IMAGE

IMAGE
15 (TAMAT)



Secara perlahan Jieun membuka kelopak matanya, meringis nyeri saat menggerakkan pergelangan tangannya. Ruangan minim cahaya yang di lihatnya pertama kali; saat ingin berdiri sesuatu menahan kedua kakinya.


"Hah..apa ini? Kenapa susah sekali?"


Jieun berusaha membuka pengikat kakinya namun usahanya nihil, wajah bingung bercampur rasa takut menyerang Jieun secara bersamaan. Luka diwajahnya dan ditangannya menambah ketakutan Jieun.


"Sebenarnya dimana aku?!"


Krekkk..


Jieun membalikkan tubuhnya saat mendengar suara pintu terbuka, matanya menyipit guna memperjelas penglihatannya; suara derap langkah kaki semakin dekat kearahnya. Siluit seseorang mulai terlihat dan berhenti tepat didepanya; mata Jieun terbelak melihat orang tersebut.


"Ohh rupanya kau sudah sadar, ini minumlah; kau pasti haus."


Seungho meletakkan botol minum tepat dihadapan Jieun, mata Jieun terus melihat sosok Seungho tidak diperdulikannya botol pemberian Seungho; Seungho duduk dihadapan Jieun dan tersenyum pada Jieun.


"Ada apa? Jieun-ah? Aahhh apa kau lapar hmm? Tapi sayang sekali aku hanya punya roti bekas gigitan ku, kau mau ambilah."


Tangan Seungho mengulurkan roti bekas gigitannya pada Jieun, Jieun dengan kasar menepis kue itu.


"Apa ini? Lepaskan aku!"


Jieun berdiri dan menggerakkan kakinya, Seungho memperhatikkan Jieun sambil menompang dagunya dan tersenyum.


"Kau tersenyum? Ini gila."


Jieun menarik sudut bibirnya dan menatap Seungo marah, Seungho terkekeh lalu mengehela nafasnya guna meredekan tawanya.


"Sifatmu mirip dengan kakakmu, kau pasti tau siapa dia."


Jieun membelakkan matanya. "Kak Baekhyun" Gumannya.


"Benar. Reaksimu sama dengan Byun Baekhyun hmpptt."


Seungho menutup mulutnya menahan tawa, Jieun mengepalkan tangannya merasa marah.


"KAU--KAU YANG MEMBUNUHNYA?!"


Jieun meronta dalam ikatannya untuk menggapai tubuh Seungho, Seungho mengeluarkan jari kelingking dari telinganya lalu meniupnya.


"Suaramu sangat nyaring sekali Jieun-ah."


"LEPA--"


Bughh..


"DIAM!"


Jieun tersungkur duduk, nyeri akibat pukulan Seungho membuat sudut bibirnya berdarah. Seungho melihat kearah Jieun dan tersenyum tipis, Jieun melihat kearah Seungho dengan wajah marah.


"Seharusnya kau bersikap manis Jieun-ah."


Seungho berjalan kearah lemari kecil lalu membukanya, berbagai peralatan tajam seperti pisau, tang dan gunting berukuran besar dan benda tajam lainnya yang tertata rapi; Seungho memakai sarung tangan guna melindungi tangannya.


"Akan aku ceritakan, jika kau sangat penasaran." Lanjutnya tanpa melihat kearah Jieun dan terkekeh.


Jantung Jieun berdegup kencang saat melihat benda-benda tajam tersebut, dia menelan salivanya saat Seungho mendekat kearahnya.


"Ini bermula dari ayahmu, ckck seharusnya dia tidak melihatku saat itu; mungkin saat ini dia masih hidup tapi sayangnya dia melihatku ciihh menyebalkan."


Jieun menatap tajam Seungho. "Dasar gila."


Seungho tidak memperdulikan omongan Jieun dan meneruskan ceritanya.


3 tahun yang lalu


Seorang karyawan berdiri dihadapan Seungho, karyawan pria tersebut tersenyum senang dia dipanggil oleh bosnya.


"Direktur ada perlu apa denganku?"


