
๐ถ What Do I Do - Jisun (Ost. BBF)๐ถ
JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN
Happy reading ๐
-
-
-
Ruangan yang begitu tenang, terpajang beberapa rangkaian bunga didalam ruang kaca berukuran kecil; dari pantulan kaca seseorang nampak melamun keadaanya tidak begitu baik lingkaran dibawah matanya, jejak air mata. Tangan itu membawanya meletakkan sebuah foto dan tersenyum tipis detik berikutnya air mata (lagi) mengalir begitu saja.
"Maafkan aku, seharusnya aku lebih cepat mengetahuinya hiks-hiks."
Drtt..drtt..drtt
Jieun mengambil ponselnya, tanpa melihat layar ponselnya dia menjawab panggilan itu sambil terus mengetik; menjepit ponselnya diantara bahu dan lehernya.
"Kenapa?"
Sekon berikutnya, secara perlahan tangannya berhenti mengetik mencoba mencerna perkataan sang penelepon.
"Katakan yang jelas!"
"Byun Baekhyun sudah ditemukan, tapi--dia ditemukan meninggal--"
Tangisnya semakin pecah, tangannya menepuk dadanya. "Maaf, maafkan aku." Jieun menghapus air matanya dengan kasar. "Aku tidak boleh menangis, aku sudah janji padamu. Kak Baekhyun semoga kau tenang dan bahagia, aku yakin kau selalu ada di sisiku."
Jieun terdiam merasakan kehadiran seseorang dibelakangnya, dia melihat pantulan orang itu dikaca; Chang Wook datang dia mendekati Jieun dan membungkuk memberi penghormatan terakhir untuk Baekhyun.
..
'Black Man, aku suka nama itu. Ayo kita bertemu. Ini aku Byun Baekhyun.'
Chang Wook menatap lama layar ponselnya, dia segera pergi tanpa memberitahu Woon Hu; Chang Wook melihat layar ponselnya lagi saat sebuah notifikasi memperlihatkan sebuah pesan e-mail dari Baekhyun. Dia membacanya sekilas sebelum kembali memperhatikkan jalanan dia mempercepat laju mobilnya. 20 menit, Chang Wook sampai disebuah cafe tempat bertemunya dengan Baekhyun namun Chang Wook tidak menemukan sosok Baekhyun didalam cafe; seorang pelayan datang menyerahkan sebuah kotak kecil. Chang Wook mengerutkan dahinya dia mencoba memanggil pelayan itu namun dering ponselnya menggagalkan niatnya.
Nomer tak dikenali
"Ye--"
Chang Wook terdiam dipertajam pendengarannya, suara nafas seseorang terpotong-potong.
"Berikan kotak itu pada Jieun. Kau mengerti?
kalau begitu aku tutup--ahh satu lagi tolong jaga Jieun aku mohon."
Jieun melihat kearah Chang Wook, keduanya cukup lama terdiam.
"Jadi apa yang ingin kau katakan?"
Ucapan Jieun memutus keheningan membuat Chang Wook tersadar dari lamunannya, Chang Wook tersenyum guna mencairkan suasana canggung diantara mereka.
"Paman apa kau punya keluarga? Yang membuat dirimu lebih semangat dan bahagia menjalani kehidupanmu yang begitu berat, kau tau hidupku sangat memuakkan--"
Jieun terkekeh, Chang Wook tidak menanggapi ucapan Jieun.
"--selintas aku sempat berpikir ingin mengakhiri hidup; aku sendirian tidak ada seseorang yang mendengarkan masalahku. Aku rindu keluargak. Aku sudah lama mencari mereka--aku sangat senang saat ada orang yang mengatakan dia melihat kak Baekhyun; aku begitu senang dan aku berpikir 'aku ingin memeluknya saat ini juga' dan akhirnya aku menemukannya--tapi kenapa hatiku sakit sekali? paman aku seharusnya senang bukan? Aku sudah bertemu dengan kak Baekhyun, ak---"
Jieun menangis tersedu sambil menutup wajahnya, Chang Wook mempersempit jaraknya dan membawa Jieun kedalam pelukan; ditepuknya dengan lembut punggung Jieun. Cukup lama Jieun menangis dipelukan Chang Wook, Jieun terdiam dia dengan jelas dapat mendengarkan detak jantung Chang Wook; Chang Wook mengambil kotak pemberian Baekhyun saat dirasa Jieun cukup tenang.
"Ji."
Dengan perlahan Chang Wook merenggangkan pelukannya, Jieun melihat kotak itu dan menerimanya dia melihat kearah Chang Wook meminta penjelasan.
"Bukalah."
Jieun membuka kotak kecil itu, didalamnya terdapat sebuah benda berwarna hitam. Jieun menatap kearah Chang Wook; Chang Wook menghela nafasnya dan menyentuh tangan Jieun dengan lembut.
"Berjanjilah kau tidak akan marah, biarkan aku bicara sampai selesai."
