I'M Sorry For Being Ugly

I'M Sorry For Being Ugly
Lima



Cewek ini benar-benar gila!


Pram merutuk dalam hati. Betapa malunya ia? Berani-beraninya wanita ini menamparnya di depan umum! Di depan seluruh pengunjung restorannya! Kurang ajar sekali!


"Saya nggak mau tau, pokoknya Anda harus tanggung jawab! Anda sukses merusak masa depan saya!" Sarah berteriak sambil menekan telunjuknya tepat di depan hidung Pram.


Ia sangat amat murka. Kalau ditanya siapa


manusia yang paling dia benci saat ini, Pram adalah jawaban satu-satunya. Bukan, Pram bukan manusia. Tapi monster!


Bahkan ketika seluruh mata tertuju pada mereka, wanita ini sama sekali tidak peduli.


Pram berusaha mengendalikan emosinya. Tangannya dengan kasar menarik lengan mungil Sarah. Sarah


berontak. Ia tidak butuh ditarik-tarik. Ia hanya butuh pekerjaannya kembali.


"Lepasin! Saya cuma butuh tanggung jawab Anda!" Sarah terus berontak.


"Kita selesaikan nggak dengan bar bar seperti ini! Kamu ikut saya!" Dengan sekali hentakan, Pram berhasil menyeret wanita


keras kepala itu menjauh dari para pengunjung yang menatap mereka berdua heran.


"Omaigat! Jadi Bos Pram udah ngehamilin cewek itu?!" Salah satu koki wanita berbadan gempal berceletuk dari balik jendela dapur, seolah dapat menyimpulkan apa yang telah terjadi. Diam-diam, para koki juga mengintip dari tempat yang sama.


"Iya. Pantes aja dia minta tanggung jawab. Nggak nyangka, ya? Bos doyan sama yang begituan." Koki yang lain menanggapi dengan sok tau.


Semua manusia di restoran mewah itu kembali ke kegiatan masing-masing. Namun, bisikan dan bincang-bincang mereka saat itu, baik dari para pengunjung atau para koki hari itu hanya satu :


Prama Mahendra telah menghamili seorang gadis mungil dengan suara cempreng, dan si gadis meminta


tanggung jawab untuk dinikahi.


¤¤¤


Blak!


Pintu ruangan pribadi Pram ditutup dengan keras. Segera ia melepas lengan Sarah kasar. Sampai-sampai Sarah hampir terjungkal kalau saja ia goyah sedikit saja.


"Kamu mau buat saya malu ha!" Pram langsung membentak Sarah. Suaranya menggelegar, menembus sudut-sudut ruangan pribadinya. Selama hampir 28 tahun hidupnya, baru kali ini ada perempuan segila dan sebrutal Sarah.


Sarah berkacak pinggang, matanya tepat menatap penuh kebencian manik cokelat terang milik Pram lalu berkata, "Anda nggak merasa bersalah? Anda mengambil pekerjaan saya. Anda pikir mudah masuk ke situ? Butuh bertahun-tahun saya belajar supaya pantas masuk dan menjadi bagian di sana. Anda bisa mikir nggak, sih?!"


Pram melotot. Tatapannya tajam dan menusuk ke mata Sarah yang hitam legam. Selama ini, tidak ada yang berani secara blak-blakkan menatap matanya. Setiap orang pasti akan menundukkan kepala


mereka ketika Pram dalam keadaan marah. Namun Sarah? Perempuan ini bahkan tidak goyah sama sekali.


"Ingat artikel tentang restoranku beberapa bulan lalu?" Sarah mendadak bingung dengan partanyaan Pram. "Gara-gara artikelmu itu, restoranku rugi puluhan juta. Semua investor kabur tanpa bisa dinegosiasi."


Sarah terdiam. Rasanya ia sudah muak membahas artikel itu. "Terus, apa hubungannya dengan kamu


nyinyir di depan bosku?"


Mata Pram diputar jengah. "Saya cuma balas dendam. Sekarang kita impas. Lebih baik kamu sekarang pergi. Sebelum saya panggil security ke sini."


"Nggak! Saya nggak akan pergi sebelum urusan kita selesai! Saya bakal nunggu Anda buat mengembalikan posisi saya di Newsantara."


Pram menaikkan salah satu alisnya. Sarah tetap berdiri kokoh didepannya. Bahkan kali ini perempuan itu menautkan kedua tangannya di depan dada.


"Saya bakal tetap disini sampai Anda menjamin mengembalikan posisi saya." Ujar Sarah, mencoba tetap kokoh meskipun keberaniannya jatuh ke ujung kaki.


