IMAGE

IMAGE
7



Kantor polisi


"Ini berkas yang kau minta."


Jieun mengambil berkas file itu dan tersenyum.


"Terimakasih."


Kim Soo Hyun tersenyum lalu duduk dihadapan Jieun.


"Tapi kenapa kau menginginkan berkas ini?"


"Aku pengacara nenek itu, jadi aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan cucunya."


Soo Hyun tertawa membuat Jieun menatapnya dengan kesal. Sadar akan tatapan Jieun, Soo Hyun berdehem untuk menetralkan suaranya.


"Maafkan aku, silakan kau melihat isi berkas itu."


Jieun segera membukanya dan membulatkan matanya setelah melihatnya.


"A-apa ini? Apa seperti ini ulah pembullyan?"


Soo Hyun menghela nafasnya dan mengambil salah satu foto dari berkas itu.


"Kau percaya ucapan nenek itu?"


"Huh?"


Jieun melihat Soo Hyun tidak mengerti, Soo Hyun melihat kearah Jieun dengan serius.


"Apa nenek itu berkata jika cucunya di bully?"


Jieun hanya mengangguk, Soo Hyun tersenyum tipis dan menutup matanya membuat Jieun penasaran. Soo Hyun memperlihatkan foto itu pada Jieun.


"Coba kau lihat."


Jieun tidak mengerti yang dia lihat hanya wajah Sohe yang terlihat pucat dan ada darah di bibirnya, Soo Hyun yang paham lalu menunjukkan dibagian leher sohe.


"Ada bekas tali, kami sudah otopsi korban tapi tidak ada hal yang aneh pada korban. Kami juga sudah mencari di setiap CCTV tapi nihil, Sin Sohe bunuh diri dia ditemukan ditoilet asrama sekolahnya."


Jieun menutup mulutnya setelah mendengar ucapan Soo Hyun, jadi Sohe bukan di bully? Melainkan dia bunuh diri?


"Apa kau yakin?"


Soo Hyun meletakkan kembali foto itu dan melihat kearah Jieun, dia tertawa lagi.


"Kau meragukan seorang polisi? Tapi jika kau tidak percaya--" Soo Hyun mengambil dua lembar kertas dan menyerahkannya pada Jieun.


"--kau bisa mencari kedua orang ini."


Jieun melihat kertas itu, dia menyimpannya di tasnya lalu pamit untuk pergi.


.


.


.


"Ada apa ini?"


Chang Wook memeriksa file yang sudah dia retas, Woon Hu berjalan kearah Chang Wook lalu meletakkan secangkir kopi.


"Apa dia sudah mengingatmu?"


Chang Wook melihat kearah Woon Hu tidak mengerti, Woon Hu mengambil ponselnya.


"Lee Jieun dia seorang mahasiswi disalah satu universitas seoul dan---"


Chang Wook merebut ponsel Woon Hu dan melihat ponselnya, wajah Chang Wook terkejut setelah melihat ponsel Woon Hu. Woon Hu tertawa, dia duduk disamping Chang Wook.


"Kaka! Apa kau memata-matainya?!"


Woon Hu menghela nafasnya dan tersenyum mengejek pada Chang Wook, Chang Wook memegang lengan Woon Hu dirinya terlihat kesal setelah melihat respon Woon Hu.


"Ya kau tenang saja, aku tidak akan macam-macam dengannya. Aku tau kenapa dia seperti itu."


Woon Hu beralih pada komputer Chang Wook, Chang Wook hanya memandang Woon Hu tidak mengerti.


"Ini, aku mendapatkannya begitu susah."


Chang Wook melihat layar komputernya dan melihat sebuah foto keluarga, Woon Hu menghela nafasnya kasar.


"Ini mungkin dugaanku, kurasa ini terkait dengan keluarganya."


Woon Hu melihat kearah Chang Wook dan menepuk pundaknya, Chang Wook terdiam.