Dengan gugupnya karyawan itu mengucapkan pertanyaan tersebut, Seungho tersenyum dan menjetrikkan tangannya; semua pengawal yang ada disana segera menutup tirai jendela, pintu membuat sang karyawan kebingungan. Seungho mengambil sebuah tang dan mendekat kearahnya, dia memundurkan tubuhnya.


"Dir--"


Praaakk


Seungho memukulnya beberapa kali hingga karyawan itu tewas.


"Haiss menyebalkan, dasar sampah. Kau berharap tinggi bukan? Ckck kerjamu hanya mengeluh dan mengeluh. Bereskan."


Suara berisik dari luar membuat Seungho segera menyuruh pengawalnya untuk memeriksanya.


Setelah seminggu semenjak kejadian tersebut, Jin Guk merasa gelisah saat bekerja dan terus membayangkan wajah temanya yang dipukul hingga tewas; Seungho memperhatikkan Jin Guk dari atas ruangannya dan melihat berkas ditangannya.


"Lee Jieun, Byun Baekhyun, Byun Eun Hye kalian begitu manis. Bagaimana jika kita bermain sebentar, ini akan menyenangkan."


Mobil taksi yang membawa Jin Guk berhenti saat lampu merah menyala, jalanan terlihat sepi hanya ada beberapa mobil yang melintas; Jin Guk akhirnya bisa pulang setelah mengambil cuti. Jin Guk tersenyum saat melihat sebuah tas hadiah, tepat saat mobil melaju dari arah kanan sebuah mobil truk berkecepatan tinggi melaju; dalam hitungan detik truk itu menabrak taksi yang ditumpangi Jin Guk.


Jieun menangis setelah mendengar cerita kematian ayahnya, Seungho tersenyum dengan reaksi Jieun.


Setelah kematian ayah Jieun, Seungho terus memperhatikkan kediaman keluarga Lee; tangis dan kebencian membuat Seungho tertawa saat mendengar teriakan ibu tiri Jieun. Dirasa sudah waktunya, Seungho mendatangi rumah baru keluarga Lee.


Kring..


"Ohh Baek--"


Ny. Byun terkejut saat melihat orang tersebut bukan anaknya melainkan Seungho, Seungho melewati Ny. Byun melihat keseluruh ruangan.


"Maaf siapa anda?"


Seungho tersenyum saat melihat foto keluarga yang terpajang rapih di sudut ruangan, Ny. Byun mengambil pisau buah dan menyerang Seungho secara tiba-tiba tapi serangannya sia-sia karena Seungho sudah lebih dulu manahan tangan Ny. Byun dan mengambil pisau tersebut.


"Waahh ternyata kau berani sekali, pisau ini terlihat tajam. Apa kau mencoba menusukku? cihh."


"To-tolong jangan bunuh--". Ny. Byun memohon, suaranya begitu lemah matanya sesekali melihat kearah kamar Eun Hye memastikan jika anaknya tidak keluar dari sana.


Seungho tertawa. "Bagus teruslah memohon."


"Aarhhh.."


Ny. Byun memegang perutnya yang tertusuk pisau, Seungho terus menusuk perutnya berkali-kali dan dia tertawa melihat Ny. Byun meregang nyawa.


Suara tertutupnya pintu membuat Seungho mendekat kesumber suara, didalam Eun Hye merasa takut seluruh badanya bergetar hebat melihat ibunya ditusuk berkali-kali; Eun Hye mengunci kamarnya dan mengambil ponselnya untuk menelepon Baekhyun, beberapa kali tapi panggilannya tidak diangkat oleh Baekhyun. Eun Hye panik; matanya mencari sesuatu dan mengambil sebuah alat perekam dan menyalakannya, suara kenop pintu yang dibuka dengan paksa membuat Eun Hye semakin panik dan ketakutan Eun Hye semakin takut saat Seungho menobrak pintu kamarnya.


Reflek tubuhnya mundur, Eun Hye melihat pisau yang digunakan untuk membunuh ibunya dan dia menjerit; Seungho langsung mencekik lehernya. Eun Hye meronta dalam kukuhan Seugho; tubuhnya semakin lemah sebelum menutup mata Eun Hye melihat kebawah lemarinya.


"Bagaimana ceritaku? Menyenangkan bukan?"


