
DAHULUKAN LIKE AND KOMEN
Happy reading ๐
_
_
_
_
"Ibu."
*Kedua bola itu membulat dengan sempurna, tak kala melihat sosok ibunya terkulai lemah di lantai dengan bersimbah darah. Kedatangannya membuat seseorang harus menghentikkan kegiatannya, diliriknya orang itu dari samping. Orang itu membalikkan badanya menghadapnya dengan menggenggam sebilah pisau, dia melihat benda tajam itu dan menatap tajam orang itu.
"Ka---"
Jleb*..
"Huhh..huhh.."
Tubuh itu dipenuhi keringat, terbangun dengan nafas yang bergemuruh. Diusapnya wajah itu, lalu menyingkirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Menghela nafas kasar sebelum mengerang mengacak rambutnya, mata itu menatap penuh amarah.
Tok..tok..
Pemuda itu terdiam mendengar suara ketukan pintu, dengan perlahan dia berdiri dari ranjang tidurnya dan membuka sedikit pintu rumahnya. Seseorang mengurungkan niatnya untuk mengetuk kembali setelah daun pintu itu terbuka memperlihatkan sebelah mata pemuda itu. Pemuda itu menatapnya dengan dingin, orang itu merasa gelisah. Dia meremas tangannya dengan gugup.
"Air di rumahku tidak keluar, apa kau bisa membantuku?"
Brak..
Pintu itu tertutup, membuat orang itu terkejut dan menghela nafasnya kasar. Bola matanya melirik sesuatu membuatnya bergidik ngeri, sedangkan pemuda itu mencari sesuatu dia mengambil topinya dan mengambil sebilah pisau. Dibukanya kaosnya guna menyembunyikan pisau itu setelah itu dia membuka kembali pintu. Orang yang menunggunya melihat pemuda itu keluar, orang itu berjalan terlebih dahulu pemuda itu mengeratkan topinya.
"Ma-maaf aku merepotkanmu."
Orang itu tersenyum pada pemuda itu dan sedikit bergeser agar pemuda itu bisa masuk kedalam rumahnya.
"Maa--maaf ak-aku tidak bermaksud--"
Sreett--sreett
Orang itu dengan cepat menusuk tubuh pemuda itu, namun tangan pemuda itu mengahalanginya dan menendang tubuh orang itu. Pemuda itu menarik baju orang itu dan meninjunya beberapa kali.
"Aarhh...tu-ttunggu jangan bunuh aku, ak-aku hanya disuruh."
Pemuda itu mengerang kesal. "Katakan siapa yang menyuruhmu?!"
"Akk--aku tidak tau--"
Bughh..
"Katakan!"
Pemuda itu memukul kembali wajah orang itu hingga babak belur.
"Di--dia memakai jaket hitam dan juga masker."
Pemuda itu menghempaskan tubuh pria itu dan berlari mencari orang yang dimaksudkan tadi.
"Aishh sial!"
***
Busan, 3.45 P.M
Jieun berdiri didepan sebuah rumah, cukup lama dia melihat rumah itu. Kenangan-kenangan masa lalunya terlintas begitu saja, Jieun tertunduk lalu menghela nafasnya kasar. Seseorang melihatnya dari kejauhan, orang itu memperhatikkan Jieun dari atas sampai bawah dan saat Jieun kembali menatap rumah itu. Orang itu menutup mulutnya tidak percaya, dia segera menghampiri Jieun.
"Jieun-ah!"
Jieun membulatkan matanya saat melihat seorang wanita tua memeluknya dan menangis. Jieun bingung, dia mencoba melepaskan pelukan ahjumma itu.
"Nenek siapa? Apa kau mengenalku?"
Setelah melepaskan pelukannya, Jieun bertanya pada ahjumma itu. Wanita tua itu tersenyum pada Jieun dan mengusap kepala Jieun dengan lembut.
"Astaga Jieun sangat cantik, apa kau tidur nyenyak di seoul? Apa kau makan dengan teratur? Aku sangat merindukanmu. Maaf aku tidak bisa membantumu."
Jieun terdiam mendengar perkataannya, sekilas bayangan seseorang muncul.
"Nenek Sunjin?!"
Sunjin-wanita tua itu tersenyum dan memeluk Jieun.
"Astaga, minumlah. Sudah lama kau pergi aku kesepian disini."
Jieun tersenyum mendengarnya, dia menggenggam tangan Sunjin.
"Maaf aku tidak memberi kabar padamu."
Sunjin mengusap tangan Jieun lembut, cukup lama Jieun dan Sunjin mengobrol melepas kerinduan selama 3 tahun lamanya mereka berpisah.
"Jieun-ah, apa kau sudah menemukan mereka?"
