
13 February 2017, Seoul.
"Heyy Lee Jieun! Cepat siapkan sarapan!"
Teriakan dan gedoran pintu membuat sang penghuni kamar menggeliat dan terpaksa bangun.
Krekk.. (Pintu terbuka)
Jieun melihat ibu tirinya dan juga kakak tiri perempuannya sedang menonton tv. Ibu tiri Jieun melihat kearahnya belakang dan melototkan matanya.
"Ya apa yang kau lihat huh?! Cepat siapkan sarapan!"
"Aku berangkat."
Suara seorang laki-laki keluar dari kamarnya tanpa melihat kearah mereka. Ibunya berteriak untuk menyuruh anak laki-lakinya sarapan terlebih dahulu tapi sepertinya dia tidak memperdulikan ucapan sang ibu. Jieun menghembuskan nafasnya dan pergi kearah dapur dengan gerakan cepat karena dia tidak mau terlambat datang kesekolah.
**
Hanyang High School
"Yaya cepat duduk di bangku kalian."
Murid-murid yang tadinya berisik mulai tenang dan terdiam saat sang guru datang ke kelas mereka.
"Apa kalian sudah belajar untuk ujian nanti?"
Semua murid mendesah pasrah mendengarnya malas untuk menanggapi ucapan gurunya.
"Yak! Apa kalian tidak ingin lulus huh? Sudahlah. Aku akan mengabsen."
Kang Jang Hyun--nama guru itu mulai mengabsen anak muridnya.
"Byun Eun Hye."
"Ne."
Jang Hyun hanya melihatnya sekilas dan melanjutkan acara mengabsennya.
"Lee Jieun."
Semua hening. Mereka melihat kearah tempat duduk Jieun, dan tidak menemukannya. Eun Hye tersenyum senang.
"Lee Jieun."
Jang Hyun mengulangi lagi. Kelas yang tadinya berisik menjadi hening saat melihat aura gelap dari sang guru.
"Lee Jieun! Di mana anak itu huh?!"
Sementara itu..
Jieun meruntuki dirinya beberapa kali membuat seisi penumpang bus menatapnya dengan aneh. Jieun turun dengan tergesa-gesa dirinya menabrak beberapa orang. Dia berlari dengan cepat tanpa memperdulikan orang-orang yang memakinya.
"Ck..sial."
Dirinya mengumpat kesal karena jam sudah menunjukkan angka 07.15.
"Aku terlambat. Aku terlambat."
Gerbangnya pasti sudah tertutup dengan rapat! Jieun membulatkan matanya melihat gerbang sekolah sudah di tutup.
"TIDAAK"
"Paman, tolong buka gerbangnya."
Satpam sekolah itu tidak memperdulikan ucapan Jieun dan menggemboknya. Jieun memegang gemboknya dengan wajah memelas dia memohon pada satpam itu. Satpam itu tersenyum sinis.
"Tidak. Aishh aku bosan melihat kau terus! Pulanglah."
"Heol.."
Satpam sekolah itu melongos pergi begitu saja. Jieun menghentakkan kakinya lemas dan berteriak pada satpam itu untuk membuka gerbangnya.
"Yak! Lihat itu dia terlambat lagi."
Tiga siswi yang kebetulan lewat melihat Jieun yang berada di luar pagar sekolahan.
"Hoyy Lee Jieun! Kau terlambat?"
Salah satu siswi bertubuh kurus tersenyum meledek pada Jieun. Jieun mendengus kesal dan tidak perduli dengan mereka.
"Dasar payah."
Gadis bertubuh gempal tertawa diikuti oleh dua temannya dan berlalu pergi.
"Bagaimana ini? Pasti Guru Kang sudah ada di kelas. Tamat riwayatku."
Jieun melihat kesegala arah dan terdiam seperti mendapat ide. Memanjat. Ya dia harus memanjat gerbang ini. Tapi dia terdiam lagi lalu menggelengkan kepalanya.
"Arghh.."
***
Hotel Sc***
Seorang pria bertubuh tinggi berjalan memasuki lobi hotel dengan hati-hati. Topi hitamnya menutupi sebagian wajahnya. Dia berjalan kearah kanan menuju lift, tapi saat akan masuk lift diirnya melihat dua orang berpakaian rapi menggunakan jas datang kearahnya. Pria itu berbelok arah dan bersembunyi.
