
Beberapa saat keempat kakak beradik yang sebenarnya beda orang tua itu, larut dalam suasana haru pemandangan itu menandakan bahwa orang tua mereka berhasil mendidik mereka, untuk saling mengasihi sesama saudara.
" Wes wes... opo tho iki ?kok tangis tangisan ." Celetuk Mas Handaru mencoba mencairkan suasana namun matanya terlihat sembab.
" Hahahahhaha.... jadi inget jaman dulu kalau satu dimarahin , semua ikutan sedih yo Mas?." Celetuk Mbak Tyas yang di sambut gelak tawa ketiganya
"Sekarang kedua orang tua kita sudah tidak ada , hubungan persaudaraan kita harus semakin di pererat, kamu Tyo walaupun kamu sudah tahu cerita yang sebenarnya jangan berubah yo?, kita tetaplah saudara jangan sungkan atau merasa yang gimana gimana gitu." Tegas Mas Handararu menasehati Tyo seraya menepuk nepuk bahu adik bungsunya.
" Nggih Mas..." Sahut Tyo lirih.
Tyo bersyukur 34 tahun silam orang tua kandungnya menyerahkan nya pada keluarga yang berhati bak malaikat, demikian juga ketiga saudara nya yang meskipun sudah tahu asal usulnya perlakuan mereka tidak berubah sedikitpun.
Semalaman Tyo tidak kuasa memejamkan mata barang sedetikpun, fikirannya sangat kacau ia sempat di hinggapi rasa marah benci pada orang tua kandungnya yang telah menitipkannya pada keluarganya saat ini, namun ia teringat pada pesan Almarhumah Ibunya bahwa ia tidak boleh membenci orang tua kandungnya.
Berbekal nama seseorang yang di sebut Ibunya ,ia bermaksud untuk melakukan penelusuran jejak orang tua kandungnya melalui pria ini. Tidak lama ia telah sampai di pemukiman padat penduduk, ia bertanya pada penduduk setempat tentang nama yang ia sebut.
" Oouhh Mbah Djito?... Masnya masuk ke gang yang satu lagi ,nanti rumahnya cat warna kuning paling ujung." Tunjuk seorang Ibu paruh baya.
" Terima kasih bu ,nderek langkung ." Ucap Tyo sambil beranjak dari hadapan si Ibu tadi.
" Sama sama Mas, nggih monggo." Sahut si Ibu dengan santun.
Sesuai petunjuk yang di berikan oleh Ibu yang ia temui tadi, ia mengetuk pintu rumah bercat kuning itu.
" Kulo nuwun... ." Ucap Tyo dalam bahasa jawa yang halus, tidak lama seorang anak gadis menyambutnya dan menanyakan mencari siapa.
'"Maaf Mbak , apa benar ini rumah Mbah Djito?."Tanya Tyo dengan santun.
" Iya betul... Masnya siapa?, dan ada keperluan apa dengan kakek saya?." Tanya gadis itu sambil memandanginya, dari atas kepala hingga ujung kaki yang membuat Tyo sedikit risih.
"Ouuh mari, silahkan masuk." Ujarnya setelahTyo menjelaskan siapa dirinya,dan apa tujuannya menemui kakek gadis itu.Gadis itu berbicara pada kakeknya dan menjelaskan ada yang ingin bertemu dengannya.
" Sopo seng golek'i Simbah?.Tanya lelaki tua itu sambil menghisap cerutunya.
" Kulo Mbah." Sahut Tyo sambil menyalami lelaki renta itu.
Sekitar tiga puluh menit Tyo berbicara, dengan lelaki renta yang di panggil Mbah Djito itu.
" Ouuh kowe anake Endang? ,seng di pek karo Pak Siswo yo le?." Tanya Mbah Djito memandanginya sambil tersenyum.
Tyo hanya menggangguk ada nyeri di dadanya saat mendengar perkataan lelaki tua itu, tapi ia tidak bisa menyangkal karena itu adalah sebuah fakta yang tidak bisa di sanggah .
" Gagah lan bagus rupamu , kamu mau cari Ibumu? sebentar ya Simbah masih menyimpan alamatnya ,kalau ndak salah dia sudah menikah lagi dengan seorang Priyayi asal solo yang ngajar anu .. opo yo jenenge?." Ucapnya sambil bangkit dari kursinya dan menggaruk garuk kepalanya.
" Endang dulu Kost disini, Simbahlah yang mengenalkannya pada Bu Siswo le, lah nek Bapak kandung mu Simbah gak begitu jelas, karena Endang dulu kost disini sendirian waktu masih mengandung kamu 6 atau 7 bulan gitu ."Ujar Mbah Djito menjelaskan ,sambil tangannya sibuk mencari cari sesuatu di dalam kotak kecil.
" Nduk.. sekolah seng koyo Mas mu, opo jenenge yo ?."Tanya Mbah Djito pada cucunya yang di panggil dengan sebutan Nduk.
" Universitas Mbaah." Sahut gadis yang tadi menemuinya.
" Yo kuwi mau sitas."Ucapnya sambil tersenyum .
" Universitas Mbah, sanes sitas."Gadis itu meralat ucapan kakeknya.
" Lah , wes mboh." Tukas kakeknya sambil mengibaskan telapak tangannya.
Setelah mendapatkan alamat dari Mbah Djito, ia pamit pulang dan menyimpan kertas yang berisi alamat itu di dompetnya. Ditengah perjalanan ia mendapat telefon dari kantor yang memintanya untuk segera kembali kejakarta.
