
Jesica ditarik masuk oleh seorang laki-laki seumurannya yang menghuni kamar paling kanan tadi. Dia terlihat sangat ketakutan.
Pintunya digedor dengan keras.
Lalu terdengarlah suara pria mulut di luar, "Selamat datang di rumahku, Jesica!"
"Siapa kau sebenarnya!" teriak Jesica.
"Aku? Aku kan pemilik rumah," jawab pria itu.
"Siapa! Aku tidak mau disini! Hentikan ini!" tapi tidak ada sahutan kembali.
Tidak ada siapapun lagi. Semuanya kembali sunyi senyap seperti tidak terjadi apapun.
"Dia benar-benar tidak bisa masuk?" herannya dalam hati.
Jesica mundur, mundur dan menabrak tubuh laki-laki yang menyelamatkannya.
Dia menoleh dan menyingkir, "Aku... Apa.. Apa kau orang gila juga!"
"Aku tidak gila kok" kata laki-laki itu dengan suara lembut.
Dia menunjukkan dirinya sendiri yang tampak seperti remaja normal, berbalut jaket abu-abu, celana jeans, dan sepatu kets.
Jesica mengamati sosok penolongnya itu, "Siapa kau?"
"Namaku Yugo. Aku bisa dibilang juga terjebak disini. Setiap bulan orang gila itu selalu menambah orang culikan kemari, rata-rata remaja seperti kita karena mudah dibunuh." jawab Yugo tersenyum ramah dari bibir tipisnya untuk menenangkan gadis itu.
"Dimana ini?"
"Ini kamar entah, kamarnya siapa, jelas perempuan kayaknya." kata Yugo duduk di pinggiran ranjang tua putih yang selimutnya tebal sekali.
Dia menunjuk ke lemari kayu polos yang ada di depannya. Lalu ke meja rias mini tepat di sebelahnya.
Jesica memandang atap yang hanya terdapat satu lampu. Dia sungguh berharap kamar ini terdapat jendela. Tapi sayangnya rumah ini benar-benar seperti penjara. Bahkan penjara pun ada sedikit lubang ventilasi. Disini tidak ada apapun. Anehnya, dia tidak merasa pengap atau semacamnya.
"lya.. Ini rumah aneh, seperti penjara. Dekorasinya juga seperti bukan rumah tua peninggalan Belanda. Entah ini dimana." kata Yugo memandang Jesica.
"Berapa lama kamu disini?"
Yugo terdiam sejenak, "Mm.. Entah aku tidak ingat. Berada disini membuat kita akan lupa konsep waktu. Dulu aku juga diculik saat masih memakai seragam SMA. Orang ini memang gila. Untuk sementara disini dulu sampai pagi nanti."
"Bagaimana kita tahu paginya kapan!"
"Namamu Jesica?"
"Bagaimana kau.."
"Orang gila tadi memanggilmu begitu kan?"
Jesica tersadar dan memegangi kepalanya yang mendadak sakit, "Maaf, aku jadi linglung. Aku melihatnya membunuh orang, itu.. Itu mengerikan."
Yugo tampak biasa saja, "Kau akan terbiasa, setiap ada tamu baru, mereka akan kalang kabut seperti itu. Setelah melewati beberapa hari setelah punya kamar, barulah bisa tenang sedikit."
"Apa yang sebenarnya terjadi disini, Yugo? Dimana kita? Siapa pria yang memakai penutup kepala yang hanya kelihatan mulutnya saja itu?"
"Aku hanya tahu sedikit. Jujur, aku sendiri juga tidak tahu ini dimana. Tapi aku yakin rumah ini ada di daerah terpencil."
"Kau sudah tahu aturan rumah ini ya kan? Siapapun yang terlihat keluyuran di malam hari akan dibunuh. Parahnya hampir seluruh ruangan disini itu terkunci, kalaupun tidak pasti ada yang tidak beres di dalamnya."
"Kamu benar, saat kami membuka pintu salah satu ruangan di sini, ada orang aneh yang menggila seperti sakit jiwa yang hendak menyerang kami. Tapi saat pintu tertutup orang itu diam."
"Ya itulah. Aneh, bukan?"
"Terus apalagi?"
"Pembunuh disini adalah pemilik rumah, sampai sekarang aku tidak mengetahui motif atas tindakan gilanya ini, bahkan aku belum berhasil mengetahui identitasnya. Cuma aku yakin informasinya ada di perpustakaan rumah ini. Masalahnya tempat itu ada di lantai tiga, itu lantainya dia."
"Bagaimana kau tahu?"
"Dulu saat aku punya teman. ya sebelum kalian, kami berhasil menyelidiki orang ini sedikit. Niatnya mau menyerang balik. lya, percaya atau tidak, satu-satunya cara keluar dari sini itu membunuh orang itu, percuma kalian mati-matian membuka pintu utama, disini itu.. Sedikit mistis."
Jesica masih belum bisa menerima keanehan ini, "Aku."
"lya, jaman sekarang mana ada hal mistis. Orang jaman sekarang." sela Yugo tampak tidak senang dengan raut wajah Jesica.
"Aku percaya!" ralat Jesica.
"Kalau mau membuka pintu, setahuku harus punya kunci utama. Ya, harus merebutnya. Tapi itu susah."
"Lalu apa yang terjadi pada kalian? Dimana teman-temanmu?" tanya Jesica tidak sabar.
"Ya gagal. Kami hanya sekumpulan remaja. Sekalipun kami berhasil menusuknya, dia masih hidup, jadi kupikir kami kurang informasi. Intinya aku tidak tahu dia itu apa, manusia berjiwa iblis mungkin, atau memang seorang psikopat yang punya fisik kebal."
"Jadi, hanya kau yang.. Mm, maksudku."
"lya.. Waktu itu hanya aku yang selamat."
"Yugo."
"Kita berada di perahu yang sama, jangan memandangku dengan tatapan seperti itu. Lagipula sudah lama kok"
"Tapi Yugo, sebenarnya berapa banyak orang yang bersembunyi di rumah ini?"
"Mana kutahu, aku jarang keluar dari siní"
"Apa kamu mengenal gadis berpiyama biru, dia cantik, pendek. Dia bilang kalau dia dan teman-temannya ada di salah satu ruangan di lantai satu. Dialah yang memperingatkan kami tentang orang gila ini."
Yugo mengangguk, "Oh, gadis penghuni lama itu?"
"Penghuni lama?" ulang Jesica penasaran.
"Ya, dia memang kurang kerjaan. Suka keluyuran menjelang malam, dia sudah ada sebelum aku. Dia memang baik suka memperingatkan tamu baru. Tapi aku tidak menyukai teman-temannya."
Jesica masih bingung dengan sikap tenang Yugo ketika berhadapan dengan orang gila. Bahkan dia yakin tidak melihat ketakutan di dua pasang matanya.
"Dia aneh," pikirnya.
•
•
•