JESICA

JESICA
Part 9



Kedua remaja ini hanya berdiam diri di ruangan itu selama berjam-jam. Keduanya sibuk membaca berkas-berkas di dalam kardus.


Yugo baru bicara ketika dia mendengar kicauan burung.


"Sudah pagi." katanya.


Jesica kaget, "Hah? Aku.. Aku belum tidur! Kita bahkan belum tidur? Beneran ini pagi?"


"lya. Aku mendengar suara burung barusan."


"Hah? Tapi.."


Yugo menyelanya dengan mengalihkan pembicaraan, "Biasanya ada orang yang membangunkan tamu baru seperti teman-teman barumu itu. Anna mungkin sudah keluar, kalau tidak, berarti teman-temannya. Dulu dia yang menyuruh kami untuk mendengarkan suara burung. Ya, akhirnya terbiasa."


Yugo hanya tersenyum seakan tidak mau menjawabnya, "Mungkin sebaiknya kita keluar, kamu bisa membangunkan temanmu. Kalian harus mencari tehnik untuk saling berkomunikasi agar tidak tertipu dengan godaan hantu peniru sialan itu."


"Tehnik?"


"Ya, hantu itu selalu mencari kelemahan hati seseorang, artinya dia hanya menyamar menjadi orang yang dicintai, dikagumi, disayangi atau sedang dikhawatirkan, yang baik baik. Biar kutebak kamu kemarin khawatir pada Revi, suka anak anak dan rindu mamamu?"


Jesica mengangguk, "lya, aku khawatir karena dia sendirian di lantai satu. Sementara Noval terbunuh tepat di depan kamarnya."


"Nah, artinya dia tidak akan meniru suara seseorang atau sesuatu yang membuatmu muak, benci, takut, atau apapun yang jelek-jelek. Hewan apa yang kau takuti?"


"Anjing."


"Ada seseorang yang kau benci?"


"Pemilik rumah ini."


"Ah itu jelas." Yugo tertawa pelan.


Dia lalu menerangkan, "dulu aku dan teman-temanku memakai tehnik itu berkat bantuan dari buku catatan "R.A.M" ini. Dia bilang hantu itu tidak akan meniru sesuatu yang tidak kita sukai. Aku sangat membenci seseorang dulu, jadi temanku biasanya membangunkanku dengan meniru caranya memanggilku."


"Membenci."


Yugo melanjutkan dengan nada sedih, "Semakin kamu disini, kamu akan sadar rumah ini seperti punya nyawa. Semakin lama, kita seolah menyatu disini, dimana pintu ini ibarat hati dan hantu belatung itu ibarat orang orang di sekitar kita. Kita biasanya hanya membuka hati hanya kepada orang yang kita sukai, menutupnya rapat kepada orang yang dibenci."


"Benar."


"Dan disini kita seperti diajari membuka hati pada orang atau sesuatu yang kita benci. Entahlah, maaf aku melantur. Berada disini membuatku sangat sedih selama ini." kata Yugo menyunggingkan senyuman penuh kepedihan.


Dia memandangi Jesica seakan ingin menangis seraya spontan memegangi dahinya.


"Kau tidak apa-apa? Jangan mengingat yang lalu-lalu."


Yugo berdiri sambil meregangkan tubuh, "Cobalah ganti baju dulu, Jesica. Aku semakin sedih kalau melihat seragam SMA."


Dia sedikit takjub dengan bagian dalamnya yang ternyata bersih nan wangi. Deretan gaun selutut berenda warna-warni ala era 80'an tergantung rapi. Ada sebuah ransel biru yang sudah rusak tergeletak di sudut bawah lemari.


"Itu ranselku, kutaruh disana. Sengaja, soalnya lemarinya wangi," terang Yugo memahami keheranan Jesica.


"Aku penasaran dengan isinya." ucap Jesica dalam hati.


"Biarkan disitu loh ya, jangan dibuka loh. Aku sedih kalau mengingat itu." pinta Yugo pelan.


Jesica mengalihkan pandangannya pada baju kembali, "Apa aku tidak dikutuk jika memakai salah satu gaun ini?"


"Halah, aku saja juga mengambil di kamar lain baju ini, santai saja. Kita diperbolehkan memakai apapun disini." sahut Yugo berputar untuk memamerkan baju curian yang melekat di tubuhnya.


"Benarkah?"


Yugo mengangguk, "Beneran, cobalah, kau pasti cantik memakainya. Itu cukup bersih dan..." terhenti karena tersadar ucapannya kelewatan sampai membuat gadis itu tidak nyaman.


"Maaf, aku hanya berusaha jujur. Ya.." tambahnya.


Jesica memilih baju dengan cepat. Di kepalanya langsung dipenuhi pengulangan ucapan Yugo itu. Dia memang tidak pernah mendapat pujian seperti itu dari laki-laki manapun. Tidak pernah ada satupun. Alhasil dia begitu saja mengambil satu dress selutut lengan panjang bercorak kotak kotak coklat tua.


"Pilihan yang bagus." puji Yugo.


"Pakailah."


"Ya, yang.. Yang ini tidak jadul, bagus malahan." kata Jesica sedikit malu.


Mereka hanya saling menatap beberapa saat.


Jesica mendehem, "Hei.."


"Oh, maaf, maaf, maaf." kata Yugo menjadi panik dan berbalik badan ke tembok.


"Sekarang sudah pagi kan? Mending keluar deh."


Yugo semakin malu seraya berjalan keluar kamar, "Aku.. Aku tunggu diluar."


Baru setelah laki-laki itu menutup pintu, Jesica bergegas bergati pakaian. Kemudian mengambil ransel biru yang membuatnya penasaran sedari tadi.


"Dia sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku, sebenanya dia terjebak dari kapan? Apa isi ranselnya?" Herannya penasaran luar biasa.