IMAGE

IMAGE
2




Lee Jieun (19 tahun)


Seorang siswi biasa yang hidup dengan keluarga barunya. Dia harus berjuang sendiri demi kehidupannya. Semenjak ibu kandungnya meninggal, ayahnya tidak pernah memperhatikannya.



Ji Chang Wook (--?)


Sosok pria yang begitu misterius, seorang agen rahasia. Tidak ada yang tahu kehidupannya selama ini, hingga suatu hari Chang Wook harus berurusan dengan seorang gadis SMA. Kehidupan keduanya pun berubah.


*Let's Go*


"Good Morning~~~"


Suara nyaring yang berasal dari sebuah komputer membangunkan sosok pria tampan yang tengah tertidur. Tidak hanya satu kali suara itu kembali dengan lebih keras dari sebelumnya yang sukses membuat pria tampan itu bangun dan menutup wajahnya dengan bantal.


"Hey! Black Man bangun lah, sekarang kita punya banyak pekerjaan!"


Pria itu bangun merasa tidak senang dengan ucapan seseorang dari komputernya.


"Yak! jangan sebut nama itu lagi!"


Chang Wook mendelik sebal pada layar monitor yang menampilkan wajah seorang pria yang lebih tua darinya, Woon Hu hanya tertawa mendengar omelan Chang Wook.


"Kenapa? Bukannya itu bagus? Black Man..."


Chang Wook bangun dari kasurnya, dia berdecak sebal dan mengambil sebotol air mineral dari kulkasnya. Setelah itu dia duduk di depan komputernya.


"Berhenti membuat nama aneh untukku!"


Woon Hu mengangguk mengerti dan merubah mimik wajahnya menjadi serius. Chang Wook menguap dan mulai mengetik tombol keyboard komputernya.


"Coba kau lihat data yang sudah ku kirimkan, setelah itu kerjakan tugasmu. Kali ini jangan sampai kejadian seminggu lalu terulang!"


Chang Wook mengacak rambutnya. "Aishh baiklah! Lagipula aku juga tidak mau bertemu dengan bocah itu!"


***


"Selamat datang."


Jieun tersenyum saat seorang pelanggan masuk kedalam tokonya. Dia melanjutkan acara bersih-bersihnya, seorang pria paruh baya tersenyum miring saat mendengar suara nyanyian Jieun. Dia sedang menghitung beberapa lembar uang.


Setelah ujiannya selesai Jieun bekerja paruh waktu untuk membiyai kuliahnya nanti, dan hari ini adalah hari gajian pertama untuk Jieun, Jieun tersenyum senang dan menghitung jari-jari dan menebak berapa yang dia dapatkan.


"Bos aku sudah selesai."


Jieun meletakkan peralatan bersih-bersihnya dan menghampiri bosnya di kasir. Pria paruh baya itu diam tanpa berniat menjawab pertanyaan Jieun. Jieun terus tersenyum senang, dia menunggu uang gajiannya.


"Kau terlihat begitu semangat apa ada hal yang baik untukmu?"


Jieun mengangguk dengan senang, dia mengulurkan kedua tangannya pada bosnya. Bosnya terlihat tidak senang dan berdecak sebal.


"Cih..ingatanmu sangat kuat ternyata."


Jieun tertawa senang saat melihat sebuah amplop putih sudah berada di tangannya, Jieun membungkuk terimakasih pada bosnya. Bos Jieun tersenyum sinis dan menyuruh Jieun pergi. Jieun berjalan keruang ganti baju dan melihat uang gajiannya dengan senang.


"Ibu aku akan bekerja keras untuk menjadi orang yang sukses. Doakan aku ibu."


Jieun memejamkan matanya dan segera setelah acara berdoanya dia mengganti baju kerjanya.


Kak Eun Hye


Yak! jangan lupa beli makan malam!


Jieun menghela nafasnya setelah membaca pesan masuk dari kakak tirinya. Dia harus membelinya dengan uangnya selalu saja seperti ini, jika Jieun tidak memasak untuk mereka maka Jieun lah yang harus membeli makanan cepat saji. Jieun berhenti di depan warung makan sederhana dan masuk untuk membeli makanan.


Kediaman Lee Jieun


"Aku pulang."