"Haha baiklah filenya sudah ada di kamarku."
Pria itu mengintip dan mendengarkan ucapan dari mereka. Setelah mereka menaiki lift, pria itu keluar dan melihat kelantai berapa mereka pergi.
"Tangkap dia!"
Puluhan penjaga bertubuh kekar berlari keluar dari sebuah kamar.
"Tuan apa anda baik-baik saja?"
Plak..
"Jangan perdulikan aku. Bawa kembali file itu sekarang!"
Sambil memegang pipinya laki-laki itu berdiri dan segera berlari mengikuti rekan-rekannya.
"Haah.."
"Cari dia cepat!"
Suara sepatu yang begitu banyak terdengar di telinganya. Rasa lelah tidak menghentikkan pria bertopi itu untuk melarikam diri. Dirinya berlari kearah parkiran hotel ini dan bersembunyi.
"Cari dia. Jangan sampai dia lolos!"
Pria itu tersenyum senang saat mendapatkan barang yang di incar. Dia segera pergi setelah melihat tidak ada orang-orang yang mengejarnya.
"aishh sial. Mobilku di sana."
"Yak! Chang Wook-ah."
Chang Wook mengambil ponselnya dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Oh Kakak."
Orang yang Chang Wook panggil dengan kakak itu berdecak kesal. Dia menyuruh Chang Wook segera datang dan membawa file itu karena klien mereka sudah tidak sabar ingin segera melihat isi dari benda berukuran kecil itu. Chang Wook menghela nafasnya.
"Kak, sebenarnya ak--"
Chang Wook menghentikkan ucapannya dan melihat sebuah mobil yang dia yakin tengah mencarinya. Chang Wook mematikan panggilannya dan berlari.
"Aah..menyebalkan!"
Jieun berusaha untuk memanjat tembok belakang sekolahnya. Dia sering melihat beberapa murid memanjat tembok ini. Dia sedikit takut saat melihat tingginya tembok di depannya. Bagaimana caranya dia sampai di atas sana? Sedangkan tubuhnya tidak sebanding dengan tinggi tembok itu. Jieun melihat jam tangannya dan berdecak kesal tidak ada waktu lagi, dia harus melakukannya jika tidak ingin ibu tirinya mengomel sepanjang hari karena mendapat telepon dari pihak sekolah jika dia tidak datang kesekolah. Jieun menggelengkan kepalanya tidak mau hal itu terjadi. Dia bersiap untuk naik keatas, sepatunya sedikit licin.
"Ayoo sedikit lag---"
"Aaarghh.."
Jieun merasa ngilu pada bokongnya dan berdecak kesal. Chang Wook mengusap kepalanya karena terbentur tubuh Jieun yang hendak naik keatas tembok sekolahnya. Jieun bersiap untuk memaki orang itu karena sembarangan sudah menabraknya. Chang Wook menahan kesalnya dan berlari lagi saat melihat mobil hitam mendekat kearahnya.
"Ya ya yaaakk!"
Jieun berteriak kearah Chang Wook karena dia pergi begitu saja tanpa meminta maaf. Jieun mendengus kedal dia mau meneruskan kegiatan memanjatnya tapi terdiam saat melihat sebuah benda kecil tergeletak di samping sepatunya.
"Apa ini? ah nanti saja. Aku harus segera masuk."
Jieun memasukkan benda kecil itu pada saku bajunya.
***
"Yak! Berapa lama lagi aku harus menunggu-mu!"
Suara lengkingan dari ponsel Chang Wook membuatnya menjauhkan ponselnya dari telingannya. Chang Wook menghela nafasnya kasar. Saat ini dia tengah bersembunyi di jalan sempit dekat sekolahan Jieun.
"Kak bersabarlah. Tenang saja benda itu am--"
Chang Wook meraba kantung celananya dan bajunya. Benda itu hilang dan Chang Wook tidak menyadarinya.
"Kenapa? Chang Wook-ah?"
Suara disebrang sana sedikit heran dan juga khawatir karena ucapan Chang Wook terputus. Chang Wook dengan sepihaknya memutuskan panggilannya dan mengingat kembali dimana benda itu di simpan.
"Tidak mungkin.."
Pulang sekolah
"Kak Baekhyun."
