
Sejujurnya Tyo mengakui jika hubungannya dengan Eva adalah sebuah hubungan yang menarik, tidak monoton Eva adalah tipikal wanita yang berwawasan luas ,soleha, keibuan dan yang bisa menjaga marwahnya sebagaiseorang wanita , bisa mengimbangi Tyo yang cenderung emosional.
Namun tidak bisa di pungkiri jika Dyah menawarkan sensasi yang berbeda, meski tidak secerdas Eva namun Dyah juga bukan wanita yang tidak berwawasan, ia tipe yang blak blakan dan bersama Dyah ia bisa menyalurkan hasrat kelelakiannya, yang tidak bisa ia dapatkan dari Eva.
Kedua wanita itu memiliki dua sisi yang berbeda, namun keduanya saling bersinergy apa yang tidak bisa Tyo dapatkan dari Eva bisa ia dapatkan pada diri Dyah , begitupun sebaliknya apa yang tidak ia temui pada diri Dyah ia temukan pada diri Eva.
Tyo menikmati peran yang sedang ia mainkan membagi cinta dengan dua wanita yang berbeda, ia sadar bahwa apa yang ia lakukan ibarat bomb waktu yang suatu saat bisa meledak namun dia tidak mau ambil pusing. baginya kini adalah hidupnya terasa lebih menantang.
Tyo menyandingkan foto kedua wanita itu berdampingan, dari segi penampilan Eva jelas kalah dari Dyah yang penampilannya cantik sexy, dan cenderung glamour , Eva terlihat sedehana namun tetap berkelas. Tapi lelaki yang waras yang mementingkan ahlak di banding penampilan fisik tentunya akan memilih Eva sebagai pendamping hidup.
Sementara itu perubahan sikapnya membuat Eva mulai mencurigai gerak geriknya , sebagai wanita apalagi pernah berkeluarga insting Eva lebih terasah, ia melihat gelagat mencurigakan dari Tyo yang tidak seperti biasanya . Tyo terlihat gelisah setelah menerima panggilan telefon, saat bersamanya.
"Telefon dari siapa Mas, Mas kok terlihat gelisah?," Ucap Eva.
" Biasa teman ....minta bantuan ,hehehehe." Tyo berusaha berkelit dari pertanyaan Eva.
" Teman? teman minta bantuan kok Mas terlihat gelisah?," selidik Eva, karena ia melihat ada hal yang janggal mulut Tyo mengatakan teman tapi raut wajahnya berkata lain.
" Serius ini teman, bukan yang lain." Sahut Tyo sedikit salah tingkah
Eva tampak mengerutkan kening saat mendengar jawaban Tyo, kecurigaannya bertambah bahwa memang benar ada sesuatu yang tidak biasa.
"Saya tidak mengatakan apapun loh Mas, Kok Mas berkata seperti itu atau jangan jangan?." Tukas Eva sambil ,memicingkangkan matanya.
Tiba tiba Tyo mendadadak tersulut emosi saat mendengar ucapan Eva ,ia merasa tidak suka ekspresi wajahnya berubah menjadi masam.
" Jangan jangan apa? jangan asal menduga duga, bikin bad mood tahu tidak." Dengus Tyo kesal.
Eva menelan ludah melihat reaksi Tyo atas ucapannya, ia memilih diam karena tidak ingin membuat suasana semakin menjadi keruh.
" Ya sudah ,saya minta maaf," Ucap Eva. Tyo tidak menyahut ekspresi wajahnya masih terlihat masam,tidak lama bangkit dari kursi dan berpamitan pulang.
" Mas pulang dulu, kamu hati hati di rumah."
" Kenapa Mas? masih kesal dengan ucapan saya barusan?," Tanya Eva dengan bingung ,melihat Tyo mendadak berpamitan pulang.
" Mas ada urusan..ya sudah Mas pergi dulu ,Assalamualaikum." Ucap Tyo sambil beranjak keluar dari apartemen Eva tanpa menghiraukan Eva yang tampak kebingungan.
"Waalaikum salam, hati hati."
