
Eun Hye tersenyum senang dan merapihkan kembali tatanan rambutnya, dia sedang menunggu Jiyong dan Eun Bi mereka akan pergi bersama menuju rumah Sinbi. Sudah lewat dari lima menit tapi mereka berdua belum juga datang, Eun Hye mengerutkan bibirnya kesal dan mencoba memgambil ponselnya. Eun Hye panik saat di rasa ponselnya tidak ada pada tasnya.
"Haiss pasti tertinggal di atas meja rias!"
Eun Hye berlari menuju rumahnya. "Aaahh merepotkan!"
Saat dia sudah berada di depan pintu rumahnya, Baekhyun bersandar di samping pintu rumah mereka. Dengan wajah datar dan dingin dia melihat kearah Eun Hye. Eun Hye mengerutkan dahinya bingung sekaligus penasaran kenapa kakaknya berada di luar rumah. Baekhyun memasukkan satu tangannya kedalam kantung jaketnya dan satunya lagi memegang sebuah ponsel.
"Kak apa yang kau lakukan di luar?"
Baekhyun melihat kearah Eun Hye dengan tajam, Eun Hye memundurkan tubuhnya saat Baekhyun berjalan pelan kearahnya. Tepat di hadapan Eun Hye, Baekhyun memperlihatkan ponselnya. Eun Hye membulatkan matanya dan tersenyum senang dia ingin mengambilnya tapi tidak berhasil karena Baekhyun mencengkram tangan kanan Eun Hye. Eun Hye menatap kakaknya tidak mengerti dan meringis sakit pada lengannya yang terasa nyeri.
"Kak, ada apa denganmu? Lepaskan ini sakit!"
Eun Hye mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Baekhyun tapi kekuatannya tidak semanding dengan Baekhyun.
"Di mana dia?"
Eun Hye tidak mengerti dengan ucapan Baekhyun.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti! Lepaskan tanganku!""
Baekhyun melepaskan cengkramannya dan menyudutkan badan Eun Hye pada dinding, tangannya berada di samping wajah Eun Hye. Eun Hye merasa ketakutan dengan sikap Baekhyun.
"BYUN EUNHYE DIMANA LEE JIEUN?!"
Eun Hye menutup matanya merasa takut dengan teriakan kakaknya, Baekhyun menatap wajah adiknya dengan tajam.
"A-aku tidak tau d--iman--"
"Dengar--" Baekhyun meninju dinding tersebut tepat di samping wajah Eun Hye. Eun Hye menutup matanya karena takut jika tinju itu mengenai wajahnya.
"JAWAB AKU SEKARANG!"
Eun Hye menatap balik Baekhyun merasa aneh dengan tingkah kakaknya. Apa sekarang Baekhyun sudah mulai peduli dengan Jieun ?
"Wah, ada apa denganmu kak? apa kau sedang memerankan sosok seorang kakak yang peduli pada adik tirinya?"
Eun Hye tersenyum sinis menatap Baekhyun. Baekhyun terdiam mendengar perkataan Eun Hye, dia mengepalkan tangannya kuat dan melemparkan ponsel Eun Hye, beruntung reflek dari tubuh Eun Hye bagus setidaknya ponsel itu bisa kembali padanya dengan selamat.
"Dengar Byun Eun Hye jika kau macam-macam lagi dengannya--" Baekhyun menatap tajam Eun Hye matanya memerah karena marah. "---mulai sekarang menjadi urusanku. Tidak peduli jika kau adik kandungku sendiri."
Setalah mengatakan itu Baekhyun pergi, Eun Hye tersenyum sinis melihat kepergian Baekhyun.
"Cih..dasar bodoh."
***
"Aishh dasar menyebalkan! Kenapa dia menyuruhku untuk melakukan tugas di hari libur!"
Chang Wook bergerutu tidak jelas dan melemparkan beberapa baju yang telah di siapkan oleh Woon Hu, Chang Wook mengacak rambutnya dan merebahkan tubuhnya diatas sofa. Menguap beberapa kali sebelum sebuah suara memanggilnya dengan cukup keras membuat pemuda tampan itu kembali bergerutu tidak jelas.
"Yoo Black Man. Cepatlah hari ini kita akan berpesta."
