasti juga seperti kita, cepat tolong!"



"Dia tidak bernapas ternyata!"



"Masa sih! Barusan kulihat gerak kok.. Coba Rik, kau bisa pertolongan pertama kan!"



"lya, ini kulakukan! Diam Jangan membuatku makin panik!"



"Tolong! cepat tolong!"



Percakapan saling bersahut\-sahutan itu memenuhi gendang telinga Jesica. Gadis yang masih berseragam SMA ini langsung barngun. Dia merasa badannya sangat kaku seolah lama sekali tidak digerakkan. Kepalanya juga masih terasa pening, rasanya mirip seperti kalau kebanyakan tidur.



Akan tetapi yang paling membuatnya heran adalah dia dikelilingi empat remaja asing, dua laki\-laki dan dua perempuan.



"Emm. Ada apa?" tanya Jesica dirinya bangun dari lantai dingin.



Dia kemudian melihat mereka semua masih terbelalak kaget, "Siapa kalian?"



"Keajaiban." bisik laki\-laki bertubuh gempal.



Gadis berambut ombak panjang membantu Jesica berdiri.



Dia menjelaskan singkat, "Kamu tadi tergeletak di lantai dan seperti mayat. Ya ditolongin sama Riki."



Dia melihat temannya yang bertubuh jangkung, berkulit paling putih nyaris pucat serta berkaca mata.



Riki menghela napas lega, "Padahal tidak yakin tadi, uh, untunglah."



"Sebenarnya siapa kalian dan dimana kita?" tanya Jesica sendiri yang mulai tidak nyaman dengan keempat remaja itu.



Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Mereka berlima berada di sebuah ruang tamu luas sekali. Arsitektur bangunannya sudah mirip bangunan kuno Eropa. Seluruh temboknya berwarna putih susu penuh lukisan abstrak.



Langit langitnya tingsi terhias lampu gantung cantik. Terdapat sebuah anak tangga mewah menuju lantai atas juga, pegangannya memiliki ukiran berbentuk sulur\-suluran.



Perabotan disini juga memiliki nilai seni tinggi, dari mulai guci, kursi kayu, sofa, sampai sebuah meja besaryang ada di tengah ruangan. Meja yang paling menarik perhatian karena terdapat lima piring kosong.



"Kita juga tiba\-tiba bangun disini. Kita tidak tahu ini dimana, jadi kukira, kau pasti juga diculik seperti kami." jawab Riki juga ngeri melihat seluruh bangunan ini tidak ada jendelanya.



Dia melirik pintu ganda yang terlapisi jeruji besi.



"Aku tadi disini?" Tanya Jesica keheranan.




"Aku baik\-baik saja, mm." Ucap Jesica ragu\-ragu memanggilnya.



"Namaku Dinda, ini Riki, yang nolongin kamu, terus yang tubuhnya rada besar alias gempal ini Noval, terus ini Revi. Kita ini murid SMA 10 November yang ingin wisata ke gunung Bromo. Tapi dalam perjalanan malah kesini. Kamu sendiri dari SMA 17 Surabaya ya?" tebak Dinda menyelidik bagde seragam putih abu\-abu Jesica.



"lya, namaku Jesica," sahut Jesica mengangguk.



Dinda tersenyum kecil, "Kita sama\-sama dari Surabaya temyata."



"Bus kita perasaan terakhir kuingat sudah sampai di daerah Malang deh, artinya kita di daerah Malang kan?" Tanya Riki.



Noval menambahkan pertanyaan, "Kalian ingat tidak, terakhir ketemu siapa?"



"Kita kan sedang turun bus, lagi istirahat, terus kita malah keluyuran dan Pak Budi."



"Oh! lya! Aku ingat juga! Pak Budi!"



"Jangan\-jangan kita diculik pria itu?"



"Tapi, bisa jadi dia malah dibunuh terus kita disekap begini?"



"Tunggu, teman\-teman, kita kan sebelum keluyuran dipinggir hutan itu mampir ke toko sepi, terus kita beli makanan. terus kita pergi, nah kita dicari Pak Budi, tapi aku yakin sudah ingin pingsan saat dia baru datang."



"Jangan\-jangan rotinya?"



"ARGHHH! Hentikan! Aku mau pulang!"



Percakapan para remaja asing itu membuat Jesica terdiam. Tapi dari pembicaraan tersebut dia bisa menyimpulkan kalau semua penculikan ini direncanakan.



Akhirnya gadis bertubuh pendek yang bernama Revi mulai gemetaran. Mungkin saking takutnya tidak mau berbuat apapun selain nempel pada Dinda.



"Dinda, ayo cari kunci kek, apa gitu, kalau perlu cari alat buat jebol tembok.. Ini serem banget sumpah. Bodoh amat deh, kita seperti dijebak kemari. Terus barang\-barang kita diambil," bisiknya takut.



Riki mengangguk, "Baiklah, tidak perlu mempedulikan ini dimana atau siapa penculiknya. Selama orang misterius ini tidak kemari, ayo kita cari cara untuk membuka jeruji itu. Tapi lebih baik jangan berpencar."



"Rik, kira\-kira ini jam berapa ya?" Tanya Noval mendekati meja berisi piring. Lalu membolak\-baliknya dengan hati\-hati.



"Ngeri banget, kita kayak disambut."



"Mana kutahu, jam tanganku dirampas, sore mungkin jika kita pingsan beberapa jam. Tadi siang kan?"



"Semoga pihak sekolah sadar kita ngilang!"



"Sudahlah, Val, ayo kita cari sesuatu untuk membuka atau mungkin ada pintu dan jendela sekitar sini."



"Ngeselin banget ini sumpah," kata Noval mengeryitkan kening karena mulai mencium ada bau darah di sekitar meja itu. Dia pun mengendus\-endus pinggiran meja.



"Guys, sepetinya aku mencium bau aneh ini, seperti darah. Coba deh cium kesini." tambahnya.



Dinda menggeleng, "Halah, palingan kau lapar!"



"Dimana aku" pikir Jesica sangat bingung.







Hai, salam kenal yaw! 😄 Namaku, Zizah Zaira, panggil aja izah. Okeyy?? Biar lebih deket gitu 😅🤣 Maap kalo ada yang salah. 🙏 My first story, nih. Krisar? 🤔 Boleh yaw! 😁 Jangan lupa vote, like dan comment. Makasih!! 💖💖💖