
Semburat jingga sudah teruntai di langit Bogor, dan Sarah masih terjebak dengan permainan yang ia buat sendiri.
"Harusnya aku nggak pernah buat artikel itu." Gumam wanita itu, lalu meniup rambut yang jatuh di hidung mungilnya. Sementara itu, pakaiannya saat ini sudah berganti kaos putih dan celana sebetis.
Sarah berhenti sejenak menatap laptop. Matanya bergerak menelusuri seisi ruangan. Rumah ini tidak lebih besar dari kontrakannya. Bahkan sangat lebih kecil. Hanya ada satu kamar, kamar mandi, dan sisanya ruangan kerja yang dilengkapi meja, tumpukan kertas, dan lampu kerja. Ada juga sofa kapasitas tiga orang yang diletakkan dekat dengan pintu yang mana ia duduki sekarang. Semua putih, mulai dari perabotan dan dindingnya. Walau tempat ini kecil, sampai saat ini Sarah tidak merasakan kesan sempit, tetapi lebih ke minimalis.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Hallo?" Sapa Sarah kepada Thea yang menelponnya.
"Sarah maafin aku yaa.. " Thea meraung di seberang sana.
"Kamu kenapa, sih, The biarin aku dibawa kabur?"
Thea menggigit jari, lalu berkata pelan, "Prama itu temen main aku waktu masih bocah... "
Sarah melotot kaget. Dia heran dengan dunia yang ternyata sangat sempit ini. "Kok bisa? Terus kamu tahu dong waktu aku nampar dia di restorannya?"
"Ya, enggak juga. Kita udah hilang kontak sejak lulus SMA kok. Aku aja udah lupa nama panjangnya. Tapi, waktu tadi pagi datang kerumah, aku langsung inget kalau dia itu temen main aku."
"Ck. Nggak asik kamu Thea. Gara-gara dia aku jadi dipecat!" Suara Sarah naik satu nada.
Thea meringis, lalu mencoba mengalihkan topik. "Rumah sepi tau nggak ada kamu." Kata Thea sambil memanyunkan bibir. Walau ia juga tahu Sarah tidak akan lihat.
Sarah tersenyum kecut. Ia menarik napas dalam-dalam lalu berkata mantap. "Dengar, ya, Thea. Pokoknya aku mau secepatnya ngurusin ini. Setelah itu aku bakal balik ke hidup lamaku lagi. Dan akan aku tendang jauh-jauh orang itu! Sumpah!"
"Siapa yang mau ditendang?" Tiba-tiba Prama muncul dari balik pintu. Ia mengenakan kaos abu-abu tua dan celana levis.
Sarah yang kaget langsung mematikan telpon. Ia lalu berdiri seraya berkata, "Kan aku udah bilang jangan nguping orang nelpon!!!"
Prama mengangkat bahu lalu menyenderkan badannya ke dinding. Setelah itu ia melipat kedua tangannya ke dada dan berkata, "Saya mau tahu hasil kerja kamu."
Pram sudah menaruh seluruh fokusnya kepada Sarah, bersiap mendengarkan apa yang akan Sarah katakan. Namun, yang terjadi berikutnya justru membuat Prama menyesal.
"Restoran kamu nggak akan bertahan lama. Udah, lah. Saya mau makan. Laper dari tadi nggak dikasih makan." Sarah segera berdiri dan berjalan keluar.
Prama hanya memandang tubuh pendek Sarah yang keluar melewati pintu, berjalan kecil dan yang pasti tidak ada gemulai-gemulainya, lalu hilang di balik pagar.
Prama segera berlari menyusul Sarah. Ia tidak akan melepaskan Sarah. Bisa-bisa wanita gila itu kabur dan mengacaukan semua rencananya.
"Berhenti." Kata Pram setelah berhasil menyamai langkah Sarah.
Sudah dapat ditebak, Sarah tetap acuh. Kaki kecilnya tetap berjalan menyusuri trotoar kota itu. Matanya memandang sekitar jalan yang penuh lampu, mencoba mencari sumber makanan untuk perutnya yang kosong.
"Saya minta kamu berhenti!" Prama berteriak, membuat mereka seperti beradegan bak sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Namun, teriakannya ternyata tidak digubris sama sekali. Karena geram, Pram akhirnya mencekal tangan Sarah. Membuat wanita itu berteriak kesakitan.
"Lepas! Saya mau cari makan!" Sarah tak kalah lantang berteriak. Orang-orang disekitar mereka menatap heran.
Setelah melewati sedikit perdebatan lagi, akhirnya dua manusia ini pergi mencari makan. Prama memilih berhenti di cafe kecil yang paling dekat dengan restonya. Tempat itu di dominasi warna coklat dengan lampu-lampu temaram. Saat datang, cafe itu sepi. Prama memilih duduk di bagian paling dalam dari restoran.
