IMAGE

IMAGE
4



Baekhyun sudah beberapa kali melihat jam tangannya, semenjak acara kelulusan dia masih belum melihat Jieun. Dia melihat Eun Hye, Eun Hye terlihat tenang dan sesekali tertawa melihat layar ponselnya. Baekhyun menyipitkan matanya dan berjalan kearahnya.


"Ya apa yang kau lakukan?! Kembalikan!"


Baekhyun merebut ponsel Eun Hae dan melihat percakapan pesan Eun Hye, Eun Hye berdiri dan mencoba merebutnya tapi Baekhyun menahannya.


"Ya sudah aku bilang kembalikan! Byun Baekhyun!"


Eun Hye mengepalkan tangannya geram, Baekhyun tidak menghiraukannya dan membaca setiap pesan dari ponsel Eun Hye. Bisa saja Eun Hye mengetahui dimana Jieun bisa saja dia mengerjai Jieun lagi bersama geng bodohnya itu, Eun Hye berteriak terus dia melepaskan tangan Baekhyun dari tangannya. Ny Byun datang dan melatakkan semangkuk sup dengan keras dan melihat anak-anak mereka dengan kesal terutama dengan teriakan Eun Hye.


"Ya! Kalian ini selali saja bertengkar! Membuat ibu pusing saja, Baekhyun-ah cepat kembalikan ponsel adikmu!"


Baekhyun mendengus sebal, Eun Hye dengan sigap merampas ponselnya dari tangan Baekhyun, Ny.Byun menyeka keringatnya dan melihat jam.


"Astaga dimana anak itu huh?! Seharusnya dia yang harus menyiapkan ini semua! Dan kalian sebaiknya membantu ibu! Aishh kalian ini."


Ny.Byun mencoba memukul kepala kedua anaknya tapi rencananya gagal karena mendengar suara pintu terbuka.


"Aku pulang."


Baekhyun melihat kearah depan, Jieun menundukkan kepalanya dan merapatkan bleazer hitamnya. Ny Byun menurunkan tangannya dan menyilangkan kedua tangannya didada, Eun Hye tersenyun sinis seperti biasa.


"Ya dari mana saja kau ini huh?! Cepat siapkan makan malam. Aishh!"


Jieun tidak menjawabnya, dia terus berjalan kearah kamarnya. Eun Hye melihat baju seragam Jieun yang terlihat berantakan.


"Ooh ada apa dengan bajumu? Dan bleazer itu---ahh bukankah itu punya Minrin?"


Ny.Byun menaikkan alisnya dia terlihat bingung dengan perkataan Eun Hye, Jieun berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Baekhyun mengerutkan dahinya dia berusaha mencerna kata-kata Eun Hye.


"Ji---"


"Maaf, aku akan tidur lebih dulu."


Jieun menutup pintu kamarnya, Baekhyun merasa khawatir dengan keadaan Jieun.


"Hoo...apa-apaan dia! YA KELUAR AKU MENYURUHMU UNTUK MENYIAPKAN MAKANAN!"


"Ibu hentikan! Aku tidak ingin makan."


Baekhyun pergi dari ruang makan dan masuk kedalam kamarnya, Ny.Byun semakin kesal dan bergerutu marah. Eun Hye melihat kearah kamar kakaknya.


**


Jieun menutup mulutnya menahan isakan tangisnya dan terduduk didepan pintu kamarnya.


"Ii-ibu."


Dia merangkak mengambil bingkai foto ibunya dan mengusapnya.


"Aku merindukanmu, ibu."


-FLASHBACK-


"Tolong siapapun--lepaskan."


Jieun berusaha melepaskan dirinya, tapi Jiyong dan gengnya menahannya.


"Ya sudah kubilang diam!"


Jiyong memukul kepala Jieun, Jieun menangis sesegukkan tenaganya sudah semakin lemah. Dia hanya bisa berdoa dalam hatinya agar seseorang menolongnya.


"JIEUN-AH!"


Minrin datang dengan dua orang guru dia berlari kearah Jieun, melihat aksinya diketahui Jiyong dan gengnya segera berlari.


"Ya mau kemana kalian huh?! Kalian tidak bisa kabur!"