Tyo tidak segera menyalakan mesin mobilnya ia terdiam beberapa saat, fikirannya kacau diam diam ia menyesali keputusaannya yang nekad bermain api, saat ia tengah termenung Dyah menghubunginya.
" Dimana honey, kangen niiiih." Ucap Dyah dengan suara yang menggoda.
" Eeeh baby ,lagi di jalan barusan dari rumah teman." Sahut Tyo berbohong.
" Teman tau teman nih?," goda Dyah.
" Temaaan baby, masa gak percaya sih hmm?." Tukas Tyo.
Seperti yang sudah sudah saat mereka bertemu, sudah bisa di pastikan kedua insan berlainan jenis itu melampiaskan rasa kangen mereka ,dengan berasik mahsyuk menyalurkan hasrat terlarang.
" Honey, kamu luaaar biasaa." Puji Dyah sambil memandang wajah tampan Tyo, usia pertempuran sengit yang terlarang .
" Kamu juga baby, kuda sumbawa pun kalah lincah nya sama kamu." Sahut Tyo sambil becanda.
" Ihhhs jahaat.... masa aku secantik ini di samakan dengan kuda." Dyah memasang wajah cemberut sambil asyik memilin milin rambutnya.
" Hahhaha hahah, oouhh baby jangan merajuk dong, muaaachh." Tyo merengkuh Dyah dalam pelukannya dan mengecup kening wanita itu dengan mesra.
Entah sudah kali keberapa Tyo menikmati body Dyah yang aduhai itu, hal yang tidak bisa ia lakukan pada Eva namun meskipun ia tidak bisa melakukan hal seperti yang ia lakukan bersama Dyah , rasa cinta Tyo pada Eva tidak luntur sedikit pun.
"Honey sabtu kepuncak yuk, dingin dingin enak loh mendaki bukit." Ujar Dyah dengan suara yang menggoda, setelah beberapa minggu tidak bertemu.
"Okay baby... aku pun sudah kangen buat mendaki bukit yang kembar itu, arrrgh sensasinya luaaaar biasaa hahhahaa." Sahut Tyo dengan tidak kalah menjijikannya.
" Iiiiish nakal deh kamu, jadi bikin bulu kuduk ku merinding , ya udah see you." Tutup Dyah mengakhiri percakapan mereka.
Rupanya bukan hanya Eva yang melihat perubahan Tyo, teman temannya pun merasakan hal yang samaTyo tampak lebih bergairah sangat berbeda dengan yang dulu yang cenderung kalem meski terkadang sedikit jahil saat berkumpul.
" Bro vitaminnya mantap ya? gw lihat sekarang loe agak berbeda." Celetuk Hilman suatu hari,saat mereka sedang berkumpul.
" Tentu dong ,kan susu kuda sumbawa terkenal berkhasiat."Sahut Tyo sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Maksud loe?."Tanya Hilman penasaran.,Tyo mendekatkan kepalanya kearah telinga Hilman , Hilman tampak se rius menyimak apa yang Tyo bisikan.
" Kadaal buntung!, gila loe ...gilaaa salut ! ." Seru Hilman sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Tyo hanya cengengesan melihat Hilman yang shock setelah mendengar penjelasannya .
" Rejeki tidak boleh di tolak kan?, lagian dia yang mendekat ." Seloroh Tyo.
" Terus Eva gimana?."Timpal Harsha.
" Tetap gw keep dong... dia adalah masa depan gw, thats why gw tidak mau merusak dia kalau yang ini you know lah." Sahut Tyo.
Teman temannya penasaran yang di sebut dengan kuda sumbawa ,mereka mendesak Tyo untuk menunjukan foto Dyah.
" Auranya fishy, big no bukan selera gw." Celetuk Armand sesaat setelah mengamati foto Dyah.
" Agree.. gimana ya cantik sih , tapi di lihat dari sorot matanya she's not a simple person hati hati aja loe ." Ujar Harsha mewanti wanti sahabatnya.
" Loe jangan nakut nakutin gw, dong Sha."
