
Jauh di dalam lubuk hati Tyo ia pun menyesali kebodohannya yang menuruti hawa nafsunya, ia tidak menyangka akibat yang di timbulkan oleh kenikmatan sesaat ini begitu besar dampaknya. Selagi menunggu kabar dari teman semasa kuliahnya ,Tyo kembali sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang terbengkalai.
Tyo sudah bertekad pada tidak akan melenceng lagi ,kejadian ini benar benar membawa hikmah yang besar untuknya. sementara itu Eva meskipun mentalnya di hajar hingga babak belur ,dengan adanya kejadian ini tidak berubah sedikitpun .
"Sabar Mas pasti ada hikmah di balik semua ini , sesuatu terjadi bukan tanpa alasan di baliknya keep strong."Eva memberikan semangat pada orang yang di cintainya itu
"Thank you sayang kamu benar benar bidadari surga, maafkan Mas ya sayang yang sudah berkhianat." Sahut Tyo.
" Mulai deh hyperbola... semua manusia pernah khilaf Mas, alangkah sombongnya saya jika tidak mau memaafkan Mas, sedangkan saya yang dosanya setinggi gunung saja Allah maafkan." Timpal Eva sambil menyunggingkan senyumnya yang tulus.
Tyo tidak bisa berkata kata lagi mendengar ucapan Eva, ia terharu sekaligus merasa malu pada perempuan yang ada di hadapannya begitu tulus dan besar jiwanya. Satu minggu kemudian Herlambang baru memberikan kabar.
" Yo alamat itu benar tapi menurut rt setempat sudah lama di jual , dan mereka tidak tahu penghuninya pindah kemana, tapi bukan itu intinya ada yang lebih gila lagi." Ujar Herlambang
" Opo Her?." Tanya Tyo penasaran.
Temannya itu menceritakan cerita yang ia dengar dari tetangga kanan kiri keluarga Dyah, tentang siapa keluarga Dyah alias Resti.
" Jadi begitu ceritanya."Ucap Herlambang.
"Ouhhuhh, benar benar keluarga gemblung, tapi aku ndak nyangka kalau dia anak rektor loh Her." Tukas Tyo.
" Apalagi aku?, tak kiro ya you know lah hahhahhaah ..." Sahut Herlambang sambil tertawa kecil.
" I know... of the record ajalah, meskipun kita berjauhan tapi kita sepemikiran hahhahha." Sahut Tyo yang di sambut gelak tawa oleh keduanya.
" Ngomong ngomong matur suwun yow Her, kapan kapan kalau aku ke semarang reunian kita."
" Podo podo... oke sip tak tunggu." Sahut Herlambang antusias.
Seiring berjalannya waktu hubungan dengan keluarganya telah pulih, ia menyampaikan pada Ibunya untuk melamar kekasihnya.
" Assalamualaikum Bu? bagaimana kabar Ibu dan yang lainnya ." Sapa Tyo.
" Waalaikum salam le, Alhamdulillah semua baik." Sahut Ibunya.
Tyo segera menyampaikan maksudnya dan di luar dugaan ,Ibunya mendukung sepenuhnya rencananya untuk melamar Eva.
"Dia orang jogja?,...Alhamdulillah kalau gitu mantuku orang orang yang masih satu suku, sebenarnya suku manapun tidak masalah asal seiman dan baik ahlaknya."Ujar Ibunya.
" Tapi bu?." Sahut Tyo sedikit ragu.
" Tapi opo? dudu wandhu tho?."Sela ibunya sambil menggodanya.
" Ibuuuu....moso wandhu tho yo ... serius dong ibu jangan bercanda,gini dia pernah menikah sebelumnya."Jelas Tyo gamblang mengatakan jati diri Eva yang pernah menikah sebelumnya.
" Ra urusan,lah wong seng menjalani yo kamu,yang merasakan yo kamu nantinya hehhe." Tukas Ibunya.
" Merasakan apa bu?."Pancing Tyo
" Pura pura lugu, tak kampleng ben kapok hehehe." Canda Ibunya lagi.
" Wagu lan saru ...Ibu niku hahahhaha." Tukas Tyo sambil terkekeh hatinya benar benar gembira bisa bersenda gurau dengan Ibunya kembali usai prahara beberapa waktu yang lalu.
Keduanya mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk di acara pertunangannya yang sedianya akan di lakukan di jakarta.
"Insha Allah.. Aamiin ya Allah." Ucap Eva dengan rona muka tidak kalah bahagianya. Jumat sore Tyo tidak sabaran langsung menuju bandara untuk menjemput keluarga besarnya, sudah sekitar tiga puluh menit ia berdiri menunggu keluarganya namun belum ada tanda tanda kemunculan mereka.
