
Suasana kantor begitu tenang orang-orang sibuk dengan tugasnya masing-masing, meskipun begitu ada juga yang sedang bergosip siapa lagi kalau bukan sekelompok perempuan yang kurang kerjaan termasuk Minah. Orang itu bahkan tertawa keras saat menceritakan sosok wakil direkturnya. Minah memberi isyarat pada teman-temannya agar diam saat Jieun berjalan kearah mereka, Jieun tidak memperdulikan Minah dia berjalan dengan wajah sendunya. Setelah Jieun duduk dimeja kerjanya, Minah tersenyum sinis kearahnya.
"Apa kalian lihat berita? Aah aku merasa kasian pada siswa itu karena dituduh sebagai pembunuh. Benarkan Nayeon-ah?"
Minah dengan sengaja mengeraskan volume suaranya matanya melirik kearah Jieun, Nayeon mengangguk setuju mereka melihat Jieun dengan sinis.
Jieun terdiam dia tidak tuli dia mendengar semua perkataan Minah, tapi Jieun tidak memeperdulikannya. Tangan Jieun membuka laci meja dan mengambil sebuah foto. Jieun meremas foto itu sebentar sebelum melihat foto itu.
"Apa kau melihat ini semua? Apa kalian tertawa? Aku sangat senang jika kalian tertawa di hadapanku bukan ditempat lain."
Jieun terkekeh pelan, dia mengelus foto itu. Dia menutup matanya menahan air matanya.
"Jieun-ah, aku sudah membeli cake-nya ayo."
Jieun segera meletakkan foto itu kembali dan menutup laci mejanya dengan cepat begitu Daehyun datang, dia berdiri dan menghampiri Daehyun.
"Tapi apa tidak apa-apa setiap hari kita bawakan kue? Aku rasa tempat tidurnya pasti penuh dengan bungkus kue."
Jieun tertawa mendengar perkataan Daehyun dan menarik lengan Daehyun agar cepat berjalan.
"Kalau begitu kau makan saja kuenya."
Daehyun berhenti mendengar perkataan Jieun.
"Benarkah?! Aku akan senang memakannya."
Daehyun bersiap membuka bungkusan kuenya dan memekik mengeluh sakit saat dirasakan Jieun mencubit pinggangnya.
Daehyun tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya dan kembali merapihkan bungkusan kuenya dan menggandeng tangan Jieun. "Ayo, aku rasa dia sudah menuggu kuenya."
Jieun tertawa melihat tingkah Daehyun, Chang Wook keluar dari ruangannya dan melihat Jieun bersama Daehyun. Bahkan Jieun membungkuk saat melihat Chang Wook dan berlalu begitu saja.
"Haah memangnya apa yang aku harapkan?"
Chang Wook tertawa sendiri dengan pikirannya dan pergi kearah lain.
πππ
"Hyesin-ah."
Daehyun dan Jieun masuk kedalam ruang inap Hyesin, Hyesin tersenyum melihat mereka berdua.
"Kalian datang lagi? Sudah aku katakan tidak perlu bawa apa-apa jika kemari."
Daehyun meletakkan bingkisannya, Jieun duduk didekat ranjang Hyesin.
"Keadaanmu sudah lebih baik?"
Hyesin mengangguk dan tersenyum pada Jieun, Daehyun duduk disamping Jieun dirinya tengah sibuk mencari remot tv dan berseru senang setelah menemukannya.
"Sudah aku bilang bukan? Seharusnya aku saja yang memakannya."
Jieun menyenggol lengan Daehyun membuat Hyesin tertawa.
"Seminggu yang lalu pihak kepolisian mengumumkan kasus kematian seorang siswi bernama Shin Sohe bukan karena bunuh diri akibat pembullyan melainkan adanya pembunuhan berencana terhadap korban, saat ini pihal kepolisan sedang melakukan penyelidikan lebih dalam lagi tentang kasus ini. Pihak Pengacara keluarga korban bernama Lee Jieun membenarkannya bahwa kliennya dibunuh oleh seseorang ki---"
Plass..
Daehyun mematikan tayangan berita tersebut, mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya Jieun membuka suara.
"Maafkan aku Hyesin-ah seharusnya aku tidak menuduhmu, jika saja aku tidak menuduhmu kau pasti baik-baik saja. Maaf."
