
Kronologi kematian Shin Sohe
"Sayang maaf aku terlambat, kau pasti menunggu lama bukan?"
Sohe gadis itu terengah karena berlari dari kamar asramanya sampai pintu gerbang, Yoon Jongjae memasang wajah datarnya dan hanya bergumam untuk membalas perkataan Sohe.
"Ayo."
Jongjae menyerahkan helm pada Sohe, Sohe memakainya tanpa berkata apapun. Saat diperjalananpun tidak ada percakapan, Sohe menelan ludahnya karena gugup seperti biasa Jongjae sedang marah padanya.
"Sayang kita akan kemana?"
Hening. Sohe menghela nafasnya pasrah dan lebih mengeratkan pegangannya karena Jongjae melajukan motornya sangat cepat.
"Turunlah."
Sohe membuka helmnya dan melihat kesegala arah, restaurant? Sohe menaikkan alisnya pasalnya ini sudah lewat makan malam. Tapi Sohe enggan bertanya karena melihat raut wajah Jongjae.
Mereka masuk kedalam, bisa di pastikan hanya beberapa orang saja, karena waktu menunjukkan pukul 9.40 p.m. Jongjae menyuruh Sohe duduk sementara dia memesan dan pamit untuk pergi ke toilet.
"Haaah."
Jongjae mencuci tangannya dan membasuh wajahnya, secara tiba-tiba ada seseorang di belakang Jongjae. Jongjae terkejut setelahnya menghela nafasnya kasar.
"Mau apa kau?"
"Ini kesempatanmu, tanyakan siapa dia dan hubungannya dengannya! Kau terlalu baik Jongjae-ya makanya kekasihmu itu menduakanmu, kalau aku jadi kau aku pasti akan membunuhnya hahah.."
Jongjae mengepalkan tangannya kuat-kuat, memikirkan perkataan orang tersebut, dia melihat kaca dan menyeringai.
"Apa kau pikir aku bodoh? Aku pasti akan melakukannya! Ta-tapi tidak mungkin aku membunuhnya!"
Orang itu tertawa dengan keras, Jongjae menatap orang tersebut dengan tajam melalui kaca didepannya. Lalu orang itu mendekati Jongjae dan berbisik.
"Kau yakin setelah mengatakannya dia akan berkata jujur? Jelas-jelas kau melihatnya jalan berdua di Mall dan dia berbohong padamu! Sebaiknya aku bunuh perempuan b**** itu sama seperti yang dilakukan ayahmu pada ibumu, ibumu persis seperti Sohe dia selingkuh! Sadarlah Yoon Jongjae! Kau dibutakan olehnya!"
"AAARGH!"
PRAKK...
Cairan merah mengalir dari tangan Jongjae, wajahnya memerah karena marah dan tersenyun miring matanya sangat tajam, sambil mencuci tangannya Jongjae tersenyum dan pergi dari sana. Beberapa orang yang lewat menghindar dan melihat bekas darah dari tangan Jongjae.
"Apa makanannya enak?"
Sohe mengangguk, matanya melihat pada tangan Jongjae.
"Sayang ada apa dengan tanganmu?"
Jongjae manarik tangannya saat Sohe menyentuh tangannya.
"Tidak apa-apa hanya luka kecil. Apa kau sudah selesai makannya?"
Sohe lagi-lagi harus menelan semua pertanyaannya karena Jongjae terus saja mengalihkan pembicaraan saat berbicara dengannya.
Sekitar pukul 22:40 mereka sampai diasrama Sohe, Sohe sudah bilang jika dia ijin akan keluar itu sebabnya dia boleh keluar asrama lebih dari jam 10 malam. Hyesin melihat kilatan lampu motor Jongjae, Hyesin sengaja menunggu Sohe untuk membukakan gerbang asrama.
Jongjae maupun Hyesin tersenyum satu sama lain, Sohe melambaikan tangannya pada Jongjae sebelum motor Jongjae menjauh dari pandangannya.
"Ehemmm ayo kita masuk."
Sohe dan Hyesin tertawa saat memasuki asrama mereka, di sisi lain Jongjae tengah memikirkan sesuatu hal yang pasti tidak akan ada yang tau apa yang akan dia lakukan.