Ia kembali celingak celinguk mencari keluargany di tengah tengah kerumununan orang yang datang dan kahirnya ia bisa bernafas lega saat matanya melihat keponakannya melambaikan tangan kearahnya.Ia membalas dengan hal yang serupa.
" Ooom Tyooo, " seru keponakannya yang bertubuh subur sambil berlari lari kecil menyeruak kerumunan orang orang di sekitarnya .
" Haiii ponakan Omm yang gemoy apa kabar? ,mana Mama dan Yangti?."
" Lagi menunggu koper , Priska bosen jadi keluar aja ." Celotehnya.
Tidak lama keluarganya beriringan muncul dari arah pintu pertemuan itu di warnai dengan kebahagian di wajah mereka masing masing. Sebagian keluarganya terpaksa menumpang taxi karena tidak muat .
" Nih si endut tinggal aja," ledek kakak laki laki tertuanya pada ponakannya.
" Jangan dong Pak De..., kasihan nanti yang nemuin ,Mbak Priska makannya banyak." Celetuk ponakan yang lainnya.
" Eeeh... Priska itu bukan gendut, tapi kelebihan daging." Sementara Priska yang menjadi bahan candaan tampak cemberut
" Hahahhah , hahhahahha," semua tertawa menimpali guyonan di antara sesama keponakannya.
Sabtu paginya acara berjalan dengan lancar Eva tampak cantik dan anggun di balik balutan baju muslim berwarna dusty pink, Mas Handaru mewakili sebagai juru bicara menggantikan Almarhum Ayahnya. kedua belah pihak semua tampak bahagia hari itu.
Tyo dan Eva saling berpandangan penuh arti., wajah keduanya tampak sangat bahagia ssekaligus terharu.
" Jadi kapan nih di resmikannya, jangan lama lama." Celetuk kakak lelaki tertua Tyo.
"Ya secepatnya, sebelumnya kita tentukan hari dan tanggal yang baik dulu," Sahut keluarga Eva sumringah.
Setelah acara pertunangan mereka Tyo tambah bersemangat mengumpulkan pundi pundinya mengingat ,tidak lama lagi akan mengakhiri masa lajangnya dengan wanita yang di cintainya, namun sudah bukan rahasia lagi jika di tengah tengah masyarakat ada sebuah mitos yang beredar, jika menjelang pernikahan itu biasanya akan selalu ada aja cobaan yang mneghampiri si calon pengantin. Dan hal itu baru Tyo rasakan
Satu bulan setelah acara pertunangannya mendadak ia mendapat kabar Ibunya mendadak masik rumah sakit karena kondisnya drop, Tyo menjadi kalang kabut dan frustasi di buatnya dengan kabar yang ia dapat. Tidak perlu menunggu waktu Tyo segera terbang ke kota kelahirannya.
Setibanya di rumah sakit ia di buat shock kondisi Ibunya kritis, berbagai peralatan medis terpasang di tubuhnya, ia hanya bisa memandangi nya dari balik kaca ruang icu. Hatinya hancur lebur memandangi wanita itu lemah tak berdaya dan dalam kondisi terpejam.
" Kamu pulang dulu Tyo, istirahat dulu ,biar Mbak yang tunggu Ibu nanti kalau ada apa apa Mbak kabari." Bujuk Mbak Tyas kakak perempuannya.
" Tidak Mbak... Mbak saja yang pulang, Tyo mau tunggu disini." Tolaknya.
"Wes tho tidak perlu berdebat .. pulang dulu sana dari kemarin kamu, belum isirahat sama sekali." Dengan berat hati akhirnya Tyo menyetujui saran kakak perempuannya.,malamnya ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya mengingat kondisi Ibunya yang sedang kritis.
Baru saja berhasil memejmakan matanya menjelang dini hari ponselnya berdering, ia segera membuka mata dan mencari cari ponselnya.
" Ada apa Mbak? ...gimana keadaan ibu? ibu baik baik saja kan Mbak?." Cecarnya .
" IIb- Ibbuu Tyoooooo." Kkakak perumpuannya terbata bata dan suaranya terdengar menahan isak tangis.
" Ibu kenapa Mbak?, jangan bikin khawatir."Desak Tyo
" Ibuuu sudah meningalkan ,kita semua." Tangis kakak perempuannya pecah .
Tyo segera bangkit dari posisinya dan duduk di tepian ranjang sambil meremas kepalanya, tangis nya tertahan ia benar benar tidak menyangka cobaan nya seberat ini menjelang detik detik pernikahannya. Ia meninju tembok kamarnya berkali kali.
Terbayang kembali percakapan terakhir saat ia mengeutarkan niatnya untuk meminang Eva, Ibunya yang biasanya tampak kalem saat itu tanpa di duga menggodanya dengan candaan dan tertawa lepas , Saat itu Tyo sama sekali tidak berfikir jika itu pertanda tidak lama lagi ia akan berpisah dengan Ibunya untuk selamanya.