"Dasar gilaaaaa!!! Psikopat!"


Seungho tertawa mendengar perkataan Jieun. "Tapi, Jieun-ah seharusnya kau berterima kasih padaku setidaknya aku sudah membunuh ibu tirimu dan kakak tirimu. Bukankah kau sangat membenci mereka huh?"


"Gila! Kau psikopat brengsek!"


Jieun berteriak marah dan meronta dalam ikatannya, Seungho melihat Jieun datar menahan amarahnya.


"Kenapa? Kenapa?! Seharusnya kau senang! Aku sudah membantumu!"


Seungho berteriak marah dan memukul wajah Jieun dan menjabak rambut depan Jieun, mata Seungho menatap tajam Jieun begitupun sebaliknya.


"Psio---"


"Berisiiiikkk! Atau aku akan menggunting mulutmu!"


Seungho memperlihatkan gunting besarnya tepat didepan mata Jieun; Seungho tersenyum karena Jieun menurutinya.


"Kau bukan manusia! Kau brengseekk!"


"DIAM!"


Nafas Seungho terengah-engah merasakan sakit dikepalanya secara tiba-tiba, dia mengerang.


"Kenapa? Kau mengingat saudara perempuanmu yang mati huh? Atau kau mengingat ayahmu?"


Seungho menatap Jieun tajam. "KAU--AARHHH."


"Yoo Hyeri--saudara perempuanmu meninggal bunuh diri setelah membunuh ayahmu sendir--"


Bughh..


Seungho memukul Jieun dengan gunting ditangannya, pelipis mata Jieun berdarah begitupun kepalanya yang terasa pening; sementara Seungho terus mengerang lintasan ingatan masa lalu terus berputar dikepalanya.


"Seungho-ah coba kau lihat mereka, mereka sangat bahagia bersama kedua orang tuanya sedangkan kita terkurung disini."


"Hentikan ayah jangan pukul kaka lagi, pukul aku saja!"


"Seungho! Kau sudah berani pada ayahmu?! Huh!"


"Kakak." Seungho megerang.


"Seungho-ah berjanjilah padaku kau harus hidup bahagia."


"Ayah." Seungo kecil melihat ayahnya bersimbah darah dan melihat Yoo Hyeri memegang sebuah pistol yang diarahkan kekepalanya sendiri.


"Maaf Seungho-ah"


Doorr..


"AARGHHHHHHH."


"Sejak kematian ayah dan kakakmu, kau selalu bersikap aneh, bahkan gurumu pernah melihatmu membunuh seekor anjing. Kau melakukan apa yang ayahmu lakukan dulu terhadapmu dan kakakmu! Kau psikopat!"


Jieun menatap tajam kearah Seungho, Seungho masih mengerang kesakitan.


Sementara itu diluar terdengar suara sirine polisi, dengan susah payah Seungho melihat kearah jendela kecil; terdapat beberapa anggota kepolisian mendatangi lokasinya saat ini.


"Bagaimana bisa mereka--."


Seungho melihat kearah Jieun dan mendekat kearahnya, Jieun tersenyum saat melihat wajah panik Seungho. Seungho memeriksa seluruh tubuh Jieun dan menemukan sebuah kamera kecil menyerupai kancing baju Jieun.


"SIALAN! KAU!


Jieun tersenyum senang. "Apa kau senang dengan hadiahku?"


Seungho tersenyum sinis pada Jieun. "Kau sangat menarik Lee Jieun."


Sebelumnya..


"Kakak."


Panggilan Daehyun membuat Chang Wook dan Woon Hu melihat kearahnya, tidak sampai disitu mereka terkejut saat Daehyun tidak sendiri melainkan bersama seseorang.


"Jieun."


Jieun tersenyum pada kedua orang tersebut, mereka menatap Daehyun meminta penjelasan.


"Aahh aku sudah tau kalau Daehyun adalah temannya paman."


Woon Hu melihat Chang Wook begitu tangan Chang Wook menunjuk dirinya sendiri.


"Sejak kematian Park Kang Jun."


Daehyun menjawabnya dengan cepat saat melihat raut wajah Woon Hu, perkataan Daehyun membuat Chang Wook tercekat.


