
Tyo tersenyum menyeringai melihat darah yang perlahan merembes dari sela sela jarinya.
"Kenapa semua ini harus terjadi Tuhan?!, kenapa harus aku yang mengalaminya? kenapaaa!!." Pekiknya dengan suara lantang lagi dan lagi ia bersikap denial terhadap kenyataan yang di hadapinya. Perlahan ia menggelosor di lantai kamar mandi tubuhnya terasa lemas lunglai mengingat kenyataan yang tidak disangka sangkanya.
Samar samar ia mendengar ponselnya berdering, dengan susah payah ia berusaha bangkit dari posisinya namun badannya limbung rasa perih dan pusing mendera tubuhnya. Dengan bertumpu pada pinggiran closet akhirnya ia berhasil berdiri dan berjalan kearah tempat tidur dimana ponselnya tergeletak diatasnya.
Dilayar ponselnya tertera nama kakak perempuannya yang melakukan panggilan, dengan menahan perih yang berasal dari luka di telapak tangannya ia bergegas menekan tombol accept pada ponselnya.
"Assalamaualaikum Mbak, gimana kabar Mbak dan keluarga sehat sehat semua kan? ada apa kok tumben ?." Tanya Tyo begitu mereka telah berada dalam panggilan.
" Alhamdullilah Yo kamu sendiri gimana keaadaannya? , ndak mbak cuma mau bertanya sudah ada titik terang tentang keberadaan orang tua kandung mu?."Ujar Kakanya.
" Alhamdulillah baik juga Mbak ....belum Mbak kemarin itu keburu di suruh pulang kejakarta oleh atasan, rencananya dalam waktu dekat akan cari lagi mbak." Timpal Tyo seraya mengatakan alasan mengapa belum ada titik terang keberadaan orang tua kandungnya.
" Semangat! ....oh ya seandainya kamu bertemu dengan orang tua kandung mu?, apa kamu masih menganggap kami sebagai Mbak dan Mas mu?." Tanya Kakak perempuannya , tersirat rasa khawatir untuk di tinggalkan dalam nada suara kakaknya.
Belum sempat Tyo menjawab , ia merintih karena luka yang terpapar udara menimbulkan rasa pedih dan ngilu.
" Aaarrrrghhhh, awwww!.".Rintih Tyo dan tidak sadar sedang berada dalam panggilan dengan kakaknya.
" Kamu dimana Tyo?! ....suara apa itu tadi?!," tanya kakaknya dengan nada menyelidik.
" Dirumah mbak mbak, ini loh tangan ku tadi terkena beling ." Ucap Tyo berusaha menjelaskan dan menepis kecurigaan kakaknya .
" Telfon balik dan video call, awas kamu berani macam macam lagi!." Ancam kakaknya.
" Astaghfirullah ....jangan negative thinking dulu dong Mbak!." Dengus Tyo sedikit kesal
" Ra sah kakean omong, ndang telfon balik ojo lali video call."Tukas kakaknya seraya mengakhiri panggilannya.
Tyo Menghembuskan nafas dengan kasar, tapi tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauan kakaknya.
" Naah percaya kan Mbak sekarang?, negative thinking aja Mbak itu." Ujar Tyo.
" Heh! semua itu demi kebaikan kamu, sekarang Mbak akan lebih ketat sama kamu, jangan buat Mbak kecewa untuk kedua kali mengerti kamu?!". tegas kakaknya.
" Iya Mbakyuku seng ayu dewe ,tapi crigis hhahaha." Sahut Tyo sambil cekikikan
"Mbelgedhes!... jadi gimana jawaban kamu atas pertanyaan Mbak tadi?." Ujar kakakanya mengulang pertanyaan sebelumnya.
" Mbak kalian adalah keluarga ku, tidak mungkin aku melupakan dan meninggalkan kalian sekalipun nantinya aku bertemu orang tua kandungku, aku hanya ingin menjalankan amanat Almarhumah Ibu." Jelas Tyo panjang lebar.
" Alhamdullilah Tyo kalau begitu, ingat pesan Almarhum orang tua kita jangan pernah membenci mereka." Kakaknya kembali mengingatkan Tyo.
" Iya Mbak."
Usai mengakhiri percakapannya dengan kakak perempuannya rasa perih di telapak tangannya kian kian menjadi jadi Tyo segera mencari keberadaan kotak p3k dan bergegas membersihkan lukanya.Namun Apes luka nya cukup dalam sehingga masih terbebat perban saat ia menemui Eva beberapa hari kemudian.
" Tangannya itu ,kenapa Mas?." Tanya Eva dengan nada khawatir saat melihat tangan Tyo terbebat perban.
" Accident kecil sayang, Luka kena serpihan kaca saja kok." Sahut Tyo berbohong .
" Kok bisa terkena pecahan kaca?, coba lihat." Ujar Eva sambil menarik tangan Tyo dan memeriksanya dengan teliti.
