IMAGE

IMAGE
6



Chang Wook melihat komputernya dengan serius, dia melihat satu persatu foto yang telah dia dapatkan saat pertemuan tadi. Dia memperhatikkan dengan teliti setiap wajah dalam foto tersebut.


Tok..tok


Chang Wook merubah layar komputernya secepat mungkin saat mendengar pintu ruangannya diketuk.


"Masuk."


Chang Wook bersikap seperti biasa saat dilihat Minah datang dengan sebuah map ditangan kanannya, Minah tersenyum manis pada Chang Wook. Roknya yang pendek memperlihatkan paha mulusnya, dia sengaja menggunakan rok tersebut dan dia juga memakai riasan diwajahnya. Chang Wook menahan tawanya saat melihat penampilan Minah yang terlihat berlebihan di matanya.


"Wakil direktur ini daftar pengacara magang yang anda inginkan."


Minah meletakkannya di meja Chang Wook dan mengedipkan matanya pada Chang Wook, Chang Wook yang melihatnya terbatuk dan mengangguk dan menyuruhnya keluar dengan tangan kanannya. Minah membungkuk hormat dan menyibakkan rambutnya lalu berjalan dengan anggun.


"Aaahh ada apa dengan wanita itu?"


Chang Wook menggelengkan kepalanya dan bergidik geli melihat kelakuan Minah barusan, Chang Wook mengambil map tersebut dan membukanya.


"Lee Jieun? Bukankah dia bocah SMA---aishh."


Chang Wook mengacak rambutnya dan berdiri dari duduknya, dia mengintip dibalik jendela ruangannya.


"Apa dia masih mengingat wajahku?"


.


.


Jieun sedang berdiri didepan printan menunggu atrian, dia mendengus pelan dan bertanya-tanya. Memangnya berapa banyak yang harus mereka print? Kenapa lama sekali? Jieun menghentakkan kakinya kesal dari tadi orang yang didepannya belum juga selesai, sebenarnya apa yang dia lakukan?


"Permisi apa kau masih lama?"


Orang itu menoleh pada Jieun dan melihat Jieun dari atas sampai bawah, Jieun memundurkan langkahnya karena terkejut dengan perbuatan orang tersebut. Jieun melihat name tag di dada kirinya Kim Nayoen.


"Aku masih lama, jika kau tidak mau menunggu kau bisa mencetak dokumenmu besok."


Nayoen menjawabnya dengan wajah datar, Jieun tidak percaya dengan jawaban Nayeon dia menggigit bibir bawahnya menahan kesal dan mendengus. Nayeon memandangnya dengan dingin lalu berbalik kearah depan dia tersenyum sinis.


"Dasar bodoh."


Jieun semakin kesal saat mendengar ucapan Nayeon yang menghinanya, dia menutup matanya sebisa mungkin mengontrol emosinya. Tidak mungkin dia berkalahi hanya karena memperebutkan printan bukan? Yang pasti Jieun tidak mau namanya menjadi buruk karena ucapan Nayeon barusan.


Chang Wook keluar dari ruangannya, dia tersenyum pada staff pengacara lainnya, Minah yang melihat Chang Wook keluar dari ruangannya segera berdiri dari meja kerjanya dan berlari kearah Chang Wook.


"Wakil direktur."


Chang Wook memutar bola matanya malas dan tersenyum tipis, Minah berjalan disamping Chang Wook dia bisa melihat para staff pengacara wanita yang melihatnya tidak suka. Minah tersenyum miring dan memandang remeh kearah mereka.


Nayeon sudah selesai, dia merapihkan kertas dokumennya. Jieun tersenyum senang, dia mengambil beberapa kertas sengaja atau tidak Nayeon menyenggol kaki Jieun dan membuat kertas itu berserakan. Jieun melihat tajam kearah Nayeon, Nayeon tersenyum miring dan pergi dari sana.


"Aishh menyebalkan, ada apa dengan wanita itu?!"


Jieun mengambil satu persatu kertas tersebut lalu meletakkannya di atas printan.


"Chaa ayo kita foto copy---oh dimana laporannya?"


Jieun mencari laporannya dia sepertinya lupa menyimpannya karena ulah Nayeon tadi, Jieun tersenyum saat melihat laporannya saat dia akan mengambilnya sebuah sepatu sudah berada diatas laporan itu dia seperti akan menginjak laporannya Jieun membulatkan matanya.


"Tidaaaakk."


