
Tyo tidak menyahut satu patah katapun, karena ia pun masih terasa sesak jika mengingat kepergian Ibu yang membesarkannya, yang terkesan begitu mendadak.
" Berarti apa yang pernah aku lakukan bersama dia bukan termasuk insest? karena aku dan dia bukan saudara kandung." Ujar Tyo dalam hati.
" Ya sudah Tyo... kalau kamu sudah sempat dan pulang ke semarang ,kabari Ibu ya le." Ujar Ibu kandungnya.
" Iya bu." Sahut Tyo seraya mengakhiri panggilannya.
Satu persatu masalah yang Tyo hadapi mendapat titik terang, ia sedikit merasa lega setelah rentetan peristiwa yang membuatnya nyaris kehilangan akal sehatnya. Kini ia fokus permasalahan dengan Eva bagaiamanapun ia tidak mungkin terus menerus menyembunyikan kebenaran dari kekasihnya itu.
" Assalamualaikum,sayang? ." Sapa Tyo.
" Waaalaikum salam Mas, gimana kabarnya sehat?." Sahut Eva.
" Alhamdullilah ,...ketemuan yuk sayang ada yang Mas bicarakan, tapi tidak di tempat kamu." Jelas Tyo.
" Okay kapan?." Tanya Eva .
Sore itu keduanya sepakat untuk bertemu di sebuah cafe ,untuk membicarakan masalah mereka.
" Ada apa Mas?, tampaknya serius betul tadi di telefon." Celetuk Eva.
" Ini tentang rencana pernikahan kita, Mas ingin berterus terang pada kamu." Ujar Tyo.
" Ada apa dengan rencana pernikahan kita Mas?." Sahut Eva tampak cemas.,setelah mendengar ucapan Tyo.
"Begini.... ini menyangkut status keluargaku sayang," Ujar Tyo tampak ragu ragu untuk menyampaikan hal itu pada Eva.
" Mas ada apa sih? , kok perasaan saya jadi tidak enak?!." Desak Eva penasaran.
Tyo terdiam beberapa saat dan berfikir keras ,mencari kata kata yang tepat untuk menyampaikan kebenaran tentang dirinya pada Eva.
"Sayang ini tentang statusku... ternyata setelah kepergian Ibu ,Mas baru tahu kalau sebenarnya Mas bukan anak kandung di keluarga itu, Mas adalah anak seorang Ibu muda yang masih labil, yang di adopsi oleh keluarga itu 34 tahun yang lalu." Ucap Tyo berusaha setenang mungkin.
Eva tidak tampak terkejut sedikitpun, ia justru mendekat dan meraih tangan Tyo dan menggenggamnya, perempuan cantik itu memandang kearah Tyo dengan tatapan yang penuh kelembutan.
" Lantas apa masalahanya Mas?...saya mencintai Mas bukan karena status Mas ,sebagi anak bungsu dari keluarga Siswo Hudoyo Sang Jenderal angkatan laut itu , saya mencintai Mas sebagai Tyo Pranowo atasan saya di kantor." Timpal Eva dengan lugas.
Tyo menarik nafas dalam dalam, tampak rasa lega yang terpancar dari wajahnya, Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ucapan Eva tempo hari saat ia menanyakan hal yang sama namun berdalih dengan kata seandainya bukan hanya pemanis bibir semata.
"Tapi bagaimana dengan kedua orang tuamu sayang?, apa mereka bisa menerima hal ini secara terbuka sama seperti halnya dengan kamu?."Tanya Tyo dengan nada penuh kecemasan .
"Mas... orang tua saya bukan tipikal orang yang kolot , yang terlalu terpaku dengan patron bibit bebet dan bobot, dan tidak silau dengan nama besar..harta.. tahta dan lain sebagainya." Jelas Eva.
" Maaf bukan maksud saya terlalu membanggakan orang tua saya, namun saya mengatakan apa adanya." Jelas Ev a lagi.
" Alhamdullilah ya Allah..Mas sudah khawatir sekali, takut kamu akan berubah setelah tahu status Mas."Ucap Tyo seraya mengucap syukur.
" Jadi orang tua kandung Mas dimana?, Mas sudah bertemu?." Tanya Eva penasaran .
" Di semarang juga...hanya bertemu dengan Ibu, sekarang Ibuku sudah punya suami baru bapak dan ibu kandungku bercerai sejak aku berusia 40 hari ,karena tetap tidak mendapat restu kakek dan nenek ku , dari kedua belah pihak karena perbedaan keyakinan." Jelas Tyo panjang lebar menceritakan kisah hidupnya yang pilu.
"Dari usia 40 hari aku di besarkan oleh keluarga Siswo Hudoyo ,yang aku fikir adalah orang tua kandungku."Jelas Tyo.
