
Alhamdullilah baik Mbak, begini Mbak aku dan Eva sepakat untuk mempercepat tanggal pernikahan kami, keluarganya pun sudah setuju." Ujar Tyo memberitahukan rencananya dengan Eva.
" Ouuh ya bagus itu, nanti keburu tuek... eeh enggak ding tapi beneran kamu, wes tuek hahahaha." Ledek kakak perempuannya sambil terkekeh.
" Uaaasem tenan .... tuek tuek begini aku spesial Mbak, tambah tua tambah ganteng yo tho?." Sahut Tyo yang tidak terima di katakan tua oleh kakak perempuannya.
" Kepedean!... ngomong ngomong kamu sudah memberi tahu rencana ini , pada Ibu kandungmu?." Lanjut kakaknya lagi.
"Belum Mbak...rencananya nanti pa pulang kesemarang mau bertemu secara langsung dan minta restu , sekalian nyekar ke makam Ibu dan Bapak." Jelas Tyo.
" Ouuh yo wes, kapan rencananya kamu pulang tho?."Tanya kakak perempuannya .
" Bulan depan ." Jawab Tyo singkat.
Dibanding dengan kedua kakak lelakinya Tyo lebih akrab dengan Mbak Tyas ,karena jarak usia mereka yang tidak terpaut jauh dan sikap keibuan Mbak Tyas mengobati kerinduannya pada Ibu mereka. Tyo semakin tidak sabar menunggu hari yang di nanti.
Hari dimana ia dan Eva akan bersanding di pelaminan, dan resmi menjadi pasangan suami istri yang sah, sementara itu mereka telah mempersiapkan segala sesuatunya.
"Mas maunya pakai konsep seperti apa?, kalau orang tuaku maunya kita pakai konsep jawa lengkap sama tetek bengeknya yang njlimet itu." Ujar Eva.
" Ya bisa di maklumi kita kan orang jawa, kalau Mas sih fine fine aja konsep apapun itu." Sahut TYo.
" Ooh ok lah kalau begitu, jadi tidak ada pertentangan ya." Ujar Eva.
" Ya sayang asal pasangannya kamu, Mas tidak mempermasalahkan mau pakai konsep apa." Sahut Tyo sambil memandang mesra kearah Eva.
" Gombal!." Timpal Eva sambil tersipu malu.
" Gombal Piye tho? ini serius loh sayang , Mas itu bicara pure dari hati yang terdalam no gombal mode on hehehe." Tukas Tyo.
" Wes embuh lah hahahhaha."
Hari yang di tunggu pun tiba Tyo sudah berada di bandara hendak terbang kekota kelahirannya, untuk menemui Ibu kandungnya yang belum pernah sekalipun ia lihat wajahnya sejak 34 tahun yang lalu, ada rasa canggung yang menyergap hatinya.
Meski selama ini mereka kerap berkomunikasi tapi tetap saja ada rasa canggung yang bercokol di hatinya.
"Seperti apa wajahnya?, apakah mirip dneganku atau mirip dengan Dyah?." Ujarnya bertanya tanya dalam hati.Namun seketika ia tersentak ,saat menyebut nama Dyah alias Resti terbayang kembali segala kenangan peristiwa beberapa tahun silam.
Tyo mengusap wajahnya berkali kali untuk mengusir bayangan wajah Dyah alias Resti ,yang tidak lain adalah adik tirinya yang pernah menjadi selimut hidupnya kala itu.
" Astagfirullah hall adzim ... astagfirullah hal adzim ." ucap Tyo berkali kali dengan posisi telapak tangannya menutupi wajahnya.
Tyo terlonjak kaget saat ia merasakan tepukan lembut di bahunya , sontak ia menoleh kearah samping dengan ekspresi wajah terkejut.
"Hehehehe,....maaf melamun ya? tujuan Mas ke semarang kan? ,itu sudah di suruh boarding."
Ucap Bapak Bapak yang duduk di sampingnya sambil terkekeh, untuk menutupi rasa bersalahnya karena membuat ia terkejut.
"Iyy- Iyya pak ... terimakasih sudah memberi tahu, saya duluan ya Pak ." Sahut Tyo sedikit gelagapan kemudian bergegas bangkit dari kursinya dan ikut mengantri untuk boarding.
Sepanjang penerbangan fikirannya melayang kemana mana , ia benar benar grogi menjelang detik detik untuk bertemu dengan Ibu kandungnya, ada rasa enggan yang sempat menyapa saat mengingat ia di tinggalkan 34 tahun yang lalu, namun tergiang kembali ucapan Almarhum Ibu yang membesarkannya ,bahwa ia tidak boleh membenci Ibu kandungnya.
Tidak terasa pesawat yang di tumpanginya telah mendarat di bandara kota kelahirannya, ia berjalan agak tergesa menyibak kerumunan sesama penumpang yang berjalan dengan lambat,.di pintu kedatangan Mbak Tyas dan suaminya melamabaikan tangan kearahnya.
"Mas.. Mbak." Ucap Tyo sambil menyalami keduanya begitu ia telah berada di depan mereka yang di sambut senyum hangat oleh keduanya.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan bandara ketiga keponakannya telah menunggu di dalam mobil.
" Oom Tyoo, ." seru Erin sambil mengedip kedipkan matanya memberi kode untuk diajak wisata kuliner.