Jieun terdiam, tidak langsung menjawab dia menggeleng dan tersenyum tipis pada Sunjin. Sunjin menepuk tangan Jieun dan mengelus punggung Jieun memberi semangat pada Jieun.
"Tidak apa-apa kau pasti bisa menemukan mereka, kau harus semangat Jieun-ah."
Jieun tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan Sunjin mereka tertawa bersama.
"Tapi, Jieun-ah waktu itu aku sempat melihat seseorang berdiri di depan rumahmu dulu."
Jieun menaikkan alisnya. "Siapa? Apa kau melihat wajahnya?"
Sunjin menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia sudah pergi sebelum aku bertanya padanya."
Jieun terdiam, memikirkan perkataan Sunjin barusan.
.
.
Seoul, 20.00 P.M
Ruangan Presedir Yoo Seungho
Seungho mengetuk tangannya ke meja, selanjutnya dia membanting beberapa dukumen dimejanya membuat satu orang didalam ruangannya terkejut, sedangkan orang satunya lagi menundukkan wajahnya tidak berani menatap wajah marah Seungho.
"BRENGSEK! AKU MEMBAYARMU UNTUK MEMBUNUHNYA!"
Seugho mengambil stik golf dan mengayunkan stik golf itu pada tubuh pria itu, tanpa merasa iba seungho terus memukuli orang itu dan melemparkan stik golf itu sembarangan. Pria itu tetap diam meski dipukuli oleh majikannya.
"Manejer Shin! Pergilah!."
Segera setelah itu Manejer Shin pergi dengan tergesa-gesa. Seungho menatap wajah pria itu dengan bengis, dia mengehela nafasnya kasar.
"Ini ikuti gadis itu, aku yakin dia pasti terpancing dengan hal ini. Pergilah!"
Seungho membuka jasnya dan melemparkannya begitu saja, detik berikutnya dia tertawa memenuhi seisi ruangan.
"Permainan ini semakin menarik."
๐๐๐
Chang Wook tengah sibuk di depan kumputer, mengabaikan pertengkaran antara Daehyun dan Woon Hu.
"Kak! Kembalikan itu punyaku!"
Daehyun mencoba meraih bajunya dari tangan Woon Hu, Woon Hu berlari untuk menghindari Daehyun. Chang Wook mengehala nafasnya kasar dan menyumbat kedua telinganya dengan Headset.
"Kakak!! Kenapa kau selalu mengambil punyaku! Kemarin kau mengambil celana dalamku sekarang bajuku! Lalu apa lagi yang ingin kau ambil dariku?! Aishhh menyebalkan!"
Daehyun menyenggol sedikit kursi Chang Wook, Woon Hu menghiraukan teriakan Daehyun dan dia malah meledek Daehyun dengan lidahnya. Tangannya terus menggoda Daehyun mencoba mendapatkan bajunya kembali.
"Aishh kembali--"
Chang Wook mengambil baju itu dan melemparnya jauh dari ruangannya, Woon Hu langsung melihat kearah Chang Wook berbeda dengan Daehyun dia berteriak marah pada Chang Wook dan berlari mengejar bajunya.
"Ya ada apa denganmu huh?"
Woon Hu menyenggol lengan Chang Wook, nihil. Chang Wook mengabaikannya lagi, Woon Hu merasa kepo matanya melihat kearah layar komputer. Rupanya Chang Wook tengah mengamati rekaman cctv kejadian kemarin, dia mempause nomer plat mobil dan siluit wajah seseorang yang menabrakkan mobilnya pada mobil Yongguk kemarin.
Woon Hu melihatnya dengan serius dan sedikit demi sedikit menggeser kursi Chang Wook, membuat Chang Wook dengan terpaksa mengizinkan Woon Hu untuk menggunakan komputernya. Woon Hu dengan cekatan menganalisis wajah orang itu dan kedua nomer plat mobilnya. Tidak butuh waktu lama gambar wajah orang itu sudah muncul di layar komputernya disusul nomer plat dari kedua mobil tersebut.
Woon Hu berdecak dan mencoba memperjelas lagi gambarnya. "Tidak bisa diperjelas lagi, ini yang terbaik."
Woon Hu memperlihatkan hasil analisis nomer plat kedua mobil tersebut. "Satu tidak terdaftar dan satu lagi berada di daerah gangnam."
Chang Wook berdecak, dia mengamati gambar itu dengan lama.
"Hey apa kau mendengarku? Aishh kau ini."
"Tunggu--kak coba kau perbesar foto itu."
Woon Hu menghela nafasnya. "Ini sudah bagus jika di zoom nan--"
"Lakukan saja cepat!"
