
2 hari kemudian
Jieun baru saja pulang kerja, dia terkejut saat melihat sebuah koper besar diluar rumahnya dan rumahnya tampak sepi. Dia melihat sebuah tulisan tergantung di pintu rumahnya.
Rumah ini dijual
Jieun membulatkan matanya tidak percaya dan berusaha membuka pintu rumahnya tapi percuma saja rumah itu sudah terkunci, Jieun menggelengkan kepalanya dan menggendor pintu rumahnya beberapa kali membuat salah satu tetangganya menghampiri dirinya.
"Jieun-ah apa itu kau?"
Jieun menghapus air matanya dengan kasar dan melihat kearah sumber suara, seorang nenek berdiri tidak jauh dari Jieun. Jieun berjalan kearahnya dengan terburu-buru dan menggenggam tangan nenek itu sambil menangis.
"Nenek, apa nenek tau ibu kemana? Kenapa rumahku sangat sepi dan--kenapa ada tulisan seperti ini nek--" Jieun menunjukkan kertas itu padanya, nenek itu memandang sedih Jieun dan mengusap telapak tangan Jieun. Jieun menangis sesegukkan dia menatap nenek itu dengan sedih.
"Jieun-ah aku kira kau ikut bersama mereka, maafkan nenek mereka tidak memberi tahukan kemana mereka pergi."
Nenek itu menunduk sedih, Jieun menggeleng tidak percaya dengan ucapan nenek itu dan melepaskan genggamannya.
"Kau bohong! Kau bohong--hikss--pasti mereka sedang keluar benarkan Nenek?! Nenek katakan itu bohong?"
Jieun terduduk lemas ditanah begitupun dengan nenek itu yang menangis melihat keadaan Jieun yang ditinggalkan ibu tirinya.
"Maaf Jieun-ah. Maaf."
Nenek itu terus meminta maaf sambil mengelus punggung Jieun.
"KENAPA IBU?! KENAPA IBU PERGI?! AAAA.."
.
.
.
3 tahun kemudian
Suasana kampus Seoul university tampak tenang dan sepi, membuat seseorang dengan cepat berlari tanpa harus melewati gangguan sama sekali. Wajahnya penuh dengan keringat karena terus berlari dia terus melihat jam tangannya. perempuan itu belok kearah kanan dan mempercepat lagi larinya saat melihat teman sekelasnya keluar dari sebuah ruangan dengan wajah tertekan. Salah satu temannya melambaikan tangannya padanya dan memberi kode agar cepat masuk kedalam ruangan itu.
"Ya! Cepatlah dia sudah menunggumu!"
Dia mengangguk dan melemparkan sebuah tas pada temannya dan merapihkan pakaian dan juga rambutnya yang sedikit berantakan karena berlari.
"Apa sudah bagus?"
Temannya mengacungkan jempol tanda setuju dan mendorong pelan bahu gadis itu, gadis bertubuh mungil itu menghirup udara lalu mengeluarkanya lagi.
Tok..tok..
"Masuk."
Jieun membuka pintu ruangan itu dengan hati-hati dan melihat seorang pria paruh baya tengah sibuk dengan beberapa tumpukan kertas diatas mejanya, rambutnya sudah memutih dengan wajah yang sudah tidak bisa dibilang muda itu melepaskan kacamatanya dan melihat gadis itu dengan datar membuat gadis dengan tubuh mungil itu menelan ludahnya karena merasa takut.
"Lee Jieun-ssi."
"Iya Prof?"
Jieun-gadis itu merasa gugup saat dipanggil oleh dosennya, Profesor Jung melihat kearah Jieun dan mengambil sebuah kertas lalu melihatnya.
"Kau ingin sekali ditempatkan di kantor kejaksaan bukan?"
Jieun tersenyum senang saat Profesor Jung tersenyum padanya lalu mengangguk dengan semangat.
"Apa kau akan bekerja keras dengan tugas akhirmu?"
"Iya!"
Apa ini? Apa mungkin dia mengabulkannya? Asik!- Jieun tersenyum senang sesekali menutup mulutnya karena menahannya untuk tidak tertawa.
"Baiklah. Kau akan ditempatkan---"
Jieun melihat Profrsor Jung dengan tidak sabar dan bersorak senang.
Cepatlah tua bangka!
"---dibagian pengacara."
"YES---APA?! Pengacara?!"
πππ
"Aishh MENYEBALKAN!"