"Berati dia selama ini pura-pura tidak tau." Gumam Chang Wook.


"Maaf menganggu kalian, aku ingin kalian membantuku."


"Kalian bilang kalau Park Kang Jun mati secara tiba-tiba begitupun dengan kak Baekhyun."


Jieun sedikit mengecilkan suaranya saat menyebut nama Baekhyun.


"Aku sudah mendengar rekaman dari benda ini tepat setelah aku pulang dari pemakan kak Baekhyun, ak-aku tidak percaya saat mendengar suara rekaman tersebut rasanya sebuah benda menghantam tubuhku secara bertubi-tubi."


Mata Jieun memerah menahan air matanya, Chang Wook terus menatap wajah Jieun.


"Belum lama ini aku mengamati seseorang, kau pasti tau orangnya wakil direktur---ahh apa aku harus memanggilmy Black Man?"


Daehyun dan Woon Hu terdiam melihat kearah Chang Wook, Chang Wook menghela nafasnya merasa bersalah karena sudah menutupi identitasnya.


"Maaf Ji aku tidak berm--"


"Aku tau. Itu tidak penting lagi buatku, lagi pula memangnya siapa aku? Kenapa kau perlu repot-repot menjelaskannya. Lupakan apa yang aku ucapkan tadi, yang pasti aku hanya ingin memastikan apa benar dia orangnya. Coba kau dengarkan dan cocokan suaranya; aku masih belum percaya dengan semua ini."


Woon Hu segera mengambil alat perekam itu dan mendengarkannya begitu juga Daehyun yang mengikutinya, Chang Wook menatap Jieun yang sama sekali tidak melihat kearahnya. Chang Wook menghela nafasnya dan menyusul kedua rekannya.


"Aarrhhh."


Suara seorang yang terdengar kehabisan nafas, begitujuga suara seseorang tengah tertawa.


"Ak--aku mohon." Suara lemah seorang perempuan meminta tolong.


"Kau persis seperti ibumu hmmpptt minta tolonglah terus padaku, aku suka dengan wajahmu saat meregang nyawa."


Setelahnya tidak ada suara hanya ada langkah kaki, Mereka bertiga terus berkutat dengan pikirannya masing-masing.


"Tidak mungkin--"


"Cocok! Suara dari rekaman dan suara aslinya 100% milik Yoo Seungho."


Semua orang terkejut tidak menyangka orang yang selama ini terlihat begitu baik dan perhatian terhadap Jieun nyatanya hanya seorang pembunuh keji tidak melainkan seorang psikopat.


Jieun mematung, kepalanya terasa pening.


"Jadi semua keluargaku dibunuh oleh dia?"


Daehyun berlari menghampiri Jieun dan menenangkan Jieun, Chang Wook menatap Jieun sedih; Woon Hu mengepalkan tangannya merasa marah melihat Jieun menangis, dia segera fokus mencari sesuatu dan mengambil sebuah kertas hasil cetakannya lalu mendekat kearah Jieun diikuti Chang Wook.


"Yoo Seungho dia mempunyai penyakit kelainan yang diturunkan oleh ayahnya; sejak kecil dia tinggal dengan kakaknya dan ayahnya, ibunya entah tidak ada riwayatnya. Seungho dan kakaknya mengalami kekerasan oleh ayahnya, suatu hari dia melihat ayahnya bersimbah darah dan yang membunuhnya adalah kakaknya selang membunuh ayahnya; dia bunuh diri dengan sebuah pistol."


"Aku rasa ini sebuah bukti yang kuat untuk mencebloskan dirinya, jangan takut Jieun-ah kami akan membantumu."


Woon Hu menatap Jieun yakin, Jieun melihat kearah Woon Hu dan tersenyum.


"Terimakasih banyak Woon Hu-ssi dan semuanya."


Jieun menatap semuanya dan tersenyum detik berikutnya dia menjelaskan rencanannya.


"Ohh aku tau kemana kita menyerahkan barang bukti ini."


Semua orang melihat kearah Jieun dengan bingung.


"Kim Soo Hyun, berikan barang bukti ini padanya. Aku percaya padanya."


