
Hyorin-crazy of you(ost Muster's sun)
-
-
-
-
-
-
-
"Apa kita akan mencarinya lagi?"
Daehyun menggeser tempat makannnya, Jieun tersenyum saat ibu kantin memberikan semangkuk nasi. Setelah selesai Daehyun mengikuti Jieun mencari tempat duduk untuk makan.
"Aku tidak bisa mencarinya sekarang, apa kau tidak ada kerjaan lagi nanti?"
Daehyun menghentikkan suapannya dan berpikir lalu dia menggeleng, Jieun tersenyum.
"Kalau begitu aku minta bantuanmu, bisa kau pergi ke alamat ini?"
Daehyun mengambil secarik kertas dari tangan Jieun dan melihatnya, sebenarnya Daehyun tidak mau jika tidak bersama Jieun tapi bagaimanapun dia harus membantunya.
"Baiklah."
Daehyun tersenyum begitupun Jieun.
***
"Hah..hah..hah..pergi sana."
Keringat terus keluar dari tubuh Kang Jun, wajahnya ketakutan saat melihat bayangan hitam terus mendekat kearahnya.
"Jangan mendekat!"
Kang Jun menutup telinganya semakin gelisah, ruangan yang minim pencahayaan itu semakin membuat Kang Jun berteriak ketakutan begitupun dengan ruangannya yang terlihat berantakkan.
"Dimana aakh sial dimana!!"
Pray..(bunyi kaca pecah)
Dia terdiam dan melihat pecahan kaca itu lalu tersenyum senang, dia melihat tangannya dan melemparkannya lagi pada kaca itu hingga membuatnya terkekeh senang.
.
.
.
"Wakil direktur."
Chang Wook melihat kearah Minah saat dirinya keluar dari ruangannya, Minah tersenyum sambil membawa sebuah map ditangannya.
"Apa anda ada acara nanti siang?"
Chang Wook menaikkan sebelah alisnya, dia menatap Minah tidak mengerti.
"Maaf karena saya lancang mengatakannya tapi direktur Park meminta anda untuk menggantikkanya."
"Ahh."
Chang Wook mengangguk mengerti dan tersenyum pada Minah, setidaknya dia tidak berbuat hal yang aneh.
"Baiklah, ini mapnya. Kalau begitu saya permisi."
Sebelum pergi Minah tersenyum genit dan berlalu pergi, Chang Wook menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Minah.
Chang Wook melonggarkan dasinya dan duduk di kursi kerjanya, dia meletakkan map yang diberikan Minah diatas mejanya lalu membuka laptopnya. Tanpa sadar dia tersenyum saat melihat laptopnya.
"Sepertinya kau sangat tertarik dengan laptop itu."
Suara Woon Hu membuat Chang Wook memasang wajah datar.
"Menganggu saja."
Woon Hu terkekeh geli dan menggoda Chang Wook kembali.
"Apa yang kau lihat? Aku juga ingin melihatnya perlihatkan!"
Chang Wook mendesah kesal dan mengganti layar laptopnya dengan yang lain.
"Sudahlah kak, sekarang apa lagi?"
Chang Wook menyadarkan punggungnya pada kursi, Woon Hu tertawa dan berdehem untuk mengatur suaranya agar serius.
"Aku sudah memeriksa file tentang kehidupan Park Kang Jun, akan aku kirimkan segera."
Chang Wook segera membuka file yang dikirimkan Woon Hu dan melihatnya dengan serius.
"Kak ini--"
Chang Wook terlihat tidak percaya apa yang barusan dia baca.
Tidak mungkin.
.
.
"Aku rasa sudah waktunya kita menghabisinya."
Tanpa menghadap kearah lawan bicaranya, orang yang didepannya mengangguk patuh tanpa mengeluarkan suara. Orang itu lalu berbalik keluar ruangan meninggalkannya yang masih betah menatap keluar jendela melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi tepat didepan matanya. Seiring melihatnya matanya menyipit, tersenyum entah apa yang dilihatnya dia terlihat begitu senang.
๐๐๐
Daehyun melihat gedung apartement didepanya dan mencocokkannya lagi dengan alamat yang diberikan oleh Jieun, dia mengangguk dan masuk kedalam.
Jieun mengetik laporannya dengan serius, dia beberapa kali mengeluh karena salah. Dia berhenti sebentar dan melirik ponselnya, dia lalu mengambilnya tidak ada notifikasi apapun dari Daehyun. Jieun mendesah kesal dan berniat melanjutkan kembali pekerjaannya tapi pikirannya tidak lagi fokus.