Woon Hu bergerutu tapi dia tetap melakukan apa yang dikatakan Chang Wook, Chang Wook membulatkan matanya tidak percaya.
"TIDAK MUNGKIN! D--dia--."
"Ada apa? kenapa?"
Woon Hu bingung dia melihat Chang Wook tengah mencari sesuatu di laptopnya dan membuka sebuah foto yang memperlihatkan foto sebuah keluarga, dia menunjukan wajah pria itu dengan foto yang berada di laptopnya.
"Tidak mungkin--"
.
Suasana kantor begitu ramai, Jieun dan Daehyun hampir kewalahan saat membawa barang bawaannya.
"Kenapa dengan meraka? Apa hari ini ada acara di kantor?"
Jieun mengedikkan bahunya acuh tidak tau, dia meletakkan beberapa dokumen dimejanya, Daehyun tersenyum memperlihatkan giginya dan merangkul Jieun.
"Sebentar lagi magang kita selesai, bagaimana jika kita makan diluar?"
Jieun menyingkirkan tangan Daehyun dari bahunya dan duduk mengabaikan ajakan Daehyun, Daehyun merayu Jieun dan menyenggol bahu Jieun.
"Aku tidak bisa."
Daehyun menghela nafasnya kecewa. "Kenapa tidak bisa?"
Sebelum Jieun menjawab, panggilan seseorang membuat mereka berdua mau tidak mau menghampirnya.
"Hari ini ada kunjungan dari kantor kejaksaan dan kalian karyawan magang wajib mengikuti acara ini, jadi persiapkan semuanya."
Orang itu menepuk bahu Jieun dan Daehyun sebelum pergi, Jieun pergi begitu saja meninggalkan Daehyun sedangkan Daehyun berdecak kesal dan pergi menyusul Jieun.
Acara hari ini gagal-Daehyun.
Acara sambutan dan kunjungan sudah selesai, para staff sedang asik mengobrol dengan beberapa pejabat tinggi yang ikut serta dalam acara ini. Seungho tertawa bersama Chang Wook, Jieun dan Daehyun kebagian membagikan minuman pada para tamu.
"Semoga dengan ini tidak ada lagi perselisihan paham anatara kita."
Daehyun mencibir mendengar perkataan mereka.
Menjijikan kalian semua.
Jieun menghampiri Chang Wook dan Seungho yang tengah asik mengobrol, Jieun membungkuk dan menyerahkan minuman pada keduanya.
"Lee Jieun-ssi?"
Jieun yang merasa dipanggil dia membungkuk hormat pada Seungho. "Iya, saya Lee Jieun."
Chang Wook menghapus sedikit air disudut bibirnya sambil melihat kearah Seungho, Seungho tersenyum pada Jieun.
"Aku dengar kau anak berprestasi di kampusmu?"
Jieun tersenyum tipis. "Aku tidak begitu--"
"Heeyy ayolah jangan merendah, jika kau lulus nanti bergabunglah dengan timku. Di kejaksaan aku yakin kau pasti senang, bukan begitu Pengacara Jang?"
Chang Wook tertawa dan mengangguk membenarkan ucapan Seungho walau dengan sedikit terpaksa, Jieun tersenyum senang.
"Terimakasih Jaksa Yoo, aku akan mengingat perkataan anda jika saya sudah lulus."
Seungho tertawa dan menepuk bahu Jieun pelan, Seungho tersenyum. "Kalau begitu senang berkenalan denganmu Lee Jieun-ssi."
Jieun menyambut tangan Seungho. "Senang berkenalan dengan anda juga Jaksa Yoo."
Seungho tersenyum dan melepaskan tangannya begitu Jieun pergi, dia meneguk minumannya sambil terus memperhatikkan peunggung Jieun yang mulai menjauh.
Setelah acara selesai, Jieun menghela nafasnya. Dia menutup matanya dan bersandar dikursi kerjanya.
"Tapi, Jieun-ah waktu itu aku sempat melihat seseorang berdiri di depan rumahmu dulu."
Jieun terus memikirkan perkataan Sunjin padanya. Tidak mungkin. Jieun menggelengkan kepalanya memikirkan kemungkinan seseorang yang dicarinya selama ini. Jieun mengambil bingkai foto itu dan mengusapnya perlahan, dia menghela nafasnya pelan.
"Aku harap apa yang aku pikirkan itu memang benar."
..
Jalanan tidak begitu ramai, Jieun menolak ajakan Daehyun untuk mengantarkannya pulang. Jieun tidak ingin terus merepotkan Daehyun, karena dia merasa Daehyun sangat perhatian sekali dengannya. Tidak, Jieun tidak menyukai Daehyun. Tapi jika seperti itu terus Jieun akan selalu bergantung dengan Daehyun dan Jieun tidak menyukainya itu sangat memalukan. Dia dan Daehyun hanya orang asing yang baru kenal sejak mereka magang.
