I'M Sorry For Being Ugly

I'M Sorry For Being Ugly
Delapan



Udara Jogja bisa dikatakan cukup dingin malam itu. Walau sebagian orang memilih meringkuk dalam selimut mereka, Pak Sas memilih untuk melangkahkan kakinya yang hanya dibalut sandal jepit keluar rumah. Dengan kopiah buluk hadiah istrinya dari jaman bahola, lelaki yang hampir berkepala enam itu mendorong motor pitung merah keluar dari pagar kayu yang mengelilingi rumahnya.


Adzan Isya' baru saja selesai berkumandang ketika motor butut Pak Sas berjalan di jalanan kampung sepi dan aspal yang banyak lubangnya. Beberapa meter setelahnya, motor Pak Sas mulai menapaki aspal mulus. Menandakan ia telah memasuki jalan raya besar.


Sebenarnya ia tidak akan kaget bahwa pada zaman sekarang Jogja semakin ramai, bukan hanya tukang bengkel dan tukang parkir saja yang bisa ngemper. Beberapa kali lelaki yang akan memasuki masa uzurnya itu menjumpai muda-mudi berpakaian rapi sedang bermesraan di depan ruko kosong. Namun yang membuat matanya melotot dan motornya hampir saja oleng adalah penampakan pria bersetelan jas rapi yang sedang meringkuk di depan toko beras yang sudah tutup. Apalagi yang membuatnya tidak habis pikir adalah, ia seperti mengenal betul wajah siapa itu.


"Hoe! Prama! Kamu ngapain di situ?" Teriak Pak Sas sambil menghentikan motornya tepat di depan orang itu.


Saat kepala orang tersebut mendongak , tingkat keterkejutan Pak Sas sampai pada level teratas.


"Prama! Kamu ngapain ada di situ!" Kali ini Pak Sas bertanya sambil menghampiri Pram dan mengguncangkan bahu lelaki yang nampak mengalami disorientasi itu.


"Saya... ehm... saya..."


"Sudah. Malam ini kamu nginap di rumah saya." Potong Pak Sas dengan cepat. Ia tidak tega melihat anak sahabatnya terlihat lebih buruk dari tunawisma.


"Tapi Pak. Saya itu-"


"Kali ini tidak ada penolakan Prama." Untuk pertama kalinya bagi Pram, Pak Sas menunjukkan sisi tegasnya. Prama bahkan kaget ketika melihat mata Pak Sas bisa menjadi sebegitu tajamnya. Seakan tidak menerima kata tidak sama sekali.


Pak Sas masih menatap Pram tajam sambil berkata, "kamu tau sendiri, kan apa yang terjadi sama kamu terakhir kali kamu nolak ajakan saya."


¤¤¤


Prama tidak pernah mengira bahwa kesialan ini akan datang menghampirinya. Prespektif-nya mengenai kota Jogja berubah seratus delapan puluh derajat. Bayangannya tentang masyarakat Jogja yang kental akan budaya kejawennya lenyap bersama tas, handphone, dan surat-surat berharga miliknya.


"Sudah sampai."


Suara Pak Sas yang sekarang terdengar ringan dan tanpa dosa itu berhasil membuat Pram terheran-heran. Baru setengah jam lalu ia merasa sedang dimarahi. Lalu sekarang ia merasa menjadi seorang anak yang sangat diharapkan kehadirannya. Pak Sas bukan hanya pak tua yang hobi tersenyum, namun juga berkepribadian ganda!


Apa jangan-jangan hanya karena mampir di masjid untuk sholat mampu mengubah sikap seseorang dengan sebegitu drastisnya?


Sebelum pikirannya menyelam lebih jauh, seorang wanita dengan gamis krem dan jilbab senada mempersilakan Pram masuk. Wanita itu tersenyum hangat kepada Pram.


"Itu istri saya. Bu Yuli." Kata Pak Sas seakan bisa membaca pikiran Pram.


"Dia Prama Bu. Ana'e  si Bambang." Kata Pak Sas lagi tanpa Pram perlu repot-repot memulai perkenalan.