Keesokan harinya
"Sayang maaf aku tidak bisa lain kali saja ya, hmm sampai jumpa."
Jongjae menutup teleponnya dan membanting hadephonenya, dia bertanya-tanya kenapa Sohe tidak bisa bertemu dengannya.
"Sudah aku katakan, bunuh wanita itu."
"Berisik, pergi sana!"
Jongjae menutup telingannya dia menarik rambutnya tidak mau mendengar perkataan orang itu.
"Pengecut!"
Jongjae membuka matanya saat mendengar kata tersebut, dia tertawa.
"Aku bukan pengecut! Kau yang pengecut kenapa kau terus saja datang huh?! Memangnya kau siapa terus mengikutiku?! Tidak bisakah kau pergi?! Aku peringatkan aku bukan pengecut!!!"
Nafas Jongjae memburu dia melemparkan vas bunga, orang itu terkekeh geli dengan sikap Jongjae.
"Kalau kau bukan pengecut kenapa kau tidak berani menanyakannya?"
Jongjae terdiam, Orang itu tertawa karena Jongjae terdiam dengan ucapannya.
"Dasar bodoh kau Jongjae!"
"Aaargghh!"
Jongjae pergi dan melajukan motornya dengan cepat, dia melihat kesana kemari mencari seseorang.
"Kak Jongjae?"
Jongjae melihat kearah belakang, Hyesin membungkuk hormat pada Jongjae. Hyesin terdiam tidak berani melihat mata Jongjae.
"Apa ini? auranya sangat berbeda, dia angat dingin."
"Dimana Sohe?"
Hyesin menelan ludahnya pasalnya Sohe memberitahunya jika dia sedang bersama Hanbin, Aku takut terjadi kesalahpahaman pikir Hyesin.
"Ahmm dia sedang diperpus, jadi aku pulang duluan. Apa senior mau aku panggilkan?"
Hyesin tersenyum untuk menyembunyikannya, dia sangat takut. Jongjae menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Tidak perlu kalau begitu aku pergi."
"iya."
Hyesin melihat Jongjae pergi dengan motornya dan menghela nafasnya. "Dari dulu aku tidak suka Sohe berhungan dengannya, dia sangat aneh."
Malam hari Jongjae menghubungi Sohe, tetapi tidak diangkat olehnya. Jongjae geram dan pergi keasrama Sohe. Saat Jongjae menunggu Sohe didepan gerbang asramanya, Sebuah mobil datang. Jongjae menyipitkan matanya saat seseorang keluar dari dalam mobil itu.
"Terimakasih Hanbin-ah, seharusnya kau tidak perlu mengantarku.
Sohe tersenyum pada Hanbin, Hanbin tertawa. "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena sudah membantuku mengerjakan tugas guru Kim."
Sohe melambaikan tangannya begitu mobil Hanbin menjauh, Sohe menguap dia kelelahan karena seharian ini membantu Hanbin mengerjakan tugas sebenarnya Sohe diperintahkan oleh Kim-ssaem agar membantu Hanbin.
"Aaahh sayang, kau membuatku terkejut. Sedang apa kamu disini?"
Jongjae berdiri tepat didepan Sohe. "Sohe-ya aku ingij berbicara denganmu."
"Hmm.. ayo."
Jongjae dan Sohe memasuki asrama Sohe, Sohe merasa lelah dan enggan bertanya pada Jongjae kenapa malam-malam dia kemari.
"Mau membicarakan apa?"
Grep..
Tangan Sohe ditahan oleh Jongjae saat dia ingin masuk kekamar asramanya.
"Ada apa? Aku hanya sebentar."
Jongjae tersenyum pada Sohe dan mengelus lembut rambut Sohe. "Aku ingin melihat kamarmu."
Sohe membulatkan matanya dan tertawa. "Sayang aku hanya sebe---"
"Ayolah, apa kau tega membiarkanku disini sendirian?"
Sohe akhirnya mengangguk dan membiarkan Jongjae masuk kekamar asramanya.
"Dimana Hyesin?"
"Ohh dia sedang pergi keluar."