"Sebenarnya kemana dia?! Kenapa belum menghubungiku?!"
Ada apa dengannya? Apa dia khawatir dengan Daehyun? Mungkin ya atau tidak karena Jieun meminta bantuannya untuk datang ke alamat Yoon Jongjae teman dekat Shin Sohe.
"Seharusnya dia menghubungiku."
Jieun melatkkan ponselnya dengan kesal dan mengetik laporannya dengan keras membuat tombol keyboard komputernya bergeser.
Ceklek..
Suara pintu membuat perhatian Jieun teralihkan, dia dengan reflek melihat kearah ruangan Chang Wook. Bertepatan Chang Wook juga melihat kearah Jieun, hanya beberapa detik Jieun mengalihkan wajahnya. Chang Wook berlalu pergi, Jieun meremas tangannya lalu menghembuskan nafasnya kasar.
Drrt..drrt..
1 pesan masuk
Jieun sempat terkejut dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimnya pesan.
From : Cho Hyesin
Kakak aku ingin bertemu denganmu, kita bertemu di รรร
Jieun menaikkan alisnya dan segera merapihkan meja kerjanya, tidak lupa mensave hasil kerjanya.
Cafe..
"Maaf sudah menunggu lama."
Chang Wook tersenyum lalu membungkuk hormat pada seorang pria berjas coklat.
"Tidak, aku baru saja tiba."
Mereka sama-sama duduk.
"Yoo Seungho."
Seungho memberikan kartu identitas pada Chang Wook, begitupun sebaliknya. Seungho melihat kartu identitas Chang Wook dan tersenyum.
"Jadi Dokyeom-ssi bisa kita mulai?"
"Silakan."
Sementara itu..
Daehyun melihat-lihat ruangan flat kamar Jongjae.
"Silakan diminum."
Jongjae tersenyum pada Daehyun, Daehyun tersenyum lalu mengambil gelas sambil meminumnya mata Daehyun terus melihat kearah deretan bingkai foto yang terpajang rapi diatas meja.
Daehyuh : "Maaf menganggu waktumu Jongjae-ssi."
Jongjae : "Tidak apa-apa."
Daehyun mengeluarkan sebuah foto.
"Apa kau mengenal Shin Sohe."
Jongjae terdiam untuk beberapa saat, wajahnya pucat. Daehyun melihat perubahan raut wajah Jongjae.
"Jongjae-ssi?"
"Ahh ma-maaf, apa ini tentang kematiannya?"
Jongjae meremas kedua tangannya merasa gelisah kelakuannya ini membuat Daehyun memandangnya dengan curiga.
"Ak-aku akan menceritakan semuanya."
.
.
.
"Maaf apa kau menunggu lama?"
Jieun membuka kaca mobilnya, Hyesin tersenyum setelah melihat Jieun.
"Tidak, aku juga baru sampai."
Jieun memberi isyarat pada Hyesin agar masuk kedalam mobil.
"Chaa apa kau sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan dulu?"
"Call!"
Mereka tertawa, Jieun menjalankan mobilnya menjauhi asrama Hyesin. Hyesin melihat keluar jendela angin meniup rambutnya dia tersenyum senang, Jieun melirik kearah Hyesin dan tersenyum.
"Sudah lama aku tidak merasakan ini."
"Hmm?"
Jieun tidak terlalu mendengar perkataan Hyesin, Hyesin menggelengkan kepalanya.
"Tidak, bukan apa-apa."
Jieun hanya mengangguk dan fokus kembali menyetir.
"Aku ingin bertemu denganmu eonni, aku selalu sedih saat mengingatnya apa lagi berdiam diri terus diasrama."
Begitulah kata Hyesin dia ingin menemui Jieun, Jieun mungkin merasakan bagaimana perasaan Hyesin.
"Hyesin ayo kita turun."
"Apa tidak apa-apa kau makan disini?"
Setelah mereka duduk, Jieun bertanya pada Hyesin dengan cengiran khasnya.
"Hmm tidak apa-apa lagi pula aku juga sudah lama tidak makan ditempat seperti ini semenjak Sohe meninggal."
Jieun tersenyum pada Hyesin dan meletakkan tangannya pada tangan Hyesin.
Sudah setengah jam setelah keluar dari kedai makanan, Jieun dan Hyesin hanya menghabiskan waktu dibangku taman. Sedari tadi Jieun tidak bisa berhenti melihat ponselnya.
"Kenapa Daehyun tidak menghubingiku?"
Hyesin yang menyadari keanehan Jieun melihat kearahnya.