Guru itu menahan mereka dan membawa. Jieun memeluk Minrin dia menangis dengan kencang.


"Minrin-ah, terimakasih."


Minrin membantu Jieun berdiri dan memasangkan bleazer miliknya pada tubuh Jieun.


"Bagaiamana kau tau jika aku ada disini?"


Minrin tidak langsung menjawab dia merapihkan baju Jieun dan juga rambutnya.


"Aku melihat Jiyong masuk kedalam ruangan ini, aku sempat mendengarmu teriak jadi aku mencari guru. Maaf karena terlambat menolongmu Ji."


Minrin mengusap rambut Jieun, Jieun menggelangkan kepalanya dan tersenyum.


"Hmm tidak apa, Aku sangat berterimakasih padamu."


-FLASHBACK END-


Baekhyun berdiri didepan pintu kamar Jieun, dia terdiam dan mendengarkan suara Jieun yang menangis. Baekhyun mengeluarkan buku kecil dari kantung baju tidurnya dan menuliskan beberapa kata lalu memasukkannya pada bawah pintu Jieun.


Jieun mengusap air matanya dan melihat ada sebuah kertas dibawah pintunya, dia mengambilnya lalu membacanya.


Apa kau baik-baik saja? Darimana seharian ini? Kau sudah makan? Maaf aku terlalu banyak tanya. Aku harap kau baik-baik saja maafkan aku, aku tidak bisa menghiburmu. Kau tau wajah seseorang akan jelek jika dia menangis, berhentilah menangis jika kau tidak ingin wajahmu jelek. Apa kau sudah berhenti menangis?


-Baekhyun


Jieun tersenyum tipis membaca dia menghapus air matanya, sedikit ragu-ragu untuk mengetuk pintu kamarnya.


Tok..


Baekhyun tersenyum senang mendengar suara ketukan itu. Jieun melatakkan surat itu juga bingkai foto ibunya lalu tidur.


"Selamat tidur, Jieun-ah."


Eun Hye keluar dari kamarnya dan terdiam melihat kakaknya berdiri didepan pintu kamar Jieun. Setelah itu Baekhyun pergi masuk kedalam kamarnya dia tidak melihat jika Eun Hye melihatnya.


"Cih.."


.


.


Chang Wook terdiam didepan komputer kerjanya, dia sedang mencari data seseorang.


Woon Hu membawa beberapa dvd dia meletakkannya tepat didepan Chang Wook, Chang Wook kesal dan melihat Woon Hu dengan tajam.


"Ya! kak apa-apaan ini?!"


Dia menyingkirkan dvd itu dan melanjutkan pencariannya. Woon Hu mengehela nafasnya dan mengambil satu dvd lalu menunjukkannya pada Chang Wook.


"Jika kau ingin menjadi mata-mata kau harus bisa bersenang-senang dengan benar."


Chang Wook menaikkan alisnya tidak mengerti, Woon Hu tersenyun pada Chang Wook menaikkan alisnya beberapa kali pada Chang Wook.


"Aishh menyebalkan, ada apa? Kali ini apa lagi?"


Mengerti dengan senyuman Woon Hu, Chang Wook menyerah dan mendengarkan perkataan kakaknya.


"Oke!"


Woon Hu berdiri dan menepuk kedua tangannya. Dan menekan sebuah tombol remot lalu ruangannya berubah terdapat layar besar dan beberapa peralatan lengkap lainnya.


"Park Kang Jun seoarang direktur pengacara di distrik 'S' dia sudah 5 tahun bekerja disana, seseorang baru saja mengirim email padaku dia ingin menyelidi Park Kang Jun."


Chang Wook melihat kearah Woon Hu dan tersenyum sinis.


"Apa aku harus menyamar lagi?"


"Tepat sekali."


Woon Hu tertawa senang dan menjentrikkan tangannya, Chang Wook menghela nafasnya dan menekan pelipisnya.


"Kau tenang saja semua sudah aku urus."


Woon Hu melemparkan sebuah dokumen dan amplop coklat pada Chang Wook. Chang Wook melihat isinya dan melihat kearah Woon Hu.


"Berapa yang kita dapatkan?"