Jieun membenturkan dahinya pada meja kantin membuat teman-temannya menatapnya dengan kasian.
"Sudahlah Ji, terima saja."
Park Jiyeon--teman sekelas Jieun berusaha menghibur Jieun dan mengusap punggung Jieun pelan, teman-teman yang lainnya pun mengangguk setuju dengan Jiyeon.
"Heol dia benar-benar menyebalkan, aku kira dia mengabulkan permintaanku tapi ternyata Zonk!"
Lee Hyunwoo. Laki-laki satu-satunya yang berada di antara mereka mengepalkan tangannya kesal ke udara.
"Benar sekali! Ya kau harus bersyukur Ji, tidak seperti aku."
Kang Hanna. Satu tahun lebih tua dari mereka menidurkan kepalanya diatas meja dengan sedih, Jieun melihat kearah Hanna dan juga lainnya merasa penasaran dengan Hanna.
"Memangnya kau ditempatkan dimana?"
Jiyeon menanyakkannya pada Hanna setelah melihat raut wajah teman-temannya yang penasaran.
"Busan."
Yang lainnya menghela nafas setelah mendengar perkataan Hanna.
"Hoo apa itu tidak keterlaluan?"
Semua menggeleng tidak ada yang menjawab ucapan Jieun, Jieun merasa kesal dan berdiri dari duduknya.
"Kau mau kemana?"
Hyunwoo melihat kearah Jieun diikuti yang lainnya.
"Aku ingin protes padanya."
"JANGAAAAN!"
Semuanya tidak setuju dengan usulan Jieun dan menarik tangan Jieun untuk duduk kembali, mereka tidak mungkin menyetujuinya bisa-bisa mereka semua ditempatkan lebih jauh lagi dari sebelumnya.
"Sudahlah terima saja! Aku tidak mau membuat masalah dengannya!"
Semuanya mengangguk setuju dengan ucapan Hyunwoo, Jieun menghela nafasnya pasrah.
"Kau akan berangkat kapan?"
Jieun melihat Hanna disampingnya, Hanna menggeleng tidak tau.
"Tidak tau, dia bilang akan mengirim email padaku. Kau sendiri?"
Jieun mengangguk paham dan tersenyum tipis. "Sama sepertimu."
"Haaaah."
Semuanya menghela nafas dan merebahkan kepala mereka di meja, membuat semua orang mengerutkan dahinya bingung.
**
"Lihat kedepan!"
Chang Wook memukul dua orang pria berpakaian rapih, dia membuka selembar kertas yang dipegang oleh salah satunya.
"Apa ini? Coba ku lihat."
Chang Wook membukanya belum sempat membacanya dua pria itu berteriak mencegah untuk membacanya.
"Hentikan! Lepaskan! Jika tidak aku akan memanggil bantuan! Cepat!"
Chang Wook tersenyun miring dan memukul kembali kepala mereka dengan kertas itu.
"Sudah ku bilang jangan berisik dan lihat kedepan!"
"Aishhh!"
Satu pria mencoba memberontak tapi Chang Wook langsung memukul lengan pria itu dan memborgol tangannya satu lagi dan mengaitkannya pada pintu mobil.
"Jika kalian tidak ingin aku membacanya sebaiknya aku bawa saja dan---" Chang Wook menggeledah isi tas yang dibawa pria itu lalu menemukan sebuah map coklat lalu mengambilnya. "---aku juga akan membawa ini terimakasih." Chang Wook menepuk kepala mereka lalu pergi dari sana dan merapatkan kembali topi hitamnya.
"YA! Aisshh sial."
Dua pria itu mencoba melepaskan tangan mereka tapi sepertinya mereka tidak bisa karena kedua tangan mereka diborgol.
"Aku sudah mendapatkannya."
Chang Wook tersenyum lalu masuk kedalam mobilnya dan menancap gas pergi meninggalkan mereka.
"Aku rasa tidak ada yang mencurigakan darinya."
Chang Wook melihat dokumen demi dokumen menyakut tentang Park Kang Jun, Woon Hu memindahkan layarnya dan menampilkan foto Kang Jun dan beberapa kerabat kerjanya.
"Ohh Kak!"
Woon Hu segera melihat ke arah Chang Wook dan melihat apa yang membuat Chang Wook begitu terkejut saat melihatnya dan setelah membacanya Woon Hu menatap Chang Wook tidak percaya. Woon Hu tersenyum begitupun dengan Chang Wook mereka saling mengangguk dan detik berikutnya mereka saling berpelukan karena senang.
