I Want You To Be Mine

I Want You To Be Mine
Bijak



Tyo  menahan senyum mendengar kepolosan Ibunya, " Single Mom niku mboten gadah garwo bu." Tukas Tyo


" Rondo?  kari ngomong rondo ndadak single mom  single mom!, kenapa memang kalau dia janda?,"desak Ibunya.


" Saya tidak mempermasalahkan statusnya bu, saya ragu untuk mendekati dia karena  saya memikirkan bagaimana nanti reaksi ibu, seandainya Tyo menikah dengan seorang janda." Jawab Tyo.


Ibunya mengangkat cangkir dan meneguk sisa teh yang ada, kemudian merubah posisi kursinya sehingga kini ia menghadap  kearahTyo.


" Tyoooo.. Ibu tidak mempermasalahkan status  yang nanti akan jadi pendamping kamu, yang akan menjalani kan  kamu?, selama dia bukan waria atau  istri orang ya silahkan ,yang penting ahlaknya baik  bisa menerima kamu  ya monggo kalau ibu." Ujar Ibunya panjang lebar.


" Serius  Ibu tidak keberatan, kalau seandainya nanti Tyo  mendapat pendamping berstatus janda?." Tyo berusaha meyakinkan Ibunya.


" Memangnya ibu terlihat main main?,semua perempuan di dunia ini  tidak ada yang menginginkan jadi janda,dan kita tidak boleh menghakimi  karena kita tidak tahu alasannya di balik statusnya itu." Timpal Ibunya terlihat serius dengan ucapannya.


Ia benar benar terharu  dan sama sekali tidak menyangka pemikiran ibunya begitu bijak.


"Tyo bangga punya ibu seperti Bu Siswo,ngeten pokok'e." Puji Tyo sambil mengacungkan dua jempolnya.


" Halah gombal kowe iki, le.. le."  Sahut Ibunya  tersipu malu ,keduanya pun tertawa lepas keakraban antara Ibu dan anak lelakinya sungguh terasa menyejukan  hati.


Tidak terasa  masa cutinya  berakhir hari ini , ia bergegas mengemasi pakaiannya karena harus kembali kejakarta,   tiba tiba ponselnya bergetar Tyo bergegas menyambar ponselnya dan sedikit tidak percaya ternyata yang menghubunginya Eva.


" Assalamualaikum.. "


" Waalaikum salam ,ada apa Va?." Sahut Tyo.


" Erhhhm  dimana? ...beberapa hari ini kok tidak terlihat di kantor?, semua baik baik saja kan?." Tanya Eva dengan nada  terdengar khawatir


Tyo tersenyum senyum sendiri mendengar Eva, begitu perhatian  dengan menanyakan keberadaanya.


" Ini lagi di semarang jenguk Ibu."


" Kenapa Ibunya?."


" Alhamdullilah Ibu sehat sehat saja, tidak ada apa apa  cuma kangen sudah lama tidak pulang."


" Oouh Alhamdullilah kalau gitu, jadi kapan pulang kejakarta?."


" Sore ini, insha allah ."


" oouhh,..  ya sudah hati hati semoga ,selamat sampai di jakarta."


" Thank's ya  Va."


Ia berpamitan pada Ibunya. "Bu tyo tinggal dulu ya. Ibu jaga kesehatan nanti Tyo usahakan untuk lebih sering jenguk Ibu." Ucap Tyo  sambil memeluk Ibunya.


" Yo le,...kamu hati hati di sana jangan aneh aneh , dan ingat janji mu sama Ibu loh ya cah bagus." Sahut Ibunya sambil mengecup kening Tyo.


"Insha allah, doakan Tyo ya bu."


" Ra usah di jaluk, Ibu itu selalu berdoa untuk semua  anak anak Ibu, agar sukses dan selamat dunia akhirat,."


" Aamiin ya allah." Ucap tyo


Jam 7 malam pesawat yang di tumpanginya sudah mendarat di bandara soekarno hatta, dengan langkah santai ia menyusuri  koridor bandara  menuju  dimana mobilnya terparkir . Setelah memasukan barang bawaan ia   memacu kendaraannya keluar dari bandara menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah  ia memutuskan untuk mandi dan  bersantai sejenak, sambil membuka laptopnya mengechek  dan membalas beberapa email yang masuk.  Tiga puluh menit kemudian  ia merasakan matanya mulai  terasa berat ia pun menutup laptop dan memutuskan untuk beristirahat.


Triiiing.... triiiing  triing!


Alarm  di ponselnya berdering begitu nyaring  dan memekakkan telinga, Tyo mengeliat dan berusaha membuka matanya melirik pada  ponsel nya waktu menunjukkan pukul Lima pagi, meski  masih terasa ngantuk ia paksakan untuk segera bangkit dari tempat tidurnya.


Lima belas menit kemudia ia sudah tampak rapi dan memutuskan untuk berangkat kekantor lebih awal , untuk menghindari kemacetan.


