
Jesica meringkuk di atas ranjang. Dia masih menangis sambil memejamkan mata. lapi ingatan tubuh tergantung di sebuah tali tidak kunjung menghilang dari pikirannya.
"Jesica?" panggil Yugo mendekatinya, duduk di pinggiran ranjang. Kemudian membelai rambutnya.
Butuh beberapa detik sebelum dia kembali berkata, "Tidak perlu menangis. Kenapa tidak turun bertemu teman-temanmu saja?"
"Untuk apa, aku sudah mati."
"Tapi mereka masih hidup."
Jesica menoleh sekilas, "Terus kenapa, aku sudah mati kan? Katakan padaku, apa aku memang sudah mati? Tapi kenapa aku malah disini?"
"Aku melihatmu dibawa ke ruang bawah tanah. Aku ingin menyelamatkanmu sebelum kamu di gantung dalam kondisi pingsan, tapi aku terlambat." terang Yugo semakin menyesal karena melihat kesedihan gadis ini.
Dia melanjutkan lagi, "Roh disini terjebak sampai kapan, aku tidak tahu. Tapi kita tidak akan bisa keluar, mungkin sampai kita berhasil membunuh pemilik rumah ini. Dan walaupun kita mati, raga kita sudah membusuk, tapi wujud roh kita juga seperti tubuh normal disini. Kita bisa terluka, kita seperti mayat hidup yang dibunuh berkali-kali tidak akan mati, karena kita sudah mati."
"Aku tidak peduli."
"Aku tidak memberitahumu kalau kamu sudah tidak ada, Jesica. Aku ingin membantumu keluar dari tempat ini, maksudku semuanya. Roh baru bisa mendapatkan kedamaian setelah meninggalkan tempat ini."
Jesica masih terisak, "Kamu sudah tahu dari awal?"
"lya." jawab Yugo mengangguk.
Jeda sejenak sebelum menanyakan, "Kamu ingin mengatakan sesuatu? Pertanyaan lainnya? Atau apapun? Aku disini."
"Tidak"
Yugo beranjak dari ranjang itu, "Baiklah, mungkin aku sendirian saja ke perpustakaan sekarang, jangan kemana pun ya."
Jesica bangun dan menarik celana Yugo, "Besok saja."
"Jesica?"
"Aku takut. Jangan pergi lagi, aku sendirian."
Yugo akhirnya melepaskan sepatunya. Kemudian naik ke ranjang, duduk bersila sambil bersandar di samping Jesica.
Dia menegaskan, "Kita berdua, tidak sendirian."
"Menurutmu setelah kita bebas dari sini, kita ke surga?"
"Entahlah, kurasa aku terlalu banyak dosa." ucap Yugo tersenyum kecil padanya.
Jesica membalas senyuman itu, "Aku juga. Kukira hidupku akan panjang, aku masih 16 tahun. Aku bahkan tidak pernah berlibur dengan orangtuaku, ataupun berpacaran, tapi malah berada disini."
Karena raut wajahnya kembali sedih dan matanya juga mulai berair, Yugo menyandarkan kepala gadis itu di pundaknya.
"Aku juga tidak pernah liburan dengan orangtua kok ataupun berpacaran, sepanjang hidupku kuhabiskan mengurus adik-adik pantiku. Kemudian aku diculik dan dibunuh, lalu terjebak menjadi hantu selama lima belas tahun disini." ucapnya pelan.
Jesica menunduk, "Maaf, Yugo."
"Kebanyakan reaksi hantu-hantu disini memang berbeda. Ada yang memberontak seperti yang kau lihat, Anggi dan gengnya. Ada yang frustasi seperti Ari yang mudah marah ketika bertemu hantu lainnya. Atau yang baik hati sepertiku." kata Yugo sedikit bergurau.
Dia tertawa lirih setelah memuji dirinya sendiri.
"Tapi kok mereka menganggapmu
pengkhianat?"
"Beberapa tahun yang lalu, aku berusaha menyelamatkan mereka dengan melakukan percobaan pembunuhan pada si Tuan rumah. Tapi karena mereka yang penakut, akhirnya rencananya gagal. Lalu mereka menuduhku berkhianat saat mereka mati. Padahal aku membantu mereka. Itulah kenapa keberadaanku di lantai satu sangat tidak disambut."
"Apa kamu selalu membantu orang yang diculik?"