"Aaah akhirnya!"
"Benar kak!"
Woon Hu mengacungkan kepalan tangannya ke atas dan melepaskan pelukan mereka, Woon Hu mengecek kembali kertas itu dan mengangguk paham.
"Kau harus menyelidiki atau meretas datanya."
Chang Wook mengangguk mengerti dan mencari data-data yang lainnya, Woon Hu mengambil secangkir kopi panas lalu meletakkannya di meja.
"Kau tau sudah lama kita tidak seperti ini."
Chang Wook sekilas melihat kearah Woon Hu dan tersenyum kecil menanggapi ucapan Woon Hu. Chang Wook memutar kursinya dan melihat papan didepannya terdapat beberapa foto di papan tersebut, dia tersenyum melihat foto-foto tersebut.
πππ
"Apa seperti ini bekerja sebagai pengacara?!"
Jieun mendengus sebal, dia sekarang sedang berada di dapur. Sedang apa dia didapur? Bukannya dia seorang pengacara? Larat calon pengacara karena sekarang dia sedang magang untuk memenuhi tugas akhir kuliahnya.
"Jieun-ssi tolong buatkan aku kopi juga ya, terimakasih."
Jieun tersenyum tipis sebagai jawaban dan mengantarkan beberapa kopi pesanan, dia terus memasang wajah palsunya tersenyum saat menyerahkan pesanan kopi mereka. Mereka? Yah Jieun saat ini tengah magang disalah satu cabang bangunan pengacara yang menjulang tinggi dipinggir jalanan besar seoul, dia sudah berada di sana sejak 5 jam lalu. Jieun merasa lelah dan kesal apa ini yang dilakukan pengacara? Dia tidak habis pikir apa pekerjaan membuat kopi dan mengantarkan kopi adalah pekerjaan pengacara?
Baru saja dia menerima senyuman dan sapaan hangat dari senior dan karyawan lainnya tapi nyatanya tidak terduga.
Jieun duduk diruangannya setelah mengantarkan kopinya dia menyadarkan punggungnya pada kursi.
"Haaah lelah sekali."
Tok..tok
Seseorang mengetuk meja Jieun yang memang tidak tertutup pembatas, Jieun melihatnya dengan malas.
"Ada apa Daehyun-ssi?"
Daehyun--pria berponi itu tersenyum dengan malu-malu dia ingin mengajak Jieun untuk makan siang bersama, Jieun merasa geli sekaligus jijik dengan wajah malu-malu Daehyun.
"Apa kau mau makan siang bersamaku?"
Jieun tidak langsung menjawabnya dan melihat sekelilingnya, teman-teman magangnya pergi bersama teman sekelas mereka tapi Jieun tidak terlalu akrab dengan mereka, Jieun tersenyum tipis dan melihat kearah Daehyun lalu mengangguk menerima ajakan Daehyun.
Chang Wook menaiki lift dengan tenang dan tersenyum pada beberapa staff karyawan yang menyapanya, Minah yang melihat Chang Wook langsung memekik senang dan merapihkan penampilannya dia tersenyum senang dan melambaikan tangannya pada Chang Wook tapi sayangnya Chang Wook tidak melihatnya dia ditabrak oleh seseorang membuat Minah mengerang kesal dibuatnya.
Jieun dan Daehyun berjalan berdampingan dan sesekali Jieun melihat kearah Daehyun yang mengajaknya bicara, tiba-tiba segerombolan orang datang dari arah samping Jieun dan dengan sigap Daehyun melindungi Jieun membuat Jieun menabrak seseorang.
"Aah ma--maf."
Jieun membungkuk meminta maaf pada orang yang ditabraknya tanpa melihat orang tersebut dan berlalu pergi.
"Maaf Jieun-ah tadi--"
"Tidak apa. Ayo."
Chang Wook tersenyum pada orang-orang yang melihatnya setelah ditabrak oleh seorang perempuan, Minah dengan langkah cepat menghampiri Chang Wook dengan wajah khawatir yang berlebihan. Chang Wook memutar bola matanya malas dan tersenyum tipis pada perlakuan Minah yang sangat berlebihan terhadapnya.
"Wakil direkur apa anda baik-baik saja? Anda tidak terluka? Ya ampun benar-benar wanita itu!"
Minah tersenyum manis pada Chang Wook, Chang Wook menurunkan tangan Minah dari lengannya dan tersenyum.
