
" Ayolah Umaa." Desak Devan.
" Hmmm ok lah , demi Devan uma izinkan." Sahut Eva sambil mencolek hidung anak lelakinya.
" Alhamdulillah, terimaksih Uma." Soraknya kegirangan.
Tyo turut tersenyum ,melihat binar bahagia di mata Devan.
" Ya sudah aku pulang dulu ya, Assalamualaikum."
" Waalaikum salam."
Tyo beranjak menuju parkiran dengan rasa bahagia yang membuncah di dadanya, ketakutan yang sempat mendera hatinya ,akan penolakan anak laki laki Eva akhirnya sirna. Kini tinggal mencari waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Eva, karena iya tidak mau terjebak dalam zona friend zone.
Namun ia masih di hantui rasa penasaran tentang jatidiri Eva yang sesungguhnya, untuk menanyakan secara langsung jelas tidak etis , akhirnya ia teringat dengan Nadia kakaknya Armand ia ingin tahu tentang latar belakang Eva.
Assalamualaikum," Ucap Tyo mengawali percakapan dengan Nadia ,yang nota bene adalah kakak perempuan sahabatnya
" Waalaikum salam , maaf ini siapa?." Tanya Nadia.
" Saya Tyo kak, teman Armand." Sahut Tyo.
" Ooouh, hai apakabar Tyo? tumben hubungin kakak ada angin apa nih hehhe." Ujar Nadia lagi.
Setelah berbasa basi sedikit Tyo segera menjelaskan maksud tujuannya, menghubungi kakak perempuan sahabatnya itu.
" Ooouuh Eva kamu jadian sama Eva? wah selamat ya kamu tidak salah pilih." Nadia menjelaskan panjang lebar latar belakang kehidupan Eva termasuk siapa mantan suami Eva.
Setelah mendengar penjelasan dari Nadia tentang latar belakang Eva, membuat Tyo sedkit minder setelah tahu siapa sejatinya Eva, ternyata dia adalah mantan istri seorang petinggi perusahaan pertambangan Bumn yang bonafide.
Dan latar belakang pendidikan Eva, yang tidak main main. Tyo menjadi dilematis di satu sissi ia ingin merasa Eva adalah wanita yang layak untuk di perjuangkan, terlebih lagi Ibunya sudah memberi lampu hijau bahwa status tidak menjadi halangan bagi beliau untuk memberikan restu.
Tapi disisi lain ia terbentur dengan latar belakang Eva ia merasa timpang, ia di hantui keraguan akankah nanti Eva mau menerimanya atau justru menolaknya? namun sebagai lelaki pantang bagi Tyo untuk menyerah, akhirnya ia memberanikan diri untuk menyatakan perasaaanya yang sudah lama terpendam.
" Va erghhhm...seandainya aku mau mengajak kamu menjalani hubungan yang lebih serius, apa kamu bersedia?." Ucap Tyo malam itu saat keduanya tengah menghabiskan malam di akhir pekan,
Uhhhhk uhhhhk uhhkkkk!
Eva terbatuk batuk tersedak juice yang tengah di sesapnya, karena mendengar ucapan Tyo yang tidak di duga duganya. Tyo menyodorkan Tissue kearah Eva.
" Terima kasih."
Beberapa lama Eva sudah berhasil mengatasi rasa tersedaknya ,dan terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan yang Tyo lontarkan.
" Tyoo... kamu sudah berfikir matang matang ,dengan ucapan kamu barusan?." Tanya Eva .
" Sure bukan hanya matang, tapi sangat matang." Sahut Tyo.
Eva tampak terdiam sesaat, ia menghela nafas pandagannya tampak menerawang jauh, jelas tersirat di raut matanya jika ia tengah di hinggapi rasa khawatir, rasa tidak tidak percaya yang tidak ia ungkapkan secara verbal.
" Tyoo.. kamu tahu kan siapa aku? aku adalah seorang single mom , sedangkan kamu masih single ini akan timpang Tyo."
" Ada masalah dengan status kamu?, status kamu tidak menghalangi aku untuk mencintai kamu, aku menerima kamu apa adanya , dan aku harap kamu juga bisa menerima aku apa adanya ." Sahut Tyo lugas.
" Yakin? tapi apa alasan yang mendasari kamu ,mencintai aku?." Pancing Eva.
" Apa harus ada alasan untuk mencintai seseorang hmm?, apa harus mendeskripsikan perasaan secara rinci ?." Balas Tyo.