"Tidak selalu sih, karena kupikir akhirnya pasti mati. Terbukti kan? Hanya saja saat itu aku menemukan tengkorak temanku, yang kamu lempar ke lantai itu. Kejam banget."
"Itu bukan milikmu?"
"Tidak. Kau sudah baca koran ya kan, sebagian besar tubuh teman-temanku di mutilasi dan dibuang ke hutan. Nah, mereka bisa bebas dari rumah ini karena mayat mereka tidak disini. Ada satu temanku yang tertinggal, sampai sekarang dia masih disini. Menangis sepanjang hari, sepanjang tahun, karena tengkoraknya masih disini."
"Lalu?"
"Aku ingin siapapun yang berhasil keluar dari sini membawa tengkoraknya untuk dikubur bersama anggota tubuhnya yang lain. Dengan begitu dia bisa tenang."
"Bagaimana denganmu? Kalau kamu disini artinya.."
"Kebanyakan tulang kami semua masih disini kok. Hanya saja sebagian tidak ada yang mengetahui letaknya. Intinya, kita harus membunuh tuan rumah untuk melenyapkan kutukan disini. Sebelum tempat ini menjadi sesak dan kita harus saling berebut kamar. Walau pun kita akan bangkit lagi selelah ditusuk pisau, tapi rasanya tetap sakit."
"Benarkah?"
"lya, aku sudah ditusuk empat kali selama berada disini. Kamu ingat melihat bayanganku di cermin?" tanya Yugo menyentuh keningnya untuk kesekian kalinya.
"Dulu aku mati karena tuan rumah sialan itu menancapkan pisaunya ke kepalaku. Pisau yang pernah kutunjukkan adalah pisau yang kumaksud."
"Yugo."
Yugo malah mengelus rambut Jesica, "Makanya jangan berkeliaran tanpa aku. Nanti kalau kita terjebak dan orang itu ternyata sudah turun, aku bisa menjadi tameng untukmu."
"Aku tidak mungkin melakukan itu."
"Aku sudah mati, Jesica. Tidak masalah."
"Yugo, aku juga sudah mati."
Jesica ingin menertawai dirinya sendiri. Berada di tempat asing, bersama laki-laki asing malahan, tengah menyandarkan kepala di bahunya, dan sudah dalam keadaan mati. Berulang kali dia menggelengkan kepala tidak percaya.
"Jadi ini alasannya aku tidak mengantuk, tidak lapar, dan tidak punya keinginan buang air." gumamnya.
"lya, makanya aku tertawa saat kamu mengkhawatirkan makanan. Kita tidak akan pernah merasakan lapar lagi. Tenang saja. Lagipula sosok penyedia makan kan di rumah ini sangat paham berapa banyak tamunya yang butuh makanan."
"Kira-kira orangtuaku gimana ya.."
"Apa kamu anak tunggal?"
"lya."
"Tidak, orangtuaku selalu menerapkan peraturan ketat padaku. Itu karena mereka pekerja keras, mamaku pulang malam, papaku jarang pulang. Jadinya mereka selalu mengatakan kalau aku harus disiplin waktu, tidak foya-foya dan semacamnya untuk menjadi orang yang lebih baik."
"Sekarang malah jadi hantu yang lebih baik ya?"
Canda Yugo, yang langsung disambung, "maaf ya, maaf."
"Kamu benar kok."
"Aku senang mendengarnya, sudah baikan begini."
"Bagaimana denganmu? Maksudku.. Kehidupanmu?"
Yugo tertegun sesaat, "Mungkin jika aku hidup sekarang, aku sudah menikah dan punya anak. Padahal dulu aku sudah mengincar beasiswa S1 ke Inggris. Sekarang malah jadi hantu."
"Yugo, pasti menyebalkan disini selama 15 tahun. Aku tidak bisa membayangkan berada di kurungan tanpa jendela ini selama itu."
"Aku terbiasa kesepian sebenarnya, jadi sama saja. Aku beruntung punya teman bicara lagi. Aku bosan bicara sendiri."
Jesica merasa sedih, "Maaf."
"Kenapa malah minta maaf?"
"Kurasa kamu lebih tragis ketimbang diriku."
"Tidak juga. Kamu yang tragis."
"Kamu."
Yugo tertawa, "Semua orang yang ada disini akhirnya tragis. Tapi ya, kita usahakan agar ini yang terakhir. Kita akan mengeluarkan teman-temanmu, bagaimana?"
"Ya. Agar kita juga bisa bebas dari sini."