Jieun mengambilnya dan menepuk laporan tersebut yang sedikit kotor, dua orang tersebut terkejut dengan tindakan Jieun. Minah melototkan matanya pada Jieun karena dia tidak sopan dihadapan Chang Wook. Jieun melihat kearah mereka dan tersenyum meminta maaf karena tindakannya tadi, Chang Wook terkejut melihat Jieun dia terus melihat kearah Jieun yang sama sekali tidak mengenalnya. Chang Wook tidak memperdulikan omelan Minah pada Jieun dan panggilan Minah untuk menyadarkannya.


"Wakil direktur--wakil direktur?"


Jieun melihat kearah Chang Wook dengan wajah bingung dia menaikkan alisnya tidak mengerti, kenapa dia terus melihat kearahku? Apa ada yang aneh dengan wajahku?


Jieun meraba wajahnya karena Chang Wook terus melihat kearahnya.


"Wakil direk---"


"Aah maafkan aku, aku ada urusan."


Chang Wook segera pergi dari sana membuat Jieun dan Minah memandangnya dengan heran.


"Dia tidak mengingatku? Aaah baguslah. Aku tidak perlu repot-repot untuk menutupinya."


Chang Wook menjetrikkan jarinya dan mengangguk dia lalu naik kelift.


๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹


Chang Wook merapatkan topi hitamnya, dia sekarang sedang berada di lorong kantornya.


"Kak kau mendengarku?"


"Kenapa? Aku mendengarmu, fokus dengan misimu Chang Wook-ah!"


Chang Wook mendengus mendengarnya di berjalan dengan hati-hati. Park Kang Jun apa yang dia sembunyikan selama ini?


Sebuah cahaya mobil menghentkkan pergerakan Chang Wook, Chang Wook mengintip di balik tembok dia bisa melihat ada tiga orang keluar dari mobil tersebut.


"Siapa itu?"


Chang Wook mengikuti kemana mereka pergi, mereka membawa sebuah kotak kecil. Chang Wook melihat mereka masuk kedalam ruangan, Chang Wook berniat mengikuti mereka tapi matanya menangkap sosok seseorang yang berjalan kearah ruangan tersebut. Chang Wook menyipitkan matanya guna mempertajam penglihatannya, dia membulatkan matanya setelah mengetahui orang tersebut.


"Aishh menyebalkan selalu sepert ini."


Chang Wook segera berlari kearah orang tersebut, Jieun yang penasaran dia mengintip orang-orang itu tapi sebuah cahaya menyinari wajahnya sontak membuat keduanya terkejut. Jieun merasa ketakutan karena dirinya ketahuan mengintip dia berjalan mundur dan..


flaas..(suara lampu di matikan)


"Kenapa lampunya mati? Dimana dia?"


Chang Wook segera menutup mulut Jieun dan menariknya masuk kedalam ruangan lain, dia mengintip dibalik celah pintu tersebut. Bayangan ketiga orang tersebut berlarian mengejar Jieun. Jieun memegang tangan Chang Wook dan meronta membuat Chang Wook menahan tubuh Jieun seperti memeluknya.


"Demi tuhan bocah ini benar-bena menyebalkan!"


"Siapa dia? ibu tolong aku."


Jieun bisa melihat mata orang itu, dia tidak bisa melihat dengan jelas karena lampu mati. Chang Wook melihat situasi sudah mulai aman dia berniat melepaskan tanganya dari mulutnya tapi sebuah gigitan membuat dia melepaskan tangannya dengan cepat, Jieun keluar dari ruangan itu dengan cepat dan berlari keluar gedung.


"Haaaah akhirnya.


Jieun memegang perutnya karena lelah berlari. "Aah sakit."


Chang Wook memekik sakit dan keluar dari ruangan itu. "Aishh menyebalkan aakhh dasar gila."


Flaaas..(lampu hidup kembali)


"Ya disana!"


Chang Wook melihat kearah belakang, ketiga orang itu menemukan Chang Wook berdiri di tengah-tengah mereka.


"Aaah hari menyebalkan!"


Chang Wook segera memukul salah satu orang itu, dia melemparkan orang itu pada kedua temannya yang lain sehingga tubuhnya menghantam mereka.


"Ya, kak apa ini rencanamu huh?!"


"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa."


Chang Wook mendengus kesal dan bersiap memukul ketiga orang tersebut, dia menghajar mereka. Dia naik ketembok dan memukul tubuh mereka membuat tubuh mereka sempoyongan.


"Aahh kau yang mematikan lampu kan?!"


"Apaan sih? Bukan ak---"


"Oh itu dia."


Chang Wook melihat kearah segerombolan orang yang datang, dia berdecak kesal. Chang Wook berlari kearah mereka dan menghajar mereka satu persatu.


.


.


.


Jieun tengah menunggu bus didepan gedung tempat dia magang, dia melihat jam tangannya lagi.


"Apa bus tidak ada lagi?"


"Apa yang dilakukan direktur Park malam-malam begini?"


.


.


Jieun menepuk wajahnya berusaha menahan rasa kantuknya dia berjalan kearah apartemennya yah walaupun hanya apartement sewa sederhana, Jieun melihat kearah rak disana ada sebuah paket untuk Jieun. Jieun menautkan alisnya merasa heran tentu saja siapa yang mengirim paket yang cukup besar kepadanya? Jieun melihat kesegala arah siapa tau orang yang mengirim paket belum pergi atau ada kesalahan saat menyimpannya, tapi di paket ini tertulis namanya. Tidak mau ambil pusing dia segera naik keatas menuju flat kamarnya.


Keseokan harinya


"Jieun-ah."


Daehyun melambaikan tangannya saat melihat Jieun didepan lift, Jieun tersenyum pada Daehyun dan mereka masuk kedalam lift bersama.


"Apa kau tidur dengan nyenyak?"


Jieun mengangguk menjawab pertanyaan Daehyun dan meletakkan tasnya begitu sampai diruangannya, Daehyun mengangguk paham dan berjalan kearah mejanya.


"Apa semua pengacara baru sudah datang?"


Nam Dongseob--ketua tim pengacara datang dan melihat kearah mereka semua, Jieun dan Daehyun berdiri dari duduknya.


"Sepertinya sudah semuanya, baiklah--" Dongseob merapihkan beberapa map yang ada ditangannya. "--sekarang tugas pertama kalian sebagai pengacara akan dimulai jadi aku harap dikerjakan dengan baik dan benar, yang aku panggil namanya maju kedepan."


Semuanya serempak menjawab, Dongseob segera memanggil nama mereka satu persatu dibantu oleh asistennya.


"Kalian sudah mendapatkan map masing-masing, buka map kalian---"


Jieun membuka map tersebut didalamya terdapat kertas dua lembar.


"--baca dengan teliti kertas itu dan kerjakan tugas kalian sebagai pengacara, kalau begitu saya permisi."


Jieun membaca kertas itu dan membulatkan matanya tidak percaya begitupun dengan teman-teman mereka lainnya.


"Keren! Aku harus bertemu dengan klienku sekarang juga."


"Aaah aku juga."


"Ayo."


Setelah mereka membacanya, mereka bergegas keluar untuk bertemu dengan klien mereka masing-masing. Daehyun melihat kearah Jieun yang masih terdiam ditempatnya.


"Jieun-ah kau tidak pergi?"


Jieun melihat kearah Daehyun lalu menutup map tersebut dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Apa tugasmu?"


Daehyun berusaha mengambil map Jieun tapi Jieun menahan tangan Daehyun dan menatap tajam kearah Daehyun, Daehyun tersenyum pada Jieun lalu menarik tangannya. Jieun berjalan terlebih dahulu meninggalkan Daehyun sendirian.


"Aakhh..kak! Pelan-pelan!"


Chang Wook berdesis merasa sakit dilengan kirinya karena perkelahian semalam, Woon Hu tidak menggubris Chang Wook dan dengan sengaja menekan luka Chang Wook.


"AAAKH KAKAK!"


"Aishh kau ini! Jangan berteriak di telingaku!"


Woon Hu mengusap telinganya dan menatap Chang Wook dengan kesal.


"Kau sendiri menekan lukaku, kau sengaja kan melakukannya?!"


Chang Wook memakai kembali bajunya dan duduk didepan komputernya, Woon Hu tertawa. Chang Wook mengejek tawa Woon Hu dan mencibirnya.


"Ha-ha tertawamu sungguh menyeramkan."


Woon Hu melemparkan handuk kecil pada Chang Wook membuat Chang Wook berdecak sebal dan dia melemparkan kembali handuk tersebut kearah Woon Hu yang kabur membawa kotak obat.


"Aku tidak bisa melihat apa yang mereka bawa, apa isi kotak itu? tapi ada yang aneh siapa yang mematikan lampunya semalam?"


"Benar siapa yang mematikannya ya?"


