JESICA

JESICA
Part 14



Yugo menuruni anak tangga dengan membawa pensil dan buku tulis yang sudah menguning. Dia tampak gundah saat melihat di lantai bawah. Kedua remaja yang masih hidup, Riki dan Revi, tengah memakan sepiring hidangan makanan. Kini piring yang ada di meja tinggal tiga, jatah milik Dinda, belum tersentuh sama sekali.


"Kemana Dinda?" tanya Revi dengan lahap mengunyah roti isi daging.


Dia merasa sangat kelaparan sejak kemarin tidak makan. Sekalipun dia melakukannya dengan mata yang terus mengeluarkan air mata.


Riki menjawab, "Entahlah. Seingatku kemarin dia masuk ke pintu di sebelahku."


"Aku khawatir."


"Hei, aku harus memberitahu kalian sesuatu." kata Yugo menghampiri meja dengan perasaan risih melihat kedua remaja itu makan seperti kesetanan.


Riki menoleh, "Siapa kamu sebenarnya? Kamu yang menyuruh kami untuk segera makan, lalu menjemput Revi, lalu dimana Jesica?"


"Namaku Yugo. Aku teman Jesica sekarang. Dia sedang istirahat di kamarku karena sedikit syok."


"Syok? Kenapa dia tadi lebih histeris dariku? Dia bilang aku hantu, lalu pergi meninggalkanku." tanya Revi waspada.


"Sejak kudengar suara jeritan tadi malam, lalu tenyata Noval sudah mati, aku merasa.."


Riki memberikan tatapan curiga, "Bukankah satu kamar hanya muat satu orang?"


"Kami berbeda." sahut Yugo datar.


Riki dan Revi saling memandang bingung.


Yugo memandang mereka serius, "Oke, dengar. Aku ini teman, aku sudah terjebak disini lumayan lama. Anggap saja seperti gadis berpiyama biru yang kalian temui itu."


"Sebenarnya ada berapa orang disini? Apa mereka semua bersembunyi?" tanya Riki cemas.


"Ya tentu saja. Kebanyakan ada di kamar lantai satu. Sudahlah, kita jangan buang-buang waktu. Aku disini ingin menggambarkan peta rumah ini. Setidaknya sementara waktu, kalian mengetahui letak pintu yang aman."


Dia menaruh buku di meja, lalu mulai menggambarkan letak pintu dari lantai satu sampai tiga. Namun dia tidak memberitahu lebih rinci tentang pintu-pintu di lorong maupun ruang bawah tanah.


"Tulisanmu seperti cewek." ucap Riki memperhatikannya.


Yugo tidak peduli dan langsung menjelaskan.


"Pertama, kita sekarang ada di Tempat Awal & Akhir. Kami menyebutnya begitu. Kalian bangun disini dan jika beruntung, kalian akan berhasil keluar lewat pintu keluar itu." Yugo menunjuk pintu berjeruji besi.


"Semoga."


"Kenapa kamu pesimis begitu!" kesal Revi mulai ketakutan lagi.


Dia melihat lukisan demi lukisan dinding.


"Di lantai satu ini, sedikit rumit. Kamu Revi kan? Kamu menemukan ruangan di lantai satu. Seingatku disini, ada 20 kamar. Cuma letaknya rada tersembunyi memang dan membingungkan seperti kamar rumah sakit. Kalian harus percaya mistis jika berada disini. Logika sama sekali tidak berguna, oke?" Riki dan Revi mengangguk setuju.


"Nah, di lantai dua, lantai kamarku berada, ada sepuluh pintu. Hampir semuanya kelihatannya sama. Aku membuatnya lebih gampang dengan memberinya nomor. Paling kiri adalah kamarku, no. 10. Nomor yang aman untuk dimasuki adalah no. 5, kamarmu." terang Yugo melirik Riki sesaat.


"Untuk nomor sedikit bahaya bagi manusia itu ada di no. 7, kemungkinan teman kalian memasukinya."


Revi panik, "Bahaya apa? Terus bagaimana!"


"Kalau kamarmu itu ibarat penjara, menutup dan terbuka dalam jangka waktu tertentu. Maka kamar yang dimasuki Dinda itu seperti berada di dalam alam mimpi. Dia akan tertidur terus sampai mati kalau tidak ada yang mengeluarkannya."


"Ayo keluarkan kalau begitu!" Riki ikut panik.


"Aku saja, nanti." kata Yugo menenangkan mereka berdua.


Dia pun melanjutkan penjelasannya, "Pintu no. 1 itu jelas dihuni oleh pria asing. Sebaiknya jangan buka seenaknya. Kalau dia keluar sebelum kalian menutupnya kembali, dia akan mengejar kalian karena berkeliaran disini."


"Mengerikan." kata Riki mengingat wajah pria itu.


