
Bandara Soekarno-Hatta
04.01 am
Walau baru pukul empat pagi, Bandara Soekarno-Hatta sama sekali tidak bisa dikatakan sepi. Orang dengan tas besar-besar berlalu lalang di sana sini. Membuat tubuh mungil Sarah agak kesulitan menarik kopernya. Suara bising percakapan para penumpang dengan petugas penerbangan pun mampu membuat Sarah merasa pusing.
Padahal wanita itu sengaja berangkat pagi-pagi sekali karena ingin menghindar dari kebisingan seperti ini. Sebenarnya, dia juga tidak ingin bertatap muka dengan Deyon. Tiga tahun berteman dengan cowok care semacam Deyon, membuat Sarah sangat yakin sekitar jam enam pagi nanti, lelaki itu pasti sudah didepan pintu rumahnya. Sungguh, bukan maksudnya untuk mengabaikan Deyon. Ia hanya ingin sendiri. Itu saja.
Lagipula, apa yang lebih dibutuhkan seseorang yang sedang patah hati kalau bukan sendiri sementara waktu?
¤¤¤
Sialan!
Pram mengumpat sambil menggeret kopernya. Ia lalu berhenti sejenak. Masih sambil mengumpat, ia membetulkan topi di kepalanya. Tak lupa ia memasang semua kancing di jaketnya.
Soekarno-Hatta sekarang dingin. Wajar, masih jam empat pagi.
Wajar? Semua ini sama sekali tidak wajar. Papanya sinting!
Seharusnya ia saat ini sedang berguling-guling ria di kasurnya yang empuk. Merasakan kehangatan dibawah selimut. Namun itu semua hanya ekspetasi ketika Papanya menggedor kamarnya dan memulai perdebatan panjang untuk yang kesekian kalinya. Lagi-lagi ia terjebak dalam ambisi Papanya yang ingin menjadikannya boneka perusahaan. Siapa yang mau mengurus perusahaan?
Tidak. Pram lebih memilih jadi gelandangan daripada harus mendekam sampai tua dibalik meja. Itu benar-benar membosankan. Dan, memalukan. Papanya itu memang...
Ceduk!
Sepatu Pram membentur sesuatu yang keras. Membuatnya hampir saja jatuh ke depan. Pram baru saja ingin berteriak marah, namun suara cempreng yang tidak asing ditelinganya lebih dulu menginterupsi. "Hei! Hati-hati!"
Pram mengamati wanita yang tengah berdiri membawa koper sambil menatapnya penuh kebencian. Pram mengamati dari atas sampai bawah.
Rambut. Rambutnya yang tidak pernah disisir itu (menurut Pram. Karena rambutnya itu kusut sekali) hanya di ikat asal-asalan. Sebagian dari rambut itu jatuh sampai ke dagu. Walau ia laki-laki, ia tahu kalau tidak ada wanita yang mau keluar rumah dengan rambut se-parah itu. Kecuali wanita ini tentunya.
Wajah. Wajahnya itu sudah mirip seperti Bison Afrika sehabis beranak. Hanya ada kemarahan di sana. Apalagi matanya. Matanya bengkak dan berair. Menatapnya dengan penuh penghayatan untuk membunuhnya. Oh ya, jangan lupakan hidung mungilnya yang kembang kempis dan terus mengeluarkan ingus.
Ya Tuhan! Bisa tidak, sekali saja hidung wanita ini tidak seperti itu? Sangat disturbing sekali!
Pakaian. Wanita ini memakai jaket hitam dengan kaus putih di dalamnya. Dan sudah bisa ditebak tipe celana yang dia pakai : jeans.
"Kalau taruh tas, hati-hati. Kamu pikir ini Bandara punya Bapakmu?" Pram mulai menghujani wanita ini dengan cacian. Ia sudah bersiap-siap kalau Sarah ingin memulai perdebatan. Namun yang terjadi selanjutnya justru di luar bayangannya.
Wanita ini justru hanya menghembuskan napas sambil berkata pelan. Namun terdengar mengancam."Jangan pikir masalah Anda dengan saya selesai! Nanti saya akan tetap menagih pekerjaan saya."
Wanita pendek itu segera berlalu. Meninggalkan Pram yang masih kebingungan harus menjawab apa.
