
Sesuai janjinya pada kakak perempuannya, Tyo segera berpamitan pada teman teman ,semasa kuliahnya dulu.
" Sepurane aku tak pulang dulu ya?, sudah janji sama orang rumah untuk pulang awal." Ujar Tyo sambil beranjak dari kursinya dan hendak menuju kasir untuk membayar semua makanan yang mereka pesan.
"Yaaah.... kapan rencananya pulang ke jakarta?." Seru teman temannya dengan raut muka kecewa.
" Minggu, tenang besok kita ketemu lagi ok."Sahut Tyo sambil beranjak , keluar dari cafe.
Setibanya di rumah kakak perempuan dan kelurganya sudah tidur , dengan perlahan ia memutar anak kunci dan masuk kedalam rumah supaya tidak mengusik yang lain.
Keesokan paginya Tyas kakak perempuannya, bertanya tentang hasil pencariannya kemarin.
" Gimana sudah ketemu?," tanya kakak perempuannya.
" Belum Mbak tapi saya sudah dapat nomer hpnya, Mbak bisa minta tolong tidak?." Ujar Tyo.
" Tolong apa?."Sahut kakaknya penasaran.
Tyo segera memberitahu kakak perempuanya untuk menjadi mediator ,antara ia dan ibu kandungnya karena ia masih grogi untuk bicara langsung.
" Ouuh ...yo wes sini nomor hpnya biar Mbak yang bicara sama Ibumu."Tukas Tyas.
Tidak lama kakak perempuannya sudah terlibat pembicaraan dengan Ibu kandung Tyo, Tyas mengatakan kalau ia adalah anak perempuan dari Ibu Sri Rahadjeng, istri dari Pak Siswo Hudoyo, perempuan yang dulu membesarkan anaknya.
Mendengar nama Sri Rahadjeng ,Ibu kandung Tyo tampak gemetar suaranya menahan haru.
" Jadd- jaddi kamu dek Tyas putri dari Mbak Sri?." Tanya Ibu kandung Tyo.
" Nggih Bu, pripun kabare, sekarang Ibu tinggal dimana?." Sahut Tyas.
Tyo dapat menyimak semua isi Percakapan kakak perempuannya dengan Ibu kandungnya karena di loud speakerkan, dari situ ia bisa menyimpulkan bahwa Ibu kandungnya orang yang lemah lembut.
"Tyooo, nyoh ngomong'o iki Ibumu loh." Ujar Tyas sambil menyodorkan ponsel kearah Tyo, namun Tyo menolak karena masih grogi.
" Hallo hallooo, Tyooo, apa kabar mu le? ini ibu nak .. halloooo Tyooo." Ujar Ibunya di telefon dengan suara lembut.
"Ngomong'o tak jiwel nanti kamu!." Ancam Tyas sambil membelalakkan matanya kearah Tyo, karena adik bungsunya itu tetap menolak untuk bicara dengan ibu kandungnya.
"Maaf bu mungkin adikku... eeh maksudnya Tyo masih shock mohon sabar ya bu, maklum kan sudah 34 tahun tidak bertemu " Ujar Tyas berusaha membela atas sikap Tyo yang menolak berbicara.
" Ouuh ndak apa apa dek Tyas.. Ibu maklum dengan sikap Tyo, Ibu akan sabar sampai dia siap untuk bicara atau bertemu dengan saya." Sahut Ibu kandung Tyo seraya menutup telefonnya.
"Uaseeem kok kowe, malah tidak mau ngomong itu bagaimana ceritanya heh?! mesakno loh nanti kalau kehilangan Ibu untuk kedua kalinya baru kamu nyesal." Sungut Kakak perempuannya kesal.
" Saya belum siap Mbak, seandainya Mbak Tyas ada dalam posisi saya Mbak Tyas akan mengerti," Sahut Tyo berusaha membela diri atas sikapnya
" Mbak tahu rasanya Tyo, tapi saran Mbak selagi masih ada kesempatan kamu gunakan itu , Ingat kata Ibu kita yang sudah Almarhum, jangan pernah membenci." Ujar Kakak perempuannya berusha mengingatkan Tyo.
Degh!
Tyo merasa tersentak dengan ucapan kakak perempuannya, ada benarnya apa yang di ucapkan Mbak Tyas bagaimana kalau tiba tiba Tuhan memanggil Ibu kandungnya, di saat ia belum sempat bertemu bahkan bicara sekalipun?. Bukankah dia sudah menunggu selama 34 tahun untuk moment ini? dan sekarang ia menyia nyiakan kesempatan yang di berikan oleh Tuhan.
Tyo mengusap wajahnya dengan gusar, ia berada dalam sebuah dilema tentang hal ini hingga tiba saat ia harus kembali kejakarta Tyo belum bertemu bahkan bicara sekalipun dengan Ibu kandungnya.
Selama berada di ruang tunggu fikirannya kembali bimbang, cukup lama ia menimbang nimbang,hingga sampailah di detik detik terakhir ia akhirnya memberanikan diri, untuk bicara dengan Ibu kandungnya itu.
" Hallo Maaf siapa ini ya?." Sapa Ibunya.
" Hallo Bu, apakabar nya."Jawab Tyo lirih.
" Ini siapa?, maaf sebelumnya ."Ujar Ibunya penasaran.
" Ty- Tyo bu." Sahut Tyo sedikit gugup.
" Maaf bu Tyo sudah tidak di semarang Tyo bekerja di jakarta, nanti kalau ada kesempatan Tyo pulang ke semarang lagi."Jawab Tyo
" Ouuh iyo le, seng ati ati disana ya." Ujar Ibunya mewanti wanti.