''Saayang.... tapi Mas masih takut orang tua mu akan berubah fikiran, setelah tahu statusku dengan masa laluku yang amburadul." Ujar Tyo sekali lagi mneyatakan rasa cemasnya.
" Trust me.. orang tua ku tidak seperti itu, apalagi Ibuku yang paling tidak bisa mendengar kisah sedih Mas, bisa nangis 7 hari 7 malam hahhahaha." Sahut Eva.
" serius ....?7 hari 7 malam sanggup ibumu nangis tidak berhenti sayang?." Goda Tyo.
" Iiiiihsss!."Dengus Eva sambil melayangkan cubitan sekerasnya pada lengan kekar Tyo.
" Awww.. sak- sskkit ."Rintih Tyo sambil berusaha menepis tangan Eva.
" Kenapa sih perempuan suka banget kekerasan?,kalau tidak nyubit ya nabok? mbok ya di sayang gitu loh." Ujar Tyo melayangkan protes pada Eva.
" Rasaaiin lagian sebel, itu kan hanya kiasan yo moso 7 hari 7 malam Ibuku nangis terus? mbok kiro Ibuku ra nduwe gawean." Tukas Eva masih dengan muka sebal.
" Hahhahhaha, lah kan nanya loh sayang." Sahut Tyo sambil mencolek hidung Eva.
Keduanya telah sepakat untuk segera menuju pelaminan, mereka tampak bersemangat untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan mereka kelak. Tidak di sangka sangka rupanya Eva sudah menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada kedua orang tuanya tentang Tyo.
Selang beberapa hari Orang tua Eva menghubunginya dan memberikan dukungan moral ,yang membuat Tyo semakin bersemangat dan percaya bahwa hidupnya tidak selamanya di selimuti dengan kepedihan.
" Assalamualaikum nak Tyo?." Sapa calon Ibu mertuanya dengan lemah lembut.
" Waalaikum salam Bu, bagaimana kabar ibu sekeluarga?." Jawab Tyo dengan santun.
" Alhamdullilah semua sehat, Tyoo... kami sudah mendengar semua dari Eva, kamu yang kuat ya nak, tidak usah khawatir kami akan berubah, siapapun kamu selagi kamu bisa membahagikan anak kami, membimbing dia ke jalan yang benar ,bisa menerima anak kami apa adanya ya kami tidak masalah." Ucap calon mertuanya.
" Terimakasih Ibu dan Bapak, Insha Allah saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan Eva,"
"Ngger cah bagus, anggaplah kami ini sebagai orang tuamu sendiri , tidak usah sedih anak lelaki harus kuat yo ngger." Kali ini Bapak calon mertuanya yang bicara.
"Terima kasih Pak, sudah mau menerima saya, meskipun Bapak dan Ibu sudah tahu siapa saya."
" Kita ini sama manusia, yang istilahnya hanya sekedar mampir untuk minum, untuk apa kita terlalu mementingkan yang berbau keduniawian?harta ,tahta, kuasa, dan lain lain sebagainya semua di tinggalkan pada waktunya nanti." Nasehat calon Bapak mertuanya.
"Contohnya yo Ngger... kamu dan Eva kalian sama sama bergelar S2, apa gelar akan membedakan kalian dengan yang lainnya di akhirat nanti? tidak!, itu sebabnya kami terkejut saat Eva memberi tahu kami kalau kamu khawatir ,kami akan menolak atau berubah setelah tahu semuanya." Lanjut calon Bapak mertuanya panjang lebar.
" Sekali lagi terima kasih Bapak dan Ibu ,atas penerimaan kalian." Ucap Tyo tidak kuasa menahan rasa harunya.
" Sama sama ngger... kami juga berterima kasih, kamu mau menerima Eva apa adanya dia." Sahut Calon mertuanya.
Usai berbicara dengan kedua calon mertuanya Tyo tidak henti hentinya mengucap syukur kehadirat Allah, atas nikmat yang di berikan di pertemukannya ia dengan Eva dan orang tuanya adalah sebuah anugerah yang tidak ternilai bagi Tyo .
"Benar kata pepatah akan ada pelangi setelah hujan , ternyata kamu dan keluargamu lah pelangi itu sayang." Ucap Tyo dalam hati sambil tersenyum memandangi foto Eva.
Tyo segera memberi tahu kakak perempuannya, rencana untuk mempercepat pernikahanya dengan Eva.
" Assalamualaikum Mbak, gimana kabarnya,Mbak sekeluarga?." Sapa Tyo.
" Waalaikumsalam, Alhamdullilah kami semua sehat disini bagaimana dengan kamu?."Ujar kakak perempuannya balas bertanya.
" Alhamdullilah Mbak, aku disini juga sehat." sahut Tyo.