I'M Sorry For Being Ugly

I'M Sorry For Being Ugly
Sembilan



Hal paling menyebalkan bagi Sarah adalah disuruh memasak. Ia tidak tau caranya memasak sama sekali. Namun pagi ini sedikit berbeda. Entah bagaimana di meja makan sudah tersedia banyak makanan lengkap dengan aroma yang memaksa liurnya menetes.


"Siapa masak segini banyak?" Gumam Sarah. Entah pada siapa.


"Saya." Tiba-tiba Pram sudah ada tepat di belakang Sarah dengan membawa panci panas berisi sup.


Sarah kaget bukan main. Menurutnya suara Pram yang berat dan datar mengingatkannya pada bisikan setan di film-film horor. Apalagi ketika ia menoleh ke belakang, jarak mereka sangat amat dekat.


Pram yang ada di belakang justru semakin kaget lagi melihat bentuk Sarah dengan jarak sedekat ini. Entah apa yang merasuki pikirannya, namun tangan Pram rasanya tidak kuat menahan panci tersebut, dan...


PRANGGG....


"ADOHHH!!!! PANAASSS!!! "


¤¤¤


Sarah sedang duduk di teras rumah ketika ia merasakan sakit luar biasa di kakinya. Rasa perih bercampur nyeri membuat Sarah ingin berteriak sekencang-kencangnya.


"In semua gara-gara si Pram-pram itu!" Sarah memaki sambil memukul-mukul kursi rotan tempat ia duduk.


"Gimana kakimu nduk? Sudah mendingan?" Suara Pak Sas menghentikan sejenak tingkah konyol Sarah. Walau Pak Sas tau umur Sarah tidak bisa dibilang ABG lagi, namun di matanya Sarah tetap saja menjadi anak hiperaktif yang suka bikin malu sama tetangga karena sering teriak-teriak sendiri.


"Sarah kan udah bilang sama bapak. Jangan ajak cowok songong itu tinggal di sini. Bikin sial aja!"


"Woo.. bocah edan!" Pak Sas menjitak kepala Sarah. Tepat di ubun-ubunnya.


Sarah memajukan bibirnya sambil menatap Bapaknya. Ia membuat muka seimut mungkin supaya Bapaknya mau menuruti keinginannya. Sudah ia bilang kalau ia benci Pram. Dia juga sudah menceritakan kalau Pram itu tukang rusuh. Namun bapaknya tetap kekeh menampung Pram di sini. Akhirnya, kakinya jadi korban.


"Nggak usah buat ekspresi begitu. Udah tua juga." Kata Pak Sas sambil memakai sepatu botsnya. Bersiap untuk kembali mengurus proyek. Sebenarnya biasanya ia sudah berangkat lima belas menit yang lalu. Namun orang yang ia tunggu masih belum nongol sampai sekarang.


"Sarah bilang juga apa, pak. Dia itu cuma ngeribetin. Udah bapak tinggal aja." Sarah masih belum pensiun menjadi provokator. "Dia itu tukang rusuh Pak. Tukang ngomel. Sarah yakin dia itu nggak kecopetan. Dia cuma mau makan gratis Pak!" Sarah semakin menggebu-gebu. Hanya ada satu tujuan di otaknya saat ini : mendupak monster galak bernama Pram jauh-jauh dari hidupnya.


¤¤¤


Siang ini berakhir seperti biasa bagi Pram. Dengan segala makian yang belum mau hilang dari hatinya, Pram berusaha mengerjakan semua yang ia bisa. Apalagi tadi pagi Pak Sas memberinya selembar uang seratus ribuan. Makanya, sebelum pulang ia tidak lupa mampir ke warung  untuk membeli sesuatu.


Pak Sas yang melihat Pram membawa bungkusan kecil tidak tahan untuk bertanya, "Beli apa?"


"Barang."


Pak Sas menatap Pram yang sudah duduk dibelakangnya kesal. Ya iyalah ke warung beli barang. Mana mungkin beli batako!