Pram maju selangkah. Namun Sarah mundur selangkah. Dimata Pram, Sarah hanyalah kucing yang berlagak menjadi singa.


"Anda jangan macam-macam." Kali ini Sarah benar-benar dilanda kengerian menatap Pram.


Pram kembali maju, mengikis habis jarak antara mereka. Ia sedikit membungkuk demi mensejajari wajah Sarah lalu berkata "Kamu sudah terlanjur berurusan dengan saya. Jadi jangan kaget kalau saya akan... "


Sarah menggigit bibir bawahnya. "Akan apa? "


"Saya akan... " Tanpa aba-aba Pram membungkuk lalu menyambar tubuh mungil Sarah, mengangkatnya dan memanggulnya bagai sebuah karung. Sarah berteriak kaget. Ia memukul punggung Pram berkali kali. Namun percuma saja, lelaki itu tetap berjalan santai. Mereka melewati pintu belakang, lalu tanpa rasa bersalah Pram membanting tubuh Sarah ke tanah.


"Arghhh!" Teriak Sarah yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Saya akan main kasar dengan fisik. Bahkan kalau perlu, saya bisa dengan mudah membunuh kamu. Tapi tenang aja, tangan saya terlalu suci untuk itu." Pram lalu berbalik dan masuk kembali ke restorannya. Meninggalkan Sarah yang masih tergeletak kesakitan.


Sarah mengepalkan tangan. Dalam hati ia berjanji pada diri sendiri, ia tidak akan memaafkan makhluk bernama Pram. Sampai kapanpun!


¤¤¤


Ruangan bercat putih itu tidak terlalu luas. Perabotan di sana juga tidak terlalu banyak. Hanya sederhana. Sebuah tempat tidur lengkap dengan nakas, disampingnya ada lemari yang tidak terlalu besar,serta sofa berkapasitas dua orang, yang seluruhnya di dominasi warna putih. Sangat menenangkan. Itulah kesan pertama Pram saat untuk entah ke berapa kalinya ia berkunjung ke sini.


"Prh...ammm... " Suara lembut dan dalam segera membuatnya berhenti meresapi suasana di ruangan itu. Dengan sekali tarikan napas, lelaki itu melangkah lebih jauh. Menghampiri seseorang yang tengah


berbaring di kasur putih tersebut.


"Ma, aku kangen." Tangan besar Pram segera merengkuh sang Mama. Sudah dua minggu terakhir ia tidak berkunjung. Meninggalkan lubang besar di relung jiwanya. Sekarang, ketika merasakan tangan Mama-nya yang mengelus lembut puncak kepalanya, ia sadar, walau tangan itu mulai keriput, kehangatan serta kasihnya sama sekali tidak pernah surut.


"Ma, kemarin Pram ketemu sama cewek gila. Dia ngerusak semua kegiatan Pram. Aku pengen membakar dia hidup-hidup."


Sang Mama tertawa. Anaknya tidak berubah. Masih menjadi lelaki manja dan tukang mengeluh.


Siapa namanya?


Sarah. "Nggak tahu. Lupa. Aku juga nggak mau ingat-ingat dia.


"Mama gimana? Betah disini? Rumah sepi nggak ada Mama. Papa juga semakin aneh." Kali ini Pram mengganti topik. Membicarakan Sarah bisa benar-benar membuatnya gila.


Mama betah. Disini sejuk banget. Nggak seperti di Jakarta. Oh iya, Papa kamu sudah nunggu di ruang tamu.


Lelaki itu mendengus. Papanya adalah lelaki paling licik di dunia. Ia tahu kelemahan Pram adalah mamanya. Pram segera berdiri. Ia tersenyum tulus kepada sang Mama, lalu berlalu dan memenuhi perintah sang Mama.


¤¤¤


Menurut Pram, dari sekian banyak masalahnya dengan sang Papa, tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada sikap Papanya yang sok tahu dan menggurui. Seakan Papanya itu tahu segalanya dan tidak pernah salah sama sekali. Pram benci itu. Sangat amat benci.


"Aku nggak mau." Kata Pram tegas. Matanya menusuk tajam. Seolah tidak ingin didebat.


"Kamu besok akan pergi ke Jogja. Papa sudah urus semua. Kamu tinggal pergi dan bantu Papa urus proyek di sana dengan baik. Lagi pula, apa susahnya berhenti jadi tukang masak barang satu-dua minggu?"


Tukang masak? Damn it! Bisa tidak sih, Papa berhenti jadi sok tahu barang satu-dua minggu?!


¤¤¤