
๐ตHome Is Far Away (Epik High ft Oh Hyuk)๐ต
JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN
Happy reading ๐
Warning : Typo bertebaran
_
_
_
Apartement Jieun
23.00 Kst, Seoul.
Drtt..drt..
"Oh bagaimana?"
Jieun menghela nafasnya setelah mendengar jawaban dari sang penelepon, dia meletakkan tasnya lalu duduk ditepi ranjang tidurnya.
"Byun Baekhyun, apa kau menemukannya?
Jieun sekali lagi menanyakkannya, dia menutup matanya merasa sedih. Nyatannya tidak ada kabar yang berarti dari sang penelepon, Jieun memutuskan panggilan secara sepihak.
Brakk..
Jieun terkejut dengan suara berisik dari luar flatnya, dia berjalan kearah pintu membukanya secara perlahan.
"Sial! Mataku perih, sebaiknya aku lihat keadaan flat Ji--"
"Wakil direktur?"
Chang Wook terkejut dia tidak menyangka jika Jieun akan menemukan dirinya, Jieun berjalan mendekat kearahnya. Gugup dan gelisah begitu yang dirasakan Chang Wook saat ini, Chang Wook memikirkan berbagai alasan yang akan dikatakan pada Jieun.
"Ji ak--"
"Kau baik-baik saja?"
Chang Wook terdiam beberapa detik, pasalnya wajah Jieun menunjukkan kecemasan dan mata Jieun mengamati tubuh Chang Wook. Tatapan mata Jieun berhenti tepat di wajah Chang Wook.
"Oh ka-kau berdarah."
Jieun menunjuk sudut bibir Chang Wook yang mengeluarkan darah, Chang Wook menyentuhnya dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja ini hanya luka kecil, kau masuklah ak--"
"Aku akan mengobatimu."
Jieun tersenyum pada Chang Wook, Chang Wook terdiam sesaat melihat senyuman diwajah Jieun. Setelah itu dia mengikuti Jieun masuk.
...
"Selesai."
Jieun membereskan peralatan kesehatan dan menyimpan boxnya, mata Chang Wook memperhatikan flat apartement Jieun. Seketika Chang Wook termenung saat pertemuannya dengan Baekhyun, Baekhyun tau tempat adiknya tinggal dan pria itu, ada hubungan apa dia dengan Baekhyun.
Chang Wook berdiri berjalan kearah jendela lalu mengeceknya, Jieun datang membawa segelas air.
"Ada apa?"
Chang Wook membalikkan tubuhnya kearah Jieun. "Jendela ini aku akan menelepon penjaga apartement untuk membenarkannya, dan kunci kamarmu jika ada seseorang didepan flatmu pastikan kau lihat lebih dulu jangan menerima telepon dari nomor yang tidak dikenal. Kau mengerti? Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku."
Chang Wook tidak menyadari jika Jieun terus saja melihatnya, setelah selesai dia menatap kearah Jieun.
"Jieun-ah kau mengerti apa yang aku katakan kan?"
Chang Wook bertanya kearah Jieun yang dari tadi hanya melihat dirinya tanpa mengatakan satu katapun, tersadar dengan perkataannya Chang Wook menggaruk tekuknya merasa gugup.
"Ak--aku ti--."
"Terimakasih banyak."
Chang Wook menaikkan alisnya, Jieun membalikkan badanya membelakangi Chang Wook. Tangisnya tidak bisa dia tahan lagi, Chang Wook menyentuh lembut pundak Jieun.
"Jieun-ah aku tau. Kau ingat aku dan semua kejadian 3 tahun lalu, kau hanya berpura-pura lupa bukan? Maaf seharusnya aku lebih cepat menyapamu."
Tangis Jieun semakin jadi, Chang Wook memeluk Jieun. Chang Wook menyentuh punggung Jieun dan mengusapnya dengan lembut.
๐บ๐บ๐บ
Brakkk...
Baekhyun menjatuhkan tubuhnya setelah sampai dalam rumah persemnbunyiannya, dia meringis menekan luka diperutnya dan berusaha bangun untuk mengobati lukanya.
"Brengsek! Sialan!"
Baekhyun mengerang kesal dia manatap dirinya sendiri didepan cermin. "Psikopat! Dia mengincar Jieun karena dia sudah tau jika aku masih hidup! Sialan! Aku tidak akan membiarkan Jieun terluka!"
Prang..
