I'M Sorry For Being Ugly

I'M Sorry For Being Ugly
Prolog : Kirana



Jakarta,


Tiga tahun yang lalu.


Aku menatap nanar foto di tanganku. Foto lelaki yang beberapa malam ini berbagi kehangatan denganku, membagi kenikmatan bersamaku.


Aku masih bisa merasakan kulitnya menyentuh kulitku. Aku masih bisa mengingat bagaimana napasnya di telingaku. Bibirku masih bisa tersenyum kala itu.


Lelaki itu baik. Ia menyenangkan dengan sejuta pesonanya. Pesona yang mampu memikat wanita manapun. Termasuk aku.


Aku terpikat.


Aku terpikat oleh bagaimana ia bicara. Aku terpikat oleh bagaimana ia memperlakukanku beberapa malam ini.


Ia menjebakku.


Membuatku tak berdaya. Hingga saat ia meninggalkanku tanpa kabar, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa.


Bukan hanya dia lelaki yang pernah berhubungan denganku. Namun hanya dia yang meninggalkan sesuatu di tubuhku. Sesuatu yang tak mungkin aku bunuh.  Namun juga tak mungkin terus ku pelihara.


Sekarang aku frustasi dengan diriku sendiri. Apa yang akan kulakukan dengan ini? Aku bukan wanita pembunuh. Aku juga bukan wanita yang siap menerima hujatan dari orang-orang.


Aku harus berbuat sesuatu.


Botol kecil ditanganku ku genggam erat. Mataku masih basah menatap foto lelaki brengsek itu.


Aku bodoh.


Aku tahu itu.


Aku mengabaikan perkataannya. Aku membuang masa depanku dengan percuma. Dan itu hanya untuk kenikmatan beberapa malam saja.


Kini saatnya aku pergi. Sudah tidak ada tempat yang pantas lagi untukku di dunia ini. Bahkan lelaki itu juga tidak akan peduli padaku. Sama seperti tidak pedulinya aku pada diriku sendiri.


Botol kecil itu kini telah kosong. Bibirku bergetar mendapati akhir dari diriku yang mengenaskan.


Banyak orang yang ku kecewakan. Orangtuaku. Saudaraku. Teman-temanku. Dan diriku sendiri. Aku benci diriku.


Maka, aku tidak akan menyesal ketika tahu bahwa cairan itu mengikat leherku dengan kuat. Membuat napasku tersendat. Aku juga tidak akan menyesal ketika cairan itu memaksa mataku untuk tertutup.


Selamanya.


🍁🍁🍁


6 tahun yang lalu.


Siang itu matahari masih pelit memberikan sinarnya. Langit Jogja diselimuti awan kelabu, membuat sebagian orang berpikir hujan sebentar lagi akan mengguyur kota. Sayangnya, hujan sudah lebih dulu terjadi di pipi seorang gadis yang terduduk di kursi taman belakang sekolah.


Gadis itu mungil. Rambutnya yang ikal ia ikat asal. Matanya yang lebar dan hidungnya yang kecil memperlihatkan gurat kesedihan. Matanya yang basah itu tidak berhenti menatap kertas di tangannya.


Tiba-tiba seorang pemuda menepuk pundaknya lembut.


"Kamu ngapain?"


Kaget, ia segera menutup muka dengan kedua tangan.


"Kenapa? Kamu nangis? " Kata pemuda itu dengan penasaran. Ia lalu berjongkok di depan gadis itu, tangannya mencoba menyingkirkan tangan si gadis dari mukanya.


"Pergi sana!" Gadis itu tetap enggan membuka wajahnya.


"Mau kamu tutup sampai kita lulus, aku tetap akan ingat kalau hari ini kamu nangis."


Gadis itu menghela nafas. Ia menyerah, lalu membiarkan wajah merah dan sembab miliknya terlihat secara jelas. "Terus kalau aku nangis kamu mau apa?"


"Aku bakal nunggu." Kata si pemuda.


"Apa sih?"


"Nunggu kamu cerita."


Gadis itu terdiam. Untuk kedua kalinya ia menyerah. "Apa yang aku lakuin nggak berguna."


"Ibumu lagi?"


Gadis itu mengangguk lalu melanjutkan. "Standard sukses aku dan ibu beda. Aku mati-matian ikut kompetisi public speaking tapi ibuku menganggap nilai raportku yang jadi pertimbangan. Kamu tahu kan, aku payah soal sains. Dan adikku? Dia aja terus yang dibangga-banggain Ibu. Kalau kesuksesanku di bidang yang nggak ibuku suka, terus aku harus sukses buat siapa?"


Pemuda tadi terdiam, lalu tersenyum. "Kalau gitu kamu harus buktikan ke ibumu! Kamu bisa sukses dengan jadi diri kamu sendiri! Makanya, kamu harus semangat sekolah, semangat kuliah besok, dan pokoknya semangat ngapa-ngapain deh!"


"Nggak ada motivasi aku."


"Aku mau jadi tim hore di hidupmu! Beneran!" Kata si pemuda lantang.


Senyum pun segera merekah di bibir si gadis. Ia akan terus mengingat kalimat sahabatnya itu.


🍁🍁🍁