"Sudahlah jangan dipikirkan, kau ingat apa yang aku katakan kemarin malam?"


Woon Hu mengambil tabletnya dan melihat sebuah file, Chang Wook mengangguk.


"Ini, kurasa besok ada seseorang yang akan datang."


Chang Wook melihat layar tablet itu, Woon Hu melihat kearah Chang Wook.


"Kau harus ingat---"


"Aku mengerti! Sekarang cepat keluar dari kamarku!"


Woon Hu menahan pintu kamar Chang Wook, Chang Wook terus mendorong pintu itu.


"Jangan---"


Brakk..


"Aishh menyebalkan!"


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


Pagi-pagi Jieun dapat kabar dari rumah sakit kalau nenek itu sudah sadar, Jieun dengan cepat menuruni anak tangga apartementnya. Jieun melihat kearah kotak suratnya dan melihat ada sebuah bingkisan kecil, Jieun melihat kesana-kemari untuk mencari seseorang yang mengirimnya padahal tadi malam kotak suratnya masih kosong.


Jieun mengambil bingkisan itu dan mencari identitas pengirimnya tapi kosong tidak ada namanya sama sekali, Jieun mengerutkan dahinya bingung. Dia membuka bingkisan itu, didalamnya terdapat syal berwarna biru.


"Siapa yang mengirimnya?"


Drttt..


Ponselnya bergetar dia segera mengambil ponselnya.


"Ya? Oh aku sedang di jalan, baiklah."


Tidak ambil pusing dengan bingkisan itu, Jieun segera memasukkan syal itu kedalam tasnya dan pergi dengan terburu-buru.


.


.


.


"Nenek apa kabar? Apa kau merasa baikan?"


Nenek itu mengangguk dan tersenyum kecil pada Jieun, Jieun tersenyum dan teringat akan suatu hal.


"Nenek apa kau kenal dengan kedua orang ini?"


Nenek itu melihat kertas yang diberikan Jieun dan nampak terkejut, Jieun melihat dengan serius perubahan raut wajah nenek itu.


"Uhh gadis ini temannya sohe dan laki-laki ini aku baru bertemu dengannya sebanyak tiga kali saat dia mengantarkan sohe pulang."


Jieun mengangguk mengerti, nenek itu terlihat tidak nyaman. Jieun menaikkan alisnya dan memegang bahu nenek itu.


"Nenek apa kau baik-baik saja? Apa ada hal yang salah?"


Nenek itu menggeleng dan tersenyum gugup pada Jieun sambil memegang kedua tangannya merasa gugup dan ketakutan, Jieun melihat ada hal yang aneh dengan sikap nenek itu tapi dia mencoba terlihat tenang.


"Apa nenek mengenal kedua orang ini?"


Nenek itu terdiam dan semakin gelisah.


"Kepalaku terasa pusing arrghh."


Nenek itu mengerang kesakitan membuat Jieun panik.


"Nenek, apa nenek baik-baik saja??"


Nenek itu mengangguk. "Sebaiknya kau pulang, aku ingin istirahat nanti kita bicarakan lagi."


Jieun perlahan pergi dari kamar nenek itu, diluar Jieun melihat kondisi nenek itu di balik kaca ruangan.


"Aku harus mencari kedua orang ini."


Ruangan Park Kang Jun


"Serahkan file itu."


Seorang pria bertopi berdiri dibelakang meja kerja Kang Jun, Kang Jun merasa terkejut dan terdiam karena kehadiran pria itu.


"Apa dia yang menyuruhmu?"


Pria itu mengeluarkan sebuah pistol, Kang Jun menelan ludahnya.


"Sebaiknya kau tidak melawan, turuti saja dan berikan file itu padaku."


Kang Jun segera mencari file itu dengan terburu-buru, pria itu terus mengawasi Kang Jun.


"I-ini."