Jieun berlari kecil saat melihat seorang pria berwajah imut berjalan di koridor sekolah. Baekhyun--orang yang di panggil terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Jieun. Wajahnya sangat datar bahkan saat Jieun sudah berada di depannya dengan nafas terengah karena mengejarnya. Baekhyun hanya diam sambil menghebuskan nafasnya kasar dan menepis tangan Jieun dari lengannya. Jieun tersenyum kecil mendapatkan perlakuan seperti itu. Eun Hye baru saja keluar dari kelasnya dan melihat Jieun dan juga Baekhyun, dia dengan cepat mendekati mereka.
"Ibu---"
"Yak! Apa kau gila huh?"
Eun Hye melototkan matanya kearah Jieun dan mendorong tubuh Jieun untuk menjauh dari Baekhyun. Baekhyun hanya diam tanpa berniat untuk membantu Jieun.
"Ibu? Haah. Apa kau lupa kita harus pura-pura tidak mengenal Lee Jieun!"
Jieun menundukkan kepalanya. Tidak mau terlalu lama Baekhyun pergi sambil menyenggol bahu Jieun.
"Dasar bodoh."
Jieun menaikkan kepalanya dan memandang kedua kakak tirinya dengan sedih. Jieun menghela nafasnya niatnya ingin mengajak mereka pulang bersama tapi sepertinya usahanya sia-sia. Sudah setahun lamanya sejak mereka berkeluarga tapi tetap saja sifat dari kakak tirinya tidak berubah terhadapnya, bahkan ibu tirinya memperlakukan dirinya secara tidak adil. Jieun sempat melihat ketiga murid yang dia temui pagi tadi di gerbang sekolah,dia memepercepat langkahnya.
"Yak Lee Jieun!"
Satu siswi bertubuh agak berisi berteriak memanggil Jieun. Tapi Jieun tidak memperdulikkannya dan terus berjalan. Dua temannya melihat Jieun tidak percaya.
"Hoo rupanya dia sudah berani sekarang."
Dengan kesal yeoja bertubuh gemuk itu menarik rambut Jieun membuat Jieun memekik kesakitan. Dua temannya tertawa senang dan menahan tubuh Jieun agar tidak memberontak. Seluruh murid yang berada di luar gerbang melihat kearah mereka. Ada yang tertawa dan ada pula yang menatap Jieun dengan iba tapi mereka tidak bisa membantunya karena takut terkena batunya mereka hanya bisa menyaksikan adegan dimana Jieun sedang di bully.
"Yak! Lepaskan rambutku!"
Jieun mencoba melepaskan rambutnya tapi kedua tangannya di tahan. Ketiganya tertawa senang melihat Jieun yang kesakitan.
"Haha Jiyong-ah jangan lepaskan tanganmu kalau bisa kau lebih menarik rambutnya. Rasakan itu karena kau sudah berani melawan kami."
Gadis bertubuh kurus itu tertawa dan semakin mengeratkan pegangannya. Jieun meringis nyeri saat dirasa rambutnya terlepas dari kulit kepalanya.
"Aah apa ini kelakuan anak sekolahan?"
Tiba-tiba seorang pria bertubuh tinggi sudah berada di belakang mereka. Jieun dan ketiganya melihat kearah namja itu. Jiyong berdecak sebal sedikit melonggarkan tangannya dan melihat pria di depannya dengan kesal.
"Kau siapa?"
Pria itu berdecak dan melihat name tag di baju Jiyong. Dia tersenyum miring.
"Kang Jiyong? Namamu seperti laki-lali. Hmm..seperinya aku harus melaporkan kalian semua Jiyong-ssi?"
Kedua temannya menahan tawanya saat mendengarnya, Jiyong mengepalkan tangan dengan geram dan berniat meninju orang itu.
"Yak! paman siapa kau huh? beraninya kau---aarghh."
Kedua temannya terkejut begitupun dengan Jieun. Jiyong meringis karena tangannya berada di belakangnya. Dia memohon pada pria itu untuk melepaskannya, kedua temannya merasa ketakutan dan melepaskan pegangan mereka pada tangan Jieun. Jieun terus melihat pria itu, semua murid yang tadinya menyaksikan adegan tadi seketika pergi dari sana tidak mau jika dirinya bernasib sama seperti geng Jiyong. Pria itu melihat kearah Jieun dan mendekat lalu menjajarkan tinggi badanya dengan tubuh mungil Jieun. Jieun memudurkan langkahnya saat dilihatnya pria itu semakin mendekatinya, pria itu tersenyum pada Jieun.
