
Baru saja ia mengakhiri percakapannya dengan Hilman panggilan lain telah menunggu, ternyata Ibu kandungnya yang menghubungi.
" Jadi udah pasti itu le di Jogja?." Tanya Ibunya.
" Sudah Bu ....tadinya mau di jakarta tapi tidak jadi karena banyak yang jadi pertimbangan, kalau di Jogja kan tidak terlalu jauh."Jawab Tyo.
" Lah yo jelas kalau di jakarta ya ribet ,selain jarak biaya juga harus di pertimbangkan, oh ya le mengenai permintaan mu supaya Ibu mendampingi kamu di pelaminan, setelah Ibu rembukan sama suami Ibu beliau kurang setuju rikuh katanya." Seloroh Ibunya.
" Rikuh kenapa bu? kalian kan orang tua ku, "Timpal Tyo dengan heran
" Katanya biarlah Dek Ndaru dan istrinya yang mendampingi saja ,atau kerabat dari Bu Siswo yang lain, biarlah kami jadi undangan biasa ."Ujar Ibunya.
" Ouuh begitu?... coba nanti saya bicarakan dulu dengan keluarga sana ya bu? ,bagaimana baiknya." Sahut Tyo
"Yo le, rembukan dengan mereka bagaimanapun kamu besar dan tumbuh di keluarga itu, wagu kalau kami yang tiba tiba mendampingi kamu."Sahut Ibunya menejelaskan alasan mengapa mereka merasa rikuh
Tyo merasa sedih mendengar ucapan Ibunya tapi di sisi lain ia juga mengerti apa yang menjadi pertimbangan Ibunya, 34 tahun ia tidak pernah bertemu dengan Ibu kandungnya di saat sudah bertemu dan ingin Ibunya menjadi pendampingnya di pelaminan tapi terbentur oleh rasa rikuh.
Malamnya Tyo tidak bisa memejamkan mata, fikirannya kacau memikirkan dilema yang sedang di hadapinya.
"Harus bagaimana aku? , tidak mungkin aku tega membiarkan Ibu kandungku menjadi undangan biasa di hari bahagiaku."Ucap Tyo sambil duduk di tepian tempat tidur.
Ia menyambar ponselnya dan menscrool riwayat chatnya denga Eva, tidak di duga ternyata Eva juga belum terlelap di larut malam itu.
"Maas." Sapa Eva melalui chat.
" Apa sayang ?, kok belum tidur jam segini hmm?." Balas Tyo.
" Tidak bisa tidur , menjelang detik detik menjadi istrimu." Goda Eva sambil menyematkan emoticon tersipu malu.
" Gombal, Mas juga tidak bisa tidur karena masalah internal keluarga." Balas Tyo.
" Kenapa lagi Mas?." Tanya Eva penasaran.
Tyo menceritakan secara detil apa yang menjadi permasalahan dalam keluarganya, menjelang detik detik pernikahannya.
" Ooouh iya sih serba salah juga Mas kalau gitu, Mas sudah bicara dengan keluarga yang lain?." Tanya Eva
" Belum baru dengan Ibukandungku ." Sahut Tyo
" Bicaralah Mas minta pendapat mereka bagaimana baiknya, saya rasa Putra Putri Bu Siswo orang yang bijak kok." saran Eva.
" Iya sih .. Mas tidak bisa membayangkan Ibu kandung Mas, menjadi undangan biasa di hari pernikahan Putranya ." Sahut Tyo.
"Justeru itu.... segera bicarakan dong Mas, supaya cepat clear saya bantu doa saja, semoga ada jalan terbaik."
" Terima kasih sayang,buat supportnya."
Tyo dan Eva sudah saling bahu membahu untuk mewujudkan pernikahan sesuai impian mereka, semua undangan sudah di sebar dan sudah persiapan lainnya sudah 80%.
Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya Tyo memutuskan untuk rembukan dengan keluarganya mengenai siapa yang akan menjadi pendampingnya di pelaminan nanti.
Kebetulan sudah ia sudah berada di semarang ,menjelang 3 hari menjadi pengantin ia berkumpul dengan ketiga saudaranya. ia menyampaikan apa yang di sampaikan Ibunya tempo hari.
" Yo Ndak bisa tho , tetap Ibu kandungmu yang harus mendampingi kamu," Celetuk Mas Handaru kakak tertuanya.
" Iya Tyo.. walau bagaimanapun beliau kan Ibu kandung kamu, terkecuali Ibu kandung kamu itu sudah tidak ada baru Mas Ndaru atau keluarga yang lain." Timpal Mas Haryo.
" Coba hubungi Ibumu biar Mas, yang bicara dengan Ibumu."Ujar Mas Handaru
Setelah kakak tertuanya bicara langsung dengan Ibu kandungnya barulah di sepakatai Ibu kandungnya beserta suami yang akan mendampinginya di pelaminanan ,bersama dengan Mas Ndaru sebagai anak tertua di keluarga Siswo Hudoyo.