Karena kesibukannya di kantor , ia nyaris lupa dengan keinginannya untuk mencari keberadaan orang tua kandungnya. Ia masih merahasiakan perihal statusnya yang hanya anak angkat di keluarga Siswo Hudoyo dari Eva, ia mencari waktu yang tepat untuk memberi tahukan semua itu pada Eva nantinya.
Waktu dimana ia sudah siap lahir bathin dengan reaksi yang akan di terimanya, saat Eva mengetahu tentang jati dirinya . Namun meskipun begitu ia secara implisit menyinggung tentang statusnya ,saat sedang berbicara santai dengan Eva ia ingin tahu apa pendapat Eva jika wanita itu mendapati kenyataan seperti itu.
"Sayang.. Mas ingin tahu apa reaksi kamu ,kalau kamu di hadapkan pada satu situasi yang tidak kamu sangka sangka." Ujarnya.
" Maksudnya gimana Mas?, kok bingung saya. Ucap Eva.
" Maksudnya gini... ini hanya contoh kamu selama ini berhubungan dengan anak konglomerat , tapi di kemudian hari kamu tahu kalau kekasihmu itu ternyata hanya anak angkat dari keluarga konglomerat itu, reaksimu bagaimana? apa akan tetap bertahan atau berpaling ." Jelas Tyo .
" Oouhh... kalau saya biasa saja dan akan tetap bertahan ,karena saya mencintai bukan karena statusnya sebagai anak konlomerat, memangnya kenapa Mas?." Selidik Eva.
" Tidak ada, biasanya kan seperti di sinetron sinetron si cewek akan langsung berpaling."Kilah Tyo.
" Isssh....ternyata Mas suka nonton sinetron ya?, hayooo.ketahuan. " Ledek Eva.
" Hhahahaa....beberapa kali itu pun pas temani Almarhum Ibu , mau tidak mau kan Mas terpaksa nonton masa Mas lihat ke plafon?." Sahut Tyo membela diri.
" Hahhaha nonton juga tidak apa apa kok Mas ,terus Ibunya Mas pasti ikutan kesel kalau si protagonis di bully." Tebak Eva tentang kebiasaan wanita seumuran Almarhum calon mertuanya itu.
" Hhahhaah, kok tahu?."
" Podo Ibuku soale, hahahhahaa." Jawab Eva sambil terkekeh.
Diam diam Tyo merasa lega dengan jawaban Eva ,saat ia bertanya tentang reaksinya jika menghadapi situasi seperti itu meskipun masih terbersit sedikit rasa khawatir di hatinya. Waktu berlalu begitu cepat tidak terasa sudah tiga bulan ia menyimpan alamat yang di berikan oleh Mbah Djito.
Iseng iseng ia membuka dompetnya dan membuka secarik kertas yang ia simpan disana.Matanya terbelalak sempurna saat membaca alamat yang di berikan oleh Mbah Djito. Bagaimana tidak? alamat yang tertera di secarik kertas dalam genggamannya itu terasa tidak asing baginya.
" Buk- bukkankah ini alamat yang di berikan Harsha?." Gumamnya lirih, tangannya spontan menscrol riwayat chatnya dengan Harsha beberapa bulan yang silam untuk mencocokkan alamat yang tertera di kertas dengan alamat yang ada di chatnya dengan Harsha.
Deghhh!
Jantungnya berdegup kencang saat mendapati, adanya kesamaan alamat yang ia dapat dari orang yang berbeda. Tyo memijit mijit pelipisnya yang mendadak berdenyut, dengan kejadian yang tidak disangka sangka ini.
" Astagfirullah hal adzim apalagi ini ya Allah?, mengapa cobaan ini tidak henti hentinya Engkau timpakan pada hamba?." Ratapnya, ia mengusap wajahnya dengan gusar ,ia sudah tidak bisa lagi mencerna dengan jernih semua rentetan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.
Tyo kembali memeriksa alamat baik yang ada histori chat dengan Harsha, maupun yang tertulis di secarik kertas yang ia dapat dari Mbah Djito, ia berharap setidaknya terdapat perbedaan nomor rumah di sana. Namun faktanya tidak ada sama sekali perbedaan disana baik blok,maupun nomor rumah.
" Itu berarti?... akk- aku dan dia bersaudara?\, jadi aku ber**** dengan adik kandungku\, insest?!. ti... tidak ini gila benar benar gilaaa." Pekiknya histeris. Tidak lama ia merasakan rasa mual yang amat sangat yang mendesak di ulu hatinya saat terbayang bagaimana dulu dengan liarnya mereka pernah berpacu dalam hasrat terlarang .
Hueeek... hueeeek ...hueeeek!.
Tyo berjongkok di depan closet kamar mandinya ,semua isi perutnya meluncur bebas saat ia membayangkan adegan dimana ia berasyik mahsyuk dengan adik kandung nya Dyah!
Usai mengeluarkan nyaris semua isi perutnya ia memandangi wajahnya di cermin depan wastafle, peluh membasahi wajah putihnya, nafasnya naik turun karena ledakan emosi.
"Malang benar nasib mu Tyo?, apa dosa yang pernah di lakukan oleh orang tua mu, sehingga ini semua harus kamu alami?." Ujarnya mentertawakan keadaan dirinya.
" Ini tidak adil Tuhan... sangat tidak adil! kenapa? kenapaa Tuhaaaaan!." Lagi lagi ia memekik dengan histeris, sekuat tenaga ia meninju kaca cermin yang ada di hadapannya untuk meluapkan ledakan emosinya.
Praaaaank!
Terdengar pecahan kaca berhamburan di lantai kamar mandi, Tyo meraup pecahan kaca cermin dan meremasnya dalam genggamannya.