
" Hidup ini tidak adil untuk saya Mas, sangat tidak adil saya capek Mas sya capeeek.. hanya Devan yang membuat saya bertahan di dunia ini." Ratap Eva
" Shhht ... tidak boleh berkata seperti itu, Allah sudah menuliskan takdir kita seindah mungkin, hanya saja terkadang kita di minta untuk melalui jalan yang yang tidak mudah dulu, tidak ada yang baik baik saja sayang termasuk Mas." Hibur Tyo.
"Mas terlihat baik baik saja semata karena Mas terlahir sebagai laki laki, padahal jauh di dalam lubuk hati Mas juga ingin melampiaskan rasa sakit , ingin teriak ,ingin marah tapi ya sudah lah, kamu tidak sendirian sayang ada Mas disini."
Eva sudah mulai tenang , karena sepertinya malam beranjak kian larut dan udara semakin dingin menusuk tulang Tyo mengajak Eva untuk masuk.
" Kita masuk yuuk?, kita istirahat supaya besok fresh waktu pulang kejakarta." Ujar Tyo. Eva mengangguk mengiyakan ajakan Tyo keduanya beriringan masuk kedalam Villa untuk beristirahat.
Keesokan harinya mereka telah berada di dalam mobil siap untuk kembali kejakarta, Tyo sempat melirik wajah Eva dari kaca diatas kepalanya matanya tampak masih sembab sisa tangis semalam, sepanjang perjalanan mereka tidak banyak terlibat percakapan.
Tyo lebih banyak bercakap cakap dengan Devan yang tampak segar dan ceria, Eva berinisiatif untuk bertukar posisis dengan Devan agar putranya itu bisa menemani Tyo selama mengemudi.
" Mas aku pindah belakang ya gak apa apa kan? biar Devan yang menenamani Mas." Ujar Eva.
" Oh iya gak apa apa kamu istirahat saja, kamu terlihat pucat sayang kamu sakit hmm?," Ucap Tyo sambil menempelkan telapak tangannya ke dahi Eva.
" Tidak Mas, hanya kurang tidur ." Sahut Eva.
" Devan sini pindah depan, biar Umma bisa beristirahat ." Seru Tyo.
" Siaap oom."
Tidak terasa mereka telah tiba di depan apartemen Eva, Tyo dibantu Devan dan art Eva menurunkan barang barang bawaan dari bagasi , saat anak dan art Eva membawa masuk barang barang bawaan mereka keatas Tyo membangunkan Eva yang tampak pulas tertidur di kursi belakang.
" Sayaaang bangun,sudah sampai." Ujar Tyo sambil menepuk pelan kaki Eva.Eva tampak mengerjap kerjapkan matanya dan bergegas bangkit dari posisisnya , Eva mengedarkan pandangan keluar jendela.
" Sudah sampai ya Mas?." Tanyanya sedikit linglung.
"Sudah sayang, kamu benar kan tidak apa apa hmm?." Sahut Tyo sambil kembali meraba dahi Eva ia tampak begitu perhatian.
"Kamu demam sayang, Mas antar kedokter ya?." Ujar Tyo lagi.
"Tidak usah Mas.. nanti juga baikan kok ini karena kurang tidur saja, atau paling paling masuk angin nanti di kerokin sudah okay." Tolak Eva .
" Bener? ya sudah kalau gitu kalau ada apa apa telepon Mas ya , ya sudah kalau gitu Mas pulang dulu ."Ujar Tyo
" Iya Mas ...tidak masuk dulu?."Eva sedikit berbasa basi.
" Lain kali saja Mas juga mau langsung tidur biar fresh besok, ya udah kamu masuk dan istirahat."Tukas Tyo
" Mas hati hati ya, jangan ngebut." Eva mewanti wanti.
Tyo kembali pada kesibukannya di kantor ,tanggung jawab yang ia pikul semakin berat di pundaknya.
Drrt drrt drrt !
Ponselnya bergetar sebuah nomor tidak di kenal memanggil, Tyo mengabaikan panggilan itu namun nomer itu kembali memanggil hingga membuat konsentrasinya terganggu.
" Hallo maaf,dengan siapa ini." Sapa Tyo saat mengangkat panggilan ,dari nomor yang tidak di kenalnya itu.
" Selamat siang,maaf menganggu waktunya, saya Dyah apa benar saya berbicara dengan Tyo ?." Terdengar suara seorang perempuan di ujung telefon memperkenalkan dirinya sebagai Dyah.
" Begini .. ini tentang Arlitha.." Jawab perempuan bernama Dyah itu. Mendengar nama Litha Tyo mendadak menjadi bad mood dan tidak bersemangat untuk meneruskan pembicaraan.