"Kakak apa kau baik-baik saja?"
"Aahh tidak apa-apa Hyesin-ah."
Jieun tertawa untuk menutupinya, Hyesin menaikkan alisnya. Jieun tersenyum lagi pada Hyesin untuk menyakinkannya.
"Hyesin-ah aku ketoilet sebentar kau tunggu disini."
Setelah itu Jieun pergi meninggalkan Hyesin, Hyesin melihat ponsel Jieun yang tertinggal dia berniat menganggil Jieun tapi dia urungkan karena Jieun sudah tidak ada.
Drtt..drtt..
1 pesan
Jieun kita harus bicara sekarang, temui aku dikantor secepatnya.
Hyesin melihat kearah ponsel Jieun yang disampingnya, dia mengambil ponsel Jieun tangannya gemetar. Dia melihat kesana kemari takut Jieun munul dengan tiba-tiba, dirinya langsung membuka ponsel Jieun. Beberapa kali dia membuat pola ponsel membuat dia mendesis.
"Aishhh, akhirnya terbuka."
Hyesin menghela nafasnya lega dan buru-buru menghapus pesan itu dari ponsel Jieun.
"Maaf membuatmu menunggu."
Hyesin tersenyum. "Tidak, ayo kita ketempat lain."
Jieun mengambil ponselnya, dia mengecek ponselnya dan berdecak. Hyesin yang berdiri didepannya tersenyum melihat kearah Jieun.
"Kita akan kemana lagi Hyesin-ah?"
"Hmmm.."
Hyesin melihat keluar seolah tengah berpikir dia tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tau kita jalan-jalan dulu saja kak, aku belum memikirkannya."
.
.
.
Teng tong..
"Ye tunggu sebentar."
Klek..(pintu terbuka)
"Ada--aishh brengs**k tidak ada siapapun!"
Brukk..
"Aishh menyebalkan."
Pria itu mengacak rambutnya kesal, dia mematikan lampu ruang tengahnya lagi dan berniat masuk kedalam kamarnya.
"Min Yongguk."
Pria itu berhenti saat namanya dipanggil oleh seseorang, sadar jika ada seseorang yang berdiri dibelakangnya. Yongguk terdiam dia tidak berniat untuk melihat kearah belakang ataupun masuk kedalam kamarnya.
"Siapa kau?"
Hening..
Yongguk semakin waspada dia melirik saklar lampu yang berjarak hanya beberapa langkah, dia mencoba mendekati saklar lampu tepat setelah tangannya berada diatas saklar sebuah koper terjatuh tepat disamping kakinya, dia menghentikkan gerakannya.
"Jalankan rencana ini dengan benar dan bersih tidak ada jejak apapun, kau mengerti? Atau aku akan membunuhmu semua yang kau perlukan ada didalam koper itu."
Tangan Yongguk menegang. "A-apa? Tapi.."
Secara reflek dia menekan saklar itu dan melihat kearah belakang, orang itu sudah tidak ada. Yongguk mencari keberadaan orang itu tapi orang itu benar-benar hilang, dia melihat kearah koper dan dengan gerakan cepat dia membuka koper itu mulutnya terbuka seketika melihat isi dari koper itu tawanya tidak bisa dia tahan lagi.
"Uang..uang."
.
.
.
Woon Hu meletakkan cangkir kopinya dia tas meja, matanya melihat kearah monitor komputer dia duduk dan menyesap kopinya.
"Tidak ada yang seru, lebih baik aku main game sebentar."
Woon Hu tertawa senang, dia menyimpan cangkir kopinya lalu mengambil eorphone. Dia memilih salah satu laptop didepannya.
"Aku masih bisa mengawasi Kang Jun dari sini."
Woon Hu memulai main permainan, sesekali matanya melihat kearah komputer lainnya dan fokus kembali dalam permainannya.
"Aah sial, aku kalah."
Woon Hu berdecak kesal dan membuka eorphone nya, dia menyadarkan punggungnya disofa matanya melihat keseluruh layar monitor komputer dan laptop yang menampilkan beberapa tempat salah satunya ruangan Park Kang Jun, tiba-tiba mata Woon Hu membulat karena terkejut.
"APA-APAN INI?!"
Dia mengotak-ngatik tombol keyboardnya untuk memperjelas gambarnya.
"Apa yang mereka katakan?"
Dia dengan cepat memakai kembali eorphonenya, dia mendengarkan dengan serius.
"Oh! A-aku harus segera beritahu Chang Wook."