" Gw tidak bermaksud nakut nakutin loe, but seriously loe harus hati hati." Tegas Harsha.
Sudah menjadi kodrat manusia jika akan menghadapi rasa bosan demikian juga dengan Tyo, meskipun bersama Dyah ia mendapatkan kenikmatan dunia, lama kelamaan ia merasa jenuh dan berfikir bahwa semua ini harus segera di akhiri.
" Honey kangeen... " Seperti biasanya Dyah menghubunginya dengan kata kata yang mendayu, namun kali ini Tyo sedkit engan untuk menemui Dyah ia masih ingat dengan pesan Harsha yang mewanti wanti agar ia lebih berhati hati pada Dyah.
" Sorry baby.. kali ini tidak bisa bertemu aku sibuk, pekerjaan kantor menumpuk lain kali ya?." Tolak Tyo.
" Berapa sih kantor mu menggaji kamu?, aku bisa menggaji kamu 2 kali lipat dari gaji yang di tawarkan oleh kantormu." Sahut Dyah dengan sikap arogannya, yang membuat harga diri Tyo merasa di rendahkan.
" Come on baby... tidak semua hal itu bisa di nilai dengan uang, ada banyak faktor yang membuat aku nyaman disini, lagi pula gaji yang aku terima more than enough untuk mencukupi kebutuhan aku ." Sahut Tyo dengan nada tidak suka.
" Pokoknya tidak mau tahu, aku ingin bertemu titik!." Desak Dyah egois.
" Sorry tidak bisa baby, lain kali okay."
Tidak terdengar apapun dari Dyah , Tyo yang penasaran memelirik ponselnya rupanya Dyah telah menutup sambungan telfonnya.
Tyo hanya mengangkat bahunya dan tidak ambil pusing dengan tindakan Dyah ,ia kembali fokus dengan pekerjaan kantornya, tiba tiba bayangan wajah Eva menari nari di benaknya yang membuat ia sulit berkonsentrasi akhir akhir ini mereka sering berselisih faham sejak kedekatannya dengan Dyah.
Tyo meraih ponselnya jemarinya menari nari diatas deretan abjad pada layar ponselnya, namun ia segera menghapusnya kembali , ia lakukan berulang kali hingga akhirnya menyerah karena merasa tidak menemukan rangkaian kata kata yang pas untuk menyapa kekasihnya.
Beberapa saat ia terdiam menimbang nimbang untuk menghubungi Eva, yang entah sudah kali berapa mereka saling mendiamkan, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Eva melalui panggilan telefon.
" Assalamualaikum sayang?, sudah makan siang belum?," Sapa Tyo
" Waalaikum salam ,sudah Mas, " Jawab Eva tetap santun ,meski mereka dalam kondisi tidak baik baik saja.
" Kamu tidak bertanya ,Mas sudah makan belum ? masih marah? ," goda Tyo berusaha mencairkan kekakuan di antara mereka, meskipun masih mau menerima panggilan namun Eva cenderung pasive.
" Mas terlalu dewasa untuk di tanya sudah makan atau belum, jadi saya rasa tidak perlu bagi saya untuk berbasa basi." Sahut Eva terdengar sarkas.
" Astaghfirullah berarti kamu masih marah , tidak boleh loh sayang sesama muslim saling mendiamkan lebih dari tiga hari." Nasehat Tyo dengan lembut
" Sudah ya, saya mau revisi proposal ." Sahut Eva dingin dan menutup telefon. Tyo mengusapkan telapak tangan kearah wajahnya ia merasa frustasi dengan sikap Eva yang sepertinya benar benar marah, ia bangkit dari kursinya dan mengintip Eva dari balik tirai ruangan kerjanya.
Terlihat Eva sedang bersendau gurau dengan Rini , di sisa jam makan siang hatinya merasa lega melihat Eva terlihat ceria dan baik baik saja.
" Maafkan Mas.. ya soleha ku, semua ini akan segera berakhir." Ujarnya dalam hati berjanji untuk mengakhiri petualangannya dengan Dyah.