I Want You To Be Mine

I Want You To Be Mine
Wisuda



"Maaas... ayo dong beri tahu dari mana Mas dapat info itu?." Eva merengek manja sambil memasang  wajah cemberut


" Errh kamu cemberut tambah cantik loh, bikin Mas tambah gemes." Goda Tyo sambil mencolek hidung Eva.


" Maaas.."  Eva masih memaksa Tyo untuk memberi tahu gerangan siapa yang memberi tahu Tyo ,tentang dirinya, sambil mencubit lengan Tyo


"Awwww!  sakit loh sayang,  tenang  yang jelas yang bersangkutan tidak  sedikitpun berkata buruk tentang kamu kok, justru memuji muji kamu." Tyo masih berkelit dan tetap enggan memberi tahu.


" Perempuan atau laki laki?." Tanya Eva.


" Perempuan."


Eva tampak berfikir keras berusaha menebak nebak gerangan siapa orang itu


"Sudahlah sayang, yang jelas orang itu tidak berkata buruk tentang kamu okay, Mas minta maaf  kalau kamu kurang berkenan Mas cari informasi tentang kamu , oh iya lupa yaa foto di dinding itu?." Ujar Tyo


" Jadi Mas lihat foto itu?, saya jadi maluuu ." Sahut Eva sambil menutup mukanya.


" Loh kenapa? harusnya bangga dong." Tukas Tyo.


" Terkesan norak tidak sih Mas, pasang foto di dinding seperti itu?." Tanya Eva.


" Tidak kok... semua orang kan bebas mengekspresikan perasaannya, sah sah saja ." Sahut Tyo.


Kehadiran Eva benar benar mampu memberikan nuansa yang berbeda dalam kehidupan Tyo, hubungan mereka  pun tidak monoton karena Eva mampu mengimbangi Tyo dari beberapa segi , apalagi jika sudah membahas tentang  kebijakan  pemerintah Eva sangat bersemangat.


Hal itu bisa di maklumi karena Eva  semasa kuliah aktif  menjadi salah satu pengurus BEM  di kampusnya dan terkenal sangat vokal.


" Sayang... kamu kan S2 kok  tidak menggunakan gelar kamu saat untuk melamar pekerjaan , malah justru melamar di posisi itu di kantor?." Tanya Tyo  di suatu sore saat mereka tengah berboncengan diatas motor menyusuri jalanan  bandung karena mereka tengah berlibur di kota kembang tersebut.


" Panjang ceritanya...  lagian kan aku melamar posisi itu sebagai  batu sandungan  atau istilah kasarnya hanya cadangan saja Mas selagi menunggu panggilan dari  ******." Sahut Eva.


" Ehhh  ternyata aku tidak lolos seleksi disana, ya sudah lah yang niatnya cuma untuk mengisi waktu ternyata malah keterusan hehehe." Ujarnya lagi.


" Sepertinya karma deh sayang... karena perusahaan kami kan mencari pelamar yang berniat kerja dalam jangka waktu yang lama \,ternyata  niat kamu malah  sekedar  cadangan nahh\,  tidak lolos seleksi  di ***** kan hahaha." Ledek Tyo.


" Hhahahah iya juga sih."


" Sayang boleh Mas bertanya sesuatu?."


" Boleh.."


" Kalau  Mas mau melamar, kamu  siap tidak?."


" Ap- appa ?tidak jelas Maaas." Seru Eva karena  suara Tyo tersapu angin.


" Tidak jadi .. nanti saja hahahha."


" Isssh jahil dehhh." Eva mencubit pinggang Tyo yang mengakibatkan Tyo hilang keseimbangan  karena menahan geli


" Errhh erhhhh sayang jangan jangaaan ." Pekik Tyo sambil menggoyang goyangkan badannya.


Bruuuuk!


Tanpa bisa di hindari motor mereka   masuk  kesawah yang tampaknya baru selesai di bajak.


"Hahhahahaha hhahhahaha"  keduanya tertawa lepas,  terlebih saat melihat tubuh mereka yang sudah terbalut lumpur.


Dengan di bantu Eva mereka berjibaku berusaha mengangkat motor sewaan  ke atas jalan , akhirnya  motor bisa diangkat keatas setelah keduanya bersusah payah.


Eva tidak menyia nyiakan kesempatan itu untuk menjahili Tyo, ia meraup lumpur dengan tangannya dan melemparkan kearah Tyo.


Ploook !


"Sayang sini.. lihat ini ada keong." Ujar Tyo sambil menunjuk kebawah , Eva yang tidak tahu kalau Tyo telah merencanakan pembalasan dengan polosnya berjalan terseok seok karena kakinya terbenam ke lumpur  menghampiri  Tyo .


Begitu jarak mereka hanya sejengkal Tyo langsung menemplokan  segengam lumpur kebadan Eva, yang di sambut dengan jeritan oleh Eva.


" Arrrgh Maaaas curaaang....!" Pekik Eva .


Mereka baru  menghentikan kegiatannya , saat seorang warga lokal yang kelihatannya  tinggal tidak jauh dari villa  tiba tiba menyapa mereka dari atas jalan.


" Eta kunaon  geulis,  Gebis sanes?." Ujar seorang wanita paruh baya sambil menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya. Eva yang  sedikit  bisa berbahasa sunda, menyahut sambil  menahan malu.


