JESICA

JESICA
Part 4



Jesica, Riki dan Dinda ngeri melihat tempat mereka berlari tadi. Mereka saling memandang dengan wajah takut, sedih, dan gemetaran hebat.


"Berarti pintu yang menuju ke gadis piyama tadi ada di sebelah kanan! Kita tidak punya waktu. Dia bilang di lantai atas ada tempat persembunyian!" seru Riki panik lagi.


Dia langsung berlari menaiki anak tangga, "Ayo kita ke lantai dua!"


Dinda mulai menangis saat mengekor.


"Dinda, diamlah!" bentak Riki.


"Noval mati, bodoh! Revi malah terkunci!"


"Kalau kamu menolongnya tadi, kamu juga akan ditusuk! Dia seperti iblis, tahu-tahu sudah ada di belakang kita!"


"Revi bagaimana?"


"Gadis piyama bilang kan? Kalau kita masuk ruangan, kita aman!"


"Mana ada bodoh!"


"Kau lihat sendiri tadi! Pintunya tiba-tiba hilang! Revi terkunci kan? Artinya pria itu tidak bisa menyakitinya. Kita pikirkan diri kita dulu, lalu kita jemput dia. Setelah pagi datang!"


"Kau percaya gadis itu?!"


"Setelah yang kulihat tadi, Aku rasa 100% percaya sekarang!" tegas Riki menoleh dengan wajah ketakutan.


Saking takutnya, Giginya bergemeretak.


Sementara Jesica yang paling belakang terus menerus melihat ke bawah karena takut berakhir seperti Noval. Dia tidak pernah melihat pembunuhan sebelumnya.


"Mama, papa! Tolong aku!" teriaknya dalam hati.


"Jesica! Jangan terlalu pelan!" teriak Riki cemas karena gadis itu tertinggal.


Jesica berlari lebih cepat.


Setelah mereka berada di lantai dua, barulah terdengar suara tawa histeris di bawah. Pria mulut itu sudah mulai ingin menaiki tangga mengejar tamu tak diundangnya.


"Seandainya saja ada sesuatu yang bisa dijadikan alat pertahanan diri!" bentak Riki mengumpat berkali-kali.


Dia membersihkan kaca matanya sesaat lalu mengamati lantai dua yang nyatanya tidak jauh berbeda dengan bawah. Hanya saja tidak ada perabotan ataupun hiasan apapun, kecuali sebuah karpet berbahan rasfur terbentang di lantai.


Di tembok terdapat sepuluh pintu kayu dengan ukiran berbeda-beda. Namun rata-rata memiliki corak sama layaknya ular yang memakan ekornya. Anehnya semakin dilihat, mata seperti terkecoh tengah melihat ular asli.


"Aku takut, mama." rengek Dinda mendengar suara tawa pria itu semakin dekat.


"Ayo masuk ke salah satu ruangan disini!" kata Riki menunjuk ke pintu paling ujung kirinya.


Dia bergegas cepat tanpa membuang sedetik waktu pun. Bagaimanapun dia lebih baik selamat sendirian ketimbang jika harus menolong temannya yang tertangkap nanti.


Dia membuka pintunya berukiran ular memakan ekornya dengan satu titik hitam di tengah. Akan tetapi malah kaget di ambang pintu.


"Ada orang." bisiknya melirik seseorang di sudut kamar.


Pria paruh baya dengan tubuh besar yang terbalut kain putih penuh pengikat layaknya pasien rumah sakit jiwa. Dia menoleh dengan wajah kotor keriputnya, lalu menunjukkan deretan gigi hitam tajamnya.


"Tamu!" jeritnya histeris sambil berlari kencang menghampiri ketiga remaja ini.


Dia tertawa gembira seolah ingin menerkam mereka.


Riki berteriak takut sambil menutup pintunya kembali. Lalu mundur bersama Jesica dan Dinda. Dia menenangkan debar jantungnya yang sedari tadi tidak tenang. Tetapi tu percuma saja karena pria yang mengejar mereka sudah sampai di lantai dua.


"Halo." sapa sang pria mulut.


"Kita pencar, cari ruangan lain!" teriak Riki.


Jesica berlari ke pintu ketiga. Tapi ternyata terkunci. Riki mendahuluinya ke ruangan ke empat. Sementara Dinda hanya berlarian menghindari pria mulut. Mereka semua panik bukan main. Mereka tidak peduli satu sama lain.


"Mama!" jerit Dinda sambil membuka sebuah pintu.


Ternyata terbuka, masalahnya tempat itu hanya gelap gulita. Tapi dia tetap memasukinya. Lalu menutup pintu berharap pria itu tidak menusuknya dengan pisau yang masih berlumuran darah.


Pria itu ternyata mengejar Riki, "Hei.. Hei.."


Riki berhasil menemukan ruang kosong seperti ruangan Revi. Dia langsung masuk tanpa peduli nasibnya lagi. Dia mundur selangkah demi selangkah kala pintu yang sudah terkunci rapat itu digedor-gedor.


"Eh, sampai besok ya!" teriak pria itu kemudian melirik Jesica.


Saat Jesica mundur ke depan ruangan paling kanan, pintunya terbuka sendiri. Sebuah tangan keluar dan menariknya masuk.


Suara laki-laki terdengar berbisik, "Kemarilah.. disini aman."