Tyo tidak dapat menahan airmatanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya sejak tadi ,akhirnya ia bisa bicara dengan wanita yang telah melahirkannya 34 tahun yang lalu ,yang tidak lain adalah ibu kandungnya yang belum pernah ia lihat wajahnya.
Tyo segera bergegas masuk kedalam pesawat yang akan membawanya kembali kejakarta, dengan mata yang masih sembab namun jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa lega, akhirnya ia bisa menemukan jejak keberadaan Ibu kandungnya.
Sesampainya di jakarta ia bergegas meninggalkan bandara ia ingin cepat cepat sampai dirumah, tubuhnya terasa lemah lunglai dan perasaanya gamang.
"Siapkah aku untuk bertemu dengan dia?, dia Ibu yang telah melahirkanku kedunia ini."Ujar bathin Tyo ragu.
" Jika aku tidak siap lalu untuk apa aku selama ini mencarinya?, tidak Tyo! siap tidak siap kamu harus bertemu dengannya." Didalam hatinya terus terjadi perdebatan yang hebat.
Perdebatan antara keinginan dan keraguan untuk bertemu dengan Ibu kandungnya.
Seminggu sudah berelalu sejak terakhir ia berbicara dengan Ibu kandungnya, siang ini kembali memutuskan untuk bicara lebih lanjut.
" Bu...Maaf apa aku anak yang tidak diinginkan kehadirannya?." Tanya Tyo.
" Tidak ada orang tua... apalagi seorang Ibu yang tidak menginginkan kehadiran buah hatinya le," Jawab Ibunya.
" Kalau begitu...kenapa aku di titipkan pada keluarga Bu Siswo? jika memang kehadiran ku diinginkan?." Desak Tyo.
Ibu kandungnya menceritakan panjang lebar, alasan di balik mengapa dirinya di titipkan pada keluarga Bu Siswo.
" Percuma Ibu bercerita karena saksi hidupnya sudah tidak ada, pasti kamu akan menganggap semua hanya karangan Ibu."Seloroh Ibunya.
" Tidak Bu...aku akan berusaha untuk percaya, meskipun itu sangat menyakitkan."Tukas Tyo
" Ya itulah garis besarnya ,alasan mengapa Ibu menitipkan kamu pada keluarga Bu Siswo Hudoyo,Ibu pasrah jika kamu mau membenci Ibu karena hal itu, itu memangg kesalahan Ibu." Lanjut Ibunya.
Tyo terdiam seribu bahasa mencoba mencerna , mengerti dan memahami alasan yang di kemukakan oleh Ibunya,mengapa hal itu bisa terjadi.
" Oh ya Bu, aku ingin bertanya satu hal lagi, apa Ibu punya anak selain aku?, dan dimana dia sekarang." Pancing Tyo yang ingin tahu keberadaan Dyah alias Resti Triandini.
" Kenapa kamu ingin tahu hal itu?, ya kamu punya seorang adik perempuan namanya Resti, tapi anak kurang ajar itu mengganti identitasnya dan memilih jalan hidupnya dengan menjadi simpanan lelaki yang seusia Ayahnya." Sahut Ibunya datar, namun jelas terdengar ada marah yang terpendam.
"Dimana dia sekarang bu?,"desak Tyo di dorong rasa penasarannya.
" Ibu sudah tidak peduli lagi ,dimana anak kurang ajar itu berada, dia membuat Ibu kehilangan muka di tempat Ibu tinggal sebelumnya ."Seloroh Ibunya masih dnegan nada tidak suka saat Tyo terus mendesak tentang keberadaan Dyah.
"Lagi pula untuk apa kamu ingin tahu keberadaanya le?." Kini giliran Ibunya yang penasaran ,mengapa Tyo terkesan begitu ingin tahu keberadaan saudara perempuannya.
" Tidak ada bu.. sudah lupakan saja , Lantas bapak kandung saya dimana?," Lanjut Tyo mengalihkan topik pertanyaan
"Beliau sudah meninggal tiga tahun yang lalu, seandainya kami mendapat Restu kita tidak perlu berpisah le." Sahut Ibunya yang sepertinya meratapi kisah perjalanan hidupnya yang pilu harus berpisah dnegan orang yang di cintainya karena perbedaan keyakinan.
"Kan dari awal Ibu dan bapak sudah tahu berbeda keyakinan, lantas bagaimana kalian bisa menikah?." Selidik Tyo
" Kami nekad kawin lari dan almarhum Bapakmu pindah keyakinan , kami mengira seiring berjalannya waktu di tambah kehadiran kamu akan merubah keadaan ternyata tidak sama sekali, kami tetap tidak di restui." Jelas Ibu kandungnya panjang lebar
Tyo terperangah mendengar sejarah asal muasal ia di titipkan pada keluarga Siswo Hudoyo34 tahun yang silam oleh Ibu kandungnya.
" Ooh iya le, kabar Bu Sri gimana le?." Tanya Ibu kandungnya sesaat kemudian usai menceritakan sejarah hidupnya yang penuh airmata.
" Apa Ibu belum tahu?, kalau Bu Siswo sudah meninggal dunia hampir satu tahun yang lalu?." Sahut Tyo.
"Innalillahiwainnailaihi roji'un,...... belum sempat Ibu bertemu dengan orang berhati malaikat itu, rupanya sudah pergi lebih dulu." Ucap Ibu kandung Tyo terdengar Shock .