Setelah cukup lama, Jieun pamit untuk pulang; Chang Wook mengantar Jieun sampai apartementnya. Chang Wook menahan tangan Jieun saat Jieun akan keluar dari mobilnya.


"Apa kau akan baik-baik saja? Biarkan aku saja yang melakukannya. A-aku takut kau terluka."


Jieun memandang wajah Chang Wook, tersirat diwajah Chang Wook begitu mencemaskan Jieun. Jieun meletakkan tangannya pada tangan Chang Wook dan mengelusnya pelan.


"Aku pasti akan baik-baik saja, kau jangan khawatir jalankan rencana ini dengan baik; aku yakin kau pasti akan menolongku saat aku terdesak."


Dengan ragu Jieun memeluk tubuh Chang Wook lalu keluar setelahnya, Chang Wook tersenyum; namun senyumannya hilang saat dilihatnya siluit seseorang mengikuti langkah Jieun masuk kedalam apartementnya.


"Semoga kau baik-baik saja. kak Woon Hu aku melihatnya."


"Ah tetap disana sampai mobil itu pergi, aku akan segera menyalakan cctv pada kancing Jieun."


🍁🍁🍁


"Ji kau tidak apa-apa?"


Daehyun membantu Jieun dan melepaskan kaki Jieun yang terikat, Daehyun menutup hidungnya begitujuga beberapa detektif yang ikut bersama Jieun.


"Ruangan apa ini? Baunya sangat menyengat. Periksa semuanya."


Daehyun membantu Jieun berdiri. "Aku rasa ini ruang penyiksaan."


Jieun berbicara pada salah satu detektif disamping Daehyun, detektif itu melihat keseluruh ruangan.


"Kemana psikopat itu?"


Jieun melihat Daehyun dengan lemas. "Dia kabur, Cepatlah cari dia sebelum dia pergi jauh."


Chang Wook menyusuri setiap ruangan bangunan rumah Seungho, berjalan dengan hati-hati sambil memegang senjata. Semua orang berpencar guna mencari keberadaan Seungho; sedangkan Seungho melihat keberadaan Chang Wook saat dia berlawanan arah. Seungho menghindari dengan lihai beberapa polisi yang mencarinya, Seungho memasuki lift dirumahnya menuju lantai paling atas.


Chang Wook mengepalkan tangannya tanda suara berhenti, dia mendengar samar suara lift; dia berlari menuju sumber suara dan berdecak kecal. Chang Wook segera berlari kearah tangga begitujuga orang-orang mengikuti Chang Wook.


"Aku rasa Seungho berada diatas bangunan rumahnya, hati-hatilah."


Ucapan Soo Hyun terdengar ditelinganya, membuat semua orang mempelankan suara langkah kakinya; Chang Wook memberi aba-aba sebelum masuk dan dibukanya pintu atas dengan sekali tarikan.


"Welcome."


Suara tepukan tangan menyambut kedatangan Chang Wook, Seungho tersenyum padanya.


"Waahh lihat wajahku dimana-dimana menyenangkan sekali, apa kau sudah melihatnya Ji Chang Wook?"


Seungho melihat Chang Wook dengan senyum sinis, beberapa orang bersiap dengan pistol mereka; Chang Wook mengarahkan pistol itu kearah Seungho. Seungho melihat tangan kanannya yang memegang pistol; dia lalu tertawa.


"Ini? Kalian juga punya seperti ini."


Semua orang bersiap menembak ketika melihat Seungho mengacungkan pistolnya kearah mereka, Seungho tertawa menatap mereka tajam.


"Letakkan pistolmu, hentikkan sekarang juga! Kau sudah tertangkap Yoo Seungho."


Seungho tersenyum sinis pada Chang Wook, lalu menghela nafasnya kasar dan mengacak rambutnya.


"Ciih..kenapa? Seharusnya kalian tidak memperlakukan aku seperti ini! Aku tidak salah! Mereka yang membuat diri mereka berdosa dan aku yang menghukum mereka! Aku tidak salah! AKU MEMBERSIHKAN DOSA MEREKA! AKU TIDAK BERSALAH!"


Seungho berteriak marah dan menunjuk semua orang dengan pistolnya, Chang Wook memberi kode untuk menahan senjata mereka.