"Aku tidak apa-apa. Kalau begitu aku permisi."
Chang Wook dengan cepat pergi dari hadapan Minah dan bergidik geli dengan tingkah Minah.
Setelah sampai diruangannya Chang Wook segera menyalakan komputernya dan menjalankan misinya, dia meretas setiap dokumen yang dia dapatkan dan menampilkan ratusan file di komputer itu. Dia tersenyum senang dan membuka setiap file tersebut dan mencetaknya.
Tok..tok..
Chang Wook segera mematikan komputernya setelah mendengar pintu ruangannya diketuk, dia merapihkan meja kerjanya.
"Maaf mengganggu pengacara Jang."
Kang Jun datang keruangan Chang Wook.
"Apa kau sudah siap?"
Chang Woon tersenyum lalu mengagguk. "Baguslah hari ini acara pertemuan pertama kita setelah dua tahun lamanya, kau juga baru pertama kali bukan?"
"Benar."
Kang Jun tertawa dan menepuk pundak Chang Wook. "Tidak perlu tegang begitu."
Chang Wook tersenyum dan pergi dari ruangannya.
"Kenapa ramai sekali hari ini?"
Chang Wook melihat kearah staff pengacara yang baru dia lihatnya, Kang Jun tersenyum padanya.
"Mereka pengacara baru."
Chang Wook menaikkan alisnya. "Magang?"
Kang Jun mengangguk. Aku baru tau jika ada sistem seperti itu selama aku bekerja sebagai agen, Chang Wook melihat lagi kearah pengacara itu tapi memangnya tugas seorang pengacara baru hanya mengantarkan kopi?
.
.
Chang Wook melihat kearah orang-orang yang duduk melingkar, dia tersenyum pada setiap orang.
"Pastikan kau dapatkan foto mereka."
Woon Hu berbicara pada Chang Wook melalui mic kecil yang terpasang pada telinga kirinya, Chang Wook hanya bergumam untuk menjawabnya. Chang Wook segera menyalakan alat perekam berbentuk pulpen yang dia letakkan di kantung depan kemejanya.
Hari sudah semakin larut dan Jieun masih bekerja kali ini dia membantu salah satu seniornya untuk membuat laporan, Jieun sudah beberapa kali menguap dan sudah ketujuh kalinya dia meminum kopi.
"Haaah dan hari pertama aku sudah bekerja lembur."
Jieun melihat kekanan dan kiri ruangan dan hanya dirinya saja yang masih kerja, Daehyun baru saja pulang jika tidak dipaksa olehnya. Daehyun tidak mau pulang karena dia ingin membantu Jieun.
"Aku tidak kuat mataku."
Jieun membuka matanya dengan tangannya agar bisa terbuka. "Tidak bisa lagi."
Jieun menangkupkan wajahnya diatas meja, dia meraba mejanya dan melihat jam.
11.30 p.m
Astaga dia sudah lama berada disini, akhirnya Jieun menyerah dan mematikan komputer tidak lupa dia mensave hasil kerjanya. Dia mengambil tasnya lalu pergi dari ruangannya dan mematikan lampunya kerjanya.
"Aaahhh."
Dia merenggangkan badanya pegal karena seharian berdiri membuat kopi.
"Sepi sekali."
Dia berjalan dengan hati-hati merasa takut karena hanya dia sendirian yang baru pulang.
"Ibu lindungi aku."
Jieun melihat sebuah cahaya dari arah kanan ruangan dan beberapa derap langkah seseorang yang memasuki ruangan tersebut.
"Bawa itu."
Jieun sempat mendengarnya, dia begitu penasaran dan dengan sangat perlahan dia berjalan kearah ruangan itu. Dia mengintip di jendela apa yang tengah dilakukan oleh orang-orang itu, tepat sebuah cahaya menyinari wajahnya membuat orang-orang itu terkejut sama halnya dengan Jieun.
"Siapa disana?"
Jieun panik dia memundurkan langkahnya dan tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya lalu membawanya ke ruangan lainnya.
"Tidak ada siapapun."
"Apa yang kalian lakukan?! Cari orang itu mungkin dia masih ada disekitar gedung ini."
Jieun memegang tangan pria itu dan menutup matanya takut, nafasnya tidak teratur.
"Siapa orang ini? ibu tolong aku."
Jieun membuka matanya secara perlahan dan dia bisa melihat mata orang itu.
.
.
.
TBC..
Jangan lupa like and komen ya :)