
Yugo menahan Jesica untuk membuka pintu, "Kamar di lantai dua ini spesial, bisa dibuka dari dalam. Itulah kenapa banyak peniru berkeliaran."
"Peniru?"
"Percaya atau tidak, pemilik rumah ini punya pembantu cilik biadab, dasar hantu." bisik Yugo menuding ke bawah pintu yang anehnya mulai kedatangan belatung.
Jesica langsung menjauh.
"Hantu!" jeritnya dalam hati sambil menutup mulutnya.
"Main sama aku yuk." seru seseorang di balik pintu yang suaranya berubah menjadi anak laki-laki.
"Yu, Yugo." panggil Jesica takut.
Gedoran pintu semakin keras.
Sosok hantu itu kembali berteriak dengan suara mirip ibu-ibu, "Bantuin mama, Jesica."
"Mama! Dia meniru suara mama?" Jesica melotot mendengar suara mamanya diluar.
Mendadak angin dingin merasuk dari bawah pintu. Anginnya langsung menerpa seluruh kulit Jesica hingga membuatnya membeku sesaat.
"Pergi bodoh!" bentak Yugo menggedor balik pintunya sehingga membuat hembusan anginnya sirna, belatung tadi juga menghilang perlahan.
"Ke-kenapa bisa ada hantu?"
"Ini kan rumah angker, banyak yang mati, wajarlah. Kalau ada suara seperti itu di malam hari, gedor balik pintunya, gedor setelah dia berubah suara tiga kali. Pokoknya jangan dibuka."
Jesica mulai panik kembali, "Yugo, ini menyeramkan. Ada psikopat, pasien RSJ, dan sekarang hantu! Dan kamu bilang dia pembantunya! Bagaimana mungkin manusia bisa melihat hantu, maksudku.. ah! Ini mengerikan!"
"Tidak apa-apa." kata Yugo mendekati gadis itu, kemudian mengelus rambutnya begitu saja.
"Yugo?" panggil Jesica heran dengan perlakuan itu. Apalagi melihat tatapan Yugo yang kembali bersedih.
"Maaf, aku hanya teringat adik-adik di pantiku dulu. Mereka kalau panik ataupun takut menjadi hilang kendali. Jadi aku reflek ingin membuatmu tenang, maaf." kata Yugo menarik tangannya kembali.
Jesica hanya diam memandangnya. Seumur hidup dia tidak permah merasakan kepalanya dielus seseorang.
Ia pun mengangguk, "Terima kasih."
"Jadi itu tambahan cara untuk selamat di tempat ini. Jangan buka pintu sebelum pagi. Atau kamu akan mendapat tamu hantu yang sukanya main belatung itu."
"Kenapa dia bisa meniru mama?"
"Hantu sialan itu bisa mengetahui sisi lain kita. Ya, aku sering digoda dengan suara teman-temanku. Kamu akan terbiasa dengan ulahnya."
"Sepertinya kamu tidak takut."
"Dia menyebalkan dan juga menjijikan, Jesica. Semakin aku sering melihatnya, aku tidak tahu lagi sekarang. Antara takut dan jijik itu perbedaannya apa."
"Kamu sering bertemu dengannya?"
Jesica meneguk ludahnya.
"Dia selalu membawa mangkok berisi belatung, dia suka memencet satu per satu belatungnya sepanjang hari. Menjijikan, bukan?" Lanjut Yugo.
"Bagaimana rupanya?"
"Nanti juga tahu sendiri."
"Aku tidak mau bertemu dengannya!"
"Semoga saja. Kita kan besok mau ke lantai tiga.
Jesica menenangkan dirinya, "Baiklah. Dia hantu, jadi setidaknya tidak bisa melukai kan?"
"Bisalah, cuma dia tidak akan melukai juga."
"Hantu bisa melukai kita? Tapi han-hantu seharusnya ..."
"Ingat kata-kataku, kalau ingin bebas, intinya jangan takut. Ayo kita bunuh si biadab itu!"
"Baiklah," Jesica tersadar.
"Kenapa kamu tidak rebahan saja dulu? Ini masih malam. Aku akan mencari peta rumah ini." kata Yugo mulai berjongkok di sebelah ranjang untuk menyeret keluar sebuah kardus di kolongnya.
Jesica lebih tertarik menemaninya, "Itu apa?"
"Harta kami dulu. Usaha kami berusaha lepas dari sini ada disini semua." jawab Yugo menarik kardus itu hingga dia bisa duduk bersandar di tembok.
"Beritahu semuanya padaku juga."
"Tentu saja. Kita teman sekarang ya?
"Yugo."
"Aku sudah lama tidak bicara. Jadi aku senang bisa bicara dengan seseorang sekarang"
Jesica tersenyum kecil, "Terima kasih sudah menyelamatkanku."
Yugo hanya mengangguk sambil mengeluarkan sebuah foto lama yang pinggirannya sudah pudar, "Tahu ini siapa?"
"Itu kan."
•
•
•