¤¤¤
Kontrakan Sarah
06.02 am
"Assalamualaikum..." Ucap Deyon sambil terus mengetuk pintu kontrakkan berwarna kusam di depannya. Tangan kirinya masih menggenggam erat bungkusan putih berisi martabak manis kesukaan Sarah.
Deyon tetap tidak menyerah. Tangannya yang mulai kesemutan tetap mengetuk pintu rumah kosong tersebut tanpa henti.
"Sarah? Aku bawain martabak kesukaan kamu sebelum ke Jogja inihhh.... Sarah? "
¤¤¤
Bandara Adisucipto
05.16 am
Udara dingin yang menusuk tulang berhasil merenggut ketenangan sejenak dari tidur singkat Sarah. Ia harus menguap dan berkedip berkali-kali untuk mengembalikan seluruh kesadarannya. Saat ia sudah sadar sepenuhnya, kabut putih dan tebal terhampar luas menyelimuti landasan pacu Adisucipto. Membuatnya ingin tidur barang satu dua menit lagi.
Penumpang lain sudah memenuhi pintu keluar. Sarah merasa ia tidak akan muat berdesakkan di sana. Jadi, ia memutuskan untuk menunggu.
"Kamu memang penguntit handal."
Mata Sarah melebar. Ia seperti mengenali suara bariton tersebut. Kepalanya spontan tertoleh. Matanya langsung disuguhkan muka masam dari seorang pria berambut hitam dan bermata cokelat terang.
"Sejak kapan Anda di sini?" Sarah meninggikan suaranya.
"Hem, penguntit memang nggak akan ngaku sampai kapan pun."
"Saya bukan penguntit. Saya nggak akan menguntit orang besar kepala seperti Anda."
"Terserah."
Pram berdiri. Ia melangkah mantap, ingin segera pergi dari tempat itu supaya tidak lama-lama melihat Sarah. Tanpa sengaja, kaki Pram yang besar menginjak kaki mungil Sarah. Membuat wanita itu menahan jeritannya.
"Aduh..." Sarah mengelus kakinya yang berdenyut. Matanya masih sempat menatap punggung Pram yang semakin menjauh, "cowok sialan!"
¤¤¤
Eksotik.
Itulah satu kata pertama yang muncul di otaknya ketika kakinya menginjak tanah Jogja. Walaupun sekarang ia tengah naik taksi dalam perjalanan menuju proyek di kawasan Kotagedhe. Namun ketika melewati jalanan Jogja, matanya pasti menangkap berbagai hal yang berkaitan dengan budaya. Baju batik dimana-mana, tiang lampu-lampu jalan hijau dengan tulisan jawa dan ukiran rumit, serta jangan lupakan andong yang berseliweran sedari tadi.
Waktu melewati lampu merah, ada beberapa penari Jawa yang menari gemulai diiringi musik khas gamelan. Karena merasa terhibur, akhirnya dua lembaran merah pun dihadiahkan Pram kepada si penari lewat kaca mobil. Si penari terkejut, namun Pram memberikan senyum kepada si penari. Memang salah? Berapa lagi bayaran yang pantas untuk tarian sebagus itu?
Perjalanan pun terus berlanjut dengan berbagai hal-hal baru yang tidak akan Pram temui di Jakarta. Sepuluh menit, taksi itu akhirnya berhenti di sebuah lahan kosong dengan tumpukan material dan para pekerja berhelm proyek kuning.
Pram segera turun. Ia melirik jam tangannya sejenak. 9.02. Masih terlalu pagi untuk mengeluh.
Setelah turun dari taksi, lelaki berjas hitam dan berkemeja biru muda itu langsung disambut senyum ramah lelaki paruh baya dengan rompi orange dan sepatu bot gelap.
"Kamu pasti Prama Mahendra, ta? Anaknya si Bambang?" Tanya si Bapak dengan senyum ramah yang hangat dan khas.
"Saya Pak Sas. Mandor di sini. Teman bapakmu di SMA dulu." Jawab bapak itu tanpa Pram perlu repot-repot bertanya.
"Papa saya SMA di Jogja?" Tanya Pram terkejut.