"Bocah kembalikan barang itu."
Jieun manikkan alisnya tidak mengerti dengan ucapan pria itu. Pria itu mendekati Jieun, Jieun terkejut dia memundurkan tubuhnya. Pria itu tersenyum dan lebih dekat kearah Jieun, pria itu mendekati telinga Jieun.
"Cepat kembalikan benda itu."
"Huh?"
Jieun semakin menelan salivanya saat melihat senyum mengerikan dari pria itu.
"---jika kau tidak mengembalikannya."
Pria itu memberi jeda sebelum melajutkan perkataannya, dia ingin melihat reaksi dari Jieun. Dia tersenyum puas saat melihat wajah Jieun yang terlihat ketakutan.
"Aku akan membunuhmu."
๐๐๐
Chang Wook melihat file itu memastikan jika benda itu tidak rusak dan terbukti jika isi dari benda itu masih aman. Jieun meremas tangannya takut, dia melihat kesegala sudut ruangan yang tampak begitu asing di matanya. Ruangan yang cukup besar dengan layar TV yang begitu besar dan barang-barang lainnya yang tertata begitu rapi. Jieun tidak menyangka jika bangunan yang dilihatnya dari luar seperti bangunan kosong nyatanya di dalamnya ada seseorang yang tinggal di dalamnya, Chang Wook menutup laptopnya dan menelopn seseorang dia melirik kearah Jieun melihat keadaan gadis itu. Sepertinya dia baik-baik saja, Chang Wook mengajak Jieun ke rumahnya entahlah dia menyebutnya sebuah rumah atau tempat dia bekerja dia tidak peduli yang jelas dia bisa tidur dan makan itu sudah cukup baginya.
"Aku akan mengirimkan datanya. Baiklah, jangan lupa kirimkan uangnya."
Jieun melihat kearah Chang Wook saat pria itu tepat di depannya. Chang Wook menghala nafasnya dan melemparkan ponsel Jieun yang dia ambil darinya untuk berjaga-jaga jika gadis itu memanggil seseorang untuk membantunya. Jieun berhasil menangkap ponselnya tangannya begetar karena masih merasa ketakutan.
"Aku akan memgantarmu."
Jieun mengikuti langkah Chang Wook dengan hati-hati bahkan Jieun menjaga jaraknya dengan Chang Wook dia harus berhati-hati dengan orang asing di depannya. Tentu saja mereka baru pertama kali bertemu bahkan Jieun sama sekali tidak mengenal Chang Wook, dia semakin takut saat melihat penampilan Chang Wook yang begitu tertutup layaknya seorang penculik.
"Pergi sana."
Jieun memundurkan langkahnya terkejut saat dirinya melihat Chang Wook yang begitu dekat dengannya. Dia bahkan mengepalkan kedua tangannya pada Chang Wook. Chang Wook tertawa melihat kelakuan Jieun.
"Yak sedang apa kau? Pergi sana. Apaan-apan dengan tanganmu itu."
Jieun berjalan dengan hati-hati posisi tangannya masih sama, dia tidak mau bisa saja pria tua itu menyerangnya. Chang Wook merasa kesal tapi dia menahan kekesalannya. Aku bersumpah tidak ingin lagi bertemu dengan bocah ini. Chang Wook menutup matanya saat melihat Jieun masih saja seperti itu.
"Yak! Cepatlah!"
Dengan langkah seribu Jieun berlari mendengar teriakan Chang Wook. Chang Wook menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jieun, Jieun membalikkan badanya dan berteriak pada Chang Wook.
"Yak! paman semoga kita tidak bertemu lagi. Wajahmu begitu menyeramkan!"
"Ap--apa yang dia bilang?! Menyeramkan! ya-yak kau benar-benar---"
"Kyaaaa..."
Jieun mempercepat larinya saat melihat raut wajah Chang Wook yang marah. Tanpa disadari ada sepasang mata yang melihat mereka di balik pepohonan.
.
.
.
Tbc..
Warning : Typo bertebaran