"Sadarlah Yoo Seungho! Ya! Kau membunuh mereka semua! Dosa? Dasar gila, hentikkan semua ini dan serahkan dirimu sekarang juga!"


Seungho terdiam menunduk, secara perlahan Chang Wook mendekati Seungho.


"Kenapa kalian tidak mengerti juga?! Lalu bagaimana denganku dan juga kakakku huh?! bagaimana dengan KAKAKKU arrhhhh!"


Chang Wook dengan cepat mendekati Seungho yang tengah uring-uringan menjambak rambutnya.


"JANGAN MENDEKAT! KA--KALIAN SEMUANYA YANG SALAH BUKAN AKU! MAAFKAN AKU KAK HYERI!"


"JANGAAAAN---"


Door..


Chang Wook berlari mencoba menggapai tubuh Seungho yang terjatuh kebawah usai mendembakkan peluru kearah kepalanya, Chang Wook berteriak kesal melihat tubuh Seungho sudah jatuh ketanah disertai darah dari kepalanya.


"Yoo Seungho bunuh diri dan tewas seketika."


Jieun menangis mendengar kabar tersebut dan berteriak marah, Daehyun menenangkan Jieun dan memeluk tubuh Jieun.


.


.


.


5 tahun kemudian


"Selamat Jieun-ah."


Daehyun dan Woon Hu memberikan ucapan selamat kepada Jieun, Jieun berhasil lulus dan menjadi seorang Jaksa; setelah kejadian itu Jieun berniat menjadi seorang Jaksa dia ingin keadilan ditegakkan untuk orang-orang yang lemah dan Jieun berhasil mewujudukannya.


Jieun tersenyum senang tapi matanya seperti mencari seseorang, Daehyun dan Woon Hu tersenyum jahil.


"Aahh sepertinya dia terlambat benarkan Daehyun-ah? Ayo."


Daehyun mengangguk setuju dan bersiul, mendengar perkataan mereka Jieun mempoutkan bibirnya merasa kesal; Jieun mengikuti mereka dan bertanya.


"Memangnya kalian pikir aku mencari dia!"


Daehyun dan Woon Hu tertawa melihat Jieun berjalan lebih dulu.


"Mereka ini menyebalkan! Lagipula siapa juga yang mencarinya!"


"Aahh jadi kau sedang mencariku hmm?"


Jieun terkejut mendengar suara itu dan menatap seseorang didepannya dengan mata yang berkedip beberapa kali menandakkan jika dirinya sedang gugup, Jieun semakin gugup saat orang itu berjalan mendekat kearahnya sambil membawa bunga.


"Selamat Jieun-ah."


"Apasih kau menutup wajahmu seperti itu."


Jieun mengambil bunga tersebut dan mencium harumnya, Chang Wook tersenyum pada Jieun.


"Ya apa yang kau lakukan?!"


Chang Wook menarik pinggang Jieun lebih dekat kearahnya, Jieun menahan tangannya pada dada bidang Chang Wook.


"Berikan aku satu ciuman."


Pipi Jieun merona mendengar permintaan Chang Wook, Jieun melihat kearah Daehyun dan Woon Hu yang pura-pura tidak melihat mereka.


"Tidak mau! mereka melihat kita."


Chang Wook membuka matanya kembali dan melihat Jieun, Chang Wook lalu melihat kearah Woon Hu dan Daehyun.


"Abaikan saja mereka."


Dengan ragu-ragu Jieun mendekatkan wajahnya.


Chu~~


Chang Wook menciumnya lebih dulu, membuat Jieun terdiam; pipi Jieun semakin memerah. Chang Wook tersenyum dan menyentuh pipi Jieun yang memerah.


"Haaahhh.. dunia seakan milik kalian saja! Heyy ayolahh aishh mereka itu apa tidak malu bermesraan didepan kita."


Woon Hu bergerutu sebal dan pergi disusul oleh mereka semua dan mentertawakan sikap Woon Hu.


-


-


-


FIN~~


Alhamdulillah akhirnya selesaiiii fyuhhh panjang ya ternyata hehehe..😁


Sampai ketemu dicerita selanjutnya 😘