"Ohhh. Sudah besar ya kamu. Gagah pula." Ucap istri Pak Sas sambil merangkul pundak Pram. Mengajaknya untuk duduk di salah satu sudut rumah dengan meja yang dipenuhi makanan.


Meja makan itu tidak terlalu besar. Kalau dibandingkan meja makan di rumahnya, jelas besarnya tiga kali lipat dari meja di sini. Namun yang membuat situasinya berbeda adalah ada secercah rasa aneh yang menelusup di sela-sela kekosongan dalam dirinya. Rasanya sudah lama sekali ritual yang sering disepelekan oleh orang-orang bernama 'makan bersama' tidak Pram alami. Dan kali ini Tuhan memberikan kesempatan pada Pram untuk sekali lagi menikmati ritual tersebut.


Pak Sas entah kapan menghilangnya kini sudah duduk di samping istrinya dengan kaos oblong dan celana pendek. Kumisnya yang tebal itu tersenyum sambil menatap Pram yang masih sedikit terguncang dengan apa yang menimpanya.


"Kamu bisa cerita kapan pun kamu mau." Pak Sas memulai pembicaraan. Sementara Bu Yuli dengan cekatan menyiapkan piring untuk Pak Sas. Lalu untuk Pram.


"Lanjutkan."


Pram menceritakan semuanya. Semua kecuali niat mesumnya untuk pura-pura mengantar cewek cantik itu.


"Saya sudah coba jalan kaki sampai ke apartemen. Tapi kartu apartemen saya ada di tas itu. Saya coba menyakinkan pihak apartemen kalau saya bukan orang gila yang mau numpang tidur enak. Tapi mereka nggak percaya. Mereka minta ktp saya. Sialnya ktp saya juga ada di tas itu. Handphone saya juga ada di tas itu. Sekarang saya benar-benar nggak punya apa-apa. "


Pak Sas menepuk jidat. Ia tidak menyangka orang Jakarta segoblok ini. Apa mungkin anak miliyarder macam Pram tidak tau teknologi peyimpanan portable bernama dompet?


"Assalamualaikum Ibukk Bapakkk!!!!"


Suara gedoran di pintu depan sukses mengagetkan Pram. Hampir saja ia tersedak sendok garpu kalau saja ia tidak cepat-cepat minum.


"Hehehe... Maaf ya. Itu anak saya. Dia baru pulang tadi pagi dari Jakarta juga." Pak Sas menjelaskan dengan seyum bangga. Sementara Ibu Yuli masih menundukkan kepalanya. Fokus pada piring di depannya. Bagi Pram, itu adalah hal yang ganjil.


"Bapak, ibuk.  Tadi Sarah pergi ke rumah Budhe terus di kasih gantungan kunci bentuk..."


Suara cempreng yang suka berceloteh ria itu mendadak kicep karena melihat sesosok makhluk asing di meja makannya.


"Anjing..."


Huwekk... hekk.. hekk....


Pram tiba-tiba tersedak untuk yang kedua kalinya. Sebabnya tidak lain adalah karena perempuan mini yang saat ini juga menatapnya horor. Apalagi dengan gantungan kunci berbentuk kepala anjing yang masih tergantung di tangan perempuan itu.


"Jangan bilang kalau dia anak bapak?" Tanya Pram pelan. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia sangat amat mendambakan keajaiban.


Nggak mungkin setan mini itu anak Pak Sas!


Nggak mungkin...


Nggak mungkin...


Keajaiban memang tidak berpihak pada Pram saat ini. Dengan senyum sumringah, Pak Sas menjawab mantap. "Iya. Itu anak saya."


"Oh iya Prama. Mulai sekarang, selama kamu kerja di Jogja dan tas mu belum ketemu. Saya yang akan menampung kamu di sini. Masalah bapakmu nanti urusan belakangan."


Prama tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan. Kalau ia menolak tawaran Pak Sas, bisa-bisa ia jadi homeless di tanah orang. Namun membayangkan ia harus tinggal bersama si sempritan item itu selama lebih dari satu minggu...


Tolong bunuh gue sekarang!


¤¤¤