Jongjae melihat kesegala ruangan kamar Sohe. "Sohe-ya siapa yang mengantarmu tadi?"
Sohe terdiam dan merasa takut jika Jongjae seperti ini. "Dia bukan siapa-siapa aku hanya membantunya saja."
"Begitukah?"
"Hmm."
Sohe mundur langkah demi langkah. "A-apa.. kamu se-sebaiknya pulang---"
BUGHH..
Jongjae memukul kepala Sohe dari belakang. "Kau bilang dia bukan siapa-siapa lalu kenapa aku melihat kalian pergi berdua di mall da-dan tadi apa yang aku lihat SHIN SOHE! KAU MENGHIANATIKU!"
Jongjae menarik rambut Sohe, Sohe ketakutan dan merasa perih dikulit kepalanya.
"Ma-mafkan aku jika aku melakukan kesalahan, le-lepaskan tanganmu dulu kepalaku sakit akan aku ceritakan yang sebenarnya. Aku mohon."
"Sakit? SAKIT KAU BILANG?! JADI BAGAIMANA DENGANKU HUH? APA AKU JUGA TIDAK MERASA SAKIT?!"
"Aaa..Hikss..hiksss tolong lepaskan."
Jongjae melepaskan perlahan-lahan tangannya saat melihat tangisan Sohe. "Sohe-ya ma-mafkan aku-aku---"
"APA YANG KALU LAKUKAN YOON JONGJAE?! DIA TELAH MENGHIANATIMU! BERI DIA PELAJARAN SUPAYA DIA TIDAK MENGULANGINYA LAGI!"
"Benar, aku akan memberi dia pelajaran."
"Aargghh..hiks..jangan, aku tidak menghianatimu. Percayalah padaku."
"TIDAK."
"Haah apa yang harus aku lakukan Sohe-ya dia berkata dengan benar--di-dia yang mengerti aku BUKAN DIRIMU."
"TIDAAAAAKKK!"
.
.
.
"Tapi bagaimana kau tau jika Yoon Jongjae yang membunuhnya?"
Saat ini Daehyun dan Jieun tengah berada dikantin, mereka baru saja mengunjungi Hyesin lagi karena sudah dua hari mereka tidak mengunjunginya karena Jieun tidak masuk saat itu. Mereka masih membahas kematian Sohe yang tidak disangka-sangka.
"Saat aku kerumah Jongjae dia seperti bergumam aku tidak tau apa yang diakatakan waktu itu dan setelah aku pergi dia merasa kacau dan berbicara sendiri, aku waktu itu sempat menyimpan kamera diapartemen Jongjae. Dan kita bisa tau jika dia yang membunuh Shin Sohe dengan menggantungkan tubuh Sohe menggunakan tali seperti bunuh diri, haaahh karena itu Hyesin merasa takut dan berbohong dari awal."
Jieun mengehela nafasnya merasa sedih mendengar kematian Sohe yang mengenaskan. "Aku pastikan Yoon Jongjae membusuk dipenjara karena perbuatannya!"
Daehyun mengangguk setuju dengan ucapan Jieun
"Ooh Jieun-ah dua hari yang lalu kau kemana? Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Karena kak Chang Wook terus saja menanyakanmu, aku jadi bosan mendengarnya."
Daehyun merengut kesal karena mengingat semua kelakuan Chang Wook dua hari yang lalu dia uring-uringan seperti cacing kepanasan mencari keberadaan Jieun. Jieun terdiam dan menggelengkan kepalanya.
Jieun melihat kearah Daehyun, dia mengerutkan dahinya bingung. "Apanya yang aneh Daehyun-ah?"
"Kau dua hari tidak masuk, kemudian aku mendengar Direktur Park juga tidak masuk bahkan hari ini dia juga tidak masuk."
Jieun terdiam memikirkan perkataan Daehyun. "Aah kau tidak ingat apa yang dikatakan Minah kalian jangan bergosip Direktur Park bilang dia sedang berlibur bersama keluarganya."
Jieun menirukan gaya bicara Mina, Daehyun menarik ujung bibirnya merasa jijik dengan tingkah Jieun.
"Hentikan iiih menggelikan!"
