
Namun niat baiknya di tolak sang Ayah, sambil mencebikan bibirnya.
" Moh, nanti jadi penonton ."Sahut Ayah nya seraya hendak membalikan badan hendak menuju teras depan.
Mendengar ucapan Ayahnya sontak kedua alisnya yang hitam lebat saling bertaut.
"Jadi penonton bagaimana tho Yah maksudnya?." tanya Eva dengan mimik keheranan.
"Ya penonton.. kalian bermesraan lah Ayah apa ndak jadi penonton kalau begitu?." Timpal Ayahnya dengan nada satire.
" Oalahhhh hahahahhaha," Eva dan Tyo sontak tertawa cekikikan mendengar jawaban yang terlontar dari bibir Ayah mertuanya itu.
Sepeninggal Ayah mertuanya Tyo kembali merapat dan memeluk Eva , rasanya bagai mimpi akhirnya ia bisa mempersunting gadis pujaannya itu dan menyandang predikat baru sebagai seorang suami.
Tidak terasa waktu cuti tinggal satu hari lagi, setelah puas menikmati suasana pagi di lereng merapi siangnya keduanya memutuskan untuk segera mengamasi barang barang dan kembali kejakarta , kembali pada rutinitas mereka sebagai budak koorporat.
Malamnya setelah menyantap makan malam, Tyo duduk berdua dengan Ayah mertuanya sekedar berbincang bincang ringan di teras depan sembari menikmati suasana malam di pedesaan yang masih asri yang di terangi sinar bulan purnama.
Sesekali tetangga melintas di depan mereka dan dan saling berbasa basi sejenak,sungguh suasana yang sangat indah, Ayah mertuanya menyulut rokok kretek sambil sesekali menyesap kopi yang tampak mengepul, sejurus kemudian Ayahnya mematikan bara api di ujung rokok kedalam asbak.
" Tyo Bapak titipkan Putri dan cucu kesayangan pada kamu, semoga kalian langgeng sampai kakek nenek dan hanya terpisahkan oleh maut, namun seandainya di tengah perjalanan rasa cintamu hilang, kembalikan dia secara baik baik seperti saat kamu meminta dia menjadi istrimu." Ucap Ayah mertuanya dengan nada yang tenang namun sarat dengan makna yang terkandung di dalamnya.
" Insha Allah saya akan pegang amanah dari Bapak, doakan saja semoga hanya maut yang memisahkan kami." Timpal Tyo
" Aamiin Insha Allah, niat baik pasti akan mendapat keberkahan."
Karena waktu kian larut mereka berdua memeutuskan untuk masuk kedalam karena udara smekain dingin hingga menusuk ke tulang, meski langit terang benderang karena cahaya rembulan.
Sesampainya di dalam rumah ia mendapati Eva dan Ibu mertuanya tengah menonton siaran televesi di ruang tengah, ia dan Bapak mertuanya ikut bergabung dan berbincang sebentar membahas tentang rencana kepulangan mereka kejakarta esok.
" Turu'o ndok ,wes mbengi." Celetuk Ibu mertunaya sambil tersenyum penuh arti kearah anak perempuannya, Eva yang mengerti kode dari Ibunya tersipu malu kemudian mengajak Tyo untuk beranjak masuk kedalam kamar.
" Tadi ngobrol apa Mas sama Ayah, tampaknya serius betul?." Tanya Eva sambil memandangnya melalui cermin meja rias di depannya
" Rahasia antara laki laki, kalau di beri tahu bukan rahasia lagi dong," Timpal Tyo sambil bangkit dari dari posisinya dan memeluk Eva dari belakang.
" Sayang ....yuuuk.Bisik Tyo tepat di samping telinga Eva
" Ayo apa?,"goda Eva pura pura tidak mengerti dengan kode yang di berikan oleh Tyo ,sambil tersenyum penuh arti.
Tyo tambah gemas dengan sikap istrinya yang sengaja pura pura tidak tahu kode darinya, tanpa basa basi ia langsung mencumbui istrinya yang tengah membersihkan wajahnya di depan meja rias.