"Sedangkan no. 2, 3, 4, itu pintu tidak pasti. Kadang terkunci, kadang terbuka. Kalau pun nanti terbuka, biasanya ruangannya kosong sama seperti ruanganmu Riki."


"Terus?"


"Kalian belum diganggu oleh hantu belatung. lya kan? Biasanya dia mengajak main." ucap Yugo terhenti, menatap Revi.


"Hantu." kata Revi menelan ludahnya.


Riki memandangnya, "Aku masih tidak percaya. Kenapa kita ada disini, ini terlalu berat untuk kita."


"Itu ucapanku dulu." sela Yugo melihat mereka serius.


"Sebaiknya kalian jangan meratapi penculikan kalian sendiri. Kalian tidak akan diselamatkan oleh siapapun. Kalian harus menyelamatkan diri sendiri. Aku akan membantu. Setelah mendapat petunjuk, kita bunuh orang itu. Kalian setuju?"


"Yugo, namamu Yugo kan." kata Revi masih bergidik sampai melirik ke atas anak tangga.


"Aku tidak tahu ini pagi, siang atau malam. Pintu kamarku tidak bisa kubuka sejak tadi. Apa yang harus kulakukan kalau orang gila itu tiba-tiba datang lagi?"


Riki sedikit resah, "Dan dimana kamar mandinya? Apa aku harus buang sesuatu di plastik?"


Yugo sedikit tersenyum, "Oh aku lupa. Kalian memang butuh kamar mandi ya."


"Apa maksudmu! Kita makhluk hidup, tentu saja butuh makan, buang air dan tidur."


"Kalau kalian mengetuk pintu di depan kamarnya Revi, terus memanggil nama Annemie. Gadis piyama biru yang kalian kenal itu, dia akan membukanya. Dia ibarat penguasa di semua kamar yang ada disana. Nah, disitu kalian akan diantar ke kamar mandi."


"Namanya Annemie?"


"lya, ingatlah. Jangan lupa memanggilnya. Memang sih kalian tidak akan diganggu ataupun disakiti oleh hantu-hantu disana karena kalian masih hidup. Sekalipun hantu di lantai satu itu barbar semua. Kalian tidak perlu khawatir, bahkan mereka malas menampakkan diri pada kalian nantinya."


Revi dan Riki saling memandang. Tatapan mereka semakin horror karena tidak bisa mencerna ucapan aneh Yugo. Mereka berpikir dari tadi penjelasan Yugo seperti mengatakan kalau dirinya bukan manusia.


Revi memastikan, "Kamu bukan hantu kan?"


Riki menjawabnya cepat, "Apa sih, lihat dia kasat mata kok. Kakinya juga menyentuh tanah." menyentuh pundak Yugo dengan perlahan.


"Dan bisa disentuh." mereka bernapas lega.


"Matahari tenggelam masih lumayan lama. Kalau aku menemukan jam pasir milik teman-temanku dulu, akan kuberikan pada kalian." ucap Yugo pergi meninggalkan mereka.


"Buka saja buku itu, ada simbol-simbol tentang ukiran di pintu. Aku harus mengeluarkan teman kalian dan memeriksa keadaan Jesica."


*****


"Apa dia bisa dipercaya?" tanya Revi memperhatikan sekitar.


"Noval sudah mati, Revi. Gadis misterius bernama Annemie kemarin juga berkata benar. Dan sekarang dia memberikan kita penjelasan. Kita hanya perlu waspada."


"Bagaimana kalau kita bertemu hantu?"


"Kamu dengar sendiri, katanya hantu tidak akan menyakiti kita."


"Tapi.."


"Kita hanya perlu bertahan. Aku akan masuk ke kamarku, kamu sebaiknya berada di kamarmu. Dan segera masuk ketika pintu itu sudah tidak terkunci. Paham?"


"Kenapa tidak ada yang mencari kita?"


"Revi, please."


Revi malah menangis, "Maafkan aku. Aku, aku takut sekali. Aku takut berada di tempat seperti ini. Aku takut, Noval mati dibunuh, Dinda hilang, bagaimana kita nantinya. Kita seperti rusa yang menunggu untuk ditembak pemburu, Ri-"


"Hei." Riki menjadi bingung.


Dia menghela napas panjang, kemudian mendekapnya erat, "Tenang saja. Aku yakin kita akan selamat asal menuruti aturan yang ada."





Ada yang sudah sedikit paham?? 🤔 Bingung ya, iya bingung. 😥 Yg sabar yaa, nanti bakal paham sendiri okeyy? 😄 Bakal dijelasin lewat alurnya. 😁 Stay tune yaw!! 😆 Jangan lupa Like, Comment, Vote and Share!! 😍😍 LUV!! 💖💖💖