" Sumuhun emak,  jalanna meuni alit ,janten geubis." Jawab Eva.


" Uluh uluh meuni karunya, sok kadieu  ku emak di  tulungan," Ujar wanita berusia paruh baya itu  seraya mengulurkan tangannya kearah Eva, tinggalah Tyo yang melongo karena tidak tahu apa yang tengah di bicarakan oleh Eva dan wanita paruh baya itu.


Setelah mengucapkan terimaksih Eva berbincang sebentar dengan wanita paruh baya itu seraya tangannya menunjuk kearah Villa ,  Wanita paruh baya itu tampak mengangguk anggukan kepala dan tidak lama  beranjak meninggalkan Tyo dan Eva yang kembali  tertawa  dengan tingkah konyol mereka.


" Kamu tadi ngomong apa sayang dengan ibu itu?."


" Tadi Emak itu tanya kenapa kita bisa nyemplung kesini.. jadi aku bilang kalau kita jatuh ."


" ooouhh hahhahahahha."


Dengan tubuh berlumur lumpur keduanya memutuskan pulang ke villa, sesampainya di villa Devan dan art Eva yang  tengah memberi makan kelinci tercengang melihat keduanya dnegan kondisi seperti itu.


" Astagfirullah, Umma ... oom Tyo kk- kkalian kenapa?." Tanya Devan kebingungan sambil bergantian mengarahkan pandangan pada Eva dan Tyo.


" Umma dan oom Tyo  tercebur ke sawah Devan jadi begini  hehhehee." Sahut Eva.


Anak lelaki Eva menepuk dahinya , sejurus kemudian tawanya meledak


" Hhahhahaha hahahhahahahha hhahah lucuuuu." Ujarnya sambil terbahak bahak.


Eva bergegas meraih selang dan memutar kran air dan mulai menyirami tubuhnya untuk menghilangkan lumpur yang melekat.


Seusai makan malam Tyo dan Eva memutuskan untuk menikmati malam  terakhir di kota kembang  di balkon   karena keesokan harinya mereka harus kembalai kejakarta, malam itu terasa begitu damai hanya  suara jengekerik dan seskali suara kodok yang  berpadu menjadi symphoni  yang indah.


Sesaat   tidak terdengar percakapan diantara keduanya, Eva tampak melebur dengan suasana malam itu sedangkan Tyo Asyik menghisap rokok untuk mengusir hawa dingin yang menyelusup kedalam tulang. Tyo tampak mematikan  bara api pada rokoknya dan menyesap wedang jahe buatan Eva.


" Sayang.. nikah yuk." Celetuk Tyo tiba tiba. Yang mmebuat Eva sontak  menoleh kearahnya.


" Menikah itu tidak mudah Mas.. tidak seperti main nikah nikahan seperti kita masih anak anak, perlu kesiapan mental perlu komitmen yang kuat dan lain lain." Sahut Eva.


"Mas tahu sayang..... dan Mas tidak bercanda dengan  ucapan Mas barusan, sudah  di pertimbangkan dengan matang sebelum Mas ucapkan." Ujar Tyo.


" Mas siap menjadi ayah sambung Devan? apa Mas yakin perlakuan Mas  pada Devan tidak akan berubah jika kelak Mas di karunia anak kandung? Mas Siap membimbing saya sebagai makmum? resikonya terlalu besar Mas jika menikahi janda." Cecar Eva.


Tyo bangkit dari posisisnya dan menggeser letak kursi rotan persis kedepan Eva, keduanya kini saling berhadapan, Tyo meraih tangan Eva yang terasa  dingin, Ia memandangi wajah ayu itu di bawah temaram cahaya lampu teras.


" Sayang insha allah  Mas siap, dan  tidak akan berubah perlakuan Mas pada Devan ,jika kelak mas di karuniai  anak kandung." Tyo berusaha menyakinkan Eva  bahwa dirinya tulus.


" Semua juga awalnya berkata manis Mas, dan akan menjadi bangsat pada waktunya." Sahut Eva lirih kini mata indahnya mulai tergenangi oleh cairan bening.


Tyo menegakkan wajah Eva yang tertunduk , dan mengusap cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya dengan lembut , tidak ada sepatah katapun terucap dari mulut Tyo, ia  menatap lekat lekat wajah ayu itu  dengan  rasa iba yang menyeruak di lubuk hatinya.


Ia tahu apa yang dialami Eva itu sebabnya ia tidak menyela atau membantah ucapan Eva, tetapi membiarkan wanita itu menumpahkan uneg unegnya agar terasa plong.


" Luapkan uneg uneg mu sayang, biar beban mu terasa sedikit ringan tapi satu hal yang harus kamu tahu  tidak semua lelaki  punya sifat seperti dalam cerita mu." Ujar Tyo lembut.


Mendengar ucapan Tyo , Eva tidak kuasa menahan isak tangisnya bahunya berguncang  perlahan airmatanya mulai membanjiri kedua sisi pipinya. Tyo berpindah kesamping Eva dan meraih tubuh mungil itu kedalam pelukan dadanya yang bidang.


" Luapkan semua yang mengganjal perasaanmu, Mas tahu kamu memikul beban itu sendiri, cerita sama Mas hmm, dont be worry... dont be scared i will  stand on your side." Bisik Tyo seraya mengelus elus bahu Eva.