Jieun tertawa melihat raut wajah Daehyun dan menggodanya lagi terus-menerus.
"Lee Jieun."
Jieun dan Daehyun berhenti tertawa dan melihat kesamping, Jieun langsung membungkuk hormat pada Chang Wook sedangkan Daehyun ogah-ogahan yang membuat Jieun sedikit memaksa Daehyun.
"Keruanganku."
Jieun mengangguk dan mengikuti Chang Wook, sementara Daehyun berdesis menggelengkan kepalanya.
"Dasar menyebalkan bilang saja kau ingin berduaan!"
πππ
"Aku sudah mentanda tangani dokumen yang kau minta."
Jieun menerima dan mengucapkan terima kasih. "Kalau begitu aku permisi."
"Tunggu."
Chang Wook meruntuki dirinya dan menelan salivanya gugup.
"Ada apa dengan mulutku?!"
Jieun terdiam dan melihat wajah Chang Wook yang pasti dia sedang menunggu ucapan Chang Wook.
"Ada apa wakil direktur? Kau perlu bantuan?"
"****** aku harus bicara apa padanya? Mana mungkin aku menanyakan kemana saja dia selama dua hari ini? Tidak. Tidak akan."
"Wakil direktur?"
"Aaahmm it---itu apa--"
Tok..tokk..
Suara ketukan membuat Chang Wook bernafas lega dan berterima kasih pada orang yang mengetuk pintu, tapi wajahnya berubah menjadi sebal saat siapa yang mengetuk pintu ruangannya.
"Maafkan aku wakil direktur karena meganggumu berduaan bersama Jieun---"
Jieun dan Chang Wook melotot ke arah Daehyun, terutama Chang Wook yang ingin menelan hidup-hidup tubuh Daehyun. Daehyun menelan ludahnya dan tertawa.
"---maksudku maaf menganggu anda, aku hanya ingin memberitahukan sesuatu pada anda wakil direktur."
Jieun yang menyadari ada hal penting, dia segera pamit keluar. Setelah Jieun pergi, Daehyun berlari kearah pojokan demi menghindari pukulan Chang Wook.
"Maaf kak, mulutku memang tidak bisa aku kontrol."
Daehyun tersenyum lebar, Chang Wook menghela nafasnya kasar dan menyuruh Daehyun duduk.
Daehyun segera menyalakan handphoneya lalu terdapat layar lebar pada dinding ruangan Chang Wook, wajah Woon Hu terpampang dengan lebar memenuhi layar membuat dua orang terkejut dan mengucapkan sumpah serapah pada Woon Hu.
"Aishh hyung kau mengagetkan kami, aku kira kau hantu."
"Yya! Jangan bercanda perhatikan layar ini baik-baik!"
Sebuah rekaman diputar, Daehyun dan Chang Wook melihatnya dengan serius rekaman itu memperlihatkan seseorang yang sedang mencari sesuatu entah itu apa yang pasti dia sangat ketakutan. Tiba-tiba dari arah belakang muncul seseorang menggunakan topi yang menutupi wajahnya.
"I--itu bukannya direktur Park?!"
Daehyun menunjuk kearah layar yang memperlihatkan Park Kang Jun sedang berjuang melawan orang itu detik berikutnya cekikan dileher Kang Jun terlepas seiring hilangnya nyawa Kang Jun, Chang Wook mengepalkan tangannya.
"APA INI KAK?! KENAPA DIA MEMBUNUHNYA?!"
Daehyun terperajat dan berusaha menenangkan Chang Wook, tangan Daehyun ditepis begitu saja oleh Chang Wook.
"Aduuuh bagaimana jika orang lain mendengar teriakannya?!"
"Dasar Kakak bodoh!"
Daehyun mendengus kesal dan membuka sedikit membuka penutup jendela untuk melihat kondisi diluar ruangan, dia menghela nafasnya lega begitu melihat orang-orang terlihat cuek.
"Hei jangan berteriak!"
Chang Wook tidak memperdulikan ucapan Daehyun, dia menatap tajam layar itu.
"Siapa dia kak?"