Chang Wook hampir memukul wajah Woon Hu karena terkejut, beruntung refleks badan Woon Hu bagus dia bisa cepat menahan tangan Chang Wook yang mau memukulnya.


"Aishh kak kau mengejutkanku!"


Chang Wook melihat kearah Woon Hu dengan jengkel, Chang Wook menepuk kepalanya dan menghela nafasnya.


"Ya ampun kenapa hidupku penuh dengan orang-orang aneh?"


๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹


Chang Wook memainkan pulpen dan mengetuk-ngetukkannya di meja, dia sedang mengingat perkataan Woon Hu padanya.


"Ini sudah 2 tahun Chang Wook-ah mungkin dia lupa atau tidak mengingat wajahmu, kau tau itu sudah lama mungkin dia berusaha melupakan semua orang dari masa lalunya itu menurutku."


"Apa terjadi sesuatu padanya 2 tahun lalu?"


Chang Wook melihat ke layar komputer yang menampilkan CV Jieun, mencoba mencari tau apa yang terjadi dengan Jieun dua tahun yang lalu.


Tring..(pesan masuk)


Chang Wook segera melihat ponselnya, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Chang Wook segera membuka isi pesan tersebut, Chang Wook sudah memasang sebuah aplikasi pada ponsel Kang Jun setiap ada pesan atau telepon Chang Wook dapat mengetahuinya.


'Bisa kita bertemu? Temui aku di gedung ร—ร—.'


Chang Wook berdiri dari duduknya, dia melihat layar ponselnya dengan wajah terkejut. Chang Wook segera keluar dari ruangannya dan mencari keberadaan Kang Jun tepat setelah Chang Wook keluar Kang Jun berjalan dengan cepat dari arah ruangannya, Chang Wook melihatnya dan mengikuti kemana Kang Jun pergi.


"Kak apa kau mendengarku? Sepertinya dia akan datang kepertemuan."


"Chang Wook-ah jangan sampai kau lengah."


Chang Wook mengikutinya dengan hati-hati dan berjalan seperti biasanya, dia melihat kemana Kang Jun pergi.


"Mau kemana dia?"


Chang Wook melihat lift tersebut turun, Chang Wook segera naik lift untuk mengikuti Kang Jun. Setelah turun Chang Wook melihat Kang Jun tengah mengobrol dengan seseorang, Chang Wook melihat kearah kursi yang berada di depannya lalu Chang Wook duduk dia menutupi mulutnya dengan pura-pura batuk. Chang Wook melihat kearah Kang Jun dia sudah selesai mengobrol, Chang Wook berdiri dan mulai mengikutinya tanpa dicurigai yang lainnya. Chang Wook membulatkan matanya saat melihat Minah menyapa Kang Jun dipintu masuk dia buru-buru bersembunyi supaya tidak kelihatan.


"Kenapa wanita itu selalu ada dimana-mana."


Chang Wook melihat kedepan terdapat pantulan Kang Jun, dia segera keluar setelah Minah pergi. Chang Wook sedikit berlari melihat Kang Jun dengan cepat berjalan keluar gedung, dia terus mengikuti Kang Jun.


"Nenek bisa kau cerita apa yang sebenarnya terjadi?"


Jieun menatap seorang nenek tua dengan wajah sedih dia mengusap pelan tangan nenek tersebut.


"Aku tidak bisa memaafkan mereka, mereka sudah membully cucuku dengan kejam! Aku minta tolong padamu tolong tangkap mereka."


Jieun tertegun dengan ucapan nenek itu, dia menggenggam tangan nenek itu dengan erat.


"Nenek tenang saja aku pasti akan menangkap mereka dan membuat cucumu kembali sehat."


Nenek itu menangis saat mendengar perkataan Jieun, Jieun bingung dengan nenek itu yang tiba-tiba menangis.


"Apa kau baik-biak saja?"


Nenek itu terus menyebut nama cucunya, Jieun berusaha menenangkannya.


"Nenek ada apa? Apa yang terjadi?"


Jieun menahan tubuh nenek tua itu yang akan terjatuh, wajahnya sangat ketakutan dan cemas saat melihat keadaan nenek itu.


"Sohe-ya---Sohe-ya dia--dia tidak mungkin kembali."


Setelah mengatakannya nenek itu pingsan, Jieun berteriak meminta tolong laluย dua orang penjaga datang membantu Jieun.


.


.


.


TBC..


JANGAN KOMEN DAN LOVE NYA YA ๐Ÿ’•