Chang Wook mengeratkan genggamannya sambil menatap Jieun, Jieun mengangguk meski terlihat ragu. Chang Wook mulai menceritakan semuanya dari pertemuan secara tidak sengaja dengan Baekhyun; tangan mereka masih mengenggam sesekali Chang Wook mengeratkan genggamnnya saat melihat raut wajah Jieun.
"---dan itu pemberian Baekhyun untukmu."
Lima menit setelah Chang Wook selesai bicara tidak ada reaksi dari Jieun, Chang Wook takut jika dia akan menjauhinya. Tangan Jieun dengan perlahan terlepas dari genggaman Chang Wook.
"Ji ak--"
"Kau sudah tau? Haah..tapi kenapa? Kenapa kau tidak memberitauku?! Kenapa?!"
Jieun menatap mata Chang Wook tajam, Chang Wook tau dia salah, dia tau akan reaksi Jieun.
"Kenapa? Katakan padaku?! Seharusnya ka--kau--"
Jieun terlalu lemah untuk marah, dia mencengkram jas hitam milik Chang Wook dan menatapnya dengan mata ber-air.
"Maaf, aku seharusnya memberitaumu sejak awal tapi aku terlalu takut itu akan menyakitiku."
Chang Wook memeluk tubuh Jieun lebih erat.
"Tapi pada akhirnya aku tetap tersakiti."
๐๐๐
Kantor Kejaksaan, Seoul.
"Jadi bagaimana dengan kelanjutan putusannya?"
Seungho memperhatikkan rekan dan bawahannya yang berbincang, saat ini dia tengah menghadiri rapat dengan beberapa timnya; fokus Seungho terbagi dua dia sesekali memberikan pendapat kadang dia hanya mengangguk. Diusapnya dagu runcing miliknya matanya melihat kearah depan namun pikirannya tidak mendukunyanya; diketuknya meja kejadian kemarin masih mengganjal ditambah perkataan Baekhyun sebelum meregang nyawa, memikirkannya membuat Seungho mengerang digebrak meja tersebut hingga seluruh mata memandang kearahnya dengan wajah bingung. Seungho pergi begitu saja tanpa menanggapi perkataan dari rekan dan bawahannya.
"Sial! Byun Baekhyun kau sudah mati tapi kenapa kau masih merepotkan!"
Dibukanya dasi dengan kasar melemparnya begitu saja dan mengusir dengan kasar saat sekretaris dan pengawalnya datang keruangannya, dilemparnya barang-barang disekitarnya.
"Tenang-tenang Yoo Seungho, kau sudah menang dia sudah mati--"
Seungho tertawa dan mengangguk menyetujui pikirannya, diambilnya sebuah kain dalam jasnya dan dihirupnya kain tersebut.
"Aaahhh bau darahnya menajubkan."
"Tunggu saja kau Yoo Seungho hidupmu akan hancur, aku akan sangat senang diatas sana melihat kehancuranmu psikopat!"
Dilemparnya sebuah vas bunga, dia mengerang memegang kepalanya.
"SIALAN! BYUN BAEKHYUN! AKU MENANG! KAU MATI LALU APA YANG AKAN MENGHANCURKAN AKU! AARGHH!"
...
Suasana cafe begitu ramai, suara gelak tawa mengundang pengunjung lain untuk melihat kearah meja dipojokan kiri dekat jendela; namun mereka hiraukan karena kesempatan ini sudah sangat langka mereka idamkan yaitu berkumpul bersama.
"Jieun-ah mereka bilang kau tiga hari tidak masuk, kenapa? Apa kau baik-baik saja?"
Jieun tersenyum. "Tidak apa-apa Kak Hana."
Hanna mengangguk percaya begitu saja karena dia tau sifat keras kepala Jieun, Hyunwoo dan Jiyeon menatap Jieun.
"Kau yakin?"
Hanna yang melihat Jieun kurang nyaman dengan arah pembicaraan ini dengan segara menyenggol lengan mereka berdua, Hanna mengalihkan pembicaraan membuat Hyunwoo dan Jiyeon melupakan pertanyaan demi pertanyaan pada Jieun.
Jieun melambaikan tangannya saat berpamitan pada teman-teman kuliahnya, dia merengangkan tangannya keatas dan memandang kearah langit dan tersenyum. Dia mengenggam tasnya; lalu berjalan menuju tempat magangnya.
Saat masuk Daehyun melambaikan tangannya dan berjalan kearah Jieun, mereka berjalan berdampingan.
"Kau sudah baikan? Kalau perlu apa-apa katakan saja padaku."
Jieun tersenyum mengangguk. "Kau yakin? Apapun?"
"Tentu saja. Katakan sekarang kau ingin apa? pasti akan aku kabulkan."
Dengan yakin Daehyun mengatakannya, Jieun tertawa.
"Jieun-ssi."
Jieun dan Daehyun berhenti dan membungkuk kearah Seungho, Seungho tersenyum pada Jieun.
"Sudah lama kita tidak bertemu, apa kabarmu baik? Aku baru melihatmu sekarang."