Pria itu mengambil sebuah berkas lalu pergi dengan langkah mundur sambil terus mengarahkan pistolnya pada Kang Jun, Kang Jun membelakangi pria itu. Setalah beberapa saat Kang Jun membalikkan badannya dan tidak melihat keberadaan pria itu. Dia menghela nafasnya merasa lega dan menyeka keringatnya.


Chang Wook menunggu diluar gedung menggunakan mobilnya, dia terlihat mengawasi gedung didepannya. Suara mobil dari sebrang sana membuat Chang Wook menyalakan mobilnya dan mengikuti mobil itu.


"Dia sudah keluar."


Chang Wook tersenyum miring saat melihat mobil itu mempercepat laju mobilnya, Chang Wook memakai kaca mata hitamnya dan tersenyum lalu menancap gas mobilnya. Mobil didepannya sepertinya tau jika dirinya diikuti, dia segera berbelok kearah kiri jalan. Chang Wook yang tidak mau kehilangan jejaknya semakin menambah kecepatan mobilnya.


"Jangan sampai kau kehilangan jejaknya!"


"Si**l!"


Si pengemudi melihat mobil Chang Wook yang masih mengikutinya, dia memepercepat laju mobilnya tidak perduli dengan mobil lainnya mobil itu masuk kedalam gang kecil dan menambrak tong sampah membuat isinya keluar. Chang Wook berdecak sebal dan membanting stir mobilnya mengerem untuk menghindari tong sampah itu.


"Aishhh!!"


Chang Wook kembali menancap gas mobilnya saat dilihat mobil didepannya mulai menjauh, tepat keluar dari gang kecil itu sebuah mobil bus datang dari arah kanan. Klakson mobil bus itu membuat Chang Wook terkejut membuat dia mengerem dengan cepat. Orang-orang menjerit melihat kejadian itu dan berhamburan keluar untuk melihatnya secara langsung.


Chang Wook membuka matanya dan melihat kesana kemari mencari mobil itu, tapi tidak ada jejak mobil itu dia memukul stir mobilnya. Dia memundurkan mobilnya membuat orang-orang disekitarnya lari, bahkan supir bus itu meneriaki Chang Wook karena aksinya barusan.


.


.


.


Chang Wook merapihkan bajunya lalu membuka kaca matanya saat sudah berada di parkiran gedung tempatnya bekerja.


"APA?! BAGAIMANA BISA? YA---"


Chang Wook melepas headsetnya karena teriakan Woon Hu, dia mengusap daun telingannya dan bergerutu lalu kembali memakainya.


"---kenapa kau bisa kehilangan jejaknya huh?!"


Chang Wook mengacak rambutnya dan membuka sedikit kerah bajunya.


"Aku rasa dia sudah mengetahuinya. Ah sudahlah kak aku akan menangkap Park Kang Jun sekarang juga kita sudah mempunyai bukti itu bukan?!"


"Yayaya kau tidak bisa menangkapnya begitu saja tanpa bukti yang kuat, kita ikuti saja permainannya. Jika kartu berikutnya terbongkar buu itu bisa mengakhiri permainan mereka. Kau mengerti?"


Chang Wook mendesis mendengar ucapan Woon Hu, dia mengangguk paham walaupun Woon Hu tidak mengetahuinya.


Setelah percakapan dengan Woon Hu selesai Chang Wook merapihkan kembali bajunya dan keluar dari mobilnya, didalam kantornya seperti biasa di tersenyum atau membalas sapaan staff yang lainny. Wajah Chang Wook seketika datar saat melihat Minah berlari kecil kearahnya, dia cepat-cepat berjalan kearah ruangannya untuk menghindari Minah.


"Selamat pa--"


Brakk..


"--gi wakil direktur uuh?"


Staff karyawan lainnya menahan tawa saat melihat Minah yang mematung tidak percaya dengan kelakuan Chang Wook, Minah merasa kesal dan menghentakkan kakinya lalu pergi dari sana karena malu.


"Jieun-ah!"