Eun Hye segera berlari kearah Jieun, bukan untuk menyambut kedatangan Jieun tapi dia mengambil sebuah plastik di tangan Jieun tidak memperdulikan kedatangan Jieun sama sekali. Baekhyun keluar dari kamarnya dan melihat makan malamnya sudah datang, mereka bertiga sibuk mengeluarkan makanan dari plastik. Sedangkan Jieun hanya tersenyum tipis dan berjalan kearah kamarnya.


"Akhirnya perutku sudah lama menunggu."


Jieun meletakkan tas sekolahnya dia menghela nafasnya, Jieun melihat kearah bingkai foto berukuran kecil di foto itu menampilkan sosok wanita cantik dengan bibir tersenyum.


"Ibu aku merindukanmu."


Setelah cukup lama Jieun menangis, dia tertidur sambil memeluk bingkai foto ibunya.


๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹


Chang Wook semakin menutupi wajahnya dengan topi mulutnya memakai masker dia berjalan dengan hati-hati di lorong hotel. Chang Wook melihat deretan kamar hotel, dia tengah mencari kamar hotel yang akan dia masuki. Dia berhenti tepat di depan sebuah kamar dengan nomer 3043, Chang Wook melihat ke arah kanan dan juga kiri memastikan tidak ada orang yang melihat aksinya dia tersenyum dan masuk kedalam kamar itu.


"Wah..keren, seorang koruptor benar-benar merubah pola pikir seorang polisi."


Chang Wook segera mencari sebuah benda yang di sebutkan oleh rekan--nya itu. Suara derap kaki terdengar cukup dekat oleh Chang Wook dia dengan cepat mencari benda itu.


"Aishh di mana dia menyimpannya."


Teet..teet..(suara paswoord yang di masukan)


Chang Wook melihat pintu depan terbuka, suara seorang laki-laki semakin terdengar. Chang Wook segera bersembunyi didalam lemari pakaian.


"Apa polisi itu datang lagi?"


Chang Wook melihat sosok pria itu dari celah lemari yang terbuka sedikit, sosok pria paruh baya tertawa dengan keras memperlihatkan kerutan di wajahnya.


"Cepat katakan di mana benda itu, tua bangka sialan!"


Chang Wook mengepalkan tangannya kesal. Pria paruh baya itu membuka jas hitam miliknya dan menyerahkannya pada asisten pribadinya. Seorang pelayan memberikan segelas anggur padanya. Pria itu melihat lemari pakaiannya yang sedikit terbuka dia berjalan kearahnya, Chang Wook membulatkan matanya terkejut saat melihat wajah pria tua bangka itu sudah berada di depannya. Pria paruh baya itu membuka lemari pakaiannya dengan perlahan, Chang Wook bersiap untuk keluar jika dia ketahuan. Tapi dugaannya salah pria paruh baya itu malah melihat di bawah deretan celana mahalnya memperlihatkan sebuah kotak kecil, pria paruh baya itu menghela nafasnya lega saat melihat benda itu masih di sana. Dia sudah was-was jika benda itu tidak ada.


"Perketat penjagaan saat aku tidak ada. Aku tidak mau 'aset' berhargaku raib."


Semua orang membungkuk hormat, pria paruh baya itu pergi di ikuti kedua asisten pribadinya. Tiga orang Pengawal berjaga di depan pintu kamarnya. Chang Wook segera keluar dan mengibaskan tangannya di depan wajahnya merasa kepanasan berada di dalam sana cukup lama.


"Akhirnya aku mendapatkannya, dasar bodoh!"


Chang Wook segera mengeluarkan ponselnya dan mencari nama seseorang. "Kak aku sudah mendapatkannya akan aku kirimkan sekarang juga."


Hanyang High School


Kelas Jieun begitu ramai saat mendengar pengumuman penting dari sang guru. Dua hari lagi acara kelulusan, mereka bersorak senang beberapa murid saling tertawa senang dan bercanda ada juga murid yang tengah mempersiapkan sebuah pesata untuk merayakan kelulusan mereka.


"Yak! Apa kau yakin Sinbi-ya?"