"Kita harus cepat, kita hantu, kita tidak butuh sinar matahari. Aku khawatir dengan temanmu yang masih hidup itu. Makin lama disini akan makin tersiksa seperti kami dulu, bertahan selama sebulan."
"Aku jadi takut kalau seandainya lampu disini mati, pastinya mengerikan sekali."
"Oh iya, benar juga. Aku lupa
memberitahumu sesuatu." ucap Yugo menjadi panik.
"Ada satu hari saat seluruh lampu rumah ini akan padam dan lilin yang menyala. Parahnya, seluruh pintu terbuka, kecuali pintu utama. Hari dimana kutukan tidak berlaku disini. Yaitu tanggal 31 Oktober."
"Halloween? Kenapa disini merayakan Halloween?"
"Jesica, bukan merayakan. Tanggal itu memang hari dimana arwah menjadi bebas. Setiap kamar pada dasarnya adalah kurungan, jadi setiap hari itu, kita dibebaskan. Ya, walaupun itu malah bahaya."
"Begitu ya."
"Sayangnya, aku tidak tahu kalender semenjak disini, tidak peduli juga. Intinya kalau lampu padam artinya, kita harus siap berlari kejar-kejaran sepanjang hari menghindari semua hantu dan makhluk aneh disini."
"Bagaimana dengan Tuan Rumah?"
"Khusus dia, anehnya, dia tetap hanya keluar saat matahari tenggelam. Tapi ya kalau tidak ada tempat berlindung, rasanya mengerikan. Tahu-tahu dia sudah berada di belakangmu."
Jesica mencengkram jaket yang dipakai Yugo, "Yugo.. Bukankah ini bulan Oktober? Aku mati bulan ini kan?"
Yugo berpikir lama, "Hmmm.. lya, aku lupa. Beneran, untung kamu bahas lampu tadi. Dan benar juga, kita harus segera membunuh orang itu atau teman-temanmu mati, jelas."
"Apa sekarang saja kita ke lantai tiga?" tanya Jesica mengangkat kepalanya.
"Tidak, ini sudah sore. Sebentar lagi malam." jawab Yugo menggelengkan kepala.
Sesekali ia memejamkan mata untuk mendengarkan sesuatu, lalu mengulangi ucapannya, "Ya, sebentar lagi malam."
"Aku sudah mati, harusnya aku juga bisa merasakan sesuatu sepertimu kan? Kenapa aku masih belum bisa menajamkan pendengaranku?"
"Kamu masih baru. Kalau sudah melamun 15 tahun sepertiku, nanti juga tajam sendiri." canda Yugo mengacak rambut gadis itu dengan gemas.
"Maaf ya, tanganku terus menyentuh rambutmu."
Jesica menjadi malu, "Sudahlah."
Saat Yugo masih ingin memandangi gadis ini, dia dikejutkan dengan ketukan pintu lirih.
Tok Tok Tok...
"Yugo, gadis yang tadi kamu keluarkan, dia hilang lagi. Ini hampir malam, tidak apa-apa membiarkannya berkeliaran?" bisik seseorang dibalik pintu.
"Pasti kerjaan geng bar-barmu itu, Anna!" kesal Yugo turun ranjang dan segera membuka pintu.
Terlihatlah Annemie alias gadis berpiyama biru yang tampak was-was. Dia menatap ke Jesica sekilas dan tersenyum ramah. Sebelum akhirnya berbisik-bisik dengan Yugo.
"Jesica, aku pergi dulu. Jangan keluar sampai aku sendiri yang membukanya! Kalau hantu belatung datang lagi, lakukan cara yang kuajari. Aku akan mencari temanmu dulu." kata Yugo keluar bersama Anna.
Jesica penasaran, "Siapa?"
"Dinda kalau tidak salah namanya." sahut Yugo menutup pintunya kembali.
Terdengar bunyi terkunci otomatis saat laki-laki itu sudah pergi.
Suasana hening perlahan menakuti Jesica.
Dia langsung turun ranjang seraya berkata, "Kurasa aku harus ikut."
•
•
•
Aaaaaa!! 😆 Ku suka ke uwu an kalian berdua 😂🤣 Btw, ini si Anna jadi nyamuk yaa 😆😅 Sampe jumpa di part berikutnya yaa!!! 😁 Jangan lupa Like, Comment, Vote and Share yaw!!! 😍 Paypay!!💖💖💖