Hyesin menyentuh tangan Jieun dan tersenyum. "Kak ini bukan salahmu, seharusnya aku yang mengatakannya lebih awal bukan melakukan hal-hal yang aneh terhadapmu."
Daehyun menghela nafasnya dan tersenyum melihat kedua wanita dihadapannya ini, Jieun dan Hyesin berpelukan dan menangis menyadari kesalahan mereka masing-masing.
"Aah apa aku harus bergabung? Aku rasa iya."
Daehyun merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk mereka berdua.
PLETAK..
"Aah! Sakit!"
Daehyun mengusap dahinya dan melotot kearah Jieun, Hyesin tertawa melihat kelakuan keduanya.
"Daehyun-ssi aku sangat berterimakasih padamu karena sudah menangkapnya."
Daehyun segera melepaskan tangan Jieun dari rambutnya dan tersenyum manis kearah Hyesin.
"Aah itu memang sudah pekerjaanku."
Jieun berdesis melihat sikap Daehyun. "Kalau begitu kami pamit pulang."
"Tunggu sebantar, tolong sampaikan juga permohonan terima kasih pada pengacara Jang."
Jieun dan Daehyun saling berpandangan tidak megerti apa maksud Hyesin.
"Hyesin kami tidak mengerti maksudmu? Terimakasih untuk apa?"
Hyesin melihat mereka dengan bingung. "Dia tidak mengatakan apapun pada kalian?"
Mereka berdua menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Aah begitu, Pengcara Jang hampir setiap hari kemari dia membawakan beberapa kue dan buah-buahan bahkan aku melarangnya untuk membawanya lagi dan mengatakan padanya jika aku baik-baik saja."
Jieun dan Daehyun terus memikirkan perkataan Hyesin sampai mereka pulang.
"Apa kau tau tentang ini Ji?"
Jieun menggelengkan kepalanya, Daehyun mengendikkan bahunya dan berpamit pulang. Setelah Daehyun pergi, Jieun terus memikirkan kejadian saat Hyesin ditabrak.
"Aishh aku bahkan tidak sengaja menyebutnya 'paman' aku malu sekali, semoga dia tidak mengingatnya."
-Flashback-
"LEE JIEUN APA YANG KAU LAKUKAN HUH?!"
"Paman."
Jieun menangis setelah melihat wajah orang yang memeluknya, tangan Jieun gemetaran.
"H-hyesin HYESIIN!"
Jieun melepaskan pelukannya dan berteriak histeris melihat tubuh lemah Hyesin tergeletak penuh darah.
Chang Wook segera membawa tubuh Hyesin kedalam mobilnya, Jieun mengikuti Chang Wook dan masuk kedalam mobilnya.
"Hyesin--Hyesin--"
Dokter mencegah Jieun masuk kedalam ruangan operasi, Chang Wook menenangkan Jieun.
"Dia akan baik-baik saja, kau tenang saja."
Chang Wook memeluk Jieun mengelus kepala Jieun dengan lembut.
"Dia tidak akan meninggalkanku kan?"
"Berhenti mengucapkan yang tidak-tidak dia pasti baik-baik saja."
Jieun mengeratkan pelukanya dan menangis dipelukan Chang Wook.
-End Flashback-
"Aku pasti sudah gila! Aarhhh memalukan!"
Jieun mengacak rambutnya dan segara merapihkan mejanya untuk pulang.
πππ
"Kau tau sudah beberapa kali aku waktu itu meneleponmu aku hampir frustasi jika saja Daehyun tidak mengatakan terjadi sesuatu padamu."
Woon Hu melihatkan hasil rekamannya saat Kang Jun berbicara empat mata bersama seseorang, Chang Wook tersenyum mendengar perkataan Woon Hu. Daehyun membantu memberi alasan pada Woon Hu dan itu yang membuat Chang Wook begitu senang dan berterimakasih pada Daehyun.
"Kak aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
Daehyun datang, tangannya menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya. Woon Hu dan Chang Wook melihat kearah Daehyun.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
Chang Wook bertanya setelah Daehyun duduk di sampingnya, Daehyun melihat kearah Woon Hu yang terus melihat kearahnya.
"Apa kak Woon Hu akan tetap disini? Tidak apa-apa jika ada dia?"