Sesampainya di rumah, Pram langsung melaksanakan tugas barunya, yaitu memasak. Bu Yuli justru hanya menganga melihat Pram yang sudah meracik semua bahan dalam waktu kurang dari dua menit.


"Hebat kamu. Ibu aja kalau ngupas bawang setengah jam sendiri. Hehehe..."


Pram tersenyum. Lagi-lagi rasa itu muncul. Perasaan aneh yang sudah lama hilang dari hatinya. Sudah berapa tahun sejak Mamanya memujinya seperti itu?


"Wihhh! Mister Songong masak nih!!"


Pram langsung menghentikan aktivitas memotong wortelnya. Rasanya ia ingin sekali mengiris mulut  wanita gila yang saat ini tersenyum di sampingnya. Bagaimana tidak? Hampir seminggu tinggal di sini ia diteror mulut berisik dan suara cempreng milik Sarah. Kupingnya mau pecah setiap kali Sarah berbicara nyolot kepadanya.


"Nak Pram, ibu mau ngurusi cucian dulu ya." Kata Bu Yuli sambil menghilang ke pintu belakang. Menyisakan Pram berdua dengan Sarah. Kalau boleh jujur, ada yang aneh dengan Bu Yuli dan Sarah. Sebagai ibu dan anak, Pram tidak pernah melihat mereka saling berbicara. Sekalipun.


"Jangan pikir masalah kita selesai. Saya masih minta Anda untuk kembalikan pekerjaan saya." Sarah memulai perdebatan.


Pram mulai memasukkan semua bahan-bahan ke dalam panci sambil berkata, "Bukan saya yang memecat kamu. Kenapa minta pekerjaan ke saya?"


"Tapi Anda yang nyinyir di depan Pak Tito! Pokoknya Anda harus tanggung jawab! Saya nggak mau jadi pengangguran tau!"


"Saya juga nggak mau restoran saya bangkrut."


Sarah mulai emosi. Bahkan Pram sama sekali tidak menatapnya balik. Ia serasa sedang berbicara dengan tembok. Yah, walaupun muka Pram itu memang sedatar tembok.


"Restoran Anda bangkrut kan bukan karena saya! Lagipula saya nggak peduli sama restoran Anda! Yang penting kerjaan saya balik!"


"Kalau begitu saya juga nggak peduli sama kerjaan kamu."


"Dengar ya. Bapak Prama Mahendra, saya sangat amat butuh pekerjaan saya. Saya kuliah capek-capek bukan buat jadi pengangguran. Hidup saya sangat bergantung disana, okay? Jadi, saya minta tolong sekali  untuk bicara ke Pak Tito kalau ucapan Anda tentang-"


Sarah menghentikan kalimatnya ketika tau Pram pergi meninggalkannya seenak jidat. Menyisakan sejuta makian kasar dalam hatinya.


¤¤¤


"Iya, terima kasih. Aku masih punya cukup untuk seminggu ini. Ya. Semua orang juga maunya sembuh. Tapi rasanya sulit banget."


"Masih punya apa? Siapa yang sakit?" Pram tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak berceletuk.


Sarah langsung terlonjak kaget, handphone di tangannya loncat ke lantai saat ia melihat sosok Pram tengah menatapnya curiga.


"Hargai privasi orang oke?" Sarah berkata kesal. Sementara Pram tanpa tau malu segera mengambil duduk di samping Sarah.


"Ngapain duduk di sini? Cari tempat lain sana! Kamu pikir ini kursi bisa di duduki sembarangan orang? Belum cukup kamu ngerusak kerjaanku? Sekarang kamu juga numpang di rumahku? Kamu ini sebenernya mau-"


Kalimat Sarah terpotong karena tiba-tiba saja tangan besar Pram menjepit bibirnya. Membuatnya bibirnya gepeng seperti bebek.