Jiyong dan Eunha melotot tidak percaya dengan ucapan teman segengnya itu saat Sinbi mengatakan jika dia akan mengundang Jieun dalam pesta mereka nanti malam. Eun Hye yang bergabung dengan mereka melihat Sinbi tidak mengerti.


"Aishh tenang saja aku tidak benar-benar mengundang gadis miskin itu untuk datang ke acara kita."


"Aihh aku senang jika begitu. Lalu apa yang akan kau lakukan dengan gadis itu?"


Sinbi tersenyum penuh arti dan menyuruh mereka mendekat kearah Sinbi.


"Heyy dengarkan semuanya."


Semua murid diam saat melihat Sinbi berdiri di depan kelas dengan wajah sombongnya Sinbi tersenyum angkuh pada semua orang, semua murid mulai berbisik satu sama lain. Jieun sangat malas untuk mendengarnya dia hanya memandang keluar jendela.


"Eheem aku akan mengadakan pesta perpisahan---"


"Woaahh...aku suka, aku ikut!"


Semua murid bersorak gembira apalagi seluruh murid laki-laki, mereka memukul meja saking senangnya.


"----alamatnya akan aku kirimkan pada kalian nanti. Dan aku juga akan mengundang Lee Jieun."


Sinbi mengarahkan pandangannya pada Jieun, seisi kelas terdiam karena terkejut dengan ucapan Sinbi sedang Eun Hye dan kedua teman Sinbi tersenyum mendengarnya. Jieun yang mendengar namanya di sebut sontak melihat kearah Sinbi, Sinbi tersenyum pada Jieun. Jieun membulatkan matanya tidak percaya dan menunjuk dirinya sendiri memastikan ucapan Sinbi, seumur hidup semenjak dia masuk ke SMA ini dia tidak pernah di ajak atau mengobrol dengan mereka. Tapi ada angin apa Sinbi seorang gadis populer dan kaya raya mau mengundang Jieun ke acara pestanya. Jieun merasa aneh dan melihat semua teman sekelasnya, semua teman sekelasnya melihat dia tidak suka sekaligus tidak percaya.


"Ak--kurasa ak--ku ti--"


Sinbi segera memotong ucapan Jieun, dia tersenyum palsu pada Jieun dan memasang wajah sedih seolah dia merasa tersakiti dengan penolakan Jieun.


"Hey ayolah Jieun, bukannya ini untuk perayaan kita bersama. Sebentar lagi kita akan lulus dan tidak bisa lagi bertemu, apa kau tidak mau datang kepesta ini?"


Jieun merasa gugup, apalagi ditatap oleh semua orang. Akhirnya Jieun mengangguk setuju dan membuat Sinbi senang. Semua murid menggelengkan kepalanya tidak percaya ada. Sinbi tertawa senang, Eun Hye dan keduanya mengacungkan jempolnya merasa senang melihat akting Sinbi berjalan dengan lancar.


๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹


Pulang dari sekolah Jieun seperti biasa bekerja kali ini di toko yang berbeda. Dia bekerja di dua toko sekaligus, waktu menurutnya sangat berharga untuknya.


"Jieun bisa kau bantu aku?"


Jieun meletakkan sapunya dan segera berlari kearah Yoo Inna--bosnya. Inna meletakkan dua plastik hitam yang berukuran besar pada Jieun.


"Tolong kau buang sampah ini ya. Makasih Ji."


Jieun membungkuk sebentar dan mengambil dua plastik itu dan keluar untuk membuangnya. Bosnya kali ini begitu baik dia juga sangat cantik.


Tring..


Sebuah pesan masuk, Jieun mengambil ponselnya dan membacanya.


Sinbi Huang


Jangan lupa datang ke club \* ini ya Jieun\!


Jieun menaruhnya kembali. Dan berpikir sejenak, ke club? Bukankah kami semua masih di bawah umur? Jieun mengedikkan bahunya tidak ambil pusing jika itu mengenai Sinbi. Sudah aku katakan bukan Sinbi sangat populer dan kaya tidak heran jika dia bisa mengadakan pesta di tempat seperti itu.


Eun Hye sedang bersiap-siap sesekali dia tersenyum terbayang akan kejadian nanti.


"Sinbi benar-benar pintar."


Flaschback


"Woahh itu bagus. Aku ingin tau bagaimana wajahnya saat datang ke tempat itu dan tidak menemukan kita hahaaha."