Eva hanya diam dan menatap kearahnya setelah memeriksa luka di tangan Tyo,namun Tyo dapat merasakan dari sorot mata Eva jika kekasihnya itu tidak percaya dengan alasan yang ia berikan, akhirnya Tyo berterus terang mengenai penyebab luka di tangannya.
Alih alih mendapat simpati, malah ia justeru mendapat cibiran sisnis dari Eva.
" Kenapa tidak menerobos kereta api yang sedang melintas atau terjun dari gedung lantai 50 gitu misalnya?, pasti endingnya lebih dramatik!." Ujar Eva dengan nada datar namun ada jelas tersirat kemarahan di dalamnya.
" Ya Allah sayang.... sama aja kamu nyuruh Mas bunuh diri kalau begitu ceritanya,memangnya kamu sudah tidak sayang lagi sama Mas hmm?." Ujar Tyo menggoda Eva.
" Lagian Mas sih..., kalau sempat Mas kehabisan darah saat itu terus sesuatu yang tidak diinginkan terjadi gimana?, siapa yang paling sakit Mas?! Mikir!." Ujar Eva dengan suara parau dan mata mulai berkaca kaca Tyo menjadi terharu, ia merengkuh Eva dalam pelukannya ia dapat merasakan tulusnya hati Eva dalam mencintainya.
" Maaf sayang , saat itu Mas benar benar kalut , Mas tidak habis fikir kenapa semua ini terjadi pada diri Mas." Ujar Tyo mengemukakan alasan di balik aksi nekadnya.
" Mas kita ini sudah bertunangan, sebentar lagi menikah sudah seharusnya kita kita saling lebih terbuka dan mensupport satu dengan yang lainnya."
" Permasalahan Mas terlalu complicated sayang, Mas Tidak tahu dari amna harus mulai , seandainya kamu ada dalam posisi Mas Mas yakin kamu pun akan melakukan hal yang sama."Kilah Tyo sambil menghisap asap rokoknya dalam dalam sementara padangannya menerawang jauh.
" Ya sudah jika Mas belum siap untuk bercerita saat ini ya tidak apa apa, kapan pun Mas mau bercerita saya siap mendengarkan, jangan lakukan hal yang bodoh lagi janji ya?."Ujar Eva sambil menggegam tangan Tyo.
" Iya Mas janji sayang karena Mas pun tidak mau berpisah dengan kamu sebelum kita menua bersama."Timpal
Tyo seraya kembali mengecup kening Eva, ia sangat bersyukur di pertemukan dengan bidadari tak bersayap yang ada di hadapannya.
Sementara itu keinginanya untuk secepatnya bisa menemukan keberadaan orang kandungnya semakin menggebu, secepatnya ia ingin menyingkap tabir misteri yang menyelimuti kehidupannya. Ia sudah kembali berada di kota kelahirannya.
" Rep Nangdi yo?." Seru kakaknya dari arah teras saat dirinya tengah memanaskan mesin mobilnya.
" Rep nang ngaliyan , mau ikut Mbak?." Sahut Tyo
" Sip, tak berangkat dulu ya Mbak." Ujarnya berpamitan pada kakak perempuannya yang tengah asyik menyirami koleksi tanaman hias peninggalan mendiang Ibu mereka.
Tidak membutuhkan waktu lama ia sudah memasuki kompleks yang cukup elit di daerah ngaliyan, tidak sulit untuk menemukan rumah sesuai alamat yang di berikan Harsha dan Mbah Djito, karena letaknya yang strategis, Tyo menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang konon merupakan kediaman Ibu kandungnya namun rumah dalam keadaan sepi dan pagarnya di gembok.
Cukup lama ia terkagum memandangi arsitekture rumah yang ada di hadapannya, jika Ibu kandungnya tinggal di rumah semewah ini lalu mengapa ia di titipkan pada keluarga Siswo Hudoyo? pikirnya, namun ia segera teringat akan ucapan Mbah Djito bahwa alamat yang di berikan padanya adalah rumah setelah Ibunya menikah dengan suami keduanya yang di sebut Mbah Djito dengan sebutan Priyayi solo.
Ia memutuskan untuk bertanya pada tetangga sebelah rumah Ibu kandungnya namun berkali kali ia mengucapkan salam tidak ada yang menyahut.
" Maaf cari siapa ya?." Sebuah suara menyapanya dari arah belakang, Sontak Tyo menoleh kearah asal suara yang ternyata ada si empunya yang punya rumah.
" Errrg..an- annu....mau tanya rumah sebelah penghuninya rumah masih tinggal di kompleks ini, atau sudah pindah ya? kok rumahnya terlihat sepi?." Tanya Tyo .
" Ouuh Bu Endang? .... waduh kurang tahu saya Mas, orang nya jarang bergaul, Masnya coba tanyakan ke Pak rt saja barang kali beliau tahu kemana pindahnya." Ujarnya seraya menunjukan letak rumah Pak rt.