Daehyun berlari kearah Jieun saat melihat Jieun keluar dari lift, Daehyun berjalan disamping Jieun sambil tersenyum lebar memamerken giginya. Jieun tidak memperduikan kehadiran Daehyun dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Ji--"


"Daehyun-ssi apa kau bisa membantuku?"


Ucapan Daehyun terpotong, Jieun melihat Daehyun dengan serius. Daehyun mengerjapkan matanya berkali-kali begitu terkejut melihat wajah Jieun dan dirinya sangat dekat. Jieun tidak terlalu memperdulikannya dia hanya fokus pada jawaban Daehyun.


"Aa..itu.."


Daehyun terlalu gugup untuk menjawabnya, Jieun masih diam tidak bergeming. Daehyun semakin gugup saat Jieun terus melihatnya.


"Baiklah aku akan membantumu."


Tepat setelah menjawabnya Jieun menghadap kearah lain dan berjalan terlebih dahulu.


"Nanti setelah pulang kau ikut denganku."


Daehyun membulatkan matanya dan tersenyum lebar apa hari ini Jieun akan mengajaknya keluar? Daehyun terlalu senang dia berlari mengejar Jieun dan tersenyum sepanjang jalan.


"Direktur Park."


Kang Jun masih melihat kearah Jieun dan Daehyun, dia masih belum sadar jika Chang Wook sudah ada disampingnya cukup lama saat Kang Jun terus memperhatikan interaksi antara Jieun dan Daehyun. Chang Wook awalnya terkejut saat melihat Kang Jun memperhatikan Jieun.


"Direktur Park."


"Ooh pengacara Jang, ada perlu apa? Maaf aku tadi.."


Kang Jun tertawa kearah Chang Wook, Chang Wook tersenyum pada Kang Jun dan memperlihatkan sebuah dokumen.


"Tidak apa, maaf menganggu aku hanya ingin memberikan dokumen ini dan meminta tanda tangan anda."


Kang Jun melihat dokumen itu dan menepuk punggung Chang Wook dan tertawa.


"Aah kalau begitu kita keruanganku."


Chang Wook hanya mengangguk dan mengikuti Kang Jun dibelakangnya.


πŸŽ‹πŸŽ‹πŸŽ‹


"Silakan masuk."


Chang Wook masuk kedalam ruangan Kang Jun dan melihat-lihat ruangan Kang Jun.


"Ruangannya terlihat nyaman."


"Benarkah??"


"Iya."


Kang Jun tersenyum dan mempersilakan Chang Woon duduk, Chang Wook duduk di depan Kang Jun. Chang Wook memberikan dokumen itu pada Kang Jun, saat Kang Jun tengah sibuk dengan dokumen itu tangan Chang Wook berada di bawah meja kerja Kang Jun dia mencari alat perekam suara yang terpasang di bawah meja kerja Kang Jun.


"Ini sudah aku tanda tangani."


"Aah terimakasih."


Chang Wook segera menerima dokumen itu dan pamit untuk pergi.


Setelah sampai di ruangannya, Chang Wook tersenyum senang saat melihat alat perekam itu ditangannya. Chang Wook menghidupkan laptopnya dan mengirimkan data suara itu pada laptopnya.


Tok..tok..


Suara ketukan pintu pada ruangannya membuat Chang Wook menutup kembali laptopnya, dia mempersilahkan masuk orang tersebut.


"Permisi wakil direktur."


Chang Wook terdiam saat melihat Jieun masuk kedalam ruangannya, Jieun tersenyum pada Chang Wook.


.


.


.


Chang Wook memperhatikkan Jieun di balik jendela ruangannya, dia menghela nafasnya lalu menutup matanya. Dia kembali duduk dan membuka laptopnya lagi.


"Permisi wakil direktur, aku ingin meminta tanda tanganmu. Ini untuk kasusku dan tugas skripsi, direktur bilang anda yang bertanggung jawab terhadap karyawan magang."