" Rin ini bagi bagikan ya , jangan lupa Rhea." Ujarnya pada Rini yang kebetulan pagi itu, juga datang lebih awal.


" Kamu ! ." Jawab  Tyo balik meledek  sambil menghindar ,dari Rini yang  sudah siap untuk mencubit dirinya.


" Tyooooooo ! ." Seru Rini   berusaha mengejar Tyo ,yang sudah kabur keruang kerjanya.


Drrt drrt


Ponselnya bergetar sebuah pesan  diterimanya,." Thank's ya oleh olehnya," tulis Eva dalam pesan singkat


" Sama sama Va."Balas Tyo  lantas kembali menyibukan diri dengan  pekerjaan yang ia tinggalkan  selama dua hari ini.


Tiba tiba bayangan Eva melintas di benaknya, membuat konsentrasinya buyar,  Tyo berusaha menepis bayangan wajah Eva dengan mengusapkan telapak tangan kewajahnya, namun semakin keras  ia berusaha menepis  bayangan wajah Eva justru semakin nyata.


" Ada apa ini?," Gumamnya seorang  diri.


Ia menyandarkan tubuhnya  berusaha mengenyahkan bayangan Eva, dari fikirannya dan mencoba untuk kembali fokus, ia melirik arloji di pergelangan tangannya, lima belas menit lagi   waktu nya untuk makan siang.                       Karena tidak berhasil untuk mengenyahkan bayangan Eva, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan kerjanya  menuju kantin kantornya.


Suasana kantin masih terlihat sepi hanya terlihat pekerja kantin yang terlihat berlalu lalang, sibuk menyiapkan  segala sesuatunya menjelang jam makan siang.  setelah selesai memilih menu makan siangnya ia mencari  tempat untuk duduk.


"Broo," sebuah suara yang begitu familiar  terdengar memanggilnya, ia celingukan kearah asal suara, Hilman  melambaikan tangan kearahnya. Tyo beranjak menghampiri Hilman yang sudah tiba lebih dahulu.


Setelah selesai menyantap makan siangnya, Tyo memesan secangkir kopi.


" Mau gak loe?, biar sekalian." Ujar Tyo menawari Hilman.


" Boleh."


" Dua ya mbak, terimakasih." Ujar Tyo pada pegawai kantin .


" Kusut  amat, muka loe kenapa?." Celetuk Hilman sambil memandang kearahnya.


"  Stress gw... pekerjaan numpuk ,setelah cuti dua hari." Tyo  berkelit memberi alasan ,di balik wajah kusutnya.


" Kampret.. gw  tahu benar siapa loe, do you think can lie to me?." Bantah Hilman.


" Sok  tahu... udah mirip detective conan  loe." Sahut Tyo sambil menjentikan  abu rokok dan masih  berusaha untuk  berkelit.


" Yoo... Yoo,..  kenapa? pasti  cewek kan?."  Tebak Hilman


" Hhahahah hahha hahhahaahha." Tyo tidak bisa menahan tertawanya dan merasa mati kutu ,terlebih lagi tebakan Hilman benar.


" Benarkan apa kata gw? ,buaya mau loe kadalin." Sahut Hilman merasa diatas angin.


Keduanya kembali tertawa lepas , namun Tyo  seketika menghentikan tawanya, tatkala ekor matanya menangkap bayangan  perempuan yang sangat ia kenal memasuki kantin.


" Baru lihat, pegawai  baru ?  boleh juga tuh kecil mungil." Celetuk Hilman sambil matanya memandang kearah Eva, yang tengah mencari kursi yang kosong.


Tyo hanya diam tidak menyahut ucapan Hilman, hatinya kembali berdesir hebat melihat kehadiran Eva disana  jauh di dalam hatinya betapa ingin ia mengajak Eva untuk bergabung bersama mereka, namun di sisi lain ia ingin menjaga  imagenya di depan Hilman.


"Sssht!...  dari divisi mana tuh?." Ujar Hilman.


" Kenapa, naksir?."Sahut Tyo Acuh tak acuh, padahal jauh di dalam hatinya tidak rela ,jika Hilman sampai naksir Eva.


" Gak lah  ..pacaran satu kantor riskan, nanti pas berantem berabe." Sahut Hilman.


Setelah kehadiran Eva di kantin  Tyo lebih banyak diam  sejurus kemudian ia kembali melirik arlojinya .


" Cabut yuk."Ajaka Tyo  pada Hilman.


" Masih 20 menit lagi nih, ngapain sih buru buru." Tolak Hilman.


" Ya udahlah gw duluan, kerjaan gw benar benar numpuk."Tyo memberi alasan.


Hilman buru buru menenggak sisa kopinya dan ikut bangkit berdiri  dari kursinya, keduanya berjalan beriringan keluar  dari kantin, Tyo sempat melirik kearah Eva yang posisinya duduk membelakangi mereka.