Woon Hu mengerang kesal. "Ya dasar bocah tidak sopan memangnya kenapa aku disini huh?!"
Daehyun memundurkan tubuhnya takut melihat reaksi Woon Hu, Chang Wook menenangkan kakak-nya itu.
"Aishh kak tenang, biarkan saja. Lanjutkan."
Daehyun mengangguk setelah mendapat persetujuan Chang Wook dia mengelurakan barang dan foto yang ada ditangannya.
"Jelaskan padaku kenapa kau tidak bilang jika kau sering mengunjungi Hyesin dan apa benar ini kau?"
Woon Hu dan Chang Wook melihat foto yang ditunjukan oleh Daehyun, Chang Wook mengerjapkan matanya dan mengelus tekuk lehernya sedangkan Woon Hu memiringkan kepalanya dan mengambil foto itu dari tangan Daehyun.
"Apa benar ini kau Wook-ah?"
Chang Wook berdehem. "Aah itu--itu bukan--"
"Bukan apa?"
Daehyun dan Woon Hu menaikkan alisnya menunggu jawaban Chang Wook, Daehyun mulai curiga dengan sikap Chang Wook.
"Kak apa ini ada kaitannya dengan Lee---"
"Haaaah sepertinya aku mengantuk, kalau begitu selamat malam."
Chang Wook bangun dari duduknya lalu merenggangkan otot-otot tangannya keatas dan berjalan dengan cepat kearah kamarnya sebelum Daehyun dan Woon Hu bertanya lebih banyak lagi.
"Ckck dia benar-benar."
Daehyun menghela nafasnya kasar dan menekuk wajahnya sebal, Woon Hu tersenyum seolah mengetahui apa yang disembunyikan Chang Wook.
***
Malam hari, Kediaman Park Kang Jun.
"Aku belum bisa menemukannya, dimana dia menyimpannya."
Kang Jun meremas rambutnya, ruangan kerjanya sangat berantakan bahkan kertas laporan kerjanya berserakan dimana-mana. Beberapa kali ketukan pintu diabaikan membuat istrinya takut dengan keadaan suaminya.
"Haisshh dasar berengsek!"
Kang Jun mendorong kursi kerjanya, Kang Jun terdiam melihat kursi itu berhenti ditahan oleh seseorang. Kang Jun memundurkan langkahnya, orang itu menggeser kursinya dan berjalan mendekat kearah Kang Jun.
"Beri aku waktu sebentar lagi, ak--aku pasti akan menemuka--aarghh."
Wajah Kang Jun memerah dan berkeringat, Kang Jun mencoba melepaskan tangan orang itu dari lehernya.
"U-uhuk ak--aku jan-nji--"
Cekikan dileher Kang Jun semakin kencang membuat tubuh Kang Jun terangkat.
"Waktumu sudah habis."
-
-
-
Jieun duduk sendirian dihalte bus, meniup tangannya yang kedinginan. Matanya melihat poster iklan yang ada disampingnya.
"Sepertinya minum soju menyenangkan."
Jieun berdiri setibanya bus datang dan masuk kedalam bus, Jieun berjalan kearah apartementnya sambil membawa sekantong plastik. Jieun berhenti sebentar merasakan ada seseorang yang mengikutinya, dia ragu-ragu untuk melihat kebelakang tapi rasa penasaran yang terlalu besar dia memberanikan diri untuk melihat kebelakang. Tidak ada siapa pun bahkan jalanan terlihat sepi, Jieun dengan cepat berjalan tanpa melihat kearah belakang lagi.
Jieun mencari kunci apartementnya dengan tergesa-gesa, tangannya terus gemetar.
"Aah tolonglah."
Setelah berhasil masuk Jieun menutup pintu apartementnya, dadanya naik turun merasa pasokan oksigen udaranya berkurang. Jieun membuka tirai jendela di sampingnya dan melihat kesana kemari.
"Haaahh syukurlah."
Jieun memegang dadanya merasa lega, dia membuka sepatunya dan menyalakan lampu ruang tengah.
Brakk..
Tas dan plastik ditangan Jieun terjatuh, Jieun menjerit melihat kondisi ruangan tengah apartementnya.
"APA-APAAN INI!"
.
.
TBC...
JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE YA :)