Woon Hu datang dengan gaya so swagnya sambil memakan kripik kentang kesukaannya, sementara Chang Wook menatapnya dengan tidak suka sekaligus merasa mual dengan tingkah Won Hu. Woon Hu meletakkan kembali kripik kentangnya dan tersenyum semanis mungkin pada Chang Wook.
"Kenapa? Seharusnya kau senang bukan? Kau akan pergi ke Club man! Wohooo~~."
Chang Wook semakin dongkol dan membuat tangannya seperti ucapan Woon Hu barusan seolah tengah mengejek Woon Hu.
"Yaya terserah apa katamu. Kau hanya memanfaatkan hari liburku dengan semua pekerjaan menyebalkan ini."
Chang Wook segera membuka kaos polosnya dan menggantinya dengan baju lain tidak lupa dengan topi dan kacamatanya.
"No no no, stop man!"
Chang Wook menghentikkan gerakannya saat tangan Woon Hu menahan lengannya. Chang Wook melihat Woon Hu tidak mengerti, Woon Hu mengambil sebuah baju lengkap dengan celana dan aksesoris lainnya. Dia menyerahkan pada Cang Wook, Chang Wook menaikkan alisnya melihat baju yang diberikan oleh Woon Hu.
"Kau harus memakai baju ini."
Chang Wook membulatkan matanya tidak percaya dan menggelengkan kepalanya tidak mau.
"Yak! kak apa kau gila?! Apa kau mau identitasku terbongkar?! tidak mau!"
Chang Wook mengembalikkan baju itu pada Woon Hu, Woon Hu menghela nafasnya dan dengan paksa menyerahkannya lagi pada Chang Wook dan mendorongnya masuk kedalam kamarnya.
"Ganti bajumu sekarang!"
"Yaya---"
Blam..
Club xxx
"Aishh menyebalkan!"
Ji Chang Wook berjalan dengan wajah kesal, dia mencari tempat duduknya yang menurutnya aman jauh dari jangkauan 'keramaiannya'.
"Ya, jangan terus mengeluh. Berikan senyuman manismu itu untuk wanita-wanita yang berada di sana."
Woon Hu tengah melihat Chang Wook dari layar komputernya, Chang Wook memutar bola matanya malas dan duduk untuk memesan minuman.
"Ckck..dimana dia?"
Woon Hu segara menekan sebuah tombol keyboard dan memperlihatkan seorang wanita cantik di layar komputernya, Woon Hu bersiul saat melihat body sexy wanita itu.
"Kau akan segera bertemu dengannya, dia berjalan kearahmu. Woo~~."
Chang Wook melirik sebentar kearah kanan dan bersikap seperti biasa lagi saat wanita itu mendekatinya, dan duduk di sebelah Chang Wook.
"Oke. Aku hanya membuatnya mabuk dan mengambil informasi darinya bukan?" Chang Wook tersenyum pada wanita itu saat melihat kearahnya dia menuangkan sebotol wine pada gelas wanita sexy itu.
Setelah cukup lama, wanita itu tertunduk mabuk di atas meja, Chang Wook segera mengaktifkan perekam suara yang berbentuk pulpen pada bajunya.
"Aahh kau berat juga."
Chang Wook menyadarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Aku sudah mel---".
Ucapannya Chang Wook terhenti saat mendegar suara keributan dari arah pintu masuk, orang-orang berhenti sejenak untuk melihat kejadian yang menurut mereka sudah biasa itu. Chang Wook tidak terlalu melihat apa yang terjadi, dia mengangkat bahunya acuh.
"Bukannya aku sudah meminta maaf padamu? Tarik kembali ucapanmu tuan! Kalau tida--"
Chang Wook seperti mengenal suara orang itu, dia meninggalkan wanita sexy itu dan perlahan mendekati tempat kejadian. Chang Wook melihat seorang pria mendekati tubuhnya pada seorang gadis di depannya, Chang Wook membulatkan matanya terkejut saat melihat wajah gadis itu. Dia menghela nafasnya dan tersenyum sinis saat pria itu semakin mendekati Jieun.
"Ckck merepotkan sekali."
"Kalau tidak apa huh?"
Pria itu tersenyum miring melihat reaksi Jieun.
"Berhenti--"
Suara Jieun bergetar merasa takut, pria itu melihat tubuh Jieun dari atas sampai bawah. "Tubuhmu bagus juga, bagaimana jika kita bermain sebentar?"
