
"Bu itu earphone Zoya bukan punya aku" ucap Fadil sambil menoleh ke arah ibu nya.
Zoya menahan tawa nya saat Fadil memberitahu yang sebenarnya pada bu Rita, ia merasa senang karena bisa mengerjai mertua nya yang selalu bersikap seenaknya pada Zoya.
Raut wajah bu Rita pun semakin memerah, kekesalannya terhadap Zoya semakin meningkat, ia tak menyangka jika Zoya berani mengerjai nya seperti itu, Fadil pun celingukan karena bingung apa yang sebenarnya terjadi pada ibu dan istrinya.
"Aku ke dapur dulu ya mau masak" ucap Zoya kemudian pergi meninggalkan suami dan mertua nya yang masih berdiri di depan pintu kamar.
Di malam hari saat Zoya mau beristirahat tiba-tiba ponselnya bunyi dan ia pun segera melihatnya untuk memastikan siapa yang sudah menelfon nya di malam hari, Zoya terkejut saat melihat nama pemanggil nya, Keny Mahendra itulah nama yang ada di layar ponsel Zoya, Keny adalah kakak tertua Zoya, dia tinggal di luar negri dan sudah berkeluarga, Keny sangat jarang pulang ke rumah orang tua nya karena jadwal nya yang selalu padat oleh pekerjaan, jangankan berkunjung, berbicara lewat telfon pun mereka jarang, jika bukan Keny yang menelfo nnya maka mereka akan susah untuk menghubungi Keny.
"Kak Keny, tumben nelfon" batin Zoya sambil mengerutkan kening nya.
Zoya masih memandang layar ponsel nya, ia bingung harus menerima nya atau tidak, ia takut jika kakak nya sudah mengetahui soal keluarganya yang sudah membuang Zoya, tapi jika ia tidak menerima nya maka Keny akan terus menelfon nya, karena takut mengganggu Fadil yang sudah tertidur, Zoya pun menerima telfonnya kemudian pergi ke luar.
"Halo kak Keny, ada apa?" ucap Zoya setelah menerima panggilan dari kakak nya.
"Kamu lagi dimana?" tanya Keny.
"Aku di rumah, memangnya kenapa"
"Oh di rumah, besok jemput kakak di bandara ya sekitar jam dua siang, tapi kamu jangan beritahu mama dan papa dulu, ini kejutan"
mendengar Keny mau pulang ke rumah, Zoya langsung gelagapan karena ia bingung harus bagaimana menjelaskan pada kakak nya, Zoya pun tak ada pilihan lain selain menuruti perintah dari kakak nya, setelah Keny mengakhiri panggilannya, Zoya pun segera menghubungi Reza untuk meminta bantuan pada nya.
Tak butuh waktu lama Reza pun langsung menerima panggilannya, Zoya langsung memberitahu tentang kakak nya yang mau pulang ke indonesia, dengan beberapa pertimbangan akhirnya Reza menyetujui permintaan Zoya, mereka pun akan menjemput Keny besok siang bersama-sama.
Keesokan pagi nya, Zoya pun terburu-buru untuk pergi ke kantor, Saking terburu-buru nya ia sampai lupa untuk menyiapkan sarapan pagi seperti hari biasanya sebelum pergi ke kantor, ketika di jalan Zoya baru ingat jika dirinya belum memasak untuk suami dan mertua nya.
"Duh mereka pasti marah nih kalau aku gak masakin sarapan, tapi yaudah lah sekali-kali gak buat sarapan, toh mereka bisa beli aja di luar" ucap Zoya sambil berjalan cepat.
Setelah tiba di kantor Zoya langsung pergi ke ruangan Reza, seperti biasa saat Zoya datang ke perusahaan pasti ada beberapa pegawai wanita yang menatapnya dengan tatapan sinis, mereka yang melakukan hal itu hanya iri pada Zoya yang bisa langsung akrab dengan atasan mereka, Reza Gunawan.
"Selamat pagi presdir Reza" Sapa Zoya setelah masuk kedalam ruangan Reza.
Saat di kantor mereka harus berprilaku sangat formal karena takut jika terlalu akrab akan berdampak buruk pada karyawan yang melihat nya, dan mengira bahwa Zoya dan Reza pasti ada apa apa nya.
"Di ruangan ini hanya ada kita berdua, lagi pula kedap suara, jadi gak perlu terlalu formal banget ya, panggil aku Reza saja" pinta Reza.
Zoya pun menganggukkan kepala nya kemudian tersenyum canggung, mereka pun mulai mengerjakan pekerjaannya masing masing, setelah Zoya selesai ia menatap Reza yang masih fokus pada komputer di hadapannya, Zoya pun melamun dan membayangkan betapa tampannya Reza saat sedang bekerja, sesekali ia pun tersenyum sambil menatap Reza.
"Reza ganteng banget sih, andaikan dulu kita saling mencintai mungkin aku gak akan merasakan kesialan seperti sekarang ini" batin Zoya kemudian ia pun tersadar akan lamunannya, sebenarnya Reza menyadari bahwa Zoya sedang memperhatikannya, namun ia tak ingin membuat, Zoya merasa canggung dan malu jadi Reza tetap memilih untuk berpura-pura tidak tahu.
Saat siang tiba Zoya dan Reza pun pergi ke bandara untuk menjemput Keny, Zoya sangat gugup karena ia belum memikirkan apa yang akan ia katakan mengenai pernikahannya dengan Fadil, Zoya sangat takut dan patuh pada kakak pertama nya itu, ia pun sesekali melirik ke arah Reza yang sedang duduk di samping nya, Zoya berharap jika Reza dapat membantunya untuk berbicara pada Keny.
"Kamu kenapa Zo" tanya Reza sambil melirik ke arah Zoya.
"Aku bingung harus menjelaskan apa pada kakak, aku takut dia malah marah dan ikut membuang aku juga seperti mama dan papa" keluh Zoya kemudian menekuk kan wajahnya.
"Kamu tenang aja, biar aku yang bicara sama Keny" Reza mencoba untuk menenangkan Zoya terlebih dahulu, padahal ia juga belum menemukan solusi, Selama di perjalanan mereka hanya terdiam tanpa membuka obrolan apa pun, sesekali Zoya melirik ke arah Reza, sebenarnya Reza juga selalu melirik nya, karena ia menggunakan kaca mata hitam jadi Zoya tidak menyadari nya.
Setelah tiba di bandara, Zoya dan Reza langsung turun dari mobil dan baru saja mereka turun Keny sudah memanggilnya dari jarak yang tak jauh dari mobil mereka.
Zoya pun langsung lari dan memeluk kakak pertama nya itu.
"Hey, kamu sudah besar masa masih seperti anak kecil gini sih" ucap Keny saat Zoya masih terus memeluknya dengan erat.
"Pinjem pundaknya sebentar aja kak, aku pengen nangis dulu" lirih Zoya sambil terus menyembunyikan wajahnya di dada Keny.
Keny pun menatap Reza dengan penuh tanda tanya, Reza hanya menaik kan pundak nya seolah ia pun tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Zoya.
Keny pun membiarkan Zoya untuk memeluknya lebih lama lagi, ia enggan untuk bertanya apa yang sudah terjadi pada diri nya, karena walaupun bertanya Zoya pasti tidak akan mengatakannya, yang ada malah semakin menangis.
Beberapa saat kemudian Zoya pun melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata nya yang sudah membasahi pipi chuby nya, ia pun menarik nafas dalam dalam kemudian melepaskannya secara perlahan.
"Udah yu kita keluar dari sini" ajak Zoya dengan suara yang berpura-pura senang.