Sinbi dan yang lainnya tertawa senang mendnegar rencana mereka pada Jieun nanti malam


Flashback end


"Ya tuhan kenapa anak ibu sangat cantik."


Ny.Byun datang dan tersenyum senang melihat penampilan anak keduanya dia mengelus rambut Eun Hye. Eun Hye tersenyum senang dan memutar gaun birunya, ibunya berdecak kagum dan memberi dua jempol pada Eun Hye.


"Apa anak itu juga ikut?"


Eun Hye tersenyum membuat Ny.Byun manaikkan alisnya penasaran. "Ibu hari ini aku begitu senang. Apa ibu ingin mendengarnya?"


Ny.Byun mengangguk tersenyum dan mendengar cerita Eun Hye.


"Apa?! tapi Eun Hye-yaย kau tau kan ayah akan pulang nanti."


Ny.Byun merasa sedikit takut saat mendengar cerita Eun Hye yang akan mengerjai Jieun dia takut jika anaknya terkena omelan jika saja ayah Jieun tau nantinya. Eun Hye memegang pundak ibunya dan tersenyum.


"Tenang saja ibu. Ayah tidak akan tau, aku akan bicara dengan anak itu."


Ny.Byun mengangguk mengerti, Eun Hye mengambil tasnya. "Ibu aku berangkat."


"Oh hati-hati, anakku."


Ny.Byun terkikik senang dan masuk kedalam kamarnya, Baekhyun yang tidak sengaja mendengarnya terdiam entah apa yang dia pikirkan.


Di Club ร—ร—ร—


Jieun menghembuskan nafasnya lagi, suara detuman musik yang keras dan lampu-lampu disko yang kerlap-kerlip terlihat saat dia masuk kedalam club itu. Jieu mencari teman-temannya ketika sampai di dalam, beberapa pasang mata melihatnya heran cih..pakaiannya kuno sekali begitulah pikiran mereka. Jieu tidak terlalu memikirnya tapi dia cukup risih saat di lihat oleh beberapa laki-laki yang berpapasan dengannya.


"Di mana mereka?" Jieun mencari ponselnya dan tidak sengaja dia menabrak seorang laki-laki yang sedang memeggang minuman, minuman itu tumpah dan mengenai baju mahalnya. Pria jangkung itu berdecak kesal, Jieun membungkuk meminta maaf dan mencoba membersihkan noda minuman itu pada baju pria itu tapi tangannya di tepis.


"Yak, apa kau tidak punya mata huh?!"


Jieun membungkuk meminta maaf beberapa kali. "Maafkan aku, aku tidak sengaja."


Pria itu tertawa meremehkan Jieun, semua orang melihat kearah mereka, merasa sudah biasa dengan kejadian seperti itu mereka cuek saja tidak peduli.


"Kau tau baju ini bahkan lebih mahal harganya dari tubuhmu."


Jieun membulatkan matanya marah mendengar perkataan pria itu. Dia melototkan matanya tidak terima, pria itu tertawa diikuti oleh temannya.


"Bukannya aku sudah meminta maaf padamu? Tarik kembali ucapanmu tuan! Kalau tida--"


Pria itu mendekatkan tubuhnya pada Jieun, Jieun memundurkan langkahnya merasa takut dengan perlakuan pria di depannya ini.


"Kalau tidak apa huh?" Pria itu tersenyum miring melihat reaksi Jieun.


"Berhenti--" Suara Jieun bergetar merasa takut, pria itu melihat tubuh Jieun dari atas sampai bawah.


"Tubuhmu bagus juga, bagaimana jika kita bermain sebentar?"


Jieun ingin sekali menampar wajah pria brengsek itu tapi tindakannya terhenti saat sebuah tangan merangkul pundaknya dan mendekatkan jarak tubuhnya dengan orang itu.


"Kemana saja kau? Aku sudah menunggumu sayang."


Jieun melihat kearah orang itu, dia membulatkan matanya tidak percaya pada sosok di sampingnya.


Tbc..


Jadi Chang Wook itu udah terkenal dengan julukan agen rahasia yang sukes semacam kaya drama city hunter, dan Healer. Cerita ini terinspirasi juga dari drama-drama itu.