Woon Hu tersenyum pada Chang Wook. "Cukup untuk membeli sebuah gedung."


"Aku mengerti, kapan misi ini di lakukan?"


"Besok kau harus berangkat, gunakan penyamaranmu sebaik mungkin."


Chang Wook mengangguk dia merapihkan mejanya. Woon Hu melihat sekilas layar komputer.


"Oh apa kau sekarang seorang sasaeng fans?"


Chang Wook melihat kearah Woon Hu dan membulatkan matanya dia mematikan komputernya.


"Ya! Kau tidak sopan sekali!"


Woon Hu tertawa dan berjalan keluar. "Hoo ternyata dia sudah lulus SMA, apa dia akan mendaftar kuliah?"


Chang Wook merasa kesal dan melemparkan sebuah bantal, Woon Hu tertawa dan kabur dari sana.


**


Chang Wook mengendari mobil merah, dia mengeluarkan ponselnya lalu menyambungkannya pada mobil. Dia memakai kaca mata dan pakaian rapi.


"10 menit lagi."


Dia melihat tanda lampu merah dan berhenti.


"Oh kak, ada apa?"


Chang Wook melihat kearah luar, sambil mengunyah permen karet dia tidak sengaja melihat seorang gadis dengan tubuh mungil sedang berjalan untuk menyebrang.


"Kak waktuku masih lama bukan? Aishh arraseo aku akan datang tepat waktu. Hmm aku akan tutup teleponnya."


Chang Wook segera menjalankan mobilnya dan membelokkan mobilnya mengikuti gadis itu.


"Perpustakaan kota? Mau apa dia kemari?"


Chang Wook turun dari mobilnya dan masuk kedalam. Jieun-gadis mungil itu berjalan kearah penjaga perpustakaan, Chang Wook pura-pura membaca buku dan mengintip dibalik rak-rak tinggi perpustakaan. Jieun duduk disalah satu bilik komputer. Chang Wook membelakangi tempat Jieun dia duduk dibilik lainnya.


"Chaa aku akan mendaftar untuk bagian hukum, aku ingin menjadi pengacara atau jaksa. ibu lihat saja anakmu pasti bisa. Aaah selesai semoga aku diterima di universitas 'N' ini."


Setelah mendaftar universitas Jieun keluar dari perpustakaan, Chang Wook meletakkan bukunya dan melihat Jieun keluar.


"Pengacara?"


๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹๐ŸŽ‹


Jieun membereskan beberapa makanan dan merapihkan pada rak-rak makanan dimini market.


Tring..


Jieun membungkukkan badanya dan segera berdiri, dia berjalan kearah kasir. Orang itu menyerahkan sebotol minuman, Jieun masih belum melihat wajahnya dan tidak menyadari jika itu Sinbi.


"3 ribu won."


Sinbi tersenyum sinis dan menyerahkan beberapa lembar uang pada Jieun, Jieun melihat kearah Sinbi dan terkejut ternyata Sinbi yang membeli minuman.


"Ambillah aku tau kau butuh uang, cepat."


Sinbi tersenyum miring dan melambaikan tangannya, Jieun mendengus kesal dan meremas uang itu.


"Ya! Permisi."


Jieun mengejar Sinbi dan menyerahkan kembalian uang Sinbi.


"Ini aku kembalikan tidak butuh uangmu."


Jieun masuk kedalam, Sinbi merasa geram dengan ucapan Jieun.


"YA!"


Jieun tidak mendengarnya, orang-orang yang mendengar teriakan Sinbi langsung melihatnya tidak suka membuat Sinbi malu dan pergi dari sana.


"Aishh menyebalkan!"


.


.


"Perkenalkan nama saya Jang Dokyeom mohon bantuannya."


Chang Wook memperkenalkan dirinya dan tersenyum, membuat karyawan wanita tidak hentinya bersorak. Chang Wook memperhatikan setiap karyawan dan tentu saja dia tidak melupakan misinya.


Seorang pria maju dan bersalaman dengan Chang Wook.


"Selamat datang pengacara Jang, aku direktur di sini Park Kang Jun. Kau akan menjadi wakil direktur disini, mohon kerjasamanya."