" Terimakasih Pak maaf merepotkan, saya pergi dulu mari ." Ujar Tyo sambil sedikit membungkukan badannya
" Ooouh... ndak apa apa Mas silahkan ."Sahutnya dengan santun.
Tanpa membuang waktu Tyo segera mengarahkan mobilnya menuju rumah pak rt, dan mendapat sambutan yang hangat dari si empunya rumah.
" Bu Endang itu orangnya baik ... sangat baik malah meskipun ya jarang bergaul\, hanya saja warga disini itu kurang sreg dengan suaminya yang arogan kalau ndak salah rektor di u**** dan anak perempuannya itu kelakuannya." Terang Pak rt sambil mengusap dada dan menggeleng gelengkan kepala.
Saat mereka sedang asyik mengobrol Istri Pak rt datang bergabung dengan mereka sambil membawa teh yang masih mengepul dan camilan.
" Bapak itu loh, mboten pareng bergosip." Celetuk Istrinya Pak Rt sambil mencolek lengan suaminya.
" Loh kan fakta tho Bu?, gosip itu kalau ndak benar." Sanggah Pak rt.
" Silahkan diminum Mas , mumpung masih hangat." Ujar Bu rt sambil tersenyum tulus.
" Maaf kalau boleh saya tahu ada keperluan apa ya Mas mencari keluarga Bu Endang?."Tanya Istri Pak rt dengan santun.Tyo terpaksa mengarang cerita alasan dia menemui keluarga Ibu kandungnya.
" Oouh , coba sebentar saya tanya ke grup barang kali ada yang tahu kemana beliau pindah, atau mau nomor handphonenya saja?." Ucap Bu rt menawarkan solusi yang di tunggu tunggu Tyo.
"Wah kebetulan sekali Bu," ucap Tyo antusias.
Setelah mendapatkan nomor handphone Ibu kandungnya Ia kembali berbincang sesaat dengan pasangan suami Istri yang sangat ramah tersebut. Sejurus kemudian Tyo pun pamit undur diri .
" Terima kasih Pak, Bu saya pamit dulu." Ujar Tyo sambil mneyalami keduanya.
" Cah bagus tinggalkan nomor handphonenya , buat seduluran." Ucap Pak rt.
" Ouuh.... inggih sebentar." Tyo merogoh saku celananya dan megeluarkan kartu nama dari dlaam dompetnya.
" Monggo, ini kartu nama saya." Ucap Tyo menyodorkan kartu nama miliknya.
Perlahan ia mengarahkan mobilnya meninggalkan kompleks dimana kediaman Ibunya berada, di tengah perjalananan ia iseng iseng menhubungi nomor yang di berikan oleh Bu rt, ternyata masih aktif dan langsung di terima oleh si empunya.
" Hallo maaf ini siapa ya?." Sapa Ibunya dari ujung telefon, bibir Tyo bergetar ia tidak kuasa menyahut perasaannya campur aduk antara rasa terharu , bahagia dan kecewa berbaur menjadi satu, bahagia akhirnya ia bisa menden
gar suara Ibu kandungnya setelah 34 tahun lamanya tidak pernah tahu apalagi bertemu.
" Hallo, kok diam saja? kalau begitu maaf saya matikan ya? terimakasih." Lanjut Ibunya seraya memutus panggilaan diantara keduanya.
" Ini Tyo Bu, Tyo anak lelaki yang Ibu titipkan pada keluarga Siswo hudoyo 34 tahun yang lalu, apakah ibu masih ingat dengan aku Bu?." Ucap Tyo Lirih.
Tyo teringat dengan janjinya beberapa waktu yang silam pada sahabta karibnya semasa kuliah dulu Herlambang, akhirnya ia menghubungi dan mengajak untuk reunian.
" Hallo, Her aku sudah di semarang nih, ketemuan yuk."Ujar Tyo.
" Serius? ayoklah aku hubungi yang lain juga ya." Sahut Herlambang girang.
" Yo udah ketemu di tempat biasa yow, tempat kita nongkrong dulu."
" Siaaap!."
Tidak lama semua teman smeasa kuliahnya dulu telah berkumpul bnayak cerita yang mengalir dari mereka mengenang masa masa indah sekaligus masa kebebasan mereka saat itu yang masih menjadi mahasiswa,Tyo tertawa lepas beban di fikirannya sedikit berkurang mendengar cerita lucu dari kawan kawannya.
" Ngomong ngomong anakmu piro Yo?." Celetuk Herlambang
" Istri aja belum ada, kok di tanya anak! , tapi Insha Allah otw menuju halal nanti datang semua ya."Ujar Tyo.
" Alhamdullilah kalau begitu, calonnya orang mana?dan rencananya diamna nih pestanya?."
" Orang jogj,rencana di tempat mempelai wanita pestanya, kalau kamu Her , piro anakmu?." Tyo balas bertanya
" Dua tapi otw tiga dua bulan lagi mudah mudahan di paringi waras selamet ."
" Aamiin ya Allah." Sahut kawan kawannya kompak.