"Kenapa nggak di dekat kaca?" Mulut Sarah berceletuk, namun tubuhnya ikut duduk di tempat yang Pram pilih.
Prama masih diam. Setelah memesan makanan, ia duduk lalu menatap Sarah tajam. "Saya nggak tahu gimana jalan pikiran orang seperti kamu," Pram mengawali perbincangan dengan suaranya yang berat penuh penekanan. "Tapi, kamu sudah ambil keputusan untuk tanda tangan. Jadi, saya harap kerja sama kita berjalan sesuai dengan apa yang tertulis di kertas itu."
Sarah menelan ludahnya yang tiba-tiba jadi sebesar biji salak. Perkataan Pram, juga tatapan matanya mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Ditambah lagi dengan kafe yang sepi dan cahaya remang, juga udara Bogor yang dingin, seakan ingin menciutkan mentalnya di depan Pram. Akhirnya, hanya diam yang dapat ia lakukan.
"Saya harap kamu berhenti bersikap gila, kekanak-anakan, dan konyol. Dunia ini nggak butuh orang yang seperti itu." Lanjut Pram.
Sarah tanpa sadar mengepalkan tangannya yang ia sembunyikan di balik meja. Kalimat terakhir dari lelaki itu membuat sisi lain dari Sarah bangkit dan protes.
"Kamu pikir ya, pake nalar kamu," Sarah menimpali. Kali ini bukan dengan meledak-ledak, "kasih tahu gimana caranya saya bisa kerja sama sedangkan pertama: saya nggak suka dengan 'attitude' kamu. Kedua: saya seorang JURNALIS. Dan saya nggak tau kamu minta saya buat ngapain. Ketiga: saya bukan kekanak-anakan, tapi ekspresif."
Prama memejamkan mata, mencoba menekan segala amarahnya, lalu menimpali lagi "Di sini saya yang ambil kontrol."
"Nahh itu!" Sarah menggebrak meja dengan telapak tangan. "Itu yang saya maksud. Kamu itu emang kaum konservatif. Mau sampai dajjal datang, kita nggak akan satu pemikiran!"
Pelayan tiba-tiba datang menginterupsi. Seolah tidak terjadi apa-apa, Sarah melahap makanan di meja itu tanpa mempedulikan keberadaan Pram. Sementara Pram hanya dapat mengelus pelipisnya. Ternyata berbicara dengan Sarah bukan hanya menguras tenaga, namun juga pikiran.
🥀🥀🥀
"Sialan." Prama mengutuk. Hari ini tidak ada titik temu antara ia dan Sarah. Sepulang makan, Sarah justru langsung masuk kamar dan tidak keluar lagi. Tentunya, terjadi perdebatan-perdebatan di antara mereka.
Ia lalu memilih duduk di kursi, mengambil ponsel di kantong, dan menelpon Reyhan. Ketika dia di Bogor, seluruh urusan resto pusat miliknya ia serahkan kepada Reyhan--sahabatnya dari SMA.
"Gimana hari ini?" Prama mengawali perbincangan.
"Lu kenapa sih, malah ngurus cabang yang udah nggak bisa diselamatkan?" Reyhan menjawab dengan ketus. Hal ini ia lakukan karena jujur saja, ia tidak kuat jika harus bekerja sendiri di pusat.
"Rey, justru gua sekarang berusaha menghukum orang yang udah berani berurusan sama gua. Kalau ini berhasil, kita bisa buat cabang-cabang yang baru."
Reyhan mengerutkan dahi di seberang sana, "menghukum gimana maksud lu?"
"Jurnalis yang waktu itu nulis artikel tentang resto di Bogor, gua ajakin kerja sama buat re-built lagi restoran kita."
"Gila lu!" Reyhan hampir saja berteriak. "Yang di sini aja pemasukannya udah menurun Pram! Gimana kita bagi dana buat re-built yang di sana kalau di sini aja bakal defisit!"
Prama mengusap wajahnya gusar. Ia tahu keadaan bisnisnya saat ini menunjukkan tren yang tidak bisa dibilang positif. Namun, ia tidak mau menyerahkan keyakinannya pada kenyaataan. Prinsipnya, yang mengendalikan kenyataan adalah kita, bukan sebaliknya.
"Percaya sama gua, Rey. Nggak akan ada yang namanya defisit. Serahin semua sama gua. Lu di sana kerja sesuai apa yang gua suruh." Kata Pram tanpa mau dibantah.
Setelah itu ia pun mematikan telepon, lalu melempar ponselnya. Ia mengusap wajahnya. Pikirannya saat ini menemui jalan buntu. Ia kira dengan menjadikan Sarah berada di genggamannya, semua masalah ini akan cepat terselesaikan. Namun, mendikte Sarah ternyata tidak semudah yang ia pikiran.
🥀🥀🥀