I'M Sorry For Being Ugly

I'M Sorry For Being Ugly
Tiga



Kantor Berita Newsantara, 8.53 am.


Hari ini matahari luar biasa panas. Sarah mengipas lehernya yang sudah lengket oleh keringat dengan tangan  tidak sabaran. Sementara semua orang di ruangan rapat  itu juga tidak jauh beda dengan Sarah. Bedanya, mereka masih punya malu dan menunjukkan sikap sopan di depan redaktur mereka.


"Terus gimana ini? Cepat, keburu panas, tau!" Sarah terus mengoceh.


"Oke, jadi kita bakal memuat biografi seorang chef muda. Restorannya menjadi satu-satunya restoran di Indonesia yang masuk nominasi Michelin Star. Dan saya menugaskan kamu Sarah." Redaktur bernama Deyon menunjuk Sarah yang masih sibuk mengipas-ngipas.


"Diem bentar kenapa sih? Dengerin Pak Deyon ngomong itu loh." Thea berteriak tepat di telinga Sarah.


"Woi. Kagak usah lebay lu item! Dasar upil badak!" Bimo, seorang rekan Sarah berteriak lebih lebay dari seberang meja. "Kulit elu mah tahan sama cuaca panas."


"Aduh. Yaudah, lah. Bio-nya langsung saya ambil di meja Bapak aja ya." Sarah segera berdiri dan hengkang dari rapat. Deyon hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kalau dipikir-pikir, Sarah memang punya beberapa tabiat aneh. Dia itu tukang mengkritik, juga kadang humoris dan membuat seisi kantor ramai. Menurutnya hanya ada satu yang seperti itu. Hanya Sarah.


🥀🥀🥀


Restoran bergaya Eropa klasik itu sama sekali tidak membuat Sarah tecengang. Raut wajahnya datar menatap hamparan karpet merah di dalamnya. Dari awal ia sudah menebak kalau restoran ini adalah tipe fine dining.


"Bisa bertemu dengan Bapak Prama Mahendra? Saya sudah membuat janji wawancara dengan beliau." Sarah berusaha sesopan mungkin. Walau perasaannya sudah memburuk ketika tahu siapa yang ia wawancarai. Entah berapa bulan atau mungkin tahun, pokoknya itu sudah lama sekali ketika ia mem-publish  artikel tentang restoran milik seseorang bernama Prama Mahendra. Sarah yakin menulis nada negatif dalam artikelnya.


"Ibu sudah ditunggu di ruangan Pak Pram. Sebelah sini." Pelayan tadi menunjukkan jalan. Mereka harus melewati lorong dengan cahaya temaram. Coraknya tidak jauh beda dengan di depan tadi. Sarah merasa berada di Istana Ratu Elisabeth saking kentalnya arsitektur Eropa di sini.


Mereka berhenti di depan pintu kayu dengan ukiran rumit yang membuat mata pusing.


Selera seni si Pram-pram itu bagus juga.


Sarah menganggukkan kepala. Setelah pelayan tadi pergi, ia menarik napas panjang. Lalu membuangnya dengan cepat.


Tenang, semua pasti baik-baik saja.


🥀🥀🥀


"Oke, kita mulai dengan mengapa Anda memutuskan menjadi chef? Padahal ayah Anda seorang politikus dan punya perusahaan besar."


Pram menatap tajam wanita pendek di depannya. Kulitnya hitam, sungguh sangat tidak enak dilihat. Sementara rambutnya? Memang rapi, namun tidak ada style-nya sama sekali. Tidak enak dipandang. Mata Pram turun ke bajunya. Hanya workshirt biasa dengan jeans dan sepatu yang ia tahu pasti hanya barang tiruan. Benar-benar tidak ada feminim-feminimnya sama sekali. Tapi dari semua itu, wanita itu sama sekali tidak merasa aneh dengan penampilannya. Itu yang membuat Pram heran.


Memang dari awal, wanita ini sangat aneh. Katanya dalam hati. Ia masih ingat betul bagaimana hidung mungil wanita itu memerah waktu menabrak dirinya. Juga matanya yang sembab, seperti habis menangis berhari-hari. Tampang wanita ini pada hari pernikahan adiknya benar-benar kacau. Ia sampai saat ini belum tahu mengapa.


"Emang penting kenapa saya jadi chef?" Pram akhirnya menjawab. Tangannya ia lipat di depan dada.


Sarah menghembuskan napas. Ia berusaha mengabaikan tatapan angkuh dari lelaki di depannya. "Itu penting, Pak. Alasan Anda menjadi chef pasti memengaruhi kesuksesan Anda saat ini."


"Tapi saya nggak mau kasih tau. Karena saya nggak tau kenapa saya jadi chef."


Pram menahan tawa. Ia dapat melihat wanita ini sedang menahan amarah. Dahinya berkerut, serta hidung mungilnya kembang kempis. Sangat amat menghibur.


Hei, ternyata ini menyenangkan.