"Aku baik-baik saja Jaksa Yoo."
Seungho mengangguk dan tersenyum. "Kau sibuk siang nanti? Aku ingin mengajakmu makan siang, apa kau mau?"
Daehyun melihat kearah Seungho kemudian kearah Jieun, Jieun terlihat ragu.
"Aah Maaf saya tidak bisa, saya sudah ada janji."
Jieun menolak dengan sopan, Seungho terdiam setelahnya dia tertawa dan menepuk pundak Jieun pelan.
"Ohh begitu, kalau begitu lain kali saja. Aku pergi."
Jieun dan Daehyun membungkuk kembali, Seungho mengusap hidungnya dan tersenyum miring.
..
Chang Wook memandangi layar tv didepannya, dirinya sedang tidak melihat adegan dalam film tersebut melainkan tengah memikirkan sesuatu. Woon Hu datang dan melihat Chang Wook melamun; dia berniat mengejutkannya dengan berjalan pelan-pelan.
"Kak Woon Hu"
Woon Hu terkejut dengan ucapan Chang Wook mengumpat karena gagal mengerjainya.
"Kau sudah tau? Haishhh."
Woon Hu duduk disamping Chang Wook. "Ada apa?"
Woon Hu menunggu ucapan Chang Wook namun Chang Wook masih terdiam membuat Woon Hu kesal.
"Ya kenapa kau malah diam? Setidaknya lanjutkan perkataanmu aishhh bocah ini membuatku jengkel saja--"
"Ini aneh."
Woon Hu menatap Chang Wook tidak mengerti. "Apa yang aneh? Ayolah katakan dengan jelas huh?!"
Chang Wook melihat kearah Woon Hu membuat Woon Hu terkejut hampir terjungkal kebelakang.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan Jaksa Yoo, tepat saat dia menyapa Jieun. Aku berniat menyapanya namun dia berlalu begitu saja bahkan aku melihat wajahnya mengeras menahan amarah; apa aku salah liat?"
Woon Hu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Chang Wook. "Tapi kau semakin dekat bukan dengan Lee Jieun?!"
Chang Wook menatap tajam Woon Hu. "Lalu apa hubungannya dengan ucapanku huh?!"
"Ciihh, aku tau aku tau semuanya! Dan tentang Jaksa Yoo..kurasa aku juga merasa aneh dengan sifatnya, aku pernah melihatnya disebuah cafe saat itu dia sangat marah pada sekretarisnya dan memukulnya; aku tidak tau karena apa tapi dia sungguh berbeda saat itu, haaahh memikirkanya lagi membuat aku merinding saat melihat matanya."
Chang Wook mengangguk mendengar perkataan Woon Hu, Woon Hu melihat kearah Chang Wook.
"Sudahlah lupakan, bagaimana keadaan gadis itu apa dia baik-baik saja?"
Chang Wook mengangguk lagi. "Hmm dia baik, tentang benda yang diberikan Baekhyun dia masih belum memberitaukannya padaku."
Woon Hu mengangguk. "Hanya ada beberapa orang saja seperti Baekhyun, dia mengorbankan segalanya untuk Jieun dan ada juga beberapa orang yang bersifat mirip seperti Park Kang Jun; kau harus berhati-hati jika menemukan sifat seperi Park Kang Jun."
"Tapi apa kau tau penyebab kematian Baekhyun? Aku rasa dia tidak meninggal begitu saja, aku yakin ini sudah direncanakan; apa kau ingat kematian Kang Jun dan Min Yongguk?"
Sambung Woon Hu menatap serius Chang Wook, Chang Wook menatap Woon Hu. "Aku ingat. Mereka dibunuh, tapi kita masih belum siapa yang berada dibalik pembunuhan mereka dan Baekhyun."
.
.
.
Jieun meletakkan tas kerjanya dan membaringkan tubuhnya, dia sangat lelah; dia mengambil sebuah bingkai foto dan menatapnya lama.
"Kalian jangan khawatir, kalian tau aku sangat kuat kalian hanya perlu menjagaku dan mengawasiku jika aku dalam masalah."
Jieun tersenyum dan mendekap bingkai foto itu.
Krekk..
Jieun membuka matanya saat mendengar suara dari luar kamarnya, dia mengambil sebuah tongkat bisbol dan membuka dengan pelan kenop pintu kamarnya; ruang tengah gelap jadi dia dengan was-was melangkah.
Krekk...
Jieun berbalik arah dan mendapati tirai jendela tidak tertutup sempurna, Jieun menghela nafas lega dan tersenyum; dia merapihkan kembali tirai jendela tersebut, Jieun terdiam tangannya tidak bisa digerakkan saat setelah menutup tirai jendela tersebut; Jieun sempat melihat pantulan seseorang dibantu cahaya dari lampu kamarnya. Tangannya bergetar hebat bahkan keringat mengalir dari dahinya, dia menelan salivanya detik berikutnya semuanya menjadi gelap.
.
.
.
TBC...