Jieun ingin sekali menampar wajah pria brengsek itu tapi tindakannya terhenti saat sebuah tangan merangkul pundaknya dan mendekatkan jarak tubuhnya dengan orang itu.
"Kemana saja kau? Aku sudah menunggumu sayang."
Jieun melihat kearah orang itu, dia membulatkan matanya tidak percaya pada sosok di sampingnya. Chang Wook tersenyum semanis mungkin pada Jieun, Jieun yang tersadar berusaha melepaskan rangkulan Chang Wook tapi usahanya sia-sia karena Chang Wook semakin mengeratkan rangkulannya. Jieun mendengus sebal, pria di depan Jieun tertawa mengejek membuat keduanya menatap pria itu dengan tajam. Pria jangkung itu berusaha untuk memegang tangan Jieun tapi tangannya di tahan oleh Chang Wook, Chang Wook menatap pria itu dengan tajam dan dingin. Pria itu hanya tersenyum miring dan melihat kearah Jieun.
"Ya, tenang saja aku---."
Duk..
"Yaampun."
Jieun menutup mulutnya merasa terkejut begitupun dengan kedua teman pria itu, Chang Wook mencengkram kerah baju pria itu dan menyudutkannya di tembok. Pria itu membulatkan matanya merasa terkejut dengan tindakan dari Chang Wook, Chang Wook menatap tajam pria itu.
"Jangan macam-macam dengannya atau aku patahkan lehermu sekarang!"
Chang Wook melepaskan tangannya dan menggandeng tangan Jieun untuk keluar dari club ini.
🎋🎋🎋
"Paman, lepaskan tanganku!"
Chang Wook tidak mendengarkan teriakan Jieun sama sekali, dia semakin mempercepat jalannya sesekali dia melihat pantulan kaca dan dia dapat melihat bayangan seseorang dari kaca itu.
"Sial!"
Jieun meringis kesakitan, pegangan Chang Wook terlalu kuat pada lengan kanan Jieun. Jieun mempercepat jalannya karena langkah Chang Wook yang semakin cepat berjalan.
"Paman pelan-pelan kakiku sakit! Aishh lepaskan tanganku kita sudah cukup jauh dari sana! Ya! Paman!"
Chang Wook menghentikkan langkahnya begitupun dengan Jieun yang menubruk punggung lebar Chang Wook, Jieun meringis dan mendengus sebal.
"Ya---"
"Kak ada yang mengikutiku, aku sudah melakukannya! Aishh kau tenang saja sekarang urus mereka! Aku sudah pergi dari sana--hmm baiklah."
Chang Wook menarik lagi tangan Jieun kali ini dia memasukkan Jieun pada mobilnya, Jieun terkejut dia ingin marah tapi dia urungkan saat mobil itu melaju dengan cepat.
Ya tuhan tolong aku. Jieun menutup matanya saat laju mobil Chang Wook semakin cepat dia berpegangan dengan erat. Chang Wook melihat kearah belakang dan memundurkan mobilnya untuk menghindari kejaran mobil yang mengikuti mereka.
"Apa kau bodoh?"
"Apa? A-apa maksudmu?!"
Chang Wook memutar stir mobilnya dengan cepat dan menancap gas mobilnya setelah berhasil menjauh dari mobil yang mengikutinya.
"YA! APA YANG KAU LAKUKAN?! PELANKAN MOBILMU AAAA.."
Jieun berteriak saat mobil itu hampir menabrak sebuah truk, Chang Wook mendengus sebal dan berdecak sebal.
"YA! AWAS AAA.."
"Berisik! Diamlah!"
Chang Wook membelokkan mobilnya dengan sangat tajam. "Sial! siapa mereka? menyebalkan!"
"Chang Wook-ah mereka suruhan tua bangka itu, aku rasa mereka telah mengikuti gadis itu selama seminggu."
Jieun terkejut mendengarnya dan melihat kearah Chang Wook tidak mengerti. Kenapa aku diikuti? Apa mereka penjahat atau penculik?!
"Ya apa kau begitu bodoh sehingga kau tidak merasakan jika seseorang mengikutimu?"
"Aku juga tidak tau----AA.. AWAS-----"
.
.