Chang Wook membungkuk dan tersenyum pada Kang Jun.


Setelah acara perkenalan Chang Wook diajak berkeliling oleh asisten direktur bernama Bang Minah, Minah tidak bisa berhenti untuk mencuri pandang pada Chang Wook. Chang Wook merasa risih dan bersikap seperti biasa.


"Ini ruangan anda."


Chang Wook melihat ruangannya dan mengangguk.


"Ruangannya luas, bagus sekali. Terimakasih Minah-ssi."


Minah terdiam melihat senyuman manis Chang Wook, pipinya terasa panas dan membungkuk pergi dari ruangan Chang Wook. Diluar Minah memegang pipinya dan berteriak senang.


Chang Wook duduk dikursi kerjanya dan meneliti setiap ruangan. Dia menekan sebuah tombol pada alat ditelingannya.


"Ka aku sudah sampai..hmm baiklah."


Chang Wook berjalan kearah jendela ruangannya. "Park Kang Jun siapa dirimu sebenarnya?"


Malam hari Jieun pulang setelah menemani Inna minum, Jieun berdiri didepan pintu rumahnya lalu menghembuskan nafasnya.


"Oh Jieun-ah apa kau sudah pulang?"


Baekhyun melambaikan tangannya saat melihat Jieun, dia berlari dan berdiri tepan didepan Jieun. Jieun sedikit canggung dengan Baekhyun setelah kejadian kemarin malam.


"Ayo kita masuk."


Eun Hye dan Ny.Byun sedang menonton tv dan memakan cemilan.


"Aishh Eun Hye-ya berhenti mengganti saluran tvnya, ibu pusing melihatnya! Kemarikan!"


Eun Hye mengerucutkan bibirnya kesal.


Drt..drrtt..(anggep bunyi telepon rumah)


Telepon rumahnya berbunyi Ny.Byun segera mengambilnya. Eun Hye hanya melihatnya sekilas dan mengambil remot tvnya.


"Kami pulang."


Eun Hye dan Ny.Byun melihat kearah pintu dan membulatkan matanya.


"Oh sayang kau akan pulang sekarang? baiklah aku akan menyiapkan makan malam. Hmm baiklah hati-hati dijalan."


Jieun membulatkan matanya senang dan tersenyum kearah ibu tirinya.


"Apa ayah akan pulang malam ini?"


Ny.Byun tidak langsung menjawab dia mendekati Baekhyun dan menarik lengan anak laki-lakinya.


"Ya apa yang kau lakukan huh?"


"Ibu---"


"Apa kau berusaha untuk menggoda kakakmu?"


Perkataan Ny.Byun membuat ketiganya membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan ibunya.


"Ibu apa maksudmu? Jieun tidak mungkin seperti itu."


Baekhyun menepis tangan ibunya dengan kasar, Ny.Byun tidak percaya dengan perbuatan anaknya.


"Kau lihat?! Apa kau yang mengajarkannya huh? Kau sama saja dengan ibumu dasar wanita penggoda!"


Jieun meremas tas selempangnya dengan keras, dia sangat marah mendengar perkataan ibu tirinya. Eun Hye tersenyum sinis pada Jieun dan mentertawakan Jieun.


"Ibu tiri aku terima jika ibu menghinaku tapi aku sangat tidak suka JIKA IBUKU DIHINA!"


Jieun menatap Ny.Byun dengan marah, Ny.Byun tersenyum sinis dan mendorong bahu Jieun.


"IBU!"


Baekhyun berusaha menolong Jieun tapi tangannya ditahan oleh Eun Hye.


"Apa kau pernah melihat ayahmu pergi kemakam ibumu? Tidak kan?"


Jieun menangis mendengar perkataan ibu tirinya, dia menggelengkan kepalanya tidak mau mendengar kata demi kata yang di lontarkan ibu tirinya. Jieun pergi dari rumahnya, Baekhyun ingin mengejar Jieun tapi ucapan tegas ibunya menghentikkannya.


"Baekhyun! Kau bukan anakku lagi jika kau mengejarnya!"


.


.


Jieun duduk di bangku taman dilingkungan rumahnya, dia menangis dan tidak percaya dengan ucapan ibu tirinya.