Jieun tersenyum sendiri saat membayangkan pertama kali mengenal Daehyun. Jieun mendongak melihat langit malam, dia tersenyum.
"Ibu, ayah, ibu tiri, Kak Baekhyun, Kak Eun Hye aku merindukan kalian semua."
Jieun menghapus air matanya, dia menghela nafasnya memberi semangat pada dirinya sendiri. Disisi lain seseorang tengah mengamati Jieun dari kejauhan didalam mobil. Mobil itu mengikuti Jieun dengan pelan, mobil itu berhenti tepat setelah Jieun sampai didepan apartementnya.
Chang Wook terus memperhatikkan Jieun, dia mematikan mesin mobilnya dan terdiam disana sampai Jieun masuk kedalam flatnya. Chang Wook menghela nafasnya.
"Bagaimana jika aku memberitahumu soal ini Jieun-ah?"
Chang Wook mengusap wajahya, dia mengambil sebuah foto dan memperhatikkannya cukup lama. Dia melihat kearah bagunan apartemen Jieun, matanya menyipit ketika melihat siluit tubuh seseorang yang diam-diam memasuki gedung itu dan berusaha menyembunyikan wajahnya. Chang Wook dengan segara memakai topinya dan keluar untuk mengikuti orang itu. Chang Wook berjalan dibelakang orang itu, orang itu naik keatas menggunakan lift. Chang Wook berdiri tepat didepan lift dan melihat kelantai berapa dia pergi, Chang Wook segara menyusulnya saat orang itu menuju flat Jieun. Orang itu melirik kearah kiri dan kanan jika saja ada seseorang yang melihatnya, orang itu berhenti didepan sebuah flat dan mengeluarkan sesuatu dibalik jaketnya.
Chang Wook membulatkan matanya dan berteriak kearah orang itu, orang itu lari setelah aksinya diketahui oleh Chang Wook.
"YA! BERHENTI!"
Orang itu berlari menuju tangga darurat, Chang Wook mengikutinya dia berusaha mengejar orang itu.
"Aishh!"
Orang itu berdecak kesal, dia memasuki ruang kosong dan menahan pintu itu berusaha menahan dorongan tubuh Chang Wook.
Brakk..
Chang Wook membuka pintu itu dan mencoba meraih tangan orang itu, tapi dengan lihai orang itu dapat menghindari Chang Wook. Cukup lama Chang Wook mencari orang itu tapi, sayang dia gagal dia kehilangan orang itu.
Bugh..bughh
Chang Wook mendengar suara seseorang sedang berkelahi, Chang Wook medekati sumber suara.
"Aarhhh, sialan."
Bughh..
"Jangan pernah berani menyentuhnya, atau aku akan membunuhmu!"
Kedua orang itu saling meninju, salah satu pria yang dilihat Chang Wook tertawa sinis wajahnya tidak terlalu terlihat, pemuda bertopi itu terjatuh meringis kesakitan menahan nyeri diperutnya. Melihat pemuda itu terjatuh orang itu segera pergi begitu saja. Chang Wook dengan segera berlari kearah pemuda itu, pemuda itu berusaha berdiri.
"Siapa kau?"
Pemuda itu terdiam tidak menjawab pertanyaan Chang Wook, dia berbalik berusaha meninju tubuh Chang Wook saat mendekat kearahnya tapi Chang Wook segera menghindar.
"Huh..huhh."
Chang Wook melihat wajah orang itu yang tertutup topi dan masker yang hanya memperlihatkan kedua bola matanya, Chang Wook mengingat mata itu. Dia yang menabrakkan mobilnya pada mobil Min Yongguk.
"Kau--kenapa kau menabrak mobil Min Yongguk Huh?! Kenapa?! Kau--apa kau mengetahui semuanya? Siapa kau sebenarnya?!"
Pemuda itu berusaha menekan perutnya akibat tusukan pria tadi, dia melirik mencari celah berusaha kabur dari Chang wook. Chang Wook dengan perlahan mendekati pemuda itu, pemuda itu memundurkan tubuhnya dan mendorong tubuh Chang Wook. Topi pemuda itu terbuka secara tidak sengaja karena terkena lengan Chang Wook yang menyenggolnya. Chang Wook menahan tangan pemuda itu setelah berhasil mempertahankan posisinya supaya tidak terjatuh. Chang Wook begitu terkejut saat melihat wajah orang itu ketika berhadapan langusng dengannya.
"Byun Baekhyun.."
.
.
.
TBC...