
Jesica terjebak di antara dua orang aneh yang kemungkinan hantu itu. Dia mundur hingga nyaris menjatuhkan beberapa buku. Tindakannya yang terlalu panik membuat sosok Ari menjadi risih.
"Ada apa sebenarnya dengan kalian? Apa kita akan memainkan drama lagi? Berada disini itu sudah sangat sengsara, jangan menggangguku!" bentak Ari mendadak marah.
Suaranya yang menggelegar sampai membuat rak-rak buku bergetar.
"Demi Tuhan. Ini mengerikan." gumam Jesica mulai memohon perlindungan pada Tuhan.
"Keluar!!" seru Ari semakin marah.
Otot pelipisnya kelihatan jelas. Dia mendekati Jesica dengan wajah semakin menghitam aneh. Dari seluruh kulit kepalanya perilahan keluar darah segar. Darah itu dengan cepat membasahi dahinya.
"Aaaaahhh!" jerit Jesica keluar kamar.
Tapi tubuhnya berhasil ditangkap oleh Yugo.
"Jesica! Jika kamu main masuk tanpa melihat isi ruangannya, kamu bisa-bisa disakiti oleh penghuninya!" ucap Yugo mempererat pelukannya agar gadis ini tenang.
"Aku mohon, jangan bunuh aku." rengek Jesica sampai takut membuka mata.
Kakinya lemas, kepalanya pusing, lehernya juga semakin sakit.
"Siapa yang akan menyakitimu? Aku ini sedang membantumu. Memangnya dari kemarin, apa yang sudah kuperbuat padamu? Aku melindungimu."
Jesica mendongak ke wajah Yugo, "Aku.."
"Dengar, dengar. Aku tidak akan menyakitimu. Aku sedang melindungimu sekarang. Kita harus pergi dari sini. Aku benci berada disini."
"Tapi kamu hantu kan!" bentak Jesica mendorongnya kuat-kuat.
"Ayo ikut aku ke tempatmu."
"Tempatku? Apa maksudmu tempatku?"
"Kamu mau tahu siapa aku? Ayo kita pergi ke tempat itu!"
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan lima remaja yang masih berseragam putih abu-abu, satu perempuan, empat lelaki. Dandanan mereka seperti anak bermasalah yang sedang merayakan kelulusan sekolah. Ya, seragam putih mereka penuh coretan warna-warni.
"Hei, lihat-lihat, siapa itu yang turun dari lantai dua." kata si ketua geng dengan name tag berbunyi Anggi.
la berambut hitam kaku bak di hair spray. Pada lehernya melingkar tato ular kecil. Dia memegang sebuah tongkat bisbol yang kelihatannya masih terdapat bekas darah.
"Gi, ini kan si pengkhianat." sindir satu-satunya gadis di geng tersebut yang memiliki name tag berbunyi Aulia.
Lalu tertawa terbahak-bahak bersama temannya yang lain.
"Kok berani ya ke lantai ini?" tambah Anggi menyeringai sambil mendekati Yugo.
Tapi tatapannya kemudian terarah pada wajah Jesica yang ketakutan, "Si Prayugo ini membawa ceweknya ternyata ya?"
Aulia menyela, "Masih baru."
Mereka tertawa lagi.
Yugo menyembunyikan Jesica di balik punggungnya, "Kami akan segera pergi."
"Lihatlah, Yugo. Itu, itu darah asli. Aku tidak mau dibunuh."
"Dibunuh dia bilang?" heran Anggi mengerutkan dahi.
Dia menoleh pada teman-temannya, "Dia belum tahu kita siapa ya? Memang dasar anak baru."
"Habisi saja, bos!" teriak temannya yang lain dengarn name tag berbunyi Damar.
Dia menatap tajam Jesica seraya menggigit bibirnya karena tidak tahan ingin tertawa.
"lya, dibunuh saja udah. Bunuh juga si pengkhianat sialan itu!" seru Aulia bernada mengejek.
Damar mengangguk, "Udah kayak main sama si Tuan Rumah saja ini."
"Loh, mungkin kita diberikan waktu pagi hari untuk bersenang-senang juga." timpal Aulia.
Jesica tidak tahan mendengar ocehan mereka yang tidak waras. Dalam benaknya, dia tidak paham mengapa mereka semua malah bahagia sementara terkurung di rumah aneh.
Dia langsung membentak, "Siapa kalian!"
"Oh, aku Anggi, si penyihir abu-abu, lulusan Hogwarts." kata Anggi mengundang tawa teman-temannya.
Aulia ikut memperkenalkan diri, "Aku Aulia, si jin cantik dari botol Aladdin."
Mereka tertawa terbahak-bahak.
"Apa-apaan kalian ini! Kita sedang ada di dalam sangkar!" bentak Jesica merasa sangat frustasi.
Dia tidak tahan mendengar suara tawa mereka yang semakin menjadi-jadi.
Anggi pun berkata dengan santai, "Lah, tidak perlu serius-serius amat. Masih pagi ini, kalau terlalu dipikirin, bisa stres kita. Ya kan? Makanya sesekali main bunuh-bunuhan, ujung-ujungnya juga tidak akan ada yang mati."
"Diam kalian!" bentak Yugo.
"Permainan kejar-kejaran sambil membunuh itu seru loh. Coba tanya sama pacarmu itu, si Prayugo, pengalaman banget dia ya." sindir Anggi meliriknya tajam.
Jesica mendelik, "Hah?"
Yugo lantas menyeret paksa Jesica keluar dari sana lewat salah satu pintu. Dia sangat hafal dengan rute pelarian singkat dari tempat itu.
Karena bingung, Jesica hanya menurut karena isi kepalanya dipenuhi ucapan Anggi barusan.
"Tidak mati?" batinnya.
•
•
•
Izah backk!!! 😆 Nanti aku bakal up lagi ya!! 😁 Maap baru up, aku sibuk bev. 😅 Maklumi yaa 😁 Jangan lupa Like Comment and Vote yaw!! Share juga cerita ini ya!!! 😄 Paypay!!!💖💖💖