"Tidak mungkin ibu seperti itu hikss--hikss."


Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, orang-orang yang jalan disekitar taman itu melihat Jieun dan membisikkan satu sama lain membicarakan sesuatu tentang kondisi Jieun yang menangis.


"Appa apa itu benar? Hah aa..hiks--hiks."


Drrtt..drrtt..


Ponsel Jieun bergetar dia menghapus air matanya dan mengambil ponselnya.


"Selamat malam apa benar ini dengan nona Jieun?"


Jieun melihat layar ponselnya dan mengerutkan dahinya, pasalnya itu nomer ayahnya tapi kenapa suara wanita?


"Iya?"


Jieun membulatkan matanya segera mungkin dia berlari dari sana menuju rumah sakit. Jieun menangis tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya. Dia sama sekali tidak fokus saat sebuah mobil hampir menabrak tubuhnya.


"Tuan Lee Jin Guk mengalami kecelakaan, sekarang keadaannya sedang kritis dia mengalami luka serius dibagian kepala anda bisa datang kealamat---"


"Ayah."


Jieun terus berlari di lorong-lorong rumah sakit, dia berhenti dan menanyakan pada bagian pendaftaran setelah itu dia berlari ke lorong ruangan UGD dia bisa melihat ibu tirinya bersama Baekhyun dan Eun Hye mereka menangis dan tegang secara bersamaan. Jieun datang dan melihat kearah pintu ruangan UGD.


"AYAH!"


Baekhyun menenangkan Jieun dan memeluknya.


"Semua pasti baik-baik saja. Ayah pasti selamat."


Kreekk..


Pintu ruangan UGD terbuka dan seorang dokter keluar lengkap dengan baju operasinya, dokter itu membuka maskernya matanya menyiratkan penyesalan dia melihat kearah Jieun yang menatapnya penuh harap.


"Dokter bagaimana keadaan ayah saya?"


"Dokter apa suami saya baik-baik saja?"


Dokter menunduk meminta maaf dan menggeleng. Eun Hye menutup mulutnya tidak percaya, Ny.Byun menggelengkan kepalanya tidak terima dengan reaksi dokter itu.


"Maafkan kami, kami tidak bisa menyelamatkan tuan Lee Jin Guk. Maafkan saya, saya turut berduka cita."


Jieun menangis tidak percaya ayahnya pergi meninggalkannya, Baekhyun menahan ibunya yang berteriak marah pada dokter itu. Eun Hye menangis melihat keadaan ibunya kenyataan jika dirinya telah kehilangan lagi sosok ayah baginya.


"Apa kau yang bernama Lee Jieun?"


Jieun mendongak melihat dokter itu menyerahkan sebuah surat yang sudah terkena darah ayahnya. Jieun mengangguk, dokter itu menyerahkan surat itu lalu membungkuk pergi dari sana.


Tangan Jieun bergetar saat membuka surat itu, tangisnya semakin pecah saat membuka surat itu.


Jieun-ah, anakku


Selamat atas kelulusanmu maafkan ayah karena ayah tidak bisa memberimu hadiah tapi ayah akan mentarktirmu makan-makanan yang enak. Ayah selalu bercerita pada ibumu setiap kali jika kau mengirim pesan pada ayah. Maaf karena ayah bersikap tidak peduli pada mu Jieun, ayah senang kau bisa tumbuh dewasa dan cantik seperti ibumu. Setelah ayah pulang ayo kita makan ramen bersama apa kau mau? Kekke. Jaga dirimu baik-baik Jieun dan jadilah anak yang baik pada ibu tirimu walaupun dia sering memarahamimu dan akurlah dengan kedua kakak tirimu ayah yakin mereka menyayangimu seperti ayah yang menyayangimu. Aku cinta kamu anakku ๐Ÿ’•


"Ayah---hikss aaarhhh--hikss.."


Jieun menangis dengan kencang dan menekan dadanya yang terasa sesak.


"Ayah..."


.


.


.


TBC..


Cerita ini terinspirasi dari drama City hunter, K2, Cinderrella fourty knight.


Typo bertebaran karena cerita tidak saya edit. Maaf sudah menunggu lama cerita ini *emangada


See you~~