I Want You To Be Mine

I Want You To Be Mine
Part 31



Melihat Sikap Eva yang demikian sontak amarahnya memuncak , ia merasa diinjak injak harga dirinya sebagai seorang lelaki sekaligus kepala rumah tangga,  secepat kilat ia  mencengkeram tangan Eva.


" Mas itu bicara sama kamu, hargai sedikit!." Bentak Tyo .


" Lepas Mas saya lelah sekali." Sahutnya seraya mengibaskan tangan Tyo


Tyo  bermaksud hendak kembali menarik tangan Eva  namun seketika ia mengurungkan niatnya karena putri kecil mereka tiba tiba muncul di hadapannya.


" Papa sama Mama,berantem lagi ya?," Tanyanya dengan mimik muka polos, tentu saja keduanya di buat kelimpungan dengan pertanyaan putri kecil mereka.


" Eng-ggak sayang, kirana kenapa belum bobo sayang?."Sahut Tyo sambil berjongkok di depan Putri kecilnya itu.


" Kiran kangen sama Mama.. Mamaa." Putri kecilnya itu berlari merangsek kearah Eva namun reaksi yang tidak terduga di tunjukan  oleh Eva ia Istrinya  terlihat engan untuk menyambut Putri kecil mereka yang dengan antusiasnya merangsek kearahnya.


" Kiran Mama capek sayang , kiran masuk kamar ya."Bujuk Eva  seraya menunjuk kearah kamar putri kecilnya itu, rona kecewa terlihat jelas di wajah putri kecilnya,Tyo yang melihat reaksi Eva sungguh tidak habis fikir.Namun demi  kesehatan mental Putrinya ia berusaha menahan amarahnya dan membujuk Putrinya itu.


"Kiran ayo sini sayang Mama capek Nak,  jangan ganggu Mama dulu ya?," Ujar nya seraya menggendong Putri kecilnya dan mengantarkannya masuk kedalam kamarnya.Selang sepuluh kemudian ia menyusul Eva masuk kedalam kamar, Eva yang tengah sibuk berbicara di telefon tidak menyadari kehadiran Tyo di dalam kamar mereka.


" Sudah selarut ini kamu telfon siapa?," Ujar Tyo yang mengagetkan Eva, Istrinya itu sontak memutus sambungan telefonnya, namun dari raut wajahnya jelas terlihat rasa terkejut yang tidak bisa di sembunyikan Istrinya.


" Telfon siapa?... Hmm? kenapa gak bisa menjawab coba sini Mas lihat!." Tyo berusaha meraih ponsel dari tangan Eva , sekuat tenaga Istrinya berusaha mempertahankan ponselnya agar tidak  berpindah ketangan Tyo. Sehingga terjadi saling merebut diantara keduanya.


" Bukan siapa siapa teman kerja saja."Sanggah Eva sambil tetap berusaha mempertahankan ponsel miliknya, sikap Eav yang bersikeras mempertahankan ponselnya semakin menimbulkan kecurigaan di benak Tyo, dan tidka perlu waktu lama ponsel pun berpindha tangan


Dengan cepat Tyo memeriksa history panggilan di ponsel istrinya,ia melakukan panggilan kenomor  yang menghubungi Istrinya itu, melihat hal itu Eva semakin panik dan mati matian berusaha merebut kembali ponselnya.


" Mas kamu tidak berhak itu privacy ku!."Pekik Eva.


"Privacy kamu bilang hah?!, kita ini Suami Istri sudah seharusnya saling terbuka!." Bentak Tyo sambil menunggu panggilannya di angkat, namun keberuntungan sedang berpihak pada Eva si empunya nomor tidak kunjung mengangkat panggilan yang di lakukan oleh Tyo.


"Selamat kamu kali ini!." Dengus Tyo kesal sambil melemparkan ponsel milik Eva keatas ranjang.


Hari  hari mereka tidak seindah awal pernikahan mereka lima tahun yang lalu, semua telah banyak berubah, keharmonisan mereka telah terusik oleh perubahan sikap Eva.


Karena permasalahan keharmonisan rumah tangganya yang mulai terusik Tyo menjadi uring uringan, sikapnya di kantor yang biasanya kalem tenang dan cenderung mengayomi para bawahannya kini perlahan berubah menjadi emosional.