Suasana begitu hening setelah aksi kejar-kejaran tadi, Jieun masih mengatur nafasnya dan wajahnya begitu shock setelah kejadian tadi. Pertama kalinya dia mengalami kejadian seperti film action dan dia tidak mau lagi. Cukup untuk hari ini saja, dia nyaris saja melompat dari mobil saat sebuah mobil truk berada di depannya. Beruntung Chang Wook sangat lihai berkendara jika tidak mereka sudah di pastikan berada di rumah sakit sekarang ini. Jieun menggelengkan kepalanya bergidik ngeri dengan pikirannya.
"Turun."
Jieun melihat kearah Chang Wook saat mobil itu sudah berhenti di pinggir jalan, Jieun memperhatikkan dimana mereka sekarang.
"Ini jalan kerumahmu bukan?"
Chang Wook tidak sabaran, dia ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya merasa lelah dan sekarang bukan saja badanya lelah tapi juga batinnya karena dia bersama bocah SMA.
"Paman bisa kau antarkan saja aku kerumahku?"
"Ya! Memangnya aku supirmu! Turun sana!"
Jieun menangkupkan tangannya di atas dada, wajahnya dia buat dengan sesedih mungkin mencoba merayu Chang Wook. Chang Wook mencibir dan menggelengkan kepalanya. Membuat Jieun menghembuskan nafasnya kesal dan turun dari sana, setelah Jieun turun dia mencibir dan melototkan matanya pada mobil Chang Wook. Mobil Chang Wook pergi dari sana meninggalkan Jieun di pinggir jalan.
"Haishh YA DASAR MENYEBALKAN!"
Jieun mendengus sebal lalu terdiam sebentar. "Oh tapi kenapa dia bisa tau arah kerumahku----" Jieun membulatkan matanya dan menutup mulutnya. "-----jangan-jangan dia mengikutiku dan mencari tau informasi tentang identitasku? Haaa..dan setelah tau dia akan menculikku dan menjualku---tidak mungkin! Sebaiknya aku cepat pulang."
Setibanya Jieun dirumah, dia melihat Eun Hye di ruang tamu. Dia melihat baju Eun Hye dan terdiam, Jieun tau jika Eun Hye ingin pergi ke pesta Sinbi sebenarnya. Dia menghela nafasnya dan tersenyum miris dengan keadaannya. Dia di bohongi, seharusnya dia tau sejak pertama kali di ajak oleh Sinbi. Dia tidak mungkin diajak atau datang kepestanya dengan begitu saja. Jieun berjalan kearah kamarnya, Eun Hye melihat kearah Jieun pandangan mereka bertemu. Jieun masuk kedalam kamarnya, Eun Hye mengepalkan tangannya dan meleparkan tasnya dengan asal.
"Awas saja kau Lee Jieun!"
Hari kelulusan
Jieun tersenyum senang dan memandangi foto ibunya, dia merapihkan baju sekolahnya.
"Ibu hari ini aku lulus, Ibu tidak perlu khawtir dengan keadaanku."Jieun tersenyum senang dan memakai tas sekolahnya dengan cepat, dia tidak ingin terlambat saat acara kelulusan.
Baekhyun melihat kearah Jieun, dia tersenyum tipis saat melihat Jieun tiba dirumah dengan keadaan baik-baik saja. Dia sudah mencari Jieun di beberapa club malam tapi Jieun tidak ada di sana, Baekhyun sangat lega setelah melihat Jieun dalam keadaan baik. Eun Hye melihat kearah Baekhyun dan tersenyum sinis.
"Sepertinya Jieun-kita sudah tidak akan kesepian lagi."
Baekhyun melihat tajam kearah Eun Hye. "Jangan macam-macam lagi dengannya---"
"Kau jangan pernah meninggikan suaramu lagi! aku sangat kecewa denganmu, tapi tdak apa-apa karena sekarang kau terlihat begitu bodoh sudah perduli dengannya."
Eun Hye memutar bola matanya malas, Baekhyun menatap Eun Hye dan tersenyum sama sinisnya dengan Eun Hye.
"Aku tidak main-main Byun Eun Hye."
Eun Hye menatap balik kakaknya. "Dan aku juga tidak main-main Byun Baekhyun."
Eun Hye tersenyum pada Baekhyun. "Selamat bersenang senang dengan 'adik barumu' kakak."
Eun Hye tersenyum miring dan pergi, Baekhyun megepalkan tangannya kuat.
"Ya Jieun-ah kau kemana saja?"