Dia terus menghubungi Chang Wook dan berdecak kesal, dia terus memperhatikan layar komputer itu dengan cemas.
"Aishh benar-benar! Kenapa tidak diangkat?!"
Masih dicafe..
"Terimakasih atas kerja samanya, aku harap jaksa dan pengacara bisa saling membantu."
Chang Wook berdiri menerima jabatan tangan Seungho dan tersenyum.
"Aku juga, terimakasih."
Seungho mengambil tas kerjanya dan mengacingkan jasnya lalu membungkuk dan pergi dari cafe itu, Chang Wook menghela nafasnya dan melihat jam tangannya. Dia segera pergi, Chang Wook masuk kedalam mobilnya. Dia melihat ponselnya ada pesan suara, tanpa membukanya terlebih dahulu dia melajukan mobilnya. Dengan menggunakan handfree dia membuka pesan suara itu.
"Chang Wook! Kau kemana saja huh?! telepon aku setelah kau menerima pesan ini!"
Chang Wook menaikkan alisnya merasa heran kenapa suara Woon Hu terdengar sangat panik, Chang Wook berhenti melihat tanda lampu merah dia menghubungi Woon Hu. Chang Wook mengetuk stir mobilnya, dia merasa bosan dan kesal.
"Kenapa lama sekali? Apa dia marah?"
Chang Wook mencoba lagi menghubungi Woon Hu, dia melajukan mobilnya kembali saat lampu sudah hijau.
"Ini aku membelikanmu susu pisang."
Jieun masuk kedalam mobil setelah berbelanja di super market, Hyesin mengambilnya dan tersenyum.
"Terimakasih kakak."
Jieun tersenyum, dia mengeluarkan ponselnya saat Hyesin melihat kearah luar. Jieun melihat Hyesin, dia melihatnya dengan lama Hyesin lalu melihat kearah Jieun.
"Kak ada apa?"
Jieun tersentak karena suara Hyesin, dia berusaha menutupi kegugupannya dan tersenyum.
"Aah Ti-tidak ha..ha."
Jieun tertawa dan melajukan mobilnya. "Apa hari ini kau merasa senang?"
Hyesin tersenyum dan mengangguk dengan semangat. "Hmm aku sangat senang."
Jieun yang mendengarnya tersenyum, dia terdiam sebentar seperti memikirkan sesuatu.
"Apa kau sudah tau?"
"Iya?"
Jieun melihat sekilas kearah Hyesin dan kembali melihat kearah depan, dia mencengkram kuat stir mobilnya.
"Tenang Jieun-ah."
Hyesin tertawa, dia tersenyum miring. Tubuh Jieun menengang dia masih berusaha tenang dan tersenyum.
"H-hyesin-ah ada apa? Kenapa kau tertawa hmm?"
Hyesin melihat kearah Jieun, matanya menatap Jieun tajam.
"Kau tau kak? Sohe juga melihatku seperti itu."
Jieun semakin kalut dia tidak bisa diam dan merubah posisinya dia juga membuka kunci mobilnya.
"A-apa maksudmu---aakkhh HYESIN APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Hyesin mengambil alih stir mobil, mobil Jieun hilang kendali. Jieun mencoba menyikirkan tangan Hyesin dia berusaha mengerem mobilnya tapi Hyesin menginjak pedal gas, Jieun membulatkan matanya saat lampu lalu lintas berwarna merah.
"HAHAHA KITA AKAN MATI BERSAMA KAK."
Mobil Jieun sangat cepat membuat mobil yang berada didepannya tertabrak dan tergeser jauh, Jieun menjerit dia dengan kuat membanting stir mobilnya kearah sisi jalan. Jieun menutup matanya dan meringis nyeri. Jieun melihat kearah tempat duduk Hyesin dan terkejut saat Hyesin keluar dari mobilnya dia dengan cepat keluar dari mobil dan berlari menyusul Hyesin.
"YA! CHO HYESIN!"
"Kka! PERGI!"
"HYE---"
TIN TIN....(Klakson mobil)
Jieun terdiam, tubuhnya terasa kaku. Dia menangis secara perlahan dia menutup matanya.
"Apa aku akan mati seperti ini? Padahal aku masih belum menemukan mereka. Hiks..appa mianhe aku tidak bisa menemukan mereka."
Brak..
"APA YANG KAU LAKUKAN HUH?!"
Jieun membuka matanya dia tidak tertabrak melainkan berada didalam pelukan seseorang, Jieun mendongak melihat wajah orang yang memeluknya.
"Paman..?"
.
.
.
TBC..
JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YA :)