Baekhyun meninju cermin itu, tangannya berdarah namun Baekhyun mengabaikannya. Setelah mengobati semua luka ditubuhnya, dia mengambil sebuah box berukuran sedang dan membukanya.
"Aku akan membalaskan kematian keluargaku, apapun yang terjadi aku pasti akan menyeret psikopat itu dalam penjara."
Baekhyun terbayang kejadian tadi saat bertatap muka dengan Chang Wook.
"Sepertinya wajah itu tidak asing, aahh aku ingat dia yang bersama Jieun didalam gedung waktu dulu. Tapi sebenarnya siapa dia?"
.
.
.
"Ya! Kau Black man agen mata-mata! Bagaimana bisa kau dan dia--?!"
Woon Hu melihat Chang Wook kesal, tentu saja Woon Hu marah selama ini Jieun tau jika Chang Wook mata-mata. Daehyun menghela nafasnya kasar dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua hyungnya.
"Bagus apa hanya aku yang tidak tau akar permasalahannya?"
Woon Hu melihat kearah Daehyun, mata Daehyun menatap Chang Wook meminta penjelasan.
"Jelaskan padanya Chang Wook-ah!"
Chang Wook menghela nafasnya. "Jieun dia tidak amnesia, dia hanya berpura-pura. Dia ingat semua kejadian 3 tahun lalu, dan mungkin Jieun tengah mencari keberadaan keluarganya--ah aku baru ingat, Kak aku bertemu dengan Byun Baekhyun."
Woon Hu menatap Chang Wook tidak percaya.
"Byun Baekhyun maksudmu Baekhyun--"
Chang Wook mengangguk, Chang Wook mendekati komputer mencari sesuatu. "Kak tolong lacak lokasi dia saat ini."
Daehyun terdiam.
"Jieun dia tidak amnesia, dia hanya berpura-pura."
"Biarkan dia sendirian, aku yakin dia tidak mungkin berbuat gegabah. Tenanglah."
Woon Hu mencegah Chang Wook yang berniat menyusul Daehyun.
...
Kantor Kejaksaan, Seoul.
Tak..tak..
Seungho menempatkan sang raja guna menghentikkan permainan catur, suara decakan kesal terdengar dari sang lawan. Seungho tertawa ringan dan melihat sang lawan.
"Aku menang lagi tuan Do."
Tuan Do menghela nafasnya pelan dan tersenyum kearah Seungho. "Sepertinya saya harus belajar pada anda tuan Yoo, permainan catur anda sungguh mengagumkan."
Seungho tertawa cukup keras mendengar pujian dari mulut tuan Do. "Apapun itu semua butuh keahlian dan rencana bukan begitu tuan Do?"
Tuan Do hanya tertawa dan mengambil segelas teh yang sudah mulai mendingin. "Kau benar semua harus direncanakan."
Seseorang mendekat kearah tuan Do dan membisikkan sesuatu, Tuan Do terlihat serius dan mengangguk.
"Jaksa Yoo maaf sepertinya aku harus pergi, datanglah ke kantorku jika kau ada waktu kita minum teh bersama. Aku mengundangmu."
Seungho mengangguk dan tertawa sambil menjabat tangan Tuan Do sebelum pergi meninggalkan ruangannya.
"Aaahhh melelahkan."
Seungho melonggarkan dasinya dan mengambil sebotol bir, tiba-tiba tangannya bergetar kepalanya merasa pening. Botol yang dipegangnya terjatuh, Seungho mengeram menekan tangannya yang bergetar. Sakit dikepalanya semakin jadi, dia berusaha berjalan kearah mejanya mencari obat penenang. Dia segara meminumnya beberapa butir, nafasnya tersenggal.
"Sialan, huh..huh ini semua ulah kalian berengsek!"
Seungho melemparkan vas bunga ke arah sebuah foto berukuran cukup besar yang menampilkan foto keluarga.
"Jika saja ji-jika saja aku bisa menyelamatkannya aarrghhh."
Kilasan-kilasan masa lalu bermunculan di kepala Seungho membuat Seungho mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Sudah aku bilang ini tidak cukup!"
Plakk..plakk..
"Hikss..hiks akk-aku akan mencarinya lagi ayah tapi jangan sakiti kakak."
Braakkk..
Seungho melemparkan barang-barang di ruangan kerjanya, diusapnya dengan kasar air mata yang menetes dikedua matanya. Menatap tajam kearah pecahan bingkai foto lalu detik berikutnya dia tertawa pelan sambil menutup mulutnya.