" Tidak terbersit sedikit pun kasihan pada diri kamu ,apa yang perlu di kasihani? kamu wanita yang hebat, mandiri smart dan bisa membesarkan Putra kamu ,mampu berdiri diatas kaki kamu sendiri, harus mengasihani kamu dari sisi mana?."
"Aku mencintai kamu karena pure datang dari hati aku tidak ada tendensi apapun, kepribadian kamu sudah cukup bagi aku atau ribuan laki laki di luar sana untuk mencintai kamu." Lanjut Tyo berapi api.
Eva diam tidak lagi menimpali ucapan Tyo ,tangannya sibuk mengaduk aduk juice yang ada di hadapannya kemudian menyesapnya. Tidak tersirat sedikitpun rasa sedih di wajahnya cantiknya, namun sebagai lelaki Tyo tahu bahwa Eva hanya sedang berusaha untuk terlihat kuat di depannya.
" Jangan berlebihan memuji manusia... kamu belum tahu siapa aku nanti kamu kecewa, kasta tertinggi bukan lah sakit hati tapi rasa kecewa." Ucap Eva.
" Aku tahu karena aku pernah merasakannya, kita sama sama punya trauma di masa lalu, maukan kita saling menyembuhkan?."
" Beri aku waktu... untuk tahu jawabannya,dan untuk meyakinkan perasaan kamu."
" Berapa lama? aku tidak perlu meyakinkan perasaanku karena sudah teruji , selama ini aku memendam perasaan ku pada kamu dan tidak berubah sampai detik ini" Tukas Tyo sambil memandang wajah ayu di depannya.
Tidak urung ucapan Tyo membuat Eva tersipu malu , ia mengalihkan pandangannya kearah lain, Tyo hanya tersenyum melihat sikap Eva yang terlihat salah tingkah.
"Gombal."
" Terserah... yang penting aku jujur pada perasaan ku, jadi berapa lama kamu butuh waktunya hmm?." Sergah Tyo.
"One week.. one month or maybe one years later hahhahah." Sahut Eva mulai menggodanya.
" Isssh kamu nakal yaa, seriuslah berapa lama?." Desak Tyo tidak sabar
" One week." Sahut Eva.
" No... it"s too long ." Sergah Tyo.
" Ok lah i will let you know the answer, three days within." Ujar Eva akhirnya ,Tyo tampak girang mendengar jawaban Eva.
Tiga hari yang di janjikan Eva tersa begitu panjang dan menyiksa perasaanya, ia tidak sabar dan terus menerka nerka gerangan apa jawaban yang akan Eva berikan.
" Semoga saja... dia menerimanya." Ucap Tyo dalam hati.
Triiing!
Baru saja dia menerka nerka jawaban apa gerangan yang akan di terimanya , tanpa di duga ia menerima sebuah pesan dari Eva, tanpa menunggu lama ia segera memeriksa pesan yang masuk di ponselnya.
" Aku bersedia." Tyo melonjak kegirangan setelah membaca pesan yang Eva kirimkan ,meski jawaban itu singkat hanya terdiri dari dua kalimat , namun membuat Tyo serasa mendapat durian runtuh.
Jawaban Eva ibarat dopping berdosis tinggi baginya, ia tampak memandangi layar ponselnya beberapa saat dan membaca pesan itu berulang ulang .
" Yeaahh Finally ..thank' s god." Pekik Tyo girang.
Sementara itu sejak di terimanya ungkapan cintanya pada Eva, membuat ia semakin terpacu untuk menyelesaikan tesisnya dan kerja kerasnya membuahkan hasil ia di diwisuda , dan dinyatakan sebagai lulusan terbaik di jurusan yang ia pilih , resmi sudah ia menyandang gelar M.A.B di belakang namanyaa.Meski sedikit kecewa karena Ibunya tidak bisa menghadiri saat wisudanya,
" Selamat ya Mas kamu hebat." Ucap Eva menyelipkan kalimat pujian pada tyo saat hadir di acara wisuda.
" Terima kasih sayang... kamu lebih hebat karena kamu lebih dulu menyelesaikan S2, mu di banding Mas." Sahut Tyo.
Mendengar Ucapan tyo Eva menautkan kedua alisnya yang hitam alami.
" Kenapa? heran darimana mas tahu?." Tanya Tyo melihat ekspresi wajah Eva, Eva hanya menganggukan kepala.
" Apa sih yang tidak mas tahu tentang kamu, intinya Mas salut sama kamu, kamu the best deh." Tyo tidak memberi tahu darimana ia mendapat informasi tentang Eva, melainkan terus memujinya yang membuat Eva menekuk wajahnya.