Minrin mengomel setelah setelah Jieun duduk di sampingnya.
"Maaf, Minrin-ah apa acaranya akan segera dimulai?"
Jieun mengatur nafasnya dan meletakkan tasnya diatas meja, Minrin mendengus sebal. Temannya ini selalu saja datang telat dan Minrin selalu mengingatkan Jieun jika ada tugas atau hal lainnya. Minrin satu-satunya teman yang mau berteman dengan Jieun, Jieun sempat ragu dengannya tapi setelah beberapa lama dia bisa tau jika Minrin tulus berteman dengannya. Jieun merasa lega sekaligus senang, setidaknya dia tidak akan makan sendirian lagi di kantin. Tapi dia juga sedih harus berpisah dengan sahabatnya.
"Minrin-ah."
Minrin melihat kearah Jieun, dia bisa melihat wajah sedih Jieun. Minrin menaikkan alisnya.
"Ya kita pasti selalu bertemu. Berhenti memasang wajah sepeti itu ayo, acaranya akan di mulai."
Semua murid kelas tiga memenuhi aula sekolahan, mereka sedang mendengarkan pidato dari kepala sekolah.
"---untuk itu selamat atas kelulusan kalian."
Semua orang bertepuk tangan dan bersorak senang. Para orang tua masuk kedalam bermaksud memberi kejutan pada mereka, mereka merasa senang dan segera memeluk orang tua mereka. Orang tua mereka membawa bunga untuk kelulusan mereka begitupun dengan Ny.Byun datang dan memeluk kedua anaknya.
"Selamat untuk kelulusan kalian."
Ny.Byun tersenyum senang begitupun dengan Eun Hye dan juga Baekhyun.
"Terimakasih ibu."
Jieun yang melihat mereka tersenyum dan merasa sedih, dia ingin bergabung dengan mereka. Tapi dia hanya bisa memandangnya dari jauh, Jieun pergi dari sana setelah puas memandangi mereka. Baekhyun melihat kesana kemari mencari seseorang.
"Baekhyun-ah lihat kedepan."
Ny.Byun berteriak marah saat Baekhyun tidak melihat kearah kamera, Eun Hye tersenyum sinis melihat kelakuan kakaknya.
"Haiss..ada apa denganku!"
Jieun membasuh wajahnya dan melihat pantulan wajahnya, dia tertawa dan merapihkan bajunya.
"Kapan ayah akan pulang? Aku merindukannya."
Jieun keluar dari toilet dan berhenti saat melihat Jiyong dan Eun Bi begitupun dengan gerombolan gengnya, mereka tersenyum sinis.
"Ya mau bawa kemana aku?! LEPASKAN!"
Jieun meronta mencoba melepaskan pegangan mereka, Jiyong dan Eun Bi semakin mengeratkan pegangan mereka.
"JANGAN BERISIK!"
Ruang Musik
Mereka masuk kedalam ruangan itu dan membanting tubuh Jieun hingga terjatuh di lantai, Jieun meringis sakit dan melihat mereka dengan marah.
"Apa yang kalian lakukan?!"
Jiyong dan Eun Bi tertawa mengejek dan menjajarkan tubuh mereka dengan Jieun yang duduk di lantai.
"Kau benar-benar kurang ajar ternyata."
Jiyong menepuk pipi Jieun dan tertawa diikuti oleh Eun Bi. Jieun menepis tangan Jiyong dan mencoba bangun tapi tangan mereka menahannya.
"Lepaskan!"
"Lee Jieun aku bilang diam."
Jiyong menahan lengan Jieun. "Rae-ah gunting."
Seorang yeoja berambut ikal menyerahkan gunting pada Jiyong dan tersenyum sinis pada Jieun, Jieun membulatkan matanya melihat gunting itu.
"Apa yang akan kalian lakukan?! Lepaskan!"
"Haisshh Eun Bi-ah pegang dia yang lainnya apa yang kalian lakukan huh?!"
Mereka menahan tubuh Jieun dan merobek baju Jieun, Jieun meronta dan menahan bajunya agar tidak kena sobekan.
"Lepas--tolong lepaskan."
Jieun menangis, bajunya seragamnya sudah sobek beberapa. Jiyong dan Eun Bi tertawa dan merobek baju seragam putih Jieun.
"Tolong aku--seseorang selamatkan aku tolong----"
.
.
.
Tbc..