" Ooh ya sudah kalau dek Ndaru maunya seperti itu, saya nurut saja, saya itu rikuh dek karena tidak membesarkan Tyo kok tiba tiba jadi pendamping di pelaminan." Ujar Ibunya saat berbicara dengan kakak tertuanya.
Semua menarik nafas lega usai rembukan dan terjadi kesepakatan, tibalah hari yang di tunggu tunggu Tyo tampak gagah setelan jas berwarna abu abu , mengucap ijab qobul di depan penghulu di dampingi kakak tertua dan ayah tirinya sebagai saksi.
" Saya terima nikah dan kawinnya Eva Nastiti Binti Suwignyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan seberat 100 gram di bayar tunai." ucap Tyo dalam satu tarikan nafas.
" Bagaimana para saksi?,"tanya penghulu pada para saksi.
" Sahhhhhhhh." Jawab mereka serempak dengan binar bahagia di wajah mereka.
" Alhamdullilah."
Malamnya resepsi di gelar dengan megah tamu tamu datang silih berganti, para sahabatnya menjadi pagar bagus dan pagar ayu jadi garda terdepan di perhelatan pernikahannya itu, semua tampak bahagia.
"Akhirnya kita sampai di titik ini, ya sayang." Bisik Tyo pada Eva.
" Iya Mas... saya pun tidak sangka ,bisa sampai di titik ini.". Sahut Eva .
Mata Tyo tertuju pada dua orang yang sangat ia kenal, turut mengantri di barisan tamu untuk memberi selamat ia agak grogi menghadapi lelaki yang bersama adik tirinya, ia adalah pemilik cafe yang ia obrak abrik beberapa waktu yang silam.
" Selamat ya Mas selamat ya mba..." Resti tidak meneruskan ucapannya saat melihat siapa yang menjadi pendamping kakaknya, begitupun dengan Eva yang sama sama terkejut melihat Dyah alias Resti keduanya saling berpandangan sambil mencoba mengingat ingat dimana mereka pernah bertemu.
" Loh kita pernah bertemu kan?, dimana ya?." Ucap Eva.
" Di rumah sakit waktu jenguk Almarhumah Litha, dia adik tiri Mas." Bisik Tyo sambil menjawil tangan Eva.
"Lohh ...kka-kamu?." kali ini giliran suaminya Dyah yang terkejut melihat Tyo.
"Iyaa koh saya , kakaknya Dyah." Ucap Tyo sesaat kemudian keduanya saling berangkulan erat.
" Selamat ya... tidak sangka kita, adalah keluarga." Ujarnya .
Pernikahan Tyo sekaligus menjadi ajang pemersatu keluarga, yang telah berpisah selama 34 tahun semua tampak bahagia di hari itu.
Keesokan harinya sepasang pengantin baru itu , tampak sedang menikmati susasana pagi di belakang rumah orang tua Eva di pedesaan di lereng merapi , suasananya sejuk dan damai.
"Sayang alangkah damainya kalau kita menghabiskan hari tua disini ya?."
" Iya Mas disini damai jauh dari kebisingan kota, tapi bahaya kalau merapi mbledhos ya kena imbasnya." Celetuk Eva.
" Ndak apa apa selama ada kamu, Mas siap menghadapi apapaun dalam hidup ini." Sahut Tyo sambil merebahkan kepala Eva pada pundaknya .
" Mulai, gombalnya kumat." Ujar Eva sambil melirik Tyo dengan mesra.
" Yo ben...., sejak kenal kamu aku tiba tiba jadi punya kemampuan merangkai kata, tidak ubahnya pujangga." Sahut Tyo sambil memeluk pinggang Eva.
" Halahhh preeet Mas... Mas, gayamu itu loh ra nguwati hahhahha ." Ledek Eva sambil tertawa kecil.
Saat keduanya tengah asyik bermesraan Ayah Eva yang sedianya akan menikmati kopi, sambil memandang merapi yang tampak perkasa dari halaman belakang rumahnya mengurungkan niatnya .
" Erhhhhmm,"Ayahnya sengaja berdehem saat melihat kemesraan anak dan menantunya di pagi yang cerah itu.
Mendengar suara seseorang berdehem Tyo ,langsung melepaskan pelukannya pada Eva dan sontak keduanya menoleh kebelakang sambil tersipu malu .
" Monggo di lajengaken hehhehe." Goda bapak mertuanya, sambil tersenyum penuh arti.
" Iiiissh Bapaaaaak." Ujar Eva sambil tersipu malu .
" Opo? Bapak juga pernah muda, ya sudah lanjutkan bapak mau di depan saja ,sambil main sama si panjul." Sahut Bapaknya sambil menyebut burung perkutut kesayangannya, yang di beri nama si panjul.
"Sini pak gabung dengan kami." Goda Eva sambil menepuk dingklik panjang yang masih cukup untuk diduduki beberapa orang lagi.
"Moh!... nanti bapak jadi obat nyamuk." Sahut bapakanya sambil terkekeh.