"Aku sudah mencari info tentangnya tapi belum aku temukan siapa identitasnya, aku rasa dia suruhan orang lain untuk membunuh Park Kang Jun. Jadi spertinya dia bukan pelakunya dan aku rasa dia dimanfaatkan oleh orang itu, dia juga dipaksa untuk mengonsumsi obat-obatan ini."
Chang Wook menggelengkan kepalanya masih belum percaya apa yang dikatakan Woon Hu.
"Jadi apa rencana kita kak?"
Daehyun melangkah maju, berdiri tepat disamping Chang Wook.
"Aku menemukan fakta yang mengejutkan dari kasus Kang Jun ini, dia tengah mencari dokumen profil seseorang----dan kalian pasti terkejut siapa yang dia cari."
"Katakan siapa dia?"
Mereka berdua secara bersama mengakatannya.
"Le Jieun."
DEG..
.
.
.
2 Hari yang lalu diapartemen Jieun
"APA-APAAN INI?!"
Jieun terkejut saat melihat ruangan tamu berantakan, begitu juga barang-barangnya yang berserakan dilantai. Jieun menutup mulutnya dan berjalan secara perlahan takut masih ada seseorang yang berada di apartementnya, dia menelan ludahnya membuka kamarnya.
"A-apa--ba--gaimana ini bisa terjadi? Kenapa semua barang-barangku berserakan?!"
Jieun mengacak rambutnya melihat semua kekacauan ini.
"Ptffff."
Jieun terdiam saat mendengar suara tawa, dia langsung berlari keluar kamarnya dan mencari sumber suara.
"Sepertinya tadi aku mendengar suara tawa dari arah sini?"
Jieun berjalan kearah dapur, dia membawa sapu ditangannya. Jieun mengacungkan sapu itu keatas saat sampai dapur.
"Haah, tidak ada siapa-siapa."
Jieun segera mengambil ponselnya dan menelepon polisi.
"Apa?!Kenapa dia tidak terekam cctv?! Aishhh! Tolong cek lagi mungkin ada kesalahan."
"Maaf, tapi kami sudah mengecek cctv itu berkali-kali tapi tidak ada seorangpun yang terekam."
Jieun menghela nafasnya merasa kesal, nyatanya ada seseorang dalam apartementnya.
"Kami akan menganggap kasus ini sebagai kasus ringan karena seseorang berusaha masuk ke flat anda."
Jieun melotot tidak percaya."kasus ringan? Ta-tapi dia merusak barang-barangku! Aku akan menuntun ini."
"Kau akan menuntut siapa Pengacara lee?"
Jieun dan polisi patroli itu melihat kearah seorang namja yang berdiri tepat dibelakang Jieun.
"Detektif Kim."
Soo Hyun tersenyum dan membungkuk pada Jieun begitupun Jieun dan polisi patroli itu.
"Apa kau lihat orang itu secara langsung?"
Jieun terdiam mencerna perkataan Soo Hyun, Soo Hyun tersenyum miring pada Jieun.
"Kau seharusnya tidak sebodoh ini Pengacara Lee, jadi tolong kerja samanya percayakan ini pada kami kau urus saja klienmu."
Soo Hyun dan polisi patroli itu pergi, Jieun tertawa miring tidak percaya dengan sikap Soo Hyun.
"Ckck dasar sombong."
***
Dalam ruangan yang dipenuhi lemari kaca dan beberapa buku, seseorang tertawa dengan selembar foto ditangan kanannya.
"Itu salam perkenalanku Lee Jieun, aku tidak menyangka dia benar-benar anaknya."
Orang itu melihat sesuatu dari lemari ada sebuah kotak yang terbuka dan didalamnya terdapat beberapa tabung reaksi beriskan darah, Dia mengambil selembar tissue dan menuangkan sedikit darah itu pada tissue dan menghirupnya.Β
"Hmmm..lihat saja aku akan membunuh putrimu seperti keluargamu yang lain."
.
.
.
TBC...
Haiiii hayooo pada ga nyangka yaaaa....ππ
Gimana sama cerita aku?
A. Gaje
B. BOSAN
C. BAGUS
D. SERU SANGAT
E. BIASA AJA
F. DLL..
Hahaha banyak maunya ya aku π. Di jawab ya soalnya wkwk.
See you~~
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN :)