
Tyo bergegas menuju kamar mandi untuk membilas wajahnya matanya tampak sembab, dan buru buru menyusul kerumah sakit . Setibanya di rumah sakit semua keluarganya telah berkumpul, tidak terkecuali ipar iparnya semua tampak tidak rela melepaskan kepergian Ibunya.
Mereka saling berpelukan untuk menguatkan satu dengan yang lainnya, setelah mengurus administrasi jenazah Ibunya di bawa pulang kerumah untuk di semayamkan sejenak, Tyo menjadi linglung dan menjadi lebih banyak diam.
Eva yang mendapat kabar kepergian calon mertuanya langsung menyusul , dengan di dampingi ayah dan Ibunya mereka datang untuk memberikan bela sungkawa pada keluarga calon besannya.
"Ya Allah, Mas sabaaar, "ujar Eva yang mendampinginya hingga mengantarkan ke peristirahatan terakhir Almarhumah calon Ibu mertuanya, hingga tahlilan di hari pertama.
" Mas maaf besok saya pulang kejakarta duluan ya, maaf tidak bisa menemani Mas lebih lama, ." sesal Eva usai acara tahlilan selesai.
" Iya sayang.. terimakasih kamu selalu ada buat Mas selama ini." Jawab Tyo sambil mengelus elus bahu Eva.
Di hari ketiga setelah kepergian Ibunya Tyo memutuskan untuk kembali kejakarta, hidupnya terasa benar benar hampa setelah di tinggal oleh Ibunya, cukup lama Tyo terpuruk dalam rasa kehilangan beruntung ada Eva yang selalu menyemangatinya untuk bangkit dari keterpurukannya.
"Ayo dong Mas bangkit, sampai kapan Mas begini terus? nanti Almarhumah Ibu malah sedih loh lihat Mas begini." Bujuk Eva dengan lemah lembut.
" Kamu belum pernah tahu rasanya kehilangan, kehilangan orang yang sangat kamu cintai sayang." Sahut Tyo sendu.
" Saya tahu.. tapi apa dengan Mas begini akan membuat keadaan kembali seperti semula?, tidak bukan? apa Almarhumah Ibu Mas akan kembali ke pelukan keluarga Mas dengan Mas sedih berkepanjangan seperti ini? jawab Mas!." Cecar Eva.
Tyo tidak menyahut sepatah katapun, tapi dalam hati ia membenarkan ucapan Eva, perlahan ia mulai belajar bangkit dan menata kehidupannya kearah yang lebih sejak kepergian Ibunya. Tepat tiga puluh hari semenjak kepergian Ibunya, ia kembali di hubungi keluarganya untuk pulang karena ada urusan keluarga yang mendesak, pengacara yang di tunjuk Ibunya datang untuk membacakan wasiat almarhum Ibunya.
" Ada apa tho Mbak?, waduh saya agak sungkan kalau bolak balik cuti pkerjaan kantor jadi terbengkalai." Ujar Tyo setengah mengeluh.
" Kamu itu loh.. kan bisa di kerjakan secara remote , ingat kata kamu sekarang jaman digital malah ada wacana mau penerapan teknologi AI piye tho?, lagian kalau tidak penting ya ndak mungkin nyuruh kamu pulang." Sahut Kakaknya menceramahinya panjang lebar.
" Hhhahhahaha .....Mbak ini loh suka mengingat ingat yang sudah sudah ya sudah maaf , aku cuma tidak enak sama orang kantor aku usahakan pulang secepatnya."Pungkas Tyo sambil terkekeh karena kakaknya menyindirnya secara halus.
Meski merasa segan Tyo memberanikan diri mengajukan cuti kembali
" Ok lah berhubung cuti tahunanmu pun belum diambil approved lah, emang kenapa sih bolak balik ke semarang melulu?." Tanya Rhea.
" Urusan keluarga Rhe, jadi kamu fikir ngapain? jalan jalan?!," dengus Tyo sinis.
" Issh kok Sensi Pak? hahahha, ok lah save flight." Timpal Rhea sambil tertawa kecil .
" Thank"s ,Rhe."
" Sebelumnya perkenalkan saya Andrianus Palar Sh.Mh dari kantor hukum***** yang di tunjuk oleh Almarhum Ibu Sri Rahadjeng istri dari Almarhum Bapak Siswo Hudoyo." Ucap pengacara kharismatik itu memperkenalkan diri. Ia dan semua saudaranya menganggukan kepala sebagai bentuk penghormatan.
" Baik tidak perlu berlama lama saya akan membacakan surat wasiat terkait masalah pembagian harta warisan yang di tinggalkan oleh almarhum orang tua kalian."
Pengacara itu dengan teliti membacakan satu persatu harta bergerak,dan tidak bergerak peninggalan orang tua mereka, yang nantinya akan di bagi rata untuk keempat anaknya.
" Demikian ... keputusan ini punya kekuatan hukum dan tidak bisa di ganggu gugat dengan alasan apapun." Tegas pengacara yang di percaya oleh almarhum Ibunya. Semua diminta untuk tanda tangan diatas materai agar kedepannya tidak terjadi saling tuntut terhadap keputusan itu.
" Semua sudah jelas ya, ada pertanyaan?." Tanya Pengacara keluarganya.
" Tidak semua sudah jelas dan kami semua setuju ." Jawab mereka serempak.
" Baik jika begitu.... tapi saya ingin berbicara dengan saudara Tyo pranowo secara empat mata, ini tidak ada kaitanya dengan harta warisan ini sifatnya confidential , sesuai amanat dari Almarhumah Ibu Sri Rahadjeng."
" Begini Almarhumah Ibu Sri Rahadjeng menitipkan berkas ini pada saya dan hanya Saudara yang boleh tahu."Ucap pengacara itu seraya meraih sebuah map usang dari dalam tasnya.
" Ini silahkan... karena semua sudah clear jadi tugas saya sudah selesai, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit pengacara keluarganya seraya bangkit dari posisinya.
Setelah mengantarkan pengacara keluargnya sampai di depan gerbang Tyo segera masuk dan membawa map usang kedalam kamarnya. Di dorong rasa penasaran ia membuka map usang itu dengan hati di penuhi tanda tanya.
Matanya membelalak dengan sempurna seolah olah bola matanya akan keluar dari tempatnya, saat ia melihat sebuah kertas usang yang berwarna kekuningan dengan bercak bercak kecoklatan karena dimakan usia.Disana tertera namanya lengkap dengan tanggal lahir tapi, ada yang janggal dalam penglihatannya nama Ayah dan Ibunya bukan lah Sri Rahadjeng dan Siswo Hudoyo!
Tyo mengucek ucek matanya berkali kali berharap penglihatannya salah, namun nyatanya tulisan di atas kertas usang itu tidak lah berubah tetap sama. Tyo menemukan amplop surat lainnya kali ini ia sangat mengenali tulisan tangan tegak bersambung itu.
Itu adalah tulisan tangan wanita ,yang ia panggil dengan sebutan Ibu selama ini.
" Le.. Ibu harap setelah membaca suarat ini kamu mau memaafkan Ibu dan Bapak, bukan maksud bapak dan ibu menyembunyikan kebenaran ini dari kamu, Tapi ini permintaan dari ibu kandung mu sendiri agar merahasiakan jati dirimu yang sebenarnya. Tapi seiring berjalannya waktu Ibu dan Bapak berfikir ini tidak benar, walau bagaimanapun kamu harus tahu siapa orang tua kandung mu. jangan benci mereka yo Le, ada alasan mengapa Ibukandungmu menitipkan kamu pada kami. Kapan pun kamu menerima surat ini cobalah untuk mencari mereka terutama Ibu kandungmu ." Ttd Ibu mu.
Tyo melipat kembali surat yang di tulis tangan oleh ibunya berusaha menyangkal dan berharap semua ini hanya sebuah mimpi.
" Jja- jaddi aku hanya anak angkat?," Gumam Tyo terbata bata.
" Tidd-tidak mungkin... aku hanya bermimpi ini tidak nyata, ini hanyalah halusinasi."Sangkalnya berkali kali sambil menepuk nepuk pipinya.
Malamnya Tyo mengumpulkan semua saudaranya di ruang tengah, ketiga saudaranya saling berpandangan tidak mengerti mengapa Tyo meminta mereka untuk berkumpul.Setelah terdiam cukup lama akhirnya Tyo membuka suara.
Mas Ndaru, Mas Haryo, Mbak Tyas maaf sebelumnya karena meminta kalian untuk berkumpul, Begini ini terkait masalah harta warisan peninggalan Almarhum Bapak dan Ibu." Ucap Tyo.
" Ada apa ini Tyo? kan pengacara yang di tunjuk oleh Almarhum bapak dan Ibu sudah menjelaskan semua secara gamblang?." Sela Mas Haryo kakak lelaki nomor dua.
" Betul... Mas, Mbak .... saya ingin mengembalikan bagian saya pada kalian, kalian lebih berhak di banding saya." Ucap Tyo sambil menunduk.
"Kowe iki ndagel ,po piye? ...semua sudah dapat bagian masing masing, dan tidak boleh saling menggangu bagian satu dengan yang lainnya." Sahut Mas Handaru yang di sambut anggukan oleh lainnya.
" Inn-ini ...karena surat ini saya merasa tidak pantas, mendapat bagian dari harta peninggalan Bapak dan Ibu." Ujar Tyo sambil menyodorkan surat keterangan lahirnya beberapa puluh tahun silam, dan surat yang di tulis tangan oleh Almarhum Ibu mereka.
Mbak Tyas yang pertama kali membaca surat yang di sodorkan oleh Tyo, raut wajah Tyas tidak bisa berbohong, jika dia pun shock dengan kenyataan itu, Tyas segera mengoper surat itu pada kedua kakak lelakinya. beberapa saat ketiganya terdiam dan memandang iba pada Tyo.
" Apa kalian tahu fakta ini?... fakta bahwa saya hanyalah seorang anak angkat yang dibuang oleh orang tua kandungnya?." Tanya Tyo sambil memandangi ketiga saudara satu persatu mencoba mencari kejujuran di mata mereka.
Namun ketiganya menggelengkan kepalanya dan dari sorot mata mereka tidak di temukan kebohongan.
" Tapi bagaimana mungkin?... terutama Mas Handaru dan Mas Haryo bisa tidak tahu? jarak usia kita berbeda jauh saat saya di bawa ketengah tengah kalian apakah kalian tidak curiga darimana saya berasal?." Selidik Tyo dengan rasa setengah tidak percaya atas ketidaktahuan mereka tentang asal usulnya.
" Tyo kami berdua sekolah di sekolah yang berasrama jarang pulang kerumah, sedangkan Tyas juga masih kecil kan selisih usia kalian cuma 5 tahun , anak 5 tahun tahu apa?,lagi pula kamu kan merasakan bagaimana Bapak dan Ibu mendidik kita anak anak dilarang keras untuk tahu urusan orang tua." Mas Handaru menjelaskan alasan mengapa mereka mengatakan tidak tahu.
" Tyoo.. seperti halnya kamu kami pun shock dengan semua ini, kami baru tahu kebenarannya hari ini tapi apapun itu tidak akan ada yang berubah."'
"Kami adalah Mas dan Mbak mu , dan kamu tetaplah adik bungsu kami." Ujar kali ini Mas Haryo kakak lelaki nomor duanya yang bicara mewakili yang lain.
"Masalah warisan yang kamu terima itu sudah jadi hak kamu, kami tidak berhak ikut campur jangan buat Almarhum kedua orang tua kita bersedih dialam sana karena hal ini, sudahlah simpan yang menjadi bagian mu." Lanjut Mas Haryo .
" Ya Tyo, simpan baik baik bagianmu, itu keputusan Almarhum Bapak dan Ibu untuk memberikan bagian untukmu, carilah orang tua kandung mu selagi masih ada kesempatan." Timpal Mbak Tyas dengan suara parau.Entah siapa yang memulai ke empat kakak beradik itu telah berpelukan dan menangis , suasana ruang tamu menjadi penuh haru.