"Bisa nggak sih, sehari aja kamu nggak berisik?" Kata Pram tanpa melepas jepitannya. "Tau nggak. Saya capek berantem terus sama kamu. So, sekarang kamu janji untuk diam dan saya bakal lepasin kamu."


Sarah mengangguk pelan. Terlihat seperti orang bodoh di mata Pram.


Sesuai janjinya, Pram melepas jepitannya. Ia lalu merogoh sakunya dan menyodorkan sebotol minyak kepada Sarah.


"Ngapain ngasih minyak tawon?"


Pram memutar mata jengah. Ia segera berjongkok di depan Sarah. Tangannya menyentuh kaki Sarah yang melepuh.


"Maaf. Aku nggak tau kalau sampai separah ini."


Mulut Sarah sempurna membentuk huruf o. Ia tidak salah lihat, kan? Seorang monster songong bin galak macam Pram meminta maaf?


"Kamu habis ketiban karung semen ya, di proyek tadi?"


Pram tidak menjawab pertanyaan ngelantur dari wanita di depannya. Tangannya menyapukan minyak tadi ke kaki Sarah yang melepuh. Tidak sampai lima menit, semua bagian yang melepuh selesai dioles minyak. Pram lalu berdiri dan duduk lagi di samping Sarah.


Sarah masih belum sadar sepenuhnya dengan apa yang Pram lakukan barusan. Apalagi setelah itu Pram hanya diam dan menyisakan rasa canggung diantara mereka.


"Kenapa pake minyak tawon? Baunya nggak enak tau."


"Aku ini chef. Tangan melepuh kena panci panas itu biasa."


Sarah mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Malam yang sudah dingin menjadi semakin dingin ketika mereka berdua hanya diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Dari mana kamu dapat informasi tentang restoranku?"


Sarah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pertanyaan Pram cukup mengejutkan baginya.


"Ada seorang yang datang menghubungi aku. Kami akhirnya ketemuan. Dia cewek, dia bilang kalau kakaknya adalah salah satu waiters yang kerja di restoran kamu. Sumpah demi apapun aku iba sama dia. Aku juga nggak tau kenapa dia ketemuannya sama aku disaat diluar sana banyak blogger yang juga punya viewers banyak. Dia langsung aja ngasih aku map yang isinya..." Sarah menggantungkan kalimatnya ketika sadar saat ini Pram tengah menatap tajam ke arahnya. Entah mengapa saat ini bulu kuduknya merinding ditatap seperti itu.


"Kenapa diam?"


"Ya kamu ngeliatin aku kayak mau ngebunuh gitu!"


Pram melunakkan pandangannya. Lalu Sarah melanjutkan, "Dia berani bayar banyak. Tapi aku tolak, aku kasihan sama cewek itu."


"Kamu masih ingat wajahnya?"


"Masih. Setelah aku cek, buktinya cukup logis dan valid. Lagian kamu itu lebih gila! Kenapa kamu buat sistem kayak gitu di restoran kamu?"


Pram menghembuskan napas kasar. "Apa urusannya sama kamu? Itu privasi restoran saya."


"Aku cuma mau ngingetin, seambisiusnya kamu sama entah apa yang kamu kejar selama ini, jangan lupa kalau orang-orang disekitarmu itu manusia, bukan robot apalagi hewan."


Pram terdiam. Ia tidak terlalu menggubris komentar Sarah. Hal yang terpenting sekarang adalah selama ini ada seseorang yang mendalangi ini semua. Dan Sarah ternyata tidak lebih dari sebuah katalis agar siapapun itu sempurna menjalankan rencananya.


"Kapan kamu ke Jakarata?" Tanya Pram.


"Gimana aku mau ke Jakarta kalau aku jadi pengangguran di sana?"


Pram menatap Sarah tajam. Otaknya memikirkan beberapa kemungkinan, lalu berkata mantap. "Saya bakal balikin kerjaan kamu. Tapi kamu harus pulang sama saya."


¤¤¤