JESICA

JESICA
Part 13



Yugo mengajak Jesica keluar dari tempat itu. Pegangan tangannya sangat erat seolah tidak ingin gadis ini melarikan diri lagi. Raut wajahnya dilanda kesedihan jika terus menerus menutupi semuanya.


Mereka berdua berkali-kali membuka sebuah pintu di dalam ruangan demi ruangan. Awalnya Jesica merasa bingung karena rumah ini tidak masuk akal. Dia merasa dipermainkan karena terus menerus memasuki ruangan kosong. Hingga akhirnya sampai di tangga menurun, kemungkinan besar ruang bawah tanah.


"Dimana kita?" tanya Jesica mulai takut.


Yugo menuntun Jesica turun bersama, "Jangan khawatir, disini adalah tempat paling aman dari lantai manapun, ini ruang bawah tanah. Tidak ada orang, atau hantu yang mau kemari. Bahkan pemilik rumah sialan itu jarang sekali sampai turun kesini, karena.."


Aroma busuk luar biasa langsung memenuhi hidung Jesica. Dia seolah ingin muntah setelah turun baru beberapa detik. Baunya sepeti ada banyak bangkai disini. Itu benar saja, sejauh mata memandang ini adalah penjara dengan jeruji karatan yang telah menghitam.


Jesica ingin naik tangga kembali, tapi dihentikan Yugo.


"Jangan kemanapun tanpa aku. Percayalah, kalau saja tadi kamu sendirian saat bertemu Anggi, kamu sudah patah tulang, Jesica." pinta Yugo serius.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu."


"Kamu bilang tempatku, ini penjara!" bentak Jesica menutupi hidungnya dengan tangan.


Yugo menyeretnya untuk ikut berjalan menyusuri penjara demi penjara kosong. Walau pun dia sendiri juga ngeri jika berada disini.


Tapi dia berusaha menguatkan dirinya, "Aku tidak tahu ini tempat apa, tapi jelas penjara untuk menyiksa."


Jesica ngeri melihat jeruji besi yang terlihat masih basah padahal tidak ada penghuninya. Suasana yang sangat sunyi malah membuat bulu tengkuknya berdiri.


Dia berbisik, "Yugo, aku takut."


"Itu ruangannya." kata Yugo menunjuk sebuah pintu kayu dengan ukiran ular yang memakan ekornya.


Dia buru-buru mengajak gadis ini masuk kesana sebelum dia sendiri mengeluarkan isi perutnya.


"Jangan kesini.."


Suara bisikan aneh yang hanya didengar oleh Jesica. Gadis ini sontak menoleh kemana pun.


Lalu menelan ludahnya, "Yugo.. ada yang berbisik, kita tidak boleh kemari."


Yugo membuka pintu sembari melihat ke langit-langit, "Ya.. Coba kau mendongak. Mungkin salah satu arwah yang terlalu tua. Mereka sensitif dengan keberadaan kita."


Jesica mendongak. la langsung kaget bukan main saat melihat ternyata atap batunya ternyata juga tercampur dengan bagian-bagian dari tengkorak manusia. Dia hendak berteriak tapi urung karena Yugo menariknya masuk ke ruangan.


"Yugo, tempat apa ini? Sebenarnya kita ngapain sih!" herannya memandangi ruangan yang diterangi banyak sekali lampu dinding terang.


"Ini ruang apa ya.. Entah, tapi dulu aku pernah disini. Sebentar, ayo ikut aku." pinta Yugo menyibakkan kelambu demi kelambu mencari sesuatu.


Akan tetapi dia panik saat menyadari kalau bayangan yang terpantul di depan cermin adalah dirinya dalam balutan seragam SMA. Dia mengangkat tangannya untuk memastikan kalau itu dirinya.


"Aku kan memakai dress?"


Lebih mengerikannya lagi, dia baru sadar kalau lehernya terdapat bekas kemerahan aneh. la langsung berbalik dan berusaha melihat dirinya sendiri di semua cermin. Ternyata pantulannya sama. Dia berlari mengejar Yugo.


"Hei! Tempat ini seperti dipenuhi sihir!" dia menjerit saat menemukan Yugo.


Yugo terdiam. Bukan karena memandangi cermin, melainkan sosok pantulannya. Sosok itu adalah dirinya dalam balutan seragam SMA dengan dahi yang berlubang, mengeluarkan darah seolah baru saja ditancapkan sebuah pisau.


Yugo menoleh, "Jesica, jangan kabur. Oke? Itu, lihatlah!"


Dia menunjuk ke samping kirinya, tepatnya kepada seorang gadis yang tergantung di tali merah.


Jesica langsung mundur sampai membuat salah satu cermin terjatuh. Dia menggelengkan kepala saat melihat gadis yang masih berseragam SMA itu sudah dikerubungi belatung.


"Tidak mungkin!" teriaknya menangis histeris.


Yugo mendekatinya dengan perlahan. Lalu menenangkan gadis itu di dalam dekapannya. Dia sendiri ingin meneteskan air mata saat melihat bayangan mereka berdua di pantulan cermin.


Dia berkata, "Maafkan aku, harusnya dari awal kuberitahu ini. Aku hanya ingin kau mengetahuinya sendiri. Tapi.."


"Aku."


"Tidak apa-apa, ada aku."


Jesica masih terisak merasakan elusan Yugo di rambutnya. Rasanya dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Jika tahu begini, dari awal dia tidak akan berlari dari pembunuh itu.


"Aku sudah mati ternyata." pikirnya menggigit bibirnya yang gemetar.