"Maaf saat ini saya sangat sibuk , oh iya sebagai tambahan saya sudah tidak ada hubungan apapun dengan orang dengan nama tersebut, mohon jangan hubungi saya jika ada kaitannya dengan orang itu." Ujar Tyo tegas.
" Saya tahu.. tapi ini menyangkut nyawa manusia, bagaimana pun anda dan orang itu pernah saling mengasihi , saya juga tahu anda tipe orang yang sangat memanusiakan manusia" Sahut wanita bernama Dyah itu terdengar sarkas.
.Tyo mengerutkan kening mendengar ucapan dari lawan bicaranya, di dorong rasa penasaran akhirnya Tyo berusaha mendengarkan apa yang hendak di sampaikan oleh wanita itu.
" Okay, tolong di persingkat saja apa tujuan Mbak hubungi saya, saya benar benar sibuk sekarang." Tegasnya .
" Saya tidak bisa menjelaskan melalui telefon, sangat rumit, sekali lagi lagi ini menyangkut nyawa manusia." Ulangnya.
" Ok fine, nanti Mbak mau bertemu dimana?." Tanya Tyo.
" Di xxx setelah jam kantor ,karena saya juga bekerja thank's," tanpa basa basi telefon di tutup oleh wanita yang bernama Dyah begitu saja.
Tyo segera membereskan meja kerja nya mengunci laci yang berisi dokumen penting sebelum meninggalkan ruangan kerjanya, ia tergogopoh gopoh keluar dari gedung kantornya menuju parkiran. Didalam benaknya kini berseliweran beragam tanda tanya .
" Nyawa manusia? ,what the hell." Gerutu Tyo saat mengingat ucapan wanita bernama Dyah yang dengan sarkas mengucapkan kalimat itu.
Tidak lama ia sudah berada di dalam cafe yang telah mereka sepakati untuk bertemu, Tyo celingukan mencari cari keberadaan wanita yang bernama Dyah itu di dalam cafe.
Seorang pelayan tampak menghampiri Tyo dan mereka tampak berbincang sebentar , sejurus kemudian pelayan menunjuk ke sebuah spot di dalam cafe itu, seorang wanita berparas jelita tampak duduk anggun disana. Setelah mengucapkan terimaksih ,Tyo berjalan kearah yang di tunjuk oleh pelayan tadi.
Sempat kikuk karena keduanya , baru pertama bertemu hari itu.
" Hallo Dyah ya?." Sapa Tyo.
" Hallo, iya betul saya Dyah , kamu Tyo?." Ujar wanita berparas jelita itu sambil menyodorkan tangan kearah Tyo, tidak seperti di telefon yang terdengar tidak bersahabat dan sarkas Dyah aslinya sangat ramah, jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam Tyo memuji kecantikan yang di miliki oleh Dyah.
Dyah mempersilahkan Tyo duduk, dan menawarkan Tyo untuk memesan minuman.
Mereka berbasa basi beberapa saat ,sebelum ke inti persoalan.
" Ini tentang Litha, saya hanya menyampaikan amanatnya sebagai sahabat, Litha sudah banyak bercerita bagaimana hubungan kalian berakhir Lita ingin bertemu sama kamu." Ujar Dyah .
" Tap- ttapi dia kan sudah menikah...untuk apa dia ingin bertemu saya? nanti malah menimbulkan fitnah dan masalah bagi dia." jawab Tyo sedikit heran.
" Bagaimana ya saya menjelaskannya? ... sebenarnya Litha tidak pernah menikah ...undangan yang di berikan pada kamu itu palsu , itu semua di lakukan agar kamu menjauhi dia ,meski itu akan membuat kamu membenci dia, tapi tidak ada jalan lain." Tutur Dyah perlahan .
" Lelucon seperti apa ini?, ada orang punya pemikiran sekonyol itu di dunia ini?." Dengus Tyo mulai kesal.
" Sabaar.. ada kalanya di dunia ini seseorang melakukan hal konyol karena terpaksa, ini yang di lakukan Litha." Dyah berusaha menenangkan Tyo yang mulai terlihat hilang kontrol.
" Tapi come on, apa alasannya? what the reason behind that scenario?." Desak Tyo.
"The reason is very simple , dia tidak mau di kasihani dia ingin terlihat sebagai wanita yang jahat , untuk menyamarkan kerapuhannya dia sakit, apa kamu tahu?!." Pekik Dyah.
" Ss- ssakit?....., sakit apa?, tapi saat kami masih bersama dia tidak pernah bercerita apa apa." Ujar Tyo dengan rasa terkejut.
" Thats why..... dia sembunyikan semua supaya kamu tidak sedih, dan dia tidak ingin di kasihani mengerti sekarang?." Tegas Dyah yang mulai terlihat berkaca kaca.