I'M Sorry For Being Ugly

I'M Sorry For Being Ugly
Dua



Semua benar-benar kacau. Pram tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia tidak yakin bisnisnya akan bertahan jika keadaannya saja benar-benar mengerikan.


"Kalian cuma pekerja tidak becus!" Suaranya menggelegar di sudut-sudut ruangan. Matanya berkilat marah. Rahangnya mengeras seiring emosinya yang semakin memuncak. Dari belasan pekerjanya, tidak ada satupun yang berani mendongakkan kepalanya.


"Maaf, Pak Pram. Kami mana tau apa yang terjadi." Salah satu karyawannya menanggapi, masih dengan apron di badannya. Ia terlihat takut, kalau-kalau bosnya ini akan memakannya.


"Kalau begitu cari tau *****! Bisa bangkrut restoran ini cuma gara-gara pegawainya yang nggak becus!"


"Boleh kita bicara berdua Pak?" Seorang lelaki berkacamata dengan wajah lebih lunak dari Pram menginterupsi.


Pram langsung menatap Reihan sahabatnya. Memang, dalam keadaan seperti ini, hanya Reihan yang berani melawan monster ganas semacam Pram.


"Bagaimana mungkin tiga perusahaan membatalkan investasinya di restoran ini? Pasti ada pelayan kita yang nggak becus ngurus pengunjung. Makanya mereka menganggap restoran kita punya pelayanan buruk." Pram terus mengoceh setelah mereka masuk ke ruang pribadinya. Reihan di belakangnya hanya mengikuti dalam diam.


"Mungkin masalahnya bukan ada di para pelayan apalagi koki." Kata lelaki berkacamata itu sambil duduk di sofa. Ia memandang Pram dengan penuh arti.


"Maksud lu?"


"Gue rasa karena ini," Reihan membanting segumpal kertas tepat di meja Pram.


Pram terkesiap. Ia membuka gumpalan tak beraturan itu ragu-ragu. Setelah gumpalan itu sempurna terbuka, gejolak amarah di dadanya tidak bisa dihentikan lagi.


Salah satu karyawan restoran terkenal bernama... dipecat karena alasan yang tidak jelas... perlakuan kasar... gaji dibawah upah minimum... diancam... pelayanan yang tidak memuaskan...


"Sialan! Darimana kejadian ini bisa menyebar?!"


"Bukan itu yang penting. Tapi siapa yang bertanggung jawab dengan tulisan itu."


"Siapa, ha?! Mau cari mati orang itu!"


Reihan beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju laptop di meja Pram. Di sana, ia mengetikkan beberapa kata lalu menunjukkannya kepada Pram.


"Cewek ini yang buat?" Pram menatap foto wanita yang menurutnya jauh di bawah standar di depannya dengan heran. Hal pertama yang terucap dalam batinnya adalah : how ugly she is? 


Tunggu!


Ia seperti pernah melihat wanita ini. Tapi siapa? Apa dia...


"Cewek itu!" Pram tidak bisa lagi mengontrol volume suaranya. Ia sudah ingat. Dia cewek gila yang memakai kaos 'slankers' di acara pernikahan adiknya. Waktu itu Pram mengira wanita itu salah masuk ruangan. Siapa sangka wanita jelek dan gila itu ternyata seorang jurnalis?


"Dia jurnalis sekaligus blogger muda. Artikel yang dia publish emang kebanyakan masalah sosial politik yang kontroversial." Reihan menjelaskan, " Tapi justru karena kontroversial, dia punya lumayan banyak pembaca di blognya. Sialnya, salah satu artikel di blognya menghujat habis-habisan cabang restoran kita yang ada di Bogor."


"Darimana dia dapat bukti-bukti ini?" Pram bertanya. Entah pada siapa. Reihan pun hanya menanggapi dengan gelengan kepala.


Ceklek


Pintu ruangan itu berderit ketika seorang wanita dengan pakaian ketat yang minim bahan masuk.


"Apa aku ganggu?"


Reihan hendak menjawab 'ya'. Namun Pram langsung mengisyaratkan wanita itu masuk dan ia langsung duduk di pangkuan Pram.


Seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Reihan segera berdiri."I know. I have to go. Have a good time, guys."


Setelah sempurna hengkang dari ruangan Pram, wanita itu segera mengubah posisi yang tadinya membelakangi Pram, kini melingkarkan kakinya di pinggang Pram. Paha putih dan mulus miliknya terbuka sangat jelas.


"Kenapa kamu nggak datang ke studio?"


Pram memutar matanya. Jengah. Memang apa urusannnya wanita ini? "Aku sibuk Lisa. Apa penting sekarang aku di studio atau nggak?"


Lisa menggeleng. Mulutnya baru akan mengucap lagi, namun bibir Pram sudah lebih dulu bermain di atas bibirnya.


Tangan Lisa menyentuh tangan Pram. Menuntun tangan lelaki itu ke dadanya.


"Pram, do it!"


Pram menarik diri. Ia bahkan sama sekali tidak membuka baju. Namun Lisa sudah merasa kesenangan. Lagi pula Pram juga tidak mau bersetubuh dengan sembarang orang. Apalagi di tempat kerjanya.


"Not now, Lisa. Never."


Lisa cemberut. Ia berdiri dari pangkuan Pram dengan kasar. Ini yang tidak ia suka dari Pram. Kurang apa dia? Mengapa Pram masih belum mau berhubungan dengannya secara utuh?


"Aku kurang apa, ha? Kamu pikir aku ini cuma main-main? Just let me satisfy you!"


"Aku nggak akan berhubungan badan dengan sembarang orang. Not with a bitchy like you."


Plak!


"Whatever you say! Jerk!"


Lisa meninggalkan ruangan setelah puas membuat jejak tangan di pipi lelaki brengsek itu.


🥀🥀🥀