
Jesica terus berteriak saat menuruni anak tangga. Dia seperti sudah tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Kakinya berlari menuju lorong tempat semalam Noval dibunuh. Tidak ada tempat yang bisa ia tuju selain kesana.
Lorong itu sangat sepi, lampu tetap menyala karena tidak ada pencahayaan apapun. Meski telah diberitahu ini sudah pagi, tapi suasana tetap gelap gulita.
"Aku tidak mau berada disini terus." bentaknya dalam hati saat sesekali memandangi plafon.
Tapi dia menyadari kalau tengah ketakutan. Matanya terus memastikan kalau laki-laki bernama Yugo tidak mengejarnya.
"Sepi sekali disini!" katanya panik karena masih belum melihat ujung pintu yang kemarin mereka temukan.
Semuanya hanya lorong memanjang dengan lampu yang semakin lama semakin redup.
"Jesica! Jesica kan? Jesica! Tunggu aku! Aku mohon! Jesica!" seru seseorang mengejarnya.
Jesica menoleh dan terperanjat karena melihat Revi tahu-tahu sudah ada di belakangnya. Dia semakin ngeri karena wajah gadis itu pucat ketakutan berlari ke arahnya. Setelah kejadian kemarin malam.
"Apa mungkin hantu?" pikirnya paranoid.
"Revi? Tidak mungkin.. Kamu peniru?" tuduhnya sambil mempercepat larinya.
"Jesica? Aku tadi dikeluarkan oleh ruangan aneh itu, lalu aku berusaha mencari kalian. Disini sepi sekali, tahu-tahu saat aku membuka pintu, aku malah kembali ke lorong ini!"
Teriak Revi semakin takut, "Dimana Riki dan Dinda! Jesica! Jangan tinggalkan aku!"
"Aku harus keluar dari kurungan ini!" seru Jesica saat berhasil menjauh darinya.
Dia sampai di tiga pintu tertutup yang sama dengan tadi malam. Anehnya di lantai sudah tidak ada bekas darah dari milik Noval. Awalnya dia ingin mengetuk pintu tempat Revi asli berada. Akan tetapi secara mengejutkan suara Yugo terdengar memanggilnya.
Sontak saja dia lantas membuka pintu sebelah kanan yang belum diketahui. Kali ini ia berharap ada manusia yang masih hidup menolongnya.
"Tolong!" teriaknya sembari menutup pintunya erat-erat.
Mendadak lehernya menjadi sangat sakit seperti dicekik oleh sesuatu. Gemetar, takut, dan cemas. Semuanya dia rasakan saat menyadari dia berada di lorong panjang lagi.
"Sebenarnya seberapa luas tempat ini?" pikirnya melihat pintu-pintu kayu dengan ukiran berbeda berjajar rapi di sisi kanan-kirinya bagaikan kamar hotel.
Tapi disini pencahayaan lampunya sangat terang sehingga dia bisa melihat jelas. Walaupun lorong ini seperti tanpa akhir. Dia merasa matanya terkena ilusi.
"Tolong!"
Dia kembali berteriak, "Tolong aku! Riki! Dinda! Tolong!"
Terdengar suara gagang pintu dibuka. Salah satu pintu sebelah kanan, deretan ke tujuh, dibuka oleh seseorang. Dia muncul dengan wajah yang cemas melihat Jesica yang berlarian seperti orang gila. Dan orang itu adalah Yugo.
"Jesica!" panggilnya sambil menutup pintu.
Jesica menjadi panik lagi dan berusaha berbalik. Namun pintu di belakangnya terkunci. Dia menggedor gedornya seraya terus meminta tolong.
"Jangan seperti orang gila!" bentak Yugo mengerutkan dahi saat mendekatinya.
Jesica menjejak pintu sambil membentaknya, "Kenapa kamu bisa ada disini!"
Jesica tidak mau mendengarkan, lalu mencoba untuk membuka pintu sebelah kirinya, tapi gagal. Dia pun berbalik ke sebelah kanan, lalu masuk seenaknya. Dia masuk tanpa peduli tempat apa itu.
"Jesica!" panggil Yugo berlari ke pintu tersebut.
Lalu berusaha membukanya dengan wajah khawatir. Dia sangat ketakutan.
"Jauhi aku! Aku.. Aku, aku mau bertemu dengan manusia!" seru Jesica bersandar di pintu yang digedor keras oleh Yugo.
Dia langsung sadar tengah berada di kamar seseorang. Ruangannya rapi, dipenuhi rak buku dan meja kursi di tengah dimana seorang laki-laki seusianya tengah membaca.
Dia berpenampilan layaknya remaja normal. Bahkan dia masih memakai seragam SMK berbadge jurusan TKJ. Dengan kaki di atas meja, kaca mata baca menghiasi mata sipitnya, dia tampak tidak peduli dengan kehadiran Jesica. la tetap membolak balik halaman demi halaman sebuah majalah elektronik.
"Aku.. Aku.." ucap Jesica menjadi gugup karena kebingungan.
Dia takut kalau seandainya remaja ini juga hantu.
"Hmm?" laki-laki itu meliriknya.
"Apa.. Kamu hantu?"
"Siapa kamu? Main masuk ruangan orang."
"Aku.."
Yugo terus menggedor pintu, "Ari! Keluarkan Jesica! Jangan menyentuhnya."
Remaja bernama Ari itu menghela napas panjang. Dia pun berdiri sambil menaruh majalah di meja.
Kemudian melirik Jesica, "Kalau ada masalah rumah tangga, jangan libatkan aku dong."
"Kenapa Yugo mengenalnya Jangan-jangan dia juga hantu!" pikir Jesica menelan ludahnya.
Dia pun memastikan, "Dia hantu, kamu manusia kan?"
"Apa itu guyonan?" tanya Ari menunjuk pintu di belakang Jesica.
Secara ajaib, pintu itu mengikuti arah lambaian tangannya. Pintunya terbuka dengan sendirinya sehingga muncullah seseorang.
Jesica bergidik hebat, "Apa yang terjadi?"
•
•
•
Itu buat bonus ya!!! 😄 Maap banget nih loh. 😅🙏 Jangan lupa Like Comment and Vote yaw!! Bagikan cerita ini juga, okee?? Makasih ya 😄