๐๐๐
Daehyun berdiri di perbatasan jalan, dia mengamati orang-orang dibawah sana. Air mancur warna-warni menambah kesan indah saat malam hari.
Kenapa? Kenapa aku kecewa? Apa benar aku hanya tidak suka jika Jieun berbohong padanya atau..tidak mungkin jika aku menyukainya!
Daehyun menggelengkan kepalanya. "Tidak..itu tidak mungkin. Karena kak Chang Wook dan Jieun.."
Daehyun menghela nafasnya kasar, malam semakin dingin. Daehyun masih tetap memandangi air mancur.
Drtt..drtt
Ponsel Daehyun terus saja bergetar, Daehyun segara mengambil ponselnya dengan malas. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya Daehyun dengan cepat menekan tombol hijau.
"Lama sekali! Kau dimana?"
"..."
"Heyyy jawab aku dasar bocah kurang ajar! Aishh sudahlah! Ya kau bersama Chang Wook tidak? Dia daritadi belum juga kembali setelah menerima email aku tidak tau email dari siapa. Saat aku tanya dia malah pergi begitu saja, Daehyun-ah aku tau kau marah tapi tolong dia sangat menyayangimu dia sudah menganggapmu sebagai keluarganya sendiri aku tau kau sangat kec---"
Pip...
Daehyun mematikan panggilan secara sepihak dan segera melajukan motornya. Dilain tempat Woon Hu memekik tidak percaya dengan tingkah Daehyun.
"DASAR BOCAH KURANG AJAR! BERANI-BERANINYA DIA MEMOTONG PEMBICARAANKU! YA TUHAN KENAPA AKU MEMPUNYAI DUA ORANG ADIK YANG MENYEBALKAN!"
...
Baekhyun mempercepat langkahnya merasakan seseorang tengah mengikutinya. Dia merapatkan topinya lagi dan juga jaketnya, dia membawa sebuah tas ditangannya. Baekhyun masuk ke gang kecil guna melabui sang penguntit, Jantungnya berdetak lebih cepat dia mengintip seseorang tengah berdiri kebingungan. Dengan cepat Baekhyun berlari, orang itu melihat Baekhyun dan mengejarnya, Baekhyun membanting beberapa tumpukan kayu kearah orang itu. Nafasnya memburu, matanya mencari jalan dan berlari tanpa lelah.
"Huhh huhh..sialan jalan buntu."
Tap..tap..
Orang yang mengejarnya tepat dibelakangnya, iris matanya melirik kearah orang itu mencari celah untuk kabur.
Brakk..
Baekhyun melemparkan tas itu tepat diwajah orang itu dan memukulnya, namun dia lengah orang itu memukul kepala Baekhyun menggunakan sebuah kayu. Baekhyun terhuyung kebelakang pandanganya sedikit buram.
"Huhh..huhh."
Baekhyun memegang baju orang itu, badanya tersungkur. Orang itu tersenyum sinis, Baekhyun mengambil beberapa pasir ditangannya dan melemparkan pasir itu kewajah orang itu.
"Aarhh sialan."
Baekhyun mencoba bangkit dan berjalan dengan tertatih, namun belum sempat melangkah jauh seseorang menerangi matanya dengan senter.
"Woaah kau cukup tangguh juga...Byun Baekhyun."
Baekhyun menutupi matanya dan melihat sekilas bayangan wajah seseorang, tanpa memperdulikan rasa sakit ditubuhnya Baekhyun mengerang maju melangkah mendekati orang itu namun beberapa orang menahan tubuhnya.
"Lepaskan aku brengsek! Aaarhhh lepaskan!"
Senter dimatikan, wajah orang itu terlihat dengan sangat jelas. Dengan senyuman seringaian orang itu mengambil tas yang dilemparkan oleh Baekhyun dan membukanya.
"Untuk Lee Jieun benar bukan? Ciihhh menjijikan apa ini yang dinamakan ikatan persaudaraan? Omong kosong!"
Dilemparnya kotak itu tepat diwajah Baekhyun, bukannya merasa sakit Baekhyun malah tertawa menahan rasa nyeri di sudut bibirnya yang berdarah.
"Kau tidak mungkin merasakan kasih sayang bresengsek! Kau itu psikopat! Ingat kau psiko---"
Bughhh..
"Aaarhh."
"Tutup mulutmu jika tidak kau akan kubunuh."
Baekhyun meludah dan tersenyum miring, matanya menatap tajam menantang kearah orang itu.
"Aku tidak takut denganmu Yoo Seungho."
Bughh..
.
.
TBC...