" Maaas... sabar dong sebantar lagi." Ronta eva sambil terus menghindar serangan dari Tyo, namun tenaganya kalah kuat di banding Tyo.
Sesaat keduanya telah larut dalam permainan yang menggairahkan, dalam ikatan yang sah sebagai sepasang suami istri. Keesokan harinya pagi pagi sekali , keduanya telah siap untuk bertolak kebandara dan kembali kejakarta.
" Yo le..kasih kabar kalau sudah sampai di jakarta." Sahut kedua Mertuanya nyaris berbarengan.
Time fly so fast.. itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keadaannya, rasanya baru kemarin ia mengucap ijab kabul di depan penghulu, namun kini statusnya telah berganti menjadi Ayah bagi Putri kandungnya yang telah genap berusia tiga tahun.
Rumah tangga mereka tergolong adem ayem ,hingga membuat iri sahabat sahabatnya.
" Apa sih Yo rahasianya kok bisa adem ayem gitu rumah tnagagmu." Tanya Armand suatu hari saat keduanya sedang menghabiskan waktu bersama setelah sekian lama tidak bertemu.
" Rahasia apa?, tidak ada rahasia rahasiaan jalani saja seperti air yang mengalir, saling mengerti dan jaga komitmen that"s all."Seloroh Tyo sambil mengayunkan tongkat golfnya.
" Loe sih enak dapet istri yang soleha, lah gw apes perempuan gak tahu diri memang." Timpal Arman.
" Shhhhht."Tyo merangkul sahabatnya dan menyudahi permainannya lebih awal, ia melihat sahabatnya sedang tidak baik baik saja, kini keduanya duduk di cafetaria
" Ada apa sih bro hmm?, selesaikan baik pakai kepala dingin." Naeshat Tyo bijak sambil menepuk nepuk ringan bahu sahabatnya.
Dengan seksama ia menyimak cerita keluh kesah yang mengalir dari bibir sahabatnya sesaat kemudian ia mengambil sepotong sayam ayam yang ada di hadapan mereka.
" Look at this, apa yang akan terjadi kalau gw paksakan sayap ini supaya lurus?."Ujar Tyo sambil berupaya meluruskannya.
"Wait apa relevansinya sayap ayam ini ,sama masalah gw bro?," tanya Armand dengan kebingungan.
" Jadi begini sayap ini untuk menganalogikan perempuan, jika perempuan berbuat salah tidak bisa di tegur secara frontal, tapi berlemah lembutlah perlahan beri tahu letak kesalahannya dimana niscaya dia akan mengerti." Nasehat Tyo bijak.
Mendengar penuturan Tyo, Armand mencebikkan bibirnya dan mendengus kesal.
" Halah! tergantung perempuannya kalau memang perempuannya bebal ,dengan methode apapun gak bakal mempan." Dengusnya sinis, sambil menjentikan abu rokok kedalam asbak.
Tyo hanya menggeleng gelengkan kepala mendengar jawaban sahabatnya, ia tidak tahu persoalan rumah tangga yang tengah di hadapi sahabatnya itu sehingga begitu kesalnya terhadap istrinya.
" Ya itu sih terpulang sama loe , lagian sebagai outsider gw tidak berhak untuk intervensi terlalu jauh.. good luck ya Bro semoga ada jalan keluar yang terbaik bagi kalian." Pungkas Tyo.
" Thank"s Bro."
Namun seperti di ketahui bahwa hidup, mati jodoh rejeki adalah mutlak rahasia Sang Khalik, demikian juga dengan perjalan hidup Tyo , memasuki tahun kelima pernikahannya hal yang tidak ia sangka sangka menerpa kehiduapannya.
Ia mulai mencium gelagat tidak mengenakan yang datang dari Eva yang mulai sering pulang hingga larut malam.
"Baru pulang kamu?, jam berapa ini?." Cecar Tyo yang menyambut Eva di depan pintu sambil bersedekap ,sementara dari sorot matanya jelas terlihat marah yang berusaha ia tekan.
Eva sama sekali tidak menggubris ocehan Tyo, dengan acuh tak acuh iamencoba menerobos masuk kedalam rumah dengan secepat kilat mencekal pergelangan tangan Eva.