"Oke. Kalau begitu, sejak kapan Anda mulai menekuni ini?" Sarah bertanya sambil memamerkan senyum palsu paling manis yang ia punya. Bahkan ruangan dominan abu-abu yang dipenuhi foto pemandangan gunung itu tetap tidak mampu meredakan emosinya kepada Pram.


"Sejak kapan? Kamu pikir saya orang yang suka main-main? Apapun yang saya lakukan, bukan hanya menjadi chef, saya tekuni dari awal."


"Ya jadi dari kapan?"


"Ya dari saya mulai tertarik memasak."


"Lalu, kapan Anda mulai tertarik memasak dan kenapa?"


"Mana saya tau. Memang kita diharuskan mengingat kapan dan kenapa kita mulai suka sesuatu?"


Sarah menahan emosinya mati-matian. Tangannya sudah memutih saking lamanya terkepal sedari tadi. Ia yakin ubun-ubunnya pasti sudah mendidih sekarang."Ya. Harus."


"Kenapa? Memang kalau saya suka sama kamu, saya harus tau kapan mulai suka kamu? Saya juga harus jelasin kenapa suka kamu gitu? Itu nggak masuk akal. Kalau suka ya suka aja."


"Tapi menurut saya, memasak bukan sekedar pekerjaan. Tapi juga menggunakan perasaan."


"Oke. Kalau begitu perasaan seperti apa yang muncul ketika Anda memasak?"


"Memang perasaan bisa dideskripsikan? Pertanyaan kamu benar-benar aneh. Wawancara ini sangat tidak berbobot."


Sarah menutup mata rapat-rapat.


Sabar...


Sabar...


Sabar...


Pram mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Perutnya sakit karena menahan gelak tawa. Sungguh, ini menggelikan. Ia semakin suka menjaili wanita di depannya ini.


"Kalau tahu kamu ini jurnalis nggak berbobot, saya pasti bakal tolak tawaran wawancara ini. Cuma buang waktu."


SIAL! AKU NGGAK BISA SABAR LAGI!


BLAK


Tiba-tiba Sarah menggebrak meja di depannya. Matanya berkilat marah kepada Pram. Mulutnya terbuka dan berteriak tepat di wajah Pram, "Saya hanya minta kerjasama Anda! Anda yang aneh! Semua jawaban Anda sama sekali tidak menjawab saya! Anda yang buang-buang waktu saya!" Kerutan di dahi Sarah, juga matanya yang berapi-api sudah cukup membuktikan kalau dia sudah sangat frustrasi kepada Pram.


"Saya kira Anda profesional dan nggak emosian seperti ini. Saya salah." Pram menjawab enteng. Sama sekali tidak goyah dengan aksi brutal wanita pendek itu.


"Memang Anda salah! Karena saya belum bisa mencatat poin apapun disini! Terserah! Wawancara ini saya batalkan! Permisi!"


Blak!


Sarah tidak lupa membanting pintu keras-keras ketika meninggalkan ruangan Pram. Meninggalkan Pram yang justru tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


¤¤¤


"Bwuuuaahaaa...haaa!!! Gile lu! Ada ya narasumber begitu bentuknya?! Huwa..ha..ha..ha..!!!" Bimo tertawa sambil menggebrak meja dengan dramatis. Membuat seisi kantin melotot kepada si gendut satu itu.


Sarah memutar bola mata. Ia tidak kaget lagi dengan respon Bimo yang berlebihan. Sama seperti berat badannya.


"Kamu gila apa? Masa iya narasumber kamu gitu'in?" Kali ini Thea yang angkat bicara.


"Bodo amat. Dia yang mulai."


"Hei, hei. Ada apa nih? Rame banget."


Semua yang ada di meja itu terdiam. Bimo yang masih ngakak pun memilih bungkam ketika tahu pemimpin redaksi mereka ikut nimbrung di sana.


"Hehee.. Mbak Sonya. Tumben makan di kantin mbak." Thea tersenyum manis. Mengingat ia mengenal baik Sonya sejak sebelum ia bekerja di sini.


"Iya. Lagi pengen makan bakso aja ini."


Bimo langsung memajukan badannya, "mbak ngidam ya? Waahh. Bakal ada yang ngeramein rumah mbak Sonya nihh..."


Sarah tersenyum kecut. Jujur ia kaget ketika Sonya sebagai Pemimpin Redaksi masih mau bergabung dengan bawahannya. Walau orientasi hidupnya bukanlah cinta dan hubungan semacamnya, namun membayangkan wajah sempurna Sonya selalu berhasil menggores luka dihatinya. Mengingat Sonya sekarang adalah istri dari lelaki yang sudah ia cintai sangat lama. Lelaki yang meyakinkan Sarah bahwa buang-buang waktu dengan perasaan adalah kesalahan terbesar manusia.


Membayangkan Ray dan Sonya memiliki anak? 


Jika tidak ada idealisme yang harus ia buktikan dan ambisi yang harus ia kejar, mungkin dirinya sekarang sudah menjadi pelakor!


🥀🥀🥀