JESICA

JESICA
Part 3



Ada semacam usus yang sudah kering dipaku di bawah meja. Siapapun yang mendekatkan hidungnya kesana pasti mencium bau darah dan amis. Tapi baunya memang tidak sampai menyebar, hanya saat seseorang menunduk untuk melihatnya.


Jesica segera menjauhinya, "Menjijikan."


Dinda, Revi dan Riki yang melihatnya kompak menyingkir dengan wajah ketakutan bercampur jijik. Walaupun hanya melihat sedetik, Dinda seolah merasa tubuhnya lemas dan kepalanya pusing


"Itu, itu usus orang kan? Aku yakin. Aku yakin!" ucapnya terbata-bata.


"Mungkin saja itu binatang." kata Riki berusaha menenangkan teman-temannya yang sebentar lagi histeris.


"Tidak, Rik, itu orang! Aku pernah melihat." kata Noval kembali ingin muntah.


Mendadak seseorang ikut obralan mereka.


Dia berseru, "lya itu usus manusia! ltu untuk penolak bala!"


Kelima remaja ini langsung menoleh ke atas anak tangga. Mata mereka terbelalak saat melihat seorang yang tampak aneh dengan kepala terbungkus kain hitam yang hanya berlubang bagian mulut. Kain tersebut seolah sengaja diikatkan sampai ke leher.


Tubuh orang itu tinggi tegap, bermantel hitam tebal. Semua tertutup rapat seakan tidak ingin kulitnya terpapar apapun. Dia turun dengan perlahan sambil memberikan senyuman pada kelima tamu rumahnya itu.


"Kalian berani sekali masuk rumahku tanpa ijin, semua orang selalu saja begitu. Memasuki rumah tercintaku begitu saja. Padahal aku ini punya banyak alergi." katanya memandangi telapak tangannya yang membawa pisau dapur.


"Oh, astaga, dia pasti pembunuh." bisik Revi.


"Ayo lari. Ke lorong gadis tadi!" teriak Riki mulai berlari ke tempat gadis piyama tadi menghilang di kegelapan.


Revi, Dinda dan Noval berteriak histeris dan mengekor di belakangnya.


"Jadi benar, dia yang menculikku, pria gila itu." pikir Jesica masih memandangi pria itu.


Dengan lantang dia malah menudingnya, "Kau pelakunya kan!"


"Jesica! Lari kemari!" teriak Riki mulai menyadarkan posisinya sekarang.


Akhirnya gadis itu ikut berlari mengikuti mereka. Tanpa senjata, mereka hanya bisa berlari. Apalagi ternyata ternyata pria itu juga ikut berlari mengejar.


"Jangan mengotori rumahku!" teriaknya berlari tanpa kesulitan sama sekali.


Padahal dia dibilang buta dan tuli, tapi dia mengetahui letak apapun.


Lorong yang dilalui remaja ini sangat panjang seperti lorong rumah sakit, hanya saja tidak ada satupun pintu disana. Temboknya bersih dari pajangan. Tapi semakin mereka berlari, jarak lampu dindingnya semakin jauh sehingga penglihatan mereka terbatas. Parahnya tidak ada belokan sama sekali.


"Akan kubunuh kalian!" teriak sang pemilik rumah mengacungkan pisau dengan bangganya.


"Pria mulut itu tetap mengikuti kita!" teriak Noval menoleh sesaat.


Riki yang memimpin jalan merasa sudah tidak bisa berpikir jernih. Dia berharap menemukan ruangan untuk sembunyi.


"Kita harus cari ruangan seperti yang gadis piyama tadi perintahkan!" Balasnya.


"Pasti dia komplotan orang ini juga!" Jerit Dinda.


Setelah melewati satu lampu dinding yang remang, Riki melihat ujung lorong ini adalah pintu kayu tanpa jeruji. Di kedua sisi tembok juga ada pitu lain. Ketiga pintu itu mirip, sama-sama karena punya ukiran aneh berbentuk bintang segi enam.


"Kita pilih samping tembok kiri saja!" Kata Dinda panik karena napasnya mulai terengah-engah hebat.


Dia menambahkan, "Pintu depan biasanya jebakan!"


Jarak mereka dengan pria mulut itu hanya beberapa meter saja.


Hal ini membuat Riki menjadi kelabakan dan menuruti perintah Dinda. Dia membuka pintu sebelah kiri yang ternyata hanya sebuah ruangan sempit kosong dengan satu lampu.


"Ayo masuk!" Teriaknya takut.


Mereka semuanya masuk, namun anehnya saat laki-laki itu hendak menutup pintu, sebuah angin kencang menghempaskan mereka keluar ruangan. Keempat orang tersungkur di lantai, menyisakan Revi seorang di dalam. Kemudian pintunya tertutup dan terkunci sendiri.


"Arrrgghhh!" jerit Revi menggedor pintunya.


"Teman-teman!"


"Revi! Buka pintunya!" teriak Dinda memaksa gagang pintu agar pintu tersebut terbuka.


"Tidak bisa! Tolong! Aku tidak mau sendirian disini!"


Riki menyambar lengan Dinda dengan panik, kemudian langsung membuka pintu depan, "Ayo pergi!"


Pria mulut itu tahu-tahu sudah berhasil mendekati Noval. Tanpa menunggu, dia menghujamkan pisau ke punggungnya. Semuanya terjadi begitu cepat, dia tidak memberikan waktu untuk sekedar menarik napas.


"Ahh!" Jesica histeris karena Noval berada tepat di belakangnya.


Dia mematung kala melihat pria itu menatap tubuh Noval yang ambruk di lantai dengan pakaian mulai dipenuhi darah.


Dinda ikut menjerit ketakutan. Detak jantungnya tidak karuhan, desir darahya seakan terhenti.


"Noval!"


"Makanya, jangan main masuk rumah orang!" bentak pria mulut itu yang tampaknya sedang terus menjejak mayat Noval. Dia tidak peduli dengan tamunya yang lain.


Riki menyambar lengan Jesica, "Ayo!"


Mereka bertiga langsung masuk ke dalam ruangan depan tadi. Setiap sudah dimasuki ternyata pintunya otomatis terkunci. Mereka melihat pemandangan yang tidak asing.


"Bukankah ini ruang tamu tadi?" tanya Jesica melihat sebelah kirinya dan atasnya ternyata bagian belakang anak tangga.


Dinda menuding pintu di belakangnya yang perlahan menyatu dengan tembok,


"Riki. Rik, pintunya hilang."





Gimana?? Tegang gk?? Nggak dong 🤣 maaf ya kalo kurang puas 😅 Hueee kasian sama Noval 🤧 Jangan lupa Like Comment and Vote yaw!! Lopee 💖