" Hhahhaha, kamu ini loh bisa meledek Mbak Priska gembul tapi kamu sendiri begitu." Sahut Tyo sambil mengelus kepala keponakannya dan sudah faham betul dengan kodenya.
"Jadi kemana nih kita langsung pulang." Celetuk kakak perempuannya.
" Turutin aja mereka Mbak nanti ngamuk malah repot." Sahut Tyo tersenyum, sambil melirik ketiga keponakannya melalui kaca diatas kepalanya.
" Terima kasih ...oom ku sing ganteng dewe." Sahut keponakannya sambil melontarkan pujian untuk mengambil hati Tyo.
Keesokan harinya Tyo menemui Ibu kandungnya mereka sepkat untuk bertemu di sebuah resto, Tyo duduk dengan gelisah menunggu kedatangan wanita yang telah melahirkan sekaligus menitipkannya 34 tahun yang silam itu.
Sekali ia mengedarkan pandangan kearah pintu masuk resto ,mencari cari keberadaan seseorang yang tengah di tunggunya. ia dengan gelisah melirik arlojinya namun yang di tunggu tunggu belum terlihat batang hidungnya.
Untuk mengusir rasa jenuh selama menunggu ia mmemainkan game di ponselnya, tiba tiba.
" Tyoo?." Sapa seseorang dengan lembut , Tyo spontan mendongakan wajahnya dan terperangah di buatnya.
Di depannya telah berdiri seorang wanita paruh baya dengan wajah jelita yang tak lekang di makan usia, wajah itu mengingatkannya pada seorang gadis yang pernah menjadi kekasih gelapnya Dyah!.
" Jadi dia Ibu kandungku?."Ujar Tyo dalam hati ia masih terpaku beberapa saat, memandang wajah perempuan di depannya.
" Erhhhm." Ibu kandungnya sengaja berdehem untuk menyadarkan Tyo, yang sepertinya masih shock.
" Ss-ssilahkan duduk Bu." Ujar Tyo dengan kikuk. Sementara itu Wanita paruh baya itu tampak berkaca kaca menatap kearahnya bibirnya tampak bergetar menahan haru.
" Ini kamu le? ... kamu tumbuh jadi lelaki yang gagah, dan tampan maafkan Ibu." Ucap wanita jelita itu yang tidak lain adalah Ibu kandungnya sambil mengusap matanya.
"Iya ini saya bu .. anak lelaki yang ibu titipkan ,pada Bu Siswo 34 tahun yang silam."Jawab Tyo datar
Mendengar Jawaban Tyo Ibu kandungnya hanya terdiam, namun jelas tersirat di matanya ada rasa penyesalan yang demikian besar.
Tyo merasa serba salah ia pun memilih untuk diam, ia tahu ucapannya barusan mungkin telah menambah rasa bersalah di hati Ibu kandungnya.
Keduanya masih tampak sungkan satu dengan yang lainnya, Tyo segera teringat tujuan nya menemui wanita di depannya adalah untuk meminta restu, susah payah ia mengumpulkan kekuatan untuk memulai percakapan kembali setelah terdiam cukup lama.
" Bu... Tujuan saya bertemu dengan Ibu selain untuk mnegobati rasa kangen , saya mau mohon doa restu saya akan segera menikah dalam waktu dekat." Ujar Tyo memecah kebisuan di antara mereka.
" Ooouh kapan le ...dan dimana rencana pernikahan akan di gelar?." Tanya Ibunya.
" Bulan depan bu... di jogja di kediaman mempelai wanita, Ibu bisa kan hadir nanti." Sahut Tyo.
Mereka tidak lagi di liputi rasa canggung , lagi keduanya kini tampak akrab berbincang layaknya Ibu dan anak.
"Insha Allah .. Ibu usahakan untuk hadir le." Ujar Ibunya sambil tersenyum sumringah karena anak lelakinya akan segera menikah.
"Terimakasih bu ....ibu sudah bersedia untuk hadir nanti, Ibu tinggal dimana sekarang?." Tanya Tyo.
"Di johar datanglah kerumah Ibu , kalau ada waktu." Sahut Ibunya.
Dua jam tidak terasa telah berlalu , Ibunya pamit untuk pulang karena mendekati waktu suaminya pulang dari kampus.
"Ibu duluan ya le, sebentar lagi suami Ibu pulang." Ujar Ibunya sambil menyeruput sisa minuman di gelasnya.
" Ibu naik apa kesini?." Tanya Tyo.
" Naik Taxi Online le, karena suami Ibu sedang ke kampus ."Jawab Ibunya.
" Ya sudah... Tyo antar , ayo bu ." Tyo menawarkan diri untuk mengantar Ibu kandungnya.
" Ndak merepotkan, tho le?." Tanya Ibu kandungnya sedikit sungkan.
" Ndak lah bu." jawab Tyo sambil bangkit dari kursinya mereka berjalan beriringan keluar dari resto.
Tyo menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih dengan desain minimalis ,halamannya tampak asri dengan anekan tumbuhan .
"Ini rumah Ibu , ayo mau turun dulu ndak?." Ujar Ibunya berbasa basi.
" lain kali saja bu, Tyo pergi dulu ya bu.," Ucap Tyo sambil mencium telapak tangan Ibu kandungnya.
" Iya hati hati ya le jangan ngebut, sampaikan salam Ibu pada semua Putra Putri Bu Siswo." pesan Ibu kandungnya.
" Ya bu nanti Tyo sampaikan." Sahut Tyo sambil memundurkan mobilnya.