" Kamu itu bisa kerja tidak?!, hal begini aja gak becus kamu tahu tidak perusahaan ini itu dapat proyek dari mana? dari beliau!."Bentak Tyo dnegan nada tinggi seraya membanting berkas di hadapan Marsha yang tampak pucat pasi, sementara  Tyo mengusap wajahnya dengan gusar berkali kali.


" Maafkan saya Pak." Ucap Marsha sambil tertunduk


" Ucapkan maaf sih gampang, masalahnya bagaimana nasib  kontrak kita." Sahut Tyo masih dnegna raut wajah yang sama seklai tidak enak untuk di pandang.


" Sekarang coba kamu  hubungi beliau saya tidak mau tahu ,jangan sampai kontrak ini berpindah tangan." perintah Tyo sambil membalikan badan memebelangki Marsha.


 Sepeninggal  Marsha dari ruangannya Tyo  masih terlihat uring uringan karena  kesalahan  yang di  buat Marsha dalam menyusun agenda meetingnya dengan Client pentingnya.


" Arghhh Damn!."Pekiknya setengah histeris sambil mengibaskan tangannya keudara. ia benar  benar tidak bisa mengendalikan dirinya akibat insiden yang terjadi, di saat dirinya tengah panik menghadapi batalnya kontrak dengan Atmo Subroto Ia mendengar ponselnya berdering.


Ia tidak segera mengangkat panggilan yang masuk ke nomornya melainkan mendiamkannya beberapa saat , hingga  kembali terdengar panggilan ke nomornya akrena merasa terusik dengan dering   panggilannya yang bertubi tubi dengan gusar ia menekan tombol accept pada ponselnya.


" Whats'up  bro how are you  long no see." Sapanya berusaha menekan intonasi suaranya, dan seolah olah sedang terjadi apa apa.


" Yo pindah ke La Maison? sejak kapan? gak bilang bilang ya."Cecar sahabatnya to the point, Tyo mengerutkan keningnya mendengar ucapan sahabatnya itu.


" Wake up bro, udah jam berapa masih mimpi aja loe, gw masih di itu hahhahaha." Sahut Tyo sambil tertawa lepas


" No.. a few minute ago Istri loe baru keluar dari salah satu unit disini, i'm not  dreaming  i'm   recognize her very well." Tyo langsung memotong ucapan sahabatnya.


" Jangan sembarangan loe,  udah loe croschek belum? loe tahu akan akibatnya gak main main? ." Sela Tyo mulai gusar


" I'am swear god my witness its her."


Sahabatnya menjelaskan bahwa istrinya sering wara wiri ke apartemen mewah tersebut, hanya saja ia baru tergelitik untuk menanyakan hal itu ,bak di sambar petir disiang bolong, mendengar apa yang dikatakan sahabatnya, sudah sejak lama ia memang mengendus hal yang tidak beres dengan Eva Istrinya itu, namun ia tidak menyangka jika akan sejauh ini.


Usai mengakhiri pembicaraannya denagn sahabatnya ia semakin tidak bisa mengendalikan emosinya, tangannya gemetar nafasnya memburu sementara rahangnya terkatup  rapat sehingga menimbulkan suara gemeretak gigi yang saling beradu.


" Evaaaaa..apa yang kamu lakukan sayang?!." Pekiknya histeris.


Ia tidak lagi bisa berkonsentrasi bayangan Eva tertawa meledeknya menari nari di benaknya, dengan kasar ia menekan nomor istrinya.


" Assalamualaikum Mas.." Sapa Eva begitu mereka terhubung dalam panggilan.


" Dimana kamu sekarang?!."Sahut Tyo begitu dingin dan ketus  tanpa menghiraukan ucapan salam Eva.


" Apa sih kamu Mas? ya dikantor memangnya saya dimana lagi?."


"Jangan bohong kamu, sore ini mas jemput!." Bentak Tyo


"Apa apaan sih Mas?, lagian ngapain Mas repot repot jemput? saya kan bawa kendaraan sendiri."


Plok plok plok! Tyo meletakan ponselnya  dan  mengaktifkan loud speaker kemudian bertepuk tangan dengan keras.


" Good job kamu menolak di jemput ,supaya kamu bisa pergi dengan yang lain begitu hmm?!." Tukas Tyo.


" Saya lelah Mas, saya capek dengan sikap Mas yang seperti bye!." Tanpa menunggu  Eva langsung menutup dan menonaktifkan ponselnya.