Bukannya menjawab, Pak Sas justru merangkul Pram. Membawanya berkeliling lahan dan menjelaskan apa yang akan dibangun dalam lahan dan kendala apa saja yang mereka hadapi. Pram sebenarnya tidak terlalu suka orang yang sok kenal. Tapi bagaimana lagi? Disini dia bos-nya dan Pak Sas mandornya.
It's gonna be so terrible!
¤¤¤
Sejak kecil, Pram tau passion-nya bukanlah menjadi orang munafik dengan kostum jas dan dasi mewah. Ia benci menjadi orang besar yang hanya bekutat dengan angka, harga saham, pertukaran dollar, defisit anggaran. Namun Papanya justru menempatkannya pada posisi tersebut. Ini bahkan lebih mengerikan daripada ia harus mendaki Merapi dalam keadaan erupsi.
Di bawah sinar jingga matahari Jogja, Pram tidak henti-hentinya berharap malam akan menjelang sehingga semua kepalsuan ini segera berakhir. Persis seperti sekarang ini.
"Saya pulang dulu ya. Mau tak antar?" Suara khas Pak Sas tiba-tiba memaksanya untuk berhenti mengeluh.
Dengan senyum yang sedikit dipaksakan, Pram menjawab. "Terima kasih Pak. Saya naik taksi."
Pak Sas tersenyum sambil mengangguk. Pram heran, lelaki ini sering sekali tersenyum. Bahkan terlalu sering sehingga membuatnya agak risih.
Setelah semua pekerja selesai dengan tugasnya, Pram segera membereskan barang-barangnya. Menjadikan satu semuanya dalam tas. Ia tidak mau berlama-lama disini. Ia benci tempat ini.
Setelah keluar dari lingkungan proyek, Pram baru sadar kalau langit di sekitarnya mulai gelap. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh arah, namun tidak ada tanda-tanda kendaraan bernama taksi akan lewat.
"Sialan." Umpatnya sambil terus berharap ada taksi yang akan lewat. Kakinya tau-tau berjalan menyusuri trotoar saking tidak sabarnya.
Kakinya tiba-tiba berhenti. Matanya was-was ketika tau terdapat sebuah gang gelap di sebelah kirinya. Ia bahkan tidak melihat sama sekali bagaimana ujung gang tersebut.
Ceduk!
Tidak ada angin tidak ada hujan, seorang wanita dengan pakaian minim dan berbadan tinggi semampai menabraknya. Wanita itu nampak sedang kalut di mata Pram. Terlihat dari matanya yang indah nan sayu. Serta bibir penuh yang enggan untuk tersenyum.
Cewek Jogja cantik-cantik ya? Batinnya berbisik.
"Maaf. Aduh..." Wanita tadi memegang tumitnya. Pram yang merasa kasihan, atau lebih tepatnya tergoda akhirnya berlutut. Tasnya ia taruh tepat di sampingnya.
Tangannya yang sudah professional menghadapi wanita mengelusnya dengan lembut. "Kamu nggak apa-apa?" Tanya Pram sambil mendongak. Sebisa mungkin menahan matanya agar tidak melihat hal-hal lain yang tersuguh di depannya secara gratis.
"Ahh, sudah nggak apa-apa kok Mas." Wanita itu tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya yang merah.
"Pulang kemana? Cewek cantik seperti kamu bahaya malam-malam jalan sendiri. Saya antarkan." Pram bertanya sambil tersenyum. Otaknya secara otomatis mulai membayangkan hal yang aneh-aneh.
Wanita itu terseyum penuh arti. Suaranya yang mendayu-dayu membuat telinga Pram geli sendiri mendengarnya. "Sayah sudahh biasahh jalanh di sini sendiri kokhh.... Hati-hati yahhh Mashhh... Di sinihh banyakkhh copet."
Alis Pram mengkerut. Otaknya tidak lebih cepat dari menghilangnya wanita tadi.
"Banyak copet?" Ulangnya. Bahkan walaupun wanita tadi sudah berlari jauh dan hilang dari pandangan. Pram masih mencerna kalimat wanita tadi. Merasa wanita cantik tadi aneh, Pram hanya mengendikkan bahu sambil meraba sisi kanannya.
Eh? Kayak ada yang kurang?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Anjritttt!!! Tas gue!!!!
"WOI! ***! COPETTT WOI!!! COPETTT!!!!!"
¤¤¤