Chang Wook mengetuk-ngetuk mejanya memikirkan perkataan Jieun, dia tidak mendapat informasi jika dirinya yang bertanggung jawab.


"haah sudahlah."


Chang Wook melanjutkan pekerjaan.


Diluar Kang Jun melewati ruangan Chang Wook dan senpat melihat Jieun keluar dari ruangannya, dia tersenyum.


Jieun dan Daehyun mencari kedua orang itu, dia bertanya disetiap toko dan pejalan kaki didaerah Cheongdam-dong.


"Permisi apa kau mengenal orang ini?"


Jieun bertanya pada seorang laki-laki paruh baya, dia melihat foto yang di tangan Jieun dan mengingat wajah pada foto itu.


"Sepertinya aku pernah melihatnya eengg tunggu--"


Jieun tersenyum mendengar jawaban pria paruh baya itu.


"Aahh dia sekolah disana."


Jieun melihat arah telunjuk pria paruh baya itu dan melihat ada bangunan sekolahan diujung jalan.


"Terimakasih."


Jieun membungkuk dan tersenyum dia melihat kearah Daehyun dan memanggil namanya, Daehyun segera berlari dan meminta maaf pada orang yang dia tanya.


"Ada apa Ji? Kau sudah menemukannya?"


Jieun menepuk pundak Daehyun dan melihat kearah depan membuat Daehyun mengikutinya.


"Ayo."


Jieun dan Daehyun sedang menunggu diruang kepala sekolah, dia melihat kesana kemari melihat ruangannya dan melihat kearah luar jendela.


"Permisi aku Cho Hyesin."


Seorang gadis berkuncir satu membungkuk hormat pada kepala sekolahnya, wanita paruh baya tidak lain kepala sekolahnya tersenyum dan mempersilahkan Hyesin masuk.


"Pengacara Lee ini Cho Hyesin teman Shin Sohe."


Jieun dan Daehyun berdiri dan tersenyun kearah Hyesin, Hyesin membungkuk kearah mereka berdua wajahnya terlihat bingung dan takut.


"Kalau begitu aku akan keluar."


Jieun dan Daehyun tersenyum, setelah kepala sekolah pergi Hyesin melihat mereka dengan takut.


"Ak--aku tidak tau kenapa Sohe---"


Jieun tersenyun untuk menengangkannya. "Hyesin-ah tenanglah, kami tidak menuduhmu ayo kita duduk."


Jieun dan Daehyun bertanya pada Hyesin, Hyesin menangis saat menceritakan kematian Sohe yang tiba-tiba. Jieun lalu meminta Hyesin untuk mengantar mereka ke asramanya.


Jieun melihat kamar Sohe yang masih rapih, barang-barangnya masih ada. Dia berjalan kearah bingkai foto dan mengambilnya.


"Apa dia pacarnya?"


Hyesin melihat kearah Jieun lalu melihat kearah bingkai foto yang dia pegang, Hyesin tersenyum dan mengangguk.


"Lalu dimana dia?"


Hyesin tidak menjawabnya, Jieun melihat kearah Hyesin yang tidak menjawabnya.


"Aku tidak tahu, aku hanya melihatnya saat dipemakaman."


Hyesin tersenyum pada Jieun, Jieun mengangguk dia melihat kearah Daehyun.


"Kalau begitu terimakasih Hyesin-ah."


Hyesin tersenyum pada Jieun, Jieun menghampiri Daehyun dan pergi. Hyesin melihat mereka berdua dan menutup pintu kamar Sohe.


"Ayo kita cari orang ini."


Daehyun dan Jieun masuk kedalam mobil dan pergi.


"Apa gadis itu?"


Seseorang melihat Jieun dan Daehyun pergi dari dalam mobilnya, dia tersenyum senang melihat Jieun.


"